Selasa, 25 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


Mahalnya untuk Sehat


PERMASALAHAN

Banyak sekali orang yang mengatakan bahwa “sehat itu mahal”. Namun kata-kata itu hanyalah tak lain merupakan sebuah perumpamaan yang berarti, kesehatan itu merupakan komponen yang sangat penting, yang paling tak bernilai harganya. Tetapi, bagi beberapa kalangan di zaman sekarang, ungkapan “sehat itu mahal” adalah sebuah arti yang sesungguhnya dari perumpamaan tersebut. “Sehat itu mahal” bagi sebagian kalangan dapat diterjemahkan dalam artian yang sesungguhnya, yaitu, jika mau sehat kita harus membayar mahal, atau sehat itu ‘biayanya’ mahal.

Warga miskin yang mendapatkan layanan kesehatan yang kurang layak

Hal ini merupakan masalah kemanusiaan yang bisa digolongkan penting. Hal ini dikarenakan oleh kesehatan diri baik jasmani maupun rohani seseorang sangat mempengaruhi kehidupannya. Tanpa kesehatan, walaupun memiliki semua potensi seperti skill; kepandaian; dan harta, tentunya tidak akan menjadi maksimal tanpa adanya kesehatan. Jadi, kesehatan bisa dibiang sebagai faktor utama dalam kehidupan kita.
Sedangkan yang dialami sekarang ini, permasalah kesehatan yang berkaitan dengan masalah kemanusiaan di dunia ini masih sangat banyak. Khususnya dalam suatu kalangan yang mayoritas bertempat tinggal di suatu kawasan yang memang kurang maju dan relatif miskin. Tentu saja hal ini sangat menyedihkan bagi kita yang melihatnya, karena, hanya karena mereka kurang berkembang, mereka tidak mendapatkan hak kemanusiaannya yaitu kesehatan. Hal ini sangat tidak imbang, mereka yang serba kekuranan baik fasilitas juga pengetahuan tentang kesehatan, sementara diwaktu yang sama di lain tempat, kita bisa menikmati fasilitas dan teknologi kesehatan yang semakin lama semakin canggih.
Warga-warga yang bermukim di daerah yang kurang berkembang dan relatif miskin, mayoritas mereka kurang mengerti tentag permasalahan kesehatan ini. Permasalahan yang pertama, mereka semua rata-rata kurang paham akan kesehatan primer. Kesehatan primer yang saya maksud disini adalah kesehatan yang sangat mendasar. Seperti kebersihan lingkungan yang mendukung pada sanitasi yang memadai dan pola hidup yang baik yang menunjang kesehatan di aspek yang sangat mendasar.
Hal yang mereka hadapi ini biasanya berujung pada kematian anak-anak, bayi, dan ibu hamil/melahirkan. Ini dikarenakan oleh kurangnya kesadaran dan ketidak tahuan mereka tentang bagaimana cara merawat/mengupayakan kesehatan dan kehidupan. Ditambah juga dengan minimnya tenaga medis dan fasilitas-fasilitas yang memadai di tempat seperti itu. Permasalahan ini umumnya terjadi di lingkungan yang memang sangat kurang berkembang, seperti di daerah Malawi di Afrika yang menurut beberapa artikel dari WHO (World Health Organisation) sering disebut-sebut bahwa tingginya tingkat kematian disana.




Dari hasil statistik WHO tahun 2012, tingkat kaksus malaria juga masih tinggi, yang disebabkan oleh lingkungannya. Menuru statistik ini juga, kebanyakan anak-anak yang meninggal di daerah Afrika itu terserang penyakit pneumonia dan diare. Dan menurut WHO, ini didasari karena tidak diberikannya vaksin pada anak-anak tersebut. Dan kematian yang terjadi pada ibu yang melahirkan jugga masih sangat banyak. Hal ini dikarenakan oleh kurangnya sarana dan prasarana untuk akses dalam bidang reproduksi yang baik disana. Dan menyangkut masalah tentang reproduksi, masih menurut hasil statistik WHO, kasusu HIV/Aids banyak juga dijumpai di daerah Afrika yang tingkatnya juga masih tinggi. Hal ini dikarenakan kurangnya sosialisasi dan pengetahuan tentang HIV/Aids di daerah tersebut.
Permasalahan yang kedua adalah pelayanan kesehatan yang sangat rumit dan tak berujung dengan penyelesaian yang baik. Permasalahan ini, yang sudah saya lihat secara nyata, telah terjadi di negara kita ini, Indonesia. Hal ini banyak sekali merugikan manusia-manusia yang jatuh sakit tetapi tidak bisa terobati dengan layak dan baik karena masalah seperti ini.
Seperti yang kita ketahui, zaman sekarang ini sangat banyak orang-orang yang masih hidup dalam keadaan kekurangan. Bagaimana memikirkan masalah biaya kesehatan, sedangkan mereka untuk biaya makan sehari-hari saja sudah pusing. Sedangkan, pada kehidupan nyatanya, biaya yang dibutuhkan untuk berobat dapat dibilang mahal. Ataupun, jika ada yang murah, pihak rumah sakit akan mengalihkan ke yang mahal atau menyediakan lebih sedikit lokal dengan harga tidak begitu tinggi sehingga pemasukan dana lebih banyak.

Memang, pemerintah Indonesia telah melakukan beberapa upaya yang bertujuan untuk mengupayakan dan berusaha untuk mensejahterakan rakyatnya, kali ini dalam bidang kesehatan yaitu dengan mengeluarkan obat-obatan jenis generik dengan harga yang relatif lebih murah dan membuat kartu berobat gratis untuk warga miskin dan asuransi kesehatan ‘ASKES’. Tapi sayang, niatan dan sarana yang sangat baik dari pemerintah ini telah gagal terlaksana dalam teknis langsung di lapangannya.
Di lapangan, yang terjadi dalam bidang pelayanan kesehatan dengan kartu berobat miskin, banyak pihak-pihak yang menyalahgunakan kartu berobat miskin ini. Banyak orang yang sebenarnya mampu atau tidak terlalu miskin yang menggunakan kartu ini. Hal ini dikarenakan pihak yang menyeleksi untuk pemberian kartu miskin ini kurang jeli dalam memilah masyarakat yang mana yang berhak yang mana yang tidak. Dan akhirnya kejadian seperti ini lumayang menguras uang negara dalam bidang kesehatan karena terpakai tidak semestinya.
Kejadian permasalahan tentang asuransi kesehatan, yang biasa kita mendengarnya ‘ASKES’, juga sempat terjadi di Indonesia. Banyak pasien yang memegang kartu ini tertolak oleh rumah sakit. Kartu yang semestinya dapat memberikan pelayanan gratis bagi pemegangnya, tapi pasien pemegang kartu ini masih ada yang ditolak oleh rumah sakit dan diharuskan membayar biaya kesehatan secara full. Menurut berita, hal ini disebabkan oleh kesalahan teknis.
Tidak hanya itu, entah kenapa, menurut saya, rasa kemanusiaan kita kini hanya apakah terbatas dengan uang? Apakan uang lebih berharga daripada rasa kita terhadap sesama manusia? Saya berfikir tentang hal itu setelah mendengar bahwa ada seorang pasien yang sudah sangat harus masuk dan dirawat dirumah sakit, tapi dia menginginkan untuk dirawat di ruangan yang harganya masih bisa ia jangkau; sebut saja ruangan dengan 4 orang; tapi pihak rumah sakit mengatakan bahwa ruangan itu tidak ada, jadi harus ruangan yang sendirian yang tentunya bertarif lebih tinggi. Karena tidak mampu untuk membayarnya, terpaksa orang tersebut pulang dan memikirkan untuk berobat tradisional. Dan kejadian tentang kamar yang bertarif randah penuh itu sudah berulang-ulang terjadi.


SOLUSI

 Dari berbagai permasalahan tentang pelayanan kesehatan diatas, saya ingin memberikan solusi. Solusi pertama, mengenai tantang kurang pahamnya masyarakat di pedalaman tentang pentingnya menjaga kesehatan dan sanitasi dan juga cara menanggulanginya adalah dengan memberikan sosialisasi yang lebih meluas lagi kepada mereka. Tentu saja, jika dengan terus mengandalkan orang lain, selain mereka tidak akan maju dan berkembang. Dan hal itu juga membuat sifat ketergantungan bagi mereka. Jadi, menurut saya, harus ada pendidikan yang lebih baik lagi untuk mereka mengenai sanitasi yang baik, cara merawat diri mereka sendiri dengan baik sesuai kesehatan, dan lainnya. Hal ini sebaiknya disampaikan melalui para ahli yang peduli akan kondisi mereka yang serba kekurangan. Dan, fasilitas-fasilitas yang memadai harus sangat diupayakan diadakan di daerah tersebut, sehingga tidak memakan waktu yang lama akibat jarak tempuh yang jauh yang biasanya memakan korban karena kurang cepatnya kasus tersebut ditangani.  Maka dari itu, rasa kepedulian akan kemanusiaan kita perlu dipupuk lebih banyak lagi.

Pelayanan Imunisasi Pneumonia di Afrika

Permasalahan tentang banyaknya masyarakat yang sebenarnya kurang pas untuk menggunakan kartu miskin adalah, seharusnya panitia atau badan yang bertugas membagikan kartu miskin untuk berobat, menyeleksi target pembagian itu dengan lebih seksama. Jangan hanya percaya dengan apa yang mereka katakan. Karena tidak hanya negara yang dirugikan, tetapi orang-orang yang sangat membutuhkan juga bisa dirugikan karena jatah mereka terambil.
Untuk permasalahan tentang asuransi kesehatan atau lebih dikenal dengan ‘ASKES’ tentang kesalahan teknis yang masih sering terjadi di lapangan adalah, seharusnya lebih ditingkatkan lagi pengawasan dan manajemen tentang pengaturan sistemnya agar kesalahan tenis bisa dihindarkan. Buatlah suatu ss=istem yang otomatis, masalnya saja dengan barcode.  Dengan hal itu, maka kesalahan teknis bisa dikurangi karena terdata dengan baik.

Kartu yang masih kurang layak pakai

Sekarang zaman memang telah berkembang secara pesat. Tingkat kebutuhan yan sekarang hanya bisa diraih oleh uang, membuat banyak orang telah mengedepankan prioritas mereka kepada uang. Hal inilah yang membuat banyaknya rumah sakit melakukan diskriminasi kepada pasien yang kekurangan.
 Solusi saya untuk menangani diskriminasi fasilitas dan layanan kesehatan ini adalah dengan menanamkan nilai kebersamaan, kepedulian akan kemanusiaan, dan kepekaan antar sesama. Ketiga hal ini sangat penting, karena ketiga hal inilah yang sangat perpokok pada kemanusiaan. Dengan kita peduli dan peka, kita dapat ikut merasakan bagaimana jika kita terlibat dalam kondisi seperti itu. Tentu sangat sedih. Maka, janganlah bertindak hanya dengan prioritas uang. Atau jika memang benar-benar tidak ada lokal dengan harga terjangkau lagi, maka sediakanlah lokal tersebut dengan perbandingan yang lebih banyak karena sebagaimana kita ketahui, jumlah orang yang kesusahan sekarang ini sangat banyak. Dan jika lokal dengan harga rendah lebih banyak, maka masalah tidak mendapat ruangan, khususnya di rumah sakit pemerintah, akan mendapat pelayanan dan perawatan kesehatan dengan semestinya.
Demikianlah beberapa permasalahan tentang kemanusiaan dalam bidang kesehatan baik dari dunia internasional dan juga nasional telas saya utarakan berikut dengan solusinya. Semoga dengan artikel permasalahan dan solusi terhadap kemanusiaan ini bisa menjadi evaluasi untuk membangun diri kita, masyarakat, negara, bahkan dunia kita yang lebih baik lagi.



Daftar Pustaka :



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar