Sabtu, 22 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky Untuk Kemanusiaan


"Bullying is not okay. Period."

            Bagi Anda yang senang menonton serial TV Amerika, pasti mengenal Glee. Glee adalah serial TV-show yang diproduksi oleh Amerika Serikat yang berceritakan tentang sekelompok paduan suara SMA yang bersaing dan para anggotanya mengalami bullying  atau intimidasi. Di TV show tersebut sering diceritakan anak-anak SMA yang underdog sering dicemooh dan disiram dengan slushee. Pada kali ini, tentu topik pembicaraan saya bukanlah tentang Glee, tetapi tentang bullying.
            Bullying atau dibahasa Indonesiakan sebagai intimidasi berasal dari kata Bully, yaitu suatu kata yang mengacu pada pengertian adanya “ancaman” yang dilakukan seseorang terhadap orang lain (yang umumnya lebih lemah atau “rendah” dari pelaku), yang menimbulkan gangguan psikis bagi korbannya (korban disebut bully boy atau bully girl)berupa stres (yang muncul dalam bentuk gangguan fisik atau psikis, atau keduanya; misalnya susah makan, sakit fisik, ketakutan, rendah diri, depresi, cemas, dan lainnya).
            Sekolah adalah tempat belajar dan juga tempat bersosialisasi antar individu. Sebagai tempat sosialisasi, bisa terjadi penyimpangan seperti bullying.  Tindakan bullying ini sedang marak terjadi di sekolah-sekolah di Indonesia maupun di dunia Internasional seperti Amerika dan sebagainya. Bullying ini tidak hanya sering terjadi kalangan SMA atau mahasiswa, tetapi juga kalangan SMP dan SD. Padahal, di usia dini seperti itu adalah masa dimana anak memepelajari moral-moral tingkah laku. Jika saat kecil mendapat tindakan bullying dan hal itu tidak diatasi, ada potensi kedepannya ia menadi pelaku bullying karena adanya niat untuk membalas perilaku yang ia terima dulu atau juga bisa menjadi trauma dan mempengaruhi karakternya terhadap orang-orang di lingkungannya.
            Bullying itu secara umum dibagi 3:
1.     Fisik : jenis ini menyerang fisik korban dengan meninggalkan luka atau bekas lainnya. Contohnya menyakar, memukul, menampar dsb.
2.     Verbal: jenis bully ini dilakukan dengan menyakitkan hati melalui omongan. Contohnya mengejek nama orang tua, mencemooh, menyindir dsb.
3.     Psikologis : jenis bully ini menyerang batin. Contohnya: memfitnah, menyebarkan gosip dsb.
            Selain bentuk-bentuk bully diatas, terdapat juga bentuk lain. Seiring berkembangnya teknologi, juga terjadi bullying menggunakan alat elektronik yang disebut dengan Cyber Bullying. Cyber Bullying ini bisa dilakukan dengan ancaman telepon atau memberikan pesan negatif melalui sms atau jejaring sosial. 
              Bullying yang sedang banyak terjadi yaitu bullying antar senior dan junior. Senior sebagai yang tertua di sekolah biasanya yang memiliki kekuasaan atas juniornya. Mereka yang memiliki kekuasaan membuat juniornya tunduk pada mereka. Bentuk bullying nya bermacam-macam, bisa fisik, verbal ataupun psikologis.  Tetapi, bullying tidak hanya terjadi pada senior dan junior saja. Sering kali juga terjadi pada teman sebaya.
              Komnas Perlindungan Anak (PA) setiap tahun mendata kasus bullying, dan saat ini rekor masih dipegang tahun 2011. Tercatat di tahun 2011 terdapat 139 kasus bullying di sekolah seluruh Indonesia. Kasus yang banyak terjadi adalah antar senior yang berkuasa terhadap juniornya. Hal ini sangat meprihatinkan.
              Apa sebenarnya alasan mereka membully? Berikut beberapa kemungkinan dan alasannya.
1.     Tradisi Lanjutan
Tradisi Lanjutan yang dimaksud adalah bully antar senior dan junior. Senior yang telah memulai bully kepada juniornya akan mengalami kecenderungan nanti ketika junior tersebut telah menjadi senior, ia akan membalas dendam dan melakukan bullying terhadap adik kelasnya seperti apa yang telah ia alami. Dan ini bisa terjadi terus menerus dan membuat "siklus".
2.     Lingkungan yang tidak kondusif
            Lingkungan yang tidak mendukung, sangat mempengaruhi pembentukan karakter remaja. Misalnya remaja yang hidup di lingkungan masyarakat yang apabila menyelesaikan masalah lewat perkelahian akan tertular kedirinya sendiri dan cenderung akan mengikutinya. Selain itu juga akhir-akhir ini banyak media massa yang menampilkan kekerasan yang bisa memberi contoh kepada anak atau remaja.
3.     Iri Hati
            Bullying bisa terjadi apabila terdapat ketidakpuasan diri seseorang setelah melihat apa yang dimiliki orang lain. Pelaku bully akan melakukan segala cara agar saingannya tersebut jatuh. Biasanya dilakukan dengan cara verbal dan bullying secara tidak langsung.
4.     Masalah keluarga
            Masalah keluarga tentu berpengaruh dalam sosialisasi anak. Seorang anak yang broken home berpotensi untuk melakukan kekerasan akibat tidak ditanamkannya moral pada dirinya dan juga kurangnya kasih sayang dari keluarganya. Selain itu, penyimpangan sosial anak bisa disebabkan oleh orang tua yang terlalu cuek. Tidak adanya komunikasi akan fatal dan menyebabkan anak tidak mengetahui batasan-batasan moral dalam perilaku yang seharusnya ada dalam dirinya.
5.     Ingin menunjukkan kekuasaan
            Hal ini terjadi karena presepsi diri yang salah. Menurut orang yang ingin menunjukkan kekuasaan, dengan membully ia akan menjadi keren dan eksis. Sehingga dia akan terus menerus membully sehingga dirinya pun ditakuti dan disegani.
              Bullying ini sangat tentunya sangat tidak baik apabila terus dilakukan akan menimbulkan "bekas". Tentunya bullying ini akan memberikan dampak, antara lain:
1.       Salah satu dampak dari bullying yang paling jelas terlihat adalah kesehatan fisik. Beberapa dampak fisik yang biasanya ditimbulkan bullying adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk, bibir pecah-pecah, dan sakit dada. Bahkan dalam kasus-kasus yang ekstrim seperti insiden yang terjadi di IPDN, dampak fisik ini bisa mengakibatkan kematian.
2.       Terganggu prestasi akademisnya atau sering sengaja tidak masuk sekolah. Terkadang korban bully ingin menghindari sekolah sehingga ia tidak dibully dengan temannya atau seniornya. Hal ini bisa menyebabkan akademisnya turun.
3.       Timbulnya gangguan psikologis pada korban bullying, seperti rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, dan gejala-gejala gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder)bahkan depresi dan berkeinginan untuk bunuh diri dengan menyilet-nyilet tangannya sendiri.
4.       Kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. Dengan ia selalu di-bully, terbentuklah karakter yang tidak mudah bersosialisasi akibat gangguan-gangguan psikologis seperti yang disebutkan diatas.
5.       Rusaknya nilai kemasyarakatan yang ada kedepannya.
            Menurut saya, bullying yang ada di sekolah-sekolah harus dihilangkan. Karena sekolah seharusnya membentuk anak agar menjadi pribadi yang baik dan berintegritas tinggi. Jika bullying yang membentuk karakter anak, akan jadi apa generasi kita nanti? Maka dari itu kita harus menghapuskan bullying yang ada di sekolah kita.
            Penghapusan bullying bisa dimulai dari korban bully. Sebagai manusia, kita semua sederajat. Maka dari itu kita harus bisa menjunjung tinggi martabat kita sendiri. Kita harus bisa membela diri apabila kita dijatuhkan. Apabila kita dibully, tahanlah emosi jangan menunjukkan kalau anda telah "kalah". Lawanlah si pelaku dengan tegas.
            Sebagai pelaku bullying, kita seharusnya sadar bahwa bullying adalah perilaku yang tidak benar adanya. Apalagi bagi yang memang sudah pernah merasakan, tentu tidak enak bukan? Mengapa perlu orang lain turut merasakannya? Sehingga saran saya, kita harus intropeksi diri sendiri. Sehingga kita juga bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak suka merusak pribadi orang lain. Apabila ada masalah dengan orang, seperti junior yang berbuat salah. Tegurlah dengan baik, jangan disindir atau dibentak-bentak. Karena dengan cara damai juga akan lebih mudah. Dan dengan cara damai seperti itu, tidak ada rasa dendam orang yang bersangkutan.
            Guru tidak bisa tinggal diam. Karena guru dianggap sebagai orang tua kedua anak, guru-guru harus bisa mengawasi anak-anaknya. Tindakan yang bisa dilakukan guru dalam mengatasi bullying yaitu:
1.              Tegas. Kebanyakan guru terlalu santai terdapat pelaku bullying dan juga terdapat guru-guru yang merasa karena bullying telah biasa di sekolahnya mereka pun menjadi cuek. Sehingga membuat pelaku merasa bebas dan merasa diizinkan dalam melakukan bullying.
2.              Adakan seminar Anti-bullying. Mungkin agak monoton, tapi paling tidak akan membuat orang tua dan murid menjadi lebih terbuka matanya tentang dunia bullying.
3.              Adakan mentoring dengan murid. Selayaknya orang tua kedua anak, lakukan mentoring dan tanya kebutuhan masing-masing anak. Dan juga sediakan waktu untuk murid agar bisa sharing pengalamannya di sekolah.
4.              Buat kampanye anti-bullying. Seperti Program Young Hearts. Pada tahun 2008 organisasi Plan bersama Sejiwa membuat program Young Hearts. Dalam program ini Plan dan Sejiwa mengajak 150 siswa sekolah se-Jabotabek berpartisipasi dalam kegiatan kampanye anti bullying di sekolah. Para siswa sekolah ini menentang aksi bully lewat karya seni mereka masing-masing, yaitu poster, lukisan, foto dan lagu.
            Orang tua juga bisa terlibat dalam penghapusan bullying. Tetapi, sebagai orang tua, Anda harus bisa mengenali karakter dari anak Anda. Sehingga dengan begitu, Anda bisa mengetahui keadaan anak Anda. Setelah Anda bisa membaca keadaan anak anda, barulah Anda bisa membantu. Tetapi, lakukanlah dengan perlahan. Berkomunikasilah dengan anak. Dan ketika mendapati bahwa anak Anda menjadi korban bully, sebaiknya Anda membantu anak  agar ia merasa terlindungi. Ajaklah berkomunikasi dan berikanlah saran yang baik agar anak tersebut belajar mengatasi masalahnya sendiri. Tetapi apabila memang sudah melewati batas, Anda bisa menegur anak yang membully dan memberitahukan guru di sekolah agar bisa mengawasi tindakan bullying. Apabila anak Anda ternyata adalah pelaku bully, tegurlah dan beritahukanlah yang terbaik  dan hal yang dilakukannya itu tidak baik. Dengan begitu juga, anak Anda akan mengerti mana yang benar dan yang tidak benar.
            Mungkin memang sulit menghilangkan bullying di sekolah. Apalagi jika bulying tersebut telah menjadi tradisi di sekolah yang bersangkutan. Tetapi dengan bimbingan yang baik, penghapusan bullying menurut saya itu mungkin. Maka dari itu mulailah intropeksi diri demi generasi kita yang cerah.
           

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar