Rabu, 26 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky untuk Kemanusiaan

Tantangan untuk Generasi Abad ke-21 dari Masalah-Masalah Kemanusiaan


Hari ini, saat ini, detik ini. Abad ke-21. Manusia bahagia, bumi menderita.
Sebuah fakta yang ironis. Dalam esensinya, bumi memang diciptakan untuk manusia, tetapi seharusnya kita semua hidup sebagai sebuah kesatuan yang berkesinambungan. Dan ketika bumi tak lagi bisa menanggung beban yang telah kita buat sendiri, siapa yang akan celaka? Kita semua. Manusia.
Manusia tidak pernah berhenti mencari cara untuk mengubah dunia, membentuk buah-buah pikiran mereka ke dalam sesuatu yang merepa pikir akan membuat dunia menjadi tempat yang bahkan lebih hebat lagi. Di zaman ini, kompleksitas dari cara bukan lagi masalah, karena manusia terlahir sebagai penemu, penemu yang mampu menggabungkan potongan-potongan pertanyaan dan mengubahnya menjadi sebuah jawaban. Ini adalah zaman dimana kita harus tumbuh menjadi para pemikir, karena ketika manusia mulai memandang sebelah mata tantangan-tantangan yang diberikan oleh dunia, titik keseimbangan di alam ini pun berubah—dan bertahan hidup adalah hal penting yang harus dipersiapkan.
Jika kita melihat tantangan-tantangan dunia dengan sudut pandang yang berbeda, justru yang akan kita temukan adalah masalah.
Profesor Richard E. Smalley, seorang pemenang Nobel di bidang kimia, membuat sebuah daftar berisi 10 besar masalah kemanusiaan yang harus dihadapi manusia dalam 50 tahun mendatang. Daftar tersebut disusun dalam sebuah urutan sebagai berikut:
  1. Energi
  2. Air
  3. Makanan
  4. Lingkungan
  5. Kemiskinan
  6. Terorisme dan perang
  7. Penyakit
  8. Pendidikan
  9. Demokrasi
  10. Populasi
Masalah-masalah diatas diurutkan berdasarkan suatu kriteria. Suatu masalah dianggap lebih berat jika menyelesaikannya dapat mempermudah upaya penyelesaian masalah lainnya. Dan akar masalah dari semua ini adalah, permasalahan energi.
Jika energi bersih dan air yang melimpah dan terjangkau selalu siap tersedia untuk setiap orang, maka 8 masalah lainnya akan menjadi lebih mudah untuk diselesaikan. Dengan energi yang melimpah, air laut dapat didesalinasi dengan mudah melalui pendidihan. Energi yang terjangkau juga meningkatkan tingkat ketersediaan air minum dengan cara membuat biaya transportasi lebih efektif. Karena itu, energi ditempatkan di nomor 1 dan air ditempatkan di nomor 2.
Kemudian, dengan jumlah estimasi populasi lebih dari 10 miliar jiwa pada tahun 2050, persoalan makanan akan menjadi masalah yang besar. Jika energi bersih dan air yang melimpah tersedia maka permasalahan kekurangan makanan bisa sangat diantisipasi. Masalah keempat yaitu lingkungan juga bisa dikurangi dengan sumber energi yang lebih bersih. Sebagai tambahan, remediasi lingkungan dari polutan lainnya tak diragukan lagi akan membutuhkan teknologi yang baru dan energi untuk memberi tenaga pada teknologi tersebut. Masalah kelima, yaitu kemiskinan, adalah isu yang menarik karena kemiskinan meliputi banyak isu lain seperti makanan, tempa tinggal, dan air bersih. Telah didemonstrasikan sebelumnya bagaimana energi akan mempengaruhi makanan dan persediaan air. Dengan persediaan energi yang terjangkau, masyarakat dapat memproduksi lebih banyak pelayanan dan barang yang berarti menyediakan kebutuhan yang diperlukan untuk mengurangi permasalahan kemiskinan secara signifikan.

  
Selanjutnya adalah masalah keenam, yaitu terorisme dan perang. Dalam sejarah modern, energi telah memainkan peranan penting dalam peperangan. Sebagai contohnya, peperangan antara Jerman dan Rusia pada Perang Stalingrad. Di Perang Dunia Kedua, Jerman pergi ke Rusia dan bertarung dalam Perang Stalingrad untuk sampai ke daerah Kaukasus yang kaya akan minyak dengan tujuan menyuplai pasukan mereka dengan energi yang memadai. Meskipun energi tidak mendasari isu terorisme, energi memiliki pengaruh besar pada kemiskinan yang jika terselesaikan dapat secara berkala mengurangi ancaman terorisme.
Beralih pada masalah nomor 7, penyakit. Penyakit dipengaruhi secara langsung oleh sanitasi dan akses ekonomi kepada obat-obatan, makanan, dan air bersih—yang merupakan segala area yang dipengaruhi oleh energi. Masalah nomor 8, yaitu pendidikan, adalah isu yang lebih mudah untuk disingkirkan setelah kemiskinan, penyakit, dan perang diatasi—masalah-masalah dimana energi memiliki pengaruh besar. Masalah ke-9, demokrasi, merupakan evolusi alami dari masyarakat dimana pendidikan, kemiskinan, penyakit, dan perang bukan lagi masalah besar, yang bermula dari akses untuk energi yang terjangkau. Terakhir, masalah populasi, sedikit rumit. Seseorang dapat mendebat jika populasi ditempatkan di nomor 1 maka masalah-masalah lain dapat diatasi dengan lebih mudah. Maka dimanakah seharusnya populasi ditempatkan? Menilik dari permasalahan-permasalahan hari ini, perkembangan populasi sebesar 0% untuk 50 tahun yang akan datang sebenarnya amat diperlukan jika memungkinkan untuk terjadi. Mungkin saja, tetapi pertanyaannya akan berubah menjadi bagaimana kita mengontrol populasi pada tingkat tersebut? Dari segi antropologi kita menemukan jawaban untuk masalah populasi ini, yaitu faktor-faktor eksternal. Dalam masyarakat dengan kesejahteraan ekonomi dan wanita-wanita teredukasi, angka peningkatan populasi jauh lebih rendah daripada bangsa dengan masyarakat yang tidak sejahtera dan wanita-wanitanya tidak teredukasi. Sebagai contohnya, pertarungan Jerman versus Saudi Arabia. Jerman telah mencapai kesejahteraan ekonomi dan telah mendidik populasi wanita mereka. Saudi Arabia telah mencapai kesejahteraan ekonomi namun belum mendidik populasi wanita mereka. Di tahun 2007, angka kelahiran Jerman adalah 8.2 kelahiran/1000 populasi sementara Saudi Arabia 29.1 kelahiran/1000 populasi. Ini hanyalah satu dari data-data lain yang mendukung kesimpulan serupa. Maka dari itu, populasi dunia dapat terkontrol dengan lebih mudah dengan cara meningkatkan pendidikan dan menunjang kesejahteraan ekonomi, yang berarti mengurangi kemiskinan, peperangan, penyakit, dan meningkatkan demokrasi; yaitu seluruh faktor yang dipengaruhi oleh penyelesaian masalah energi di dunia.
Pertanyaan lain pun muncul: bagaimana menyelesaikan permasalahan energi di dunia?


Menggunakan cara berpikir yang lebih rasional, salah satu jawabannya cukup sederhana: energi matahari.
Seorang profesor kimia dari California Institute of Technology yang bernama Nathan Lewis berkata, “Lebih banyak energi matahari yang mencapai bumi dalam satu jam daripada seluruh energi yang dikonsumsi oleh bumi dalam setahun.” Sehingga, jika kita ingin menyelesaikan krisis energi, seharusnya kita pergi ke tempat dimana energi tersebut tersimpan—yaitu matahari. Tidak ada sumber energi lainnya, termasuk minyak fosil yang telah mengancam planet kita, atau bahkan energi nuklir yang tidak pernah memenuhi potensi yang dimilikinya, mampu melakukan hal tersebut.
Lewis melihat sebuah solusi yang murah dan sederhana untuk mengkonversi energi matahari secara langsung menjadi energi listrik, yang dapat digunakan untuk mengubah air menjadi minyak, seperti hidrogen, yang bisa diubah lagi menjadi listrik jika dibutuhkan. Apa yang kita butuhkan, menurut Lewis, adalah sesuatu yang sama sederhananya dengan cat yang direkayasa secara mesin untuk menangkap elektron-elektron dari matahari dan membuat elektron-elektron itu berbaris ke jalur kebutuhan manusia. Namun ada beberapa masalah. Teknologi saat ini bisa mengkonversi sinar matahari langsung menjadi listrik, dan juga menghasilkan hidrogen, namun tidak dapat diukur.


Tetapi mengapa energi matahari yang harus dikembangkan? Bukankah generasi terbaru nuklir dapat menanamkan energi di horizon? Bukankah perusahaan minyak memiliki persediaan tertentu yang mereka sembunyikan yang cukup untuk beberapa ratus tahun lagi? Jadi mengapa energi matahari?
Untuk memenuhi kebutuhan energi global, kita membutuhkan 10.000 reaktor 1-gigawatt yang kita miliki saat ini, dan ini berarti kita harus membangun satu reaktor setiap hari yang lain entah di mana di dunia ini selama 50 tahun selanjutnya. Ini mustahil dilakukan. Selain itu, tidak ada uranium yang cukup untuk menggerakkan sumber-sumber energi ini, sehingga pada saatnya, mereka harus menggunakan plutonium, benda yang menyusun bom-bom nuklir.
Jadi, jawaban pertama dan paling utama untuk masalah ini adalah pengembangan intensif dari energi matahari.
Di sisi lain, ada beberapa solusi yang unik dan sedikit banyak dapat tutut memberikan kontribusi dalam upaya pemanfaatan energi alternatif.


1. Ditemukannya bio-batteries yang berbahan dasar cairan tubuh
Para ilmuwan dari Renssaelaer Polytechnic Institute telah berhasil menemukan sebuah baterai yang kuat dan fleksibel. Alat ini pada dasarnya mampu mengubah darah, urin, keringat, air mata manusia, dan cairan tubuh manusia lainnya menjadi energi listrik. Alat yang memiliki tekstur seperti kertas ini harus ditanamkan di bawah kulit untuk menerima elektrolit dari tubuh dan setelahnya mengkonversinya menjadi energi listrik. Tujuan dari diciptakannya alat ini bukannya untuk menggunakan genangan darah manusia dalam jumlah yang mematikan untuk mendapatkan energi listrik. Alat ini memanfaatkan cairan tubuh manusia dalam saat-saat tertentu. Seperti misalnya, dalam suatu pertandingan olahraga, alat ini dipasangkan pada tubuh karena dalam pertandingan olahraga manusia mengeluarkan banyak keringat. Peran alat ini dalam penghematan energi mungkin kecil, namun bisa sangat membantu dalam keseharian.


2. Panas tubuh manusia diubah menjadi energi listrik
Panas tubuh manusia mampu menghasilkan 117 watt listrik dalam satu jam. Hal inilah yang menginspirasi sekelompok insinyur Swedia untuk memanfaatkannya. Mereka pun memasang alat pengkonversi panas pada sistem ventilasi udara di Stasiun Stockholm Central. Alat ini menggunakan panas tubuh manusia di udara untuk memanaskan air, dan kemudian menggunakan uap dari air untuk menghangatkan sebuah gedung di seberang stasiun tersebut sehingga mereka tidak perlu lagi memasang alat pemanas ruangan khusus pada gedung tersebut. Hasilnya, gedung tersebut menghemat sebesar 25% dari biaya penghangat ruangan dibandingkan dengan gedung-gedung lainnya di kota Stockholm. Bayangkan jika konsep ini diterapkan di tempat-tempat lain di dunia. Dengan jutaan tempat publik yang ada di bumi, ini hanya bisa berarti satu hal yaitu penghematan energi besar-besaran.



3. Memanfaatkan belut listrik sebagai sumber energi listrik
Di Akuarium Kamakura di selatan Tokyo, terdapat sebuah akuarium yang mendemonstrasikan bagaimana seekor belut listrik raksasa dapat mengalirkan tenaga listriknya kepada sebuah pohon Natal. Belut listrik menyalurkan energi listrik dengan cara yang mirip dengan baterai, dimana sodium dan komponen-komponen lain seperti elektrolit tertata dalam suatu susunan sehingga mampu memproduksi aliran listrik. Belut listrik di Akuarium Kamakura bekerja dengan cara yang mudah: setiap belut di dalam akuarium melakukan perpindahan, energi listrik pun tersalurkan. 



4. Memanfaatkan lava dari gunung berapi dan mengubahnya menjadi energi
Saat ini, Indonesia tengah menyimpan energi dari gunung-gunung berapinya untuk memproduksi energi hingga 4.000 megawatt pada tahun 2014. Padahal, solar plant terbesar di dunia hanya mampu memproduksi energi sebanyak 400 megawatt dalam waktu setahun. Islandia berhasil menyediakan energi untuk 95% populasi mereka hanya dengan menggunakan metode ini saja. Walaupun risiko yang ada cukup besar, terutama jika gunung-gunung berapi tersebut meletus, cara ini sangatlah efektif.

Jika penghematan energi berhasil dilakukan, maka sesuai dengan hipotesis Richard E. Smalley, penyelesaian masalah-masalah lain dapat dilaksanakan dengan jauh lebih mudah. Sebuah catatan kecil; sebagai manusia, kita harus memiliki kesadaran untuk tidak memboroskan daya dari energi yang tersedia. Mungkin ini terdengar klise, namun matikanlah lampu saat tidak digunakan, matikan televisi jika tidak ditonton, tutup keran air jika tidak dipakai, dan gunakan kendaraan pribadi hanya jika benar-benar dibutuhkan.
Masalah kemanusiaan adalah masalah yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kehidupan manusia di bumi, sehingga sebenarnya, hanya kita, manusia, yang bisa menyelesaikan semua yang telah kita mulai. Dan dengan langkah-langkah kecil yang kita buat, mungkin suatu hari nanti kita akan benar-benar mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik.





Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar