Sabtu, 22 September 2012

Tugas-4 Solusi Labsky untuk Kemanusiaan



 “DERADIKALISASI KEBERAGAMAAN”

            Seperti yang kita tahu, Indonesia ini adalah Negara yang mempunyai penduduk ketiga terbesar di dunia yaitu mencapai sekitar kurang lebih 250 juta penduduk (BKKBN Pusat). Berdasarkan letak geografisnya, Indonesia berada dalam 6º LU – 11º LS dan 95º BT - 141º BT. Antara Lautan Pasifik dan Lautan Hindi, antara benua Asia dan benua Australia, dan pada pertemuan dua rangkaian pergunungan, yaitu Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterranean (Ring Of Fire). Indonesia sendiri adalah negara yang mempunyai 17.508 pulau dengan 5 buah pulau besar yang terdiri dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dengan memiliki 7.870 pulau yang sudah memiliki nama, dan 9.634 pulau yang belum memiliki nama. Memiliki 1.128 suku bangsa, 726 bahasa, dan mengakui 5 agama.
            Dari 5 agama itu, semua mengajarkan tentang berbuat baik kepada sesama umat beragama dan antar agama. Agama merupakan sebuah kepercayaan yang dipercaya dan diakui kebenarannya oleh para pengikut – pengikutnya. Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.Kata "agama" berasal dari bahasa Sanskerta, agama yang berarti "tradisi". Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepadaTuhan. Emile Durkheim mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci. Kita sebagai umat beragama semaksimal mungkin berusaha untuk terus meningkatkan keimanan kita melalui rutinitas beribadah, mencapai rohani yang sempurna kesuciannya. Agama yang seyogyanya atau seharusnya menjadi penyejuk hati karena terkait dengan keimanan dan hal-hal yang bersifat ilahiyyah ternyata bisa berubah wujud menjadi sebuah bom yang eksplosivitasnya sangat tinggi. Banyak hal yang telah terjadi dan bersifat “radikal” dan “destruktif” ternyata berlatar belakang agama.
Contoh kasus dari radikalisme agama tersebut adalah kasus sampang. Kasus yang terjadi pada tanggal 26 Agustus 2012 lalu kasus sampang ini telah menyita perhatian dari sejumlah negara, kasus ini terjadi di daerah Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur. Ini terjadi karena Indonesia gagal melindungi minoritasnya dalam bidang keagamaan. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia memang tidak bisa melindungi minoritasnya, baik dalam kepercayaan, etnis, maupun agamanya. Ini juga memperburuk catatan Indonesia yang diakui sebagai Negara intoleransi.
Mengapa demikian hal itu terjadi? Banyak hal hal yang menyebabkan terjadinya radikalisme pada pemeluk agama, tapi hal yang paling penting dan menyebabkan radikalisme adalah pemahaman agama itu sendiri yang dangkal dari para pemeluk agama tersebut. Berawal dari dangkalnya pemahaman, memunculkan perasaan “merasa paling benar” sementara yang lainnya salah. Hal inilah yang kerap terjadi dan melatar belakangi sebuah peristiwa dari radikalisme agama tersebut.
Oleh karena itu, penulisan ini mengambil judul deradikalisme keberagamaan. Adapun tulisan ini akan membahas tentang :
a)      Apa itu radikalisme?
b)      Mengapa terjadi radikalisme?
c)      Bagaimana cara mengatasi radikalisme menjadi deradikalisme?

Radikalisme merupakan curahan keinginan masyarakat untuk hidup lebih baik. Istilah radikalisasi berasal dari bahasa latin:  Radix, yang berarti akar. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata radikalisme memiliki arti: “secara menyeluruh”, ”sangat keras menuntut perubahan”, dan ”maju dalam berpikir atau bertindak”. Jadi pengertian radikalisme menurut istilah adalah suatu paham yang menghendaki perubahan secara drastis, dan menghendaki pengikutnya melakukan tindakan yang ekstrim sesuai dangan pengejawantahan paham yang mereka anut, serta cenderung melakukan kekerasan untuk mempercepat perubahan yang mereka inginkan. Dalam pengertian ini, tindakan radikalisme adalah tindakan memperjuangkan perubahan dalam berbagai aspek, mulai dari politik, agama, sosial, dan budaya dengan tanpa segan menggunakan aksi kekerasan, untuk mencapai perubahan yang mereka inginkan.
Tindakan radikal tersebut merupakan buah pemikiran (paham) dari apa yang mereka rasakan selama ini tidak dapat menunjukkan kemajuan, sehingga dengan berbagai cara mereka melakukan tindakan untuk mencapai kemajuan.Radikalisme berhubungan dengan cita-cita yang diperjuangkan secara keras dengan mengembalikan akar persoalan  kepada asas/dasar pemikiran dari suatu ajaran. Radikalisme menurut persepsi masyarakat memiliki makna konotasi ekstremisme dan foundamentalisme yang erat kaitannya dengan kekerasan fisik. Namun mereka menempuhnya dengan cara yang tidak bisa diangggap baik oleh sebagian orang, yaitu cara tersebut dapat dengan menghalalkan segala cara. Sebenarnya cara tersebut kebenaranya masih diperdebatkan. Ada golongan yang pro dan kontra. Makin banyak gerakan radikalisme yang muncul karena persoalan agama, politik, maupun yang lainya sebagian besar bentuk radikalisme adalah perbuatan yang negative untuk umum.
Prof. Dr. H. Afif Muhammad menyatakan bahwa munculnya kelompok-kelompok radikal (dalam Islam) akibat perkembangan sosio-politik yang membuat termarginalisasi, dan selanjutnya mengalami kekecewaan, tetapi perkembangan sosial-politik tersebut bukan satu-satunya faktor. Di samping faktor tersebut, masih terdapat faktor-faktor lain yang dapat menimbulkan kelompok-kelompok radikal, misalnya kesenjangan ekonomi dan ketidak-mampuan sebagian anggota masyarakat untuk memahami perubahan yang demikian cepat terjadi. Radikalisme agama sering muncul dalam bentuk terorisme dalam alasan berjihad. Radikalisme agama paling banyak dibahas di kalangan masyarakat.. Ada beberapa sebab yang memunculkan radikalisme dalam bidang agama, antara lain,
(1) pemahaman yang keliru atau sempit tentang ajaran agama yang dianutnya,
(2) ketidak adilan sosial,
(3) kemiskinan,
(4) dendam politik dengan menjadikan ajaran agama sebagai satu motivasi untuk membenarkan tindakannya, dan
(5) kesenjangan sosial atau iri hati atas keberhasilan orang lain.

Pembahasan ini menitik beratkan kepada upaya deradikalisme yang disebabkan oleh poin pertama, yaitu pemahaman agama yang kurang dan dangkal serta sempit. Dengan demikian, maka upaya yang ingin diketengahkan oleh penulis adalah bagaimana cara mengatasi radikalisme menjadi deradikalisme, terkait dengan pemahaman agama.
Pendidikan agama pertama kali diperkenalkan di lingkungan keluarga, oleh karena itu, dasar yang kuat tentang pemahaman agama harus dimiliki oleh orang tua. Bagaimana jika seandainya tidak? Orang tua bisa mengirimkan anaknya ke sekolah sekolah yang memiliki muatan agama yang cukup baik, tetapi orang tua tidak bisa membiarkan anaknya begitu saja dengan tidak memantaunya. Pemantauan orang tua akan sangat membantu keterlangsungan pendidikan agama yang dilakukan disekolahnya masing masing. Bentuk pantauan orang tua bisa dengan cara mendatangkan guru agama yang bisa mengajarkan anaknya teori atau kaidah yang berkaitan dengan agama secara intens dan terperinci. 
Selain pendidikan agama di sekolah, pergaulan juga mempengaruhi terhadap pola pikir agama. Pergaulan yang bagus adalah pergaulan yang menitik beratkan kepada sosialisasi yang bagus, mengetahui hal hal yang buruk atau baik, bisa bertanggung jawab atas apa apa yang telah dilakukannya, dan bisa saling membantu satu sama lain, sedangkan pergaulan yang buruk adalah pergaulan yang menitik beratkan kepada kenakalan remaja, tidak bisa bertanggun jawab atas apa apa yang telah dilakukannya.
Salah satu upaya yang dinilai ampuh untuk memberantas radikalisme tersebut adalah dengan cara program deradikalisasi. Deradikalisasi itu merupakan upaya menetralisir paham radikal bagi mereka yang terlibat teroris dan para simpatisannya serta anggota masyarakat yang telah terekspos paham-paham radikal, melalui re-edukasi dan re-sosialisasi serta menanamkan multikuralisme. Terkait program deradikalisasi itu, pemerintah Indonesia berencana tidak hanya akan dilakukan secara parsial yang hanya melibatkan Polri saja, Tetapi juga akan melibatkan institusi lain seperti Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional sebagai misalnya. “Karena ajaran fanatisme masih banyak berkembang di Indonesia, maka penting untuk melakukan deradikalisasi terhadap orang-orang tersebut”, kata Ketua Divisi Pembinaan Hukum Polri, Irjen Polri Aryanto Sutadi. “Menko Polhukam juga telah mendesak beberapa pihak untuk melakukan ini melalui penyebaran buku Islam moderat di beberapa LP. Kita memang selalu dianggap terdepan tapi dibanding negara lain kita terlembek. Mereka itu, para ulama dan masyarakat, adalah pelaksana program utama. Mereka sendiri yang tahu radikalisme itu apa. Apa yang mereka gunakan, doktrin agama apa yang mereka gunakan untuk mempengaruhi orang sampai jadi teroris. Ya para ulama kita yang paling tahu, dan mereka yang tahu untuk meluruskan itu. Bukan berarti ulama disuruh jadi intel dan melapor.” jelas Kepala Desk Antiteror Polhukam, Ansya’ad Mbai.
Penanggulangan aksi-aksi kekerasan, teror dan radikalisme dinilai sangat penting untuk mengelola keamanan di tanah air. Salah satunya dengan menyusun Program Nasional Kontra Radikal Terorisme yang baru saja di bahas bersama Wapres Boediono dan beberapa menteri terkait. “Yang perlu saya tegaskan, ini bukan reaksi atas kejadian yang terakhir di Depok atau Solo. Ini adalah program Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang sudah dirancang sejak beberapa waktu lalu,” jelas Wapres Boediono saat memberi keterangan pers di Kantor Wapres, Jakarta.
Program deradikalisasi ini dibentuk untuk menjangkau berbagai aspek kehidupan masyarakat. Tidak hanya polisi maupun aparat keamanan lainnya, tapi juga seluruh kementerian, lembaga negara dan civil society. Termasuk di antaranya seluruh perguruan tinggi, ulama dan tokoh masyarakat. “Upaya penindakan sudah ada jalan, bekerjasama dengan Polri, Densus dan lain sebagainya. Deputi Pencegahan dan Program Deradikalisasi inilah yang harus mengemuka di dalam kegiatan-kegiatan ke depan. Ini bukan hanya dikerjakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, karena program ini juga harus melibatkan dan menjadi kepedulian lembaga dan kementerian lainnya, juga civil society; LSM, universitas, ulama, MUI dan lain sebagainya,” kata Djoko Suyanto.
Pemerintah minta masyarakat dan pemuka agama mendukung program deradikalisasi dalam upaya mencegah aksi terorisme yang dimotori oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Pemerintah juga berencana akan membuat cetak biru deradikalisasi. Menurut Boediono, program cetak biru deradikalisasi terorisme bukan program dadakan terkait aksi teroris yang marak belakangan terjadi.
Jadi intinya, jangan melakukan tindak kriminal seperti radikalisme tadi, apalagi radikalismenya menyangkut tentang agama. Teroris teroris segera dimusnahkan, karena buat apa diadakan teroris? Bukannya membuat bangsa tersebut maju malah hanya merusak moral bangsa. Bisa jadi perang dunia ketiga dimulai hanya karena radikalisme merajalela, jadi buatlah bangsa ini menjadi bangsa yang patut untuk diacungi jempol.

Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar