Rabu, 19 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky Untuk Kemanusiaan


“Perdagangan Anak, suatu Ketidakadilan dalam Roda Kehidupan”

Kita telah mengetahui bersama bahwa setiap manusia telah memiliki berbagai macam hak sejak mereka dilahirkan ke dunia ini. Hak untuk hidup, hak untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman, hak untuk memiliki kehidupan yang layak, hak untuk mengeluarkan pendapat dan masih banyak lagi hak lainnya yang telah didapatkan oleh seseorang. Hak tersebut telah diatur sedemikian rupa dalam Undang-Undang Dasar 1945 tepatnya pada pasal 28A-28J. Sehingga, karena telah memiliki hak masing-masing, setiap individu diharapkan dapat menghormati hak-hak yang dimiliki oleh orang lain. Salah satu caranya adalah berlaku adil dengan tidak merampas hak yang menjadi milik orang lain. Sila keempat dan kelima juga telah mengingatkan kita untuk berlaku adil dengan orang lain. Isi dari sila keempat adalah “Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Sedangkan sila kelima berbunyi ”keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”  Dari pernyataan tersebut, sudah jelas terbukti bahwa Indonesia sangat menjunjung tinggi keadilan bagi setiap warga negara Indonesia tanpa memandang golongan, status, suku, agama ataupun  jenis kelamin.
Tapi sepertinya, sebagian besar orang telah mengabaikan sila-sila pancasila maupun Undang-Undang Dasar 1945. Hal itu terlihat dari adanya perampasan hak dari individu tertentu yang akhirnya menimbulkan ketidakadilan dalam kehidupan masyarakat. Contoh nyatanya dapat kita lihat dari adanya perlakuan yang tidak adil bagi anak-anak kecil yang berusia dibawah umur terutama anak-anak kecil yang berasal dari golongan yang dapat dikatakan kurang mampu.Salah satu bentuk kasusnya adalah perdagangan anak yang berusia dibawah umur oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan hanya mementingkan diri mereka sendiri. Anak-anak tersebut diperdagangkan ke luar negeri untuk dipekerjakan sebagai budak, buruh ataupun yang terparah sebagai Pekerja Seks Komersil. Setelah anak-anak tersebut diperlakukan demikian, para pengirim (atau kerap kali disebut juga sebagai agen perdagangan) bahkan tidak lagi mempedulikan kondisi anak tersebut. Yang terpenting bagi mereka adalah mereka telah mendapatkan bayaran melalui pengiriman anak tersebut. Lebih memprihatinkan lagi, ketika kita mendengar kabar bahwa setelah mereka dipekerjakan seperti itu, mereka disiksa dan mendapatkan upah yang tidak sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. Selain itu, banyak hak mereka yang dirampas begitu saja seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan kasih sayang serta hak untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman. Padahal hak tersebut seharusnya didapatkan oleh setiap anak. Ketika seharusnya seorang anak mendapatkan pendidikan setinggi mungkin dan berusaha untuk meraih apa yang menjadi impian dan juga cita-cita mereka masing-masing, mereka telah dikirimkan untuk bekerja dan mimpi mereka pun kandas di tengah jalan. Ketika mereka seharusnya mendapatkan kasih sayang dari orangtua mereka, kekejaman dan ketidakadilan yang mereka dapatkan. Ketika seharusnya mereka bisa hidup dengan aman dan nyaman, hidup dalam kekanganlah yang mereka dapatkan. Begitu memprihatinkan bukan? Sebenarnya, apakah itu perdagangan anak dan apa tujuan dari kegiatan tersebut?
Anak-Anak Korban Perdagangan di Afrika
Perdagangan anak sendiri terjadi akibat adanya Konvensi Internasional atas penindasan wanita dan anak-anak yang diselenggarakan pada tanggal 30 September 1921.Menurut ODCCP ( Office for Drug Control and Crime Prevention) perdagangan anak didefinisikan sebagai perekrutan, pemindahan, pengiriman, penempatan atau menerima anak-anak di bawah umur untuk tujuan eksploitasi dan itu menggunakan ancaman, kekerasan, ataupun pemaksaan lainnya seperti penculikan, penipuan, kecurangan, penyalahgunaan wewenang maupun posisi penting. Dari definisi yang tertera di atas, sudah jelas mengapa anak-anak tersebut tidak bisa menolak ketika akan diperdagangkan ke luar negeri. Ya, mereka sudah diancam terlebih dahulu oleh para agen perdagangan yang akan merekrut mereka. Selain menggunakan ancaman untuk mendapatkan anak-anak yang nantinya akan diperdagangkan, ada banyak modus yang digunakan oleh para agen perdagangan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan tradisi pada sebagian kaum yaitu tradisi dimana anak ketiga atau keempat dikirimkan untuk hidup dan bekerja di kota dengan seorang anggota keluarga jauh, dengan janji akan memberikan pendidikan, pekerjaan dan pelajaran berdagang kepada anak tersebut. Tradisi tersebut membuat para agen dapat dengan lebih mudah mendapatkan korban. Agen perdagangan tersebut akan memposisikan diri mereka sebagai anggota keluarga jauh, yang kemudian membujuk para orang tua untuk berpisah dengan anak mereka agar kehidupan mereka dapat berubah menjadi lebih baik. Modus lain yang digunakan oleh para agen perdagangan adalah pemberian beasiswa, orang tua asuh, pemberian pekerjaan dan iming-iming pemberian hadiah. Pada kondisi keluarga yang kurang mampu, siapa yang tidak tertarik ketika mendapatkan tawaran yang menggiurkan seperti demikian? Dalam benak mereka, ketika anak mereka bisa mendapatkan pendidikan maka kehidupan mereka dapat berubah menjadi lebih baik daripada sebelumnya sehingga akhirnya mereka pun setuju untuk menyerahkan anak mereka kepada para agen perdagangan. Selain itu, tawaran pekerjaan yang diberikan juga cukup menggiurkan  mereka karena mungkin kesulitan ekonomi yang mereka hadapi sehingga mereka memang membutuhkan pekerjaan tersebut agar dapat mengatasi kesulitan ekonomi yang mereka hadapi. Tetapi kenyataannya, itu semua dapat dikatakan sebagai sebuah tipuan belaka.  Seperti yang dikatakan oleh Direktur Pusat Kajian dan Perlindungan Anak, Ahmad Sofian di Medan pada tanggal 1 Desember 2010, "Kemiskinan merupakan salah satu penyebab mengapa praktik perdagangan dan pelacuran anak tumbuh subur, selain beberapa sebab lainnya seperti korban yang memang tertipu oleh sindikat perdagangan dengan iming-iming akan diberikan pekerjaan.” Begitu memprihatinkan bukan?
Pekerjaan Para Anak Korban Perdagangan, Buruh
Korban dari perdagangan anak sejauh ini diperkirakan sudah mencapai 300.000 anak dan sebanyak 4.667.000 anak rentan untuk dijadikan sasaran dari perdagangan anak. Anak-anak yang  menjadi korban perdagangan biasanya berasal dari berbagai daerah seperti Jakarta, Medan, Surabaya, dan Malang dan nantinya akan dikirimkan ke luar negeri, seperti ke Singapura, Malaysia, Thailand, Hongkong, Arab Saudi, dan Australia. Korban yang ada juga diperkirakan akan terus meningkat setiap tahunnya. Maka dari itu, agar tidak semakin banyak anak yang menjadi korban perdagangan, kita harus mencari berbagai solusi yang dapat mengatasi permasalahan tersebut. Apa saja solusi yang dapat diberikan untuk mengatasi masalah perdagangan anak?
Kota Asal Korban Perdagangan
Meningkatkan kepedulian pemerintah terhadap masyarakat. Banyaknya perdagangan anak yang terjadi di Indonesia ini salah satunya dapat disebabkan karena pemerintah yang kurang memiliki kepedulian terhadap masyarakat yang mereka pimpin. Lembaga-lembaga yang dibuat untuk melakukan pengawasan anak yang berusia dibawah umur tidak berfungsi dengan baik. Hal itu dapat kita lihat dengan banyaknya korban perdagangan. Selain itu,menurut saya pemerintah juga tidak memberikan respon bagi kasus-kasus perdagangan anak yang telah terjadi sebelumnya. Maksud saya adalah sebagai berikut kasus perdagangan anak sudah sering terjadi dan jika memang pemerintah peduli akan hal itu, maka mereka akan melakukan pengawasan yang lebih dan memperketat aturan-aturan yang telah ada saat ini. Tetapi apa yang terjadi? Semakin tahun semakin banyak saja korban perdagangan anak. Padahal jika pemerintah peduli, seharusnya jumlah korban perdagangan anak semakin menurun setiap tahunnya atau bahkan sudah tidak ada lagi. Itulah bukti nyata dari kurangnya kepedulian dan perhatian pemerintah terhadap kasus ini. Maka dari itu sebaiknya pemerintah harus mau terjun langsung untuk mengatasi permasalahan ini agar tidak terus berlanjut selain itu pemerintah juga harus lebih cepat tanggap dan peduli akan masalah yang dihadapi oleh masyarakatnya.
Memperketat peraturan dan memfungsikan lembaga-lembaga pengawasan anak dibawah umur semaksimal mungkin. Saat ini sudah banyak peraturan-peraturan yang dibuat terkait dengan anak dibawah umur serta perlindungan bagi mereka. Tetapi, peraturan tersebut diabaikan oleh sebagian besar orang. Sehingga, menurut saya pemerintah harus memperketat peraturan-peraturan yang ada dan memberlakukan sanksi yang sesuai dengan pelanggaran yang mereka lakukan. Tetapi saya sarankan sanksi yang diberikan bukan berupa denda karena jika didenda mereka bisa membayar dengan menggunakan uang hasil perdagangan dan mereka akan kembali melakukan perdagangan anak di kemudian hari.  Selain itu, lembaga-lembaga pengawasan anak seperti Komnas Perlindungan Anak harus memaksimalkan kinerja mereka. Saat ini, pengawasan yang dilakukan oleh berbagai lembaga anak sudah cukup baik. Tetapi sebaiknya, mereka harus lebih awas lagi dan bekerja dengan lebih maksimal karena kasus perdagangan anak yang terus meningkat setiap tahunnya.
Komnas Anak
Menyediakan lapangan pekerjaan bagi orang-orang yang kurang mampu. Seperti saya sebutkan di atas, korban dari perdagangan anak seluruhnya berasal dari keluarga yang kurang mampu. Mereka bisa dengan mudah ditipu oleh pelaku karena tawaran uang yang memang mereka butuhkan demi kelangsungan hidup mereka. Jika jumlah lapangan pekerjaan lebih banyak, maka  jumlah orang yang kurang mampu akan berkurang karena mereka sudah memiliki penghasilan tetap. Dengan begitu, para agen perdagangan juga akan semakin kesulitan untuk mencari korban untuk diperdagangkan karena mungkin sebagian besar orang sudah kurang tergiur dengan tawaran yang diberikan. Selain lapangan pekerjaan, pemerintah juga sebaiknya memberikan pendidikan bagi orang-orang yang kurang mampu. Tawaran yang diberikan oleh para agen perdagangan selain berupa lapangan pekerjaan dan uang dapat juga berupa pendidikan. Sehingga, jika pemerintah menyediakan pendidikan bagi orang-orang yang kurang mampu maka agen perdagangan juga akan kesulitan dalam mencari korban. Pendidikan tersebut tetapi sebaiknya tidak dipungut biaya. Saya yakin, orang-orang tersebut akan memilih mengikuti pendidikan yang diberikan dari pemerintah dibandingkan mengikuti pendidikan dari orang-orang yang tidak mereka kenal dengan begitu baik.
Memberikan penyuluhan dan sosialisasi bagi masyarakat. Kurangnya pengetahuan seseorang akan kasus perdagangan anak dapat membuat seseorang menjadi dengan mudah terjebak dalam kasus ini. Tergiur dengan apa yang ditawarkan oleh para agen perdagangan membuat mereka dengan mudah percaya dan menyetujui permintaan dari para agen perdagangan. Oleh karena itu, ada baiknya pemerintah membuat suatu penyuluhan dan sosialisasi bagi masyarakat terutama kepada masyarakat yang anak ataupun keluarganya berpotensi menjadi korban dari perdagangan anak ini. Dalam sosialisasi tersebut, informasi-informasi penting seperti definisi dari perdagangan anak tersebut, tujuan dari para agen perdagangan melakukan hal tersebut, modus yang digunakan oleh para agen perdagangan untuk menarik para korban dan juga upaya untuk menghindari terjadinya kasus tersebut. Dengan sosialisasi tersebut, masyarakat akan mengerti tentang kasus ini dan jika mendapatkan tawaran yang menarik, mereka tidak akan mudah tergiur dan dapat memilah mana tawaran yang memang benar dan mana tawaran yang hanya merupakan modus dari para agen perdagangan. Setelah mengikuti sosialisasi ini, masyarakat juga diharapkan dapat ikut aktif membantu pencegahan dari perdagangan anak ini dengan menyebarkan informasi yang didapatkan kepada orang lain. Dengan begitu, mereka juga telah membantu orang lain dengan memberikan informasi yang dibutuhkan.

Sumber : 
https://pakmanihuruksh.wordpress.com/



Tidak ada komentar:

Posting Komentar