Kamis, 20 September 2012

Tugas-4 Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


Diskriminasi dalam Kehidupan Bermasyarakat



             Diskriminasi adalah tindakan tidak adil terhadap individu tertentu. Diskriminasi dapat disebabkan karena perbedaan ras, agama, suku, etnis, kelompok, golongan, status, kelas sosial ekonomi, jenis kelamin, kondisi fisik, usia, orientasi seksual, pandangan ideologi, dan politik serta batas negara dan kebangsaan seseorang dan berbagai perbedaan-perbedaan yang ada di masyarakat. Tindakan diskriminasi ini sering terjadi kepada kalangan minoritas, diskriminasi juga merupakan hal yang umum ditemukan dalam kehidupan bermasyarakat.
            Indonesia merupakan negara multicultural, yang berarti bahwa di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dapat ditemukan berbagai macam ras, agama, suku, etnis, kelompok, golongan, status, kelas sosial ekonomi, jenis kelamin, kondisi fisik, usia, orientasi seksual. Indonesia merupakan salah satu negara dengan kebudayaan paling beragam, sebagai contoh yaitu banyaknya bahasa daerah yang ditemukan di Indonesia saat ini berkisar 300 bahasadan dengan ribuan pulau yang termasuk daerah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tentu kondisi ini mengundang adanya diskriminasi dari kaum mayoritas terhadap kaum-kaum minoritas yang tersebar di Indonesia
Diskriminasi Gender dalam Lingkungan Kerja
            Salah satu contoh diskriminasi gender yaitu adanya perbedaan jumlah karyawan yang ada di suatu perusahaan antara pekerja berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Sering ditemukan persentase yang berbeda jauh antara pekerja laki-laki dan pekerja perempuan. Jumlah gaji pekerja laki-laki dan perempuan juga berbeda walaupun pekerjaan yang dilakukan sama. Hal ini terjadi karena adanya persepsi bahwa pekerja laki-laki akan jauh lebih menguntungkan bagi suatu perusahaan dibandingkan pekerja wanita. Timbulnya pemikiran seperti itu disebabkan oleh prejudice yang berlangsung bertahun-tahun sehingga akhirnya mengakar ke dalam pemikiran masyarakat.
Diskriminasi Terhadap Ras di Masyarakat
            Sering ditemukan pula ketidakadilan yang disebabkan oleh adanya perbedaan suku bangsa. Perbedaan profil fisik dan logat bahasa dapat mendorong adanya dugaan awal atau prejudice yang seringkali merendahkan sehingga si pemikir merasa dirinya superior atau berderajat lebih tinggi. Pemikiran seperti ini mendorong terjadinya diskriminasi terhadap suku tertentu. Sebagai contoh yaitu stereotype  terhadap orang-orang berkulit hitam, sikap polisi kepada kriminal berkulit hitam berbeda dengan kriminal berkulit putih. Sering ditemukan perlakuan lebih kasar kepada kriminal berkulit hitam tersebut dikarenakan oleh persepsi publik yang mengakar dalam diri polisi tersebut. Stereotype buruk terhadap suatu individu atau golongan akan mengundang perlakuan yang kurang ramah dari publik.

Diskriminasi Agama di Masyarakat
            Indonesia merupakan negara dengan berbagai sistem kepercayaan. Mayoritas Warga Negara Indonesia beragama Islam dengan persentase pemeluk agama Islam lebih dari 85%. Persentase yang besar ini mengundang pemikiran bahwa pemeluk agama Islam lebih superior dan berkuasa dibanding pemeluk agama lain.
Diskriminasi dalam kehidupan beragama sudah sering terdengar di Indonesia. Berbagai kasus diskriminasi mencapai tingkat ekstrim dan bersifat anarkis. Tindakan anarkis ini menyebabkan kekacauan dan ketidakteraturan sistem hukum di negara ini. Sering terjadi pembakaran rumah peribadatan, larangan mendirikan rumah peribadatan, dan perlakuan tidak adil terhadap pemeluk agama lain. Indonesia seharusnya merupakan suatu negara dengan kebebasan beragama bagi rakyatnya, hal ini dibuktikan dengan perubahan sila pertama dari Piagam Jakarta yang menyatakan Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya menjadi sila pertama dari Pancasila yang berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa”
Perubahan sila pertama Piagam Jakarta yang secara spesifik menyebutkan agama Islam menjadi sila pertama Pancasila yang tidak menyebutkan suatu agama secara spesifik seharusnya menjadi suatu pedoman dalam kehidupan beragama, bahwa Indonesia adalah negara yang mengakui adanya tuhan tanpa merujuk pada suatu agama mayoritas. Keputusan ini diambil atas kompromi dari pemimpin-pemimpin negara ini terhadap protes yang diajukan oleh Indonesia bagian Timur yang mayoritasnya bukan beragama Islam. Protes ini siterima dengan sangat baik oleh pemimpin-pemimpin terdahulu yang mampu berkompromi demi persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sayangnya, masyarakat kini mulai melupakan akar-akar dari berdirinya negara ini sehingga masih terjadi aksi diskriminasi terhadap kaum kepercayaan minoritas.
Kriminalitas Karena Diskriminasi
            Usaha untuk meraih keteraan derajat sosial maupun hukum sudah dilakukan di berbagai negara di seluruh dunia. Usaha ini dilakukan kaum minoritas untuk menghapuskan diskriminasi yang dapat berujung pada tindakan kriminal terhadap ras, suku, agama, orientasi seksual, kondisi fisik, dan gender tertentu. Tindakan kriminal yang ditujukan terhadap kaum tertentu dikenal dengan istilah hate crime atau kejahatan karena kebencian. Tindakan ini sering dilakukan terhadap kaum-kaum minoritas dengan berbagai tujuan salah satunya adalah penghapusan suatu kaum dari muka bumi.
Genosida adalah penghapusan suatu ras dari muka bumi. Kejahatan genosida ini adalah kejahatan yang dikutuk negara-negara di seluruh dunia. Nyatanya, kejahatan genosida ini sering dilakukan pada masa-masa perang. Sebagai contoh adalah pembunuhan massal orang-orang Yahudi di Jerman oleh tentara-tentara Nazi dibawah pimpinan Adolf Hitler, penguasa Jerman saat itu.
            Daftar kejahatan genosida di seluruh dunia:
1.       Pembantaian bangsa Kanaan oleh bangsa Yahudi pada milenium pertama sebelum Masehi.
2.      Pembantaian bangsa Helvetia oleh Julius Caesar pada abad ke-1 SM.
3.      Pembantaian suku bangsa Keltik oleh bangsa Anglo-Saxon di Britania dan Irlandia sejak abad ke-7.
4.      Pembantaian bangsa-bangsa Indian di benua Amerika oleh para penjajah Eropa semenjak tahun 1492.
5.      Pembantaian bangsa Aborijin Australia oleh Britania Raya semenjak tahun 1788.
6.      Pembantaian Bangsa Armenia oleh beberapa kelompok Turki pada akhir Perang Dunia I.
7.      Pembantaian Orang Yahudi, orang Gipsi (Sinti dan Roma) dan suku bangsa Slavia oleh kaum Nazi Jerman pada Perang Dunia II.
8.      Pembantaian suku bangsa Jerman di Eropa Timur pada akhir Perang Dunia II oleh suku-suku bangsa Ceko, Polandia dan Uni Soviet di sebelah timur garis perbatasan Oder-Neisse.
9.      Pembantaian lebih dari dua juta jiwa rakyat oleh rezim Khmer Merah pada akhir tahun 1970-an.
10.  Pembantaian bangsa Kurdi oleh rezim Saddam Hussein Irak pada tahun 1980-an.
11.  Efraín Rios Montt, diktator Guatemala dari 1982 sampai 1983 telah membunuh 75.000 Indian Maya.
12.  Pembantaian Rwanda, pembantaian suku Hutu dan Tutsi di Rwanda pada tahun 1994 oleh terutama kaum Hutu.
13.  Pembantaian suku bangsa Bosnia dan Kroasia di Yugoslavia oleh Serbia antara 1991 - 1996. Salah satunya adalah Pembantaian Srebrenica, kasus pertama di Eropa yang dinyatakan genosida oleh suatu keputusan hukum. [2]
14.  Pembantaian kaum berkulit hitam di Darfur oleh milisi Janjaweed di Sudan pada 2004

Di Indonesia sendiri kasus hate crime pernah terjadi pada masa Orde Baru dan Orde Lama terhadap kaum Tionghoa yang tinggal di Indonesia. Perlakuan masyarakat terhadap Warga Negara Asing atau WNA dari Arab berbeda dengan Warga Negara Asing yang berasal dari Cina. Tindak kriminal yang terjadi adalah pemerkosaan massal terhadap wanita-wanita dari etnis Tionghoa disertai dengan berbagai pembunuhan dan perampokan yang dikhususkan kepada etnis Tionghoa. Korban dari pemerkosaan tersebut masih memendam trauma mendalam yang membekas di diri mereka. Trauma ini menimbulkan efek jangka panjang yang merugikan bagi korban dan orang-orang sekitarnya. Kasus yang terjadi pada tahun 1998 ini dikarenakan adanya kesenjangan sosial dan perbedaan ras yang menyebabkan terjadinya diskriminasi dari kaum pribumi terhadap kaum Tionghoa.
Genosida hanyalah bagian dari berbagai kejahatan karena kebencian yang terjadi saat ini. Masih banyak perlakuan tidak adil terhadap suatu kaum yang melanggar hukum yang berlaku. Usaha-usaha untuk mengurangi terjadinya kejahatan-kejahatan seperti ini sudah mulai dilakukan oleh pihak yang berwenang di Indonesia.
Usaha-usaha untuk Meraih Kesetaraan
            Di negara-negara barat saat ini kaum minoritas sudah mulai berani untuk menuntut perlakuan yang setara dengan kaum mayoritas. Gay Pride Parade atau yang merupakan usaha dari kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) untuk meraih kesetaraan di mata hukum. Kaum LGBT seringkali menerima perlakuan tidak enak dari publik dikarenakan oleh orientasi seksual mereka. Presiden Amerika saat ini, Barack Obama, telah menyatakan dukungannya terhadap kesetaraan bagi kaum LGBT dengan harapan tidak terjadi lagi diskriminasi terhadap kaum minoritas.
            Di Indonesia saat ini kaum LGBT belum berani menuntut kesetaraan karena rasa takut akan berbagai hate crime yang dapat terjadi kepada mereka. Negara Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim dominan yang merupakan suatu pernyataan tersendiri bahwa kaum LGBT adalah kaum yang akan terasingkan dari masyarakat. Tindak diskriminasi terhadap kaum LGBT masih diabaikan oleh banyak orang di Indonesia saat ini. Sifat tidak peduli ini disebabkan oleh dasar pemikiran bahwa homoseksual adalah suatu penyakit mental dan harus dihindari agar tidak tertular.
            Dalam aspek-aspek lain seperti agama, kaum minoritas sudah mulai berani melakukan unjuk rasa menuntut kesetaraan hukum agar mereka dapat membangun tempat ibadah dan kebebasan beribadah. Seringkali hak beribadah mereka dihalangi oleh kaum agama mayoritas. Dalam beberapa kasus, kaum minoritas akhirnya menang dan memperoleh kembali hak mereka yang pada awalnya direbut paksa oleh kaum mayoritas.
            Undang-undang RI tentang diskriminasi dan kesetaraan sosial menunjukkan adanya usaha dari pemerintah untuk menghapuskan diskriminasi dari Republik Indonesia. Berikut adalah undang-undang yang menjelaskan perlindungan hukum dan keetaraan,
1.      Pasal 281 Ayat 2 UUD NKRI 1945 Telah menegaskan bahwa:
“Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif  atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif   itu“
2.       Pasal 3 UU No 30 Tahun 1999 tentang HAM Telah menegaskan bahwa:

“Setiap orang dilahirkan bebas dengan harkat dan martabat yang sama dan sederajat”
           
Solusi untuk Mencapai Toleransi di Masyarakat
            Kita sebagai manusia berhak untuk memiliki pendapat, baik itu terhadap suatu individu ataupun suatu kaum. Permasalahan diskriminasi terjadi akibat keputusan yang diambil sepenuhnya oleh prejudice. Perbedaan dalam suatu masyarakat tidak dapat dihilangkan, oleh karena itu persepsi suatu individu terhadap individu lainnya akan selalu terbentuk baik itu karena pendidikan yang diperoleh di masyarakat maupun karena pemikiran yang sudah ada sejak dahulu. Keputusan yang dibuat berdasarkan persepsi seringkali melupakan fakta yang terimplikasi. Manusia memiliki sifat yang berbeda-beda, dengan mengelompokkan manusia berdasarkan apa yang tampak dan apa yang menjadi pendapat publik sama saja dengan tunduk terhadap segala asumsi yang dibuat masyarakat akan suatu hal yang tak pasti. Untuk menghindari perlakuan tidak adil kita harus melihat kembali kedalam diri kita dan bertanya satu hal,
“Maukah saya diperlakukan seperti mereka?”









Sumber-sumber:
http://dejabreak.blogspot.com/2011/06/problematika-diskriminasi-dalam.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar