Sabtu, 22 September 2012

Tugas 4 – Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


               “Buat apa punya anak kalau hanya untuk di siksa?”

Definisi anak menurut Undang-Undang Perlindungan Anak No 23 tahun 2002;

       “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak dalam kandungan.”

Undang-undang ini mencakup janin, bayi, anak-anak sampai berumur 18 tahun. Undang-undang ini juga mengatur tanggung jawab sosial anak dan tanggung jawab anak dimuka hukum. Kekerasan (Bullying) menurut Komisi Perlindungan Anak (KPA) adalah kekerasan fisik dan psikologis berjangka panjang yang dilakukan seseorang atau kelompok terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan diri dalam situasi dimana ada hasrat untuk melukai atau menakuti orang atau membuat orang tertekan, trauma/depresi dan tidak berdaya. Batas-batas kekerasan menurut Undang-Undang Perlindungan Anak nomor 23 tahun 2002 ini, Tindakan yang bisa melukai secara fisik maupun psikis yang berakibat lama, dimana akan menyebabkan trauma pada anak atau kecacatan fisik akibat dari perlakuan itu. Dengan mengacu pada defenisi, segala tindakan apapun seakan-akan harus dibatasi, dan anak harus dibiarkan berkembang sesuai dengan hak-hak yang dimilikinya (Hak Asasi Anak). Hak anak untuk menentukan nasib sendiri tanpa intervensi dari orang lain.
       
MASALAH

            Terdapat sebanyak 3.332 kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada Januari-Agustus 2012. Bukan hanya di Indonesia saja melainkan di seluruh dunia, banyak sekali kekerasan yang terjadi pada anak kecil. Kekerasan terhadap anak merupakan tindakan kekerasan secara fisik, seksual, penganiyaan emosional atau pengabaian terhadap anak. Kebanyakan hal ini terjadi di rumah yang di sebabkan oleh emosional seseorang yang tidak bisa di kendali.
            Anak biasanya menjadi pelampiasan emosional para orang tua, memang kalau melihat lingkungan sekitar memang tidak banyak, tapi mungkin karena hanya kita melihatnya di lingkungan sekitar saja, bukan berarti tidak ada malah banyak sekali kekerasan yang di lakukan orang tua pada anak nya. Tidak hanya kekerasan pada anak, ada juga kekerasan lain nya yang di alami oleh anak bila sekitar lingkungan anak tersebut tidak baik contoh nya tawuran antar pelajar, diskriminasi pelajar, dan kasus-kasus kekerasan lain nya. Tipe-tipe kekerasaan anak meliputi penelantaran, kekerasan fisik dan pelecehan seksual anak. Penelantaran yang di maksud disini merupakan proses gagal nya orang tua dalam memenuhi kebutuhan anak nya, mereka tidak peduli anak nya berbuat apa dan melepas tanggung jawab mereka dalam hal fisik termasuk pakaian yang cukup dan bersih lalu emosional dalam memberikan kasih sayang, pendidikan dalam hal menyekolahkan anak nya atau pun medis. Banyak nya pengangguran juga sangat mempengaruhi karena jika mereka tidak bekerja otomatis tidak mendapatkan duit, dari hasil tersebut bisa di simpulkan bahwa mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri apalagi anak mereka sendiri, mempunyai anak merupakan tanggung jawab yang besar. Kekerasan fisik adalah agresi fisik diarahkan pada seorang anak oleh orang dewasa, seperti meninju, memukul, menendang, mendorong, menampar, membakar, membuat memar, menarik telinga, menusuk, menjambak dan lain-lain nya. Dalam hal ini jika salah satu kekerasan fisik terjadi dapat mengakibatkan tekanan intrakranial, pembengkakan otak, cedera, dan kekurangan oksigen mengakibatkan cacat juga karena sering di siksa. Sebagian besar negara dengan hokum kekerasan terhadap anak mempertimbangkan penderitaan dari kekerasaan yang dilakukan oleh orang dewasa.


SOLUSI

            Solusi yang dapat saya berikan adalah lebih tegas nya pemerintah dalam hal kekerasan terhadap anak ini karena di masa depan kelak pasti akan berguna untuk negara. Lagipula, anak adalah aset yang sangat berharga tidak ada orang tua yang membenci anak nya sendiri, tidak mungkin karena anak merupakan darah daging mereka sendiri kecuali kalau orang tua mereka mempunyai gangguan jiwa atau tidak waras. Tapi saya yakin, semua orang tua pasti tidak tega melakukan kekerasan pada anak nya sendiri apalagi melihat orang lain melakukan kekerasan pada anak nya sendiri. Kalau memang tidak stop, lebih baik lapor ke lembaga-lembaga perlindungan anak salah satu nya adalah Komisi Nasional Perlindungan Anak atau KOMNASPA yang berfungsi untuk melindungi anak dan mengatasi masalah-masalah kekerasan yang terjadi pada anak. Dampak dari kekerasan terhadap anak Moore menyebutkan bahwa efek tindakan dari korban kekerasan fisik dapat di bedakan beberapa kategori disini efek pada anak terdapat 2, yaitu negatif dan positif dalam negatif di bidang psikologi anak bisa mudah frustrasi dan menjadi apatis dan sangat pasif. Kadang-kadang suka susah menjalin hubungan dengan orang lain atau bersosialisasi ada juga yang tidak mempunyai kepribadian sendiri dalam bidang medis pun tubuh anak juga bisa terserang gangguan sistem syaraf dan gak konek nya antara kelakuan dan pikiran. Kalo dalam positif nya, anak tersebut mulai terpacu untuk melakukan hal-hal yang diminta oleh orang tua nya misalnya orang tua memukuli karena ia tidak belajar, memang dalam hal ini orang tua seharusnya tidak melakukan tindakan fisik namun disini anak mulai melihat kesalahan dan menyadari kesalahan dia dan belajar dari pengalaman agar tidak terjadi hal tersebut. Korban dari kekerasan tersebut umum nya menjadi dendam dan melakukan hal-hal yang menyimpang di kemudian hari.
Berikut ini adalah dampak-dampak yang ditimbulkan kekerasan terhadap anak (child abuse) antara lain;
1.     Dampak kekerasan fisik
Awalnya hal ini terjadi karena sifat buruk yang turun menurun yaitu sifat agresif yang sudah tingkat parah. Orang tua yang agresif akan melahirkan anak lalu anak tersebut akan tumbuh menjadi dewasa dan memiliki sifat agresif juga. Hal ini menggambarkan bahwa semua jenis gangguan mental ada hubungan nya dengan perlakuan buruk yang diterima oleh manusia ketika dia masih kecil. Kekerasan fisik ini jika pertama kali di lakukan akan muncul nya habit atau kebiasaan, kekerasaan fisik yang berlangsung secara berulang-berulang ini dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan cedera serius dan meninggalkan bekas luka bisa juga terjadi cacat pada anak dan bila tingkat nya sudah parah bisa menyebabkan meninggal dunia.
2.     Dampak kekerasan psikis
Unicef (1986) mengemukakan, anak yang sering dimarahi orang tuanya, apalagi diikuti dengan penyiksaan, cenderung meniru perilaku buruk (coping mechanism) seperti bulimia nervosa (memuntahkan makanan kembali), penyimpangan pola makan, anorexia (takut gemuk), kecanduan alkohol dan obat-obatan, dan memiliki dorongan bunuh diri. Menurut Nadia (1991), kekerasan psikologis sukar di identifikasi atau di diagnosa karena tidak meninggalkan bekas yang nyata seperti penyiksaan fisik. Jenis kekerasan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang termanifestasikan dalam beberapa bentuk, seperti kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina persahabatan, perilaku merusak, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri;
3.     Dampak kekerasan seksual
Dampak kekerasan seksual ini diantara korban masih merasa dendam terhadap pelaku, mempunyai trauma tersendiri, merasa rendah diri dan takut menikah. Bahkan eksploitasi seksual yang dialami semasa masih anak-anak banyak ditengarai sebagai penyebab keterlibatan dalam prostitusi. Jika kekerasan seksual terjadi pada anak yang masih kecil pengaruh buruk yang ditimbulkan antara lain dari yang biasanya tidak mengompol jadi mengompol, mudah merasa takut, perubahan pola tidur, kecemasan tidak beralasan, atau bahkan simtom fisik seperti sakit perut atau adanya masalah kulit, dan lain-lain nya.
4.     Dampak penelantaran anak
Pengaruh yang paling terlihat jika anak mengalami hal ini adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak. Jika anak kurang kasih sayang dari orang tua menyebabkan berkembangnya perasaan tidak aman, gagal mengembangkan perilaku akrab, dan selanjutnya akan mengalami masalah penyesuaian diri pada masa yang akan datang.
            Berdasarkan uraian diatas dampak kekerasan terhadap anak antara lain;
 1) Kerusakan fisik atau luka fisik;
 2) Anak akan menjadi individu yang kukrang percaya diri, pendendam dan  agresif
 3) Memiliki perilaku menyimpang, seperti, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan  alkohol, sampai dengan kecenderungan bunuh diri
 4) Jika anak mengalami kekerasan seksual maka akan menimbulkan trauma mendalam pada anak, takut menikah, merasa rendah diri, dll
 5) Pendidikan anak yang terabaikan.
            Hal yang bisa di lakukan untuk orang tua yang terus menerus melakukan tindakan kekerasan pada anak nya adalah di bawa ke psikologi disitu dapat di latih untuk mengendalikan emosi nya. Bisa juga di bawa ke dokter mungkin kondisi fisik nya yang lelah mempengaruhi emosi nya yang naik turun. Untuk anak yang menjadi korban kekerasan orang tua nya juga bisa di periksa ke psikologi agar mendapatkan terapi khusus dan sesuai, orang tua juga dapat membantu meningkatkan percaya diri nya kembali dan berikan lah kasih sayang yang lebih pada anak nya. Stop melakukan kekerasan pada anak!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar