Minggu, 23 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky Untuk Kemanusiaan


Materialisme di Kota Besar

Sebagai masyarakat yang tinggal di kota besar tentu kita memiliki kebudayaan dan pola hidup yang berbeda dengan masyarakat yang tinggal di pedesaan atau di daerah-daerah terpencil. Sebagai masyarakat kota besar kita pun dihadapkan dengan lebih banyak kemajuan dibandingkan dengan masyarakat di daerah lain. Bisa dikatakan, modernisasi di dunia ini secara langsung mempengaruhi kehidupan masyarakat kota. Misalnya jika ada keluaran barang elektronik yang terbaru, tentu akan lebih dahulu di expose di kota besar. Tidak jarang pula kita menemukan toko-toko merek terkenal yang hanya bisa dijumpai di kota besar. Tentunya keadaan seperti ini pun menjadikan masyarakat kota besar dan pedesaan untuk memiliki kebiasaan dan tingkah laku yang cenderung berbeda.
Jika mendengar kata materialisme, mungkin masing-masing orang akan memiliki pemikiran yang berbeda. Ada yang menganggap materialisme mirip dengan sikap konsumtif. Ada pula yang mungkin menganggap materialisme berarti kecintaan terhadap benda-benda mahal. Semua pengertian tersebut termasuk ke dalam pengertian materialisme yang dimaksud dalam judul di atas.


Masalah

Yang dimaksud materialisme disini yaitu sifat atau ‘kecanduan’ seseorang terhadap barang-barang bermerek, dan ego yang mendorong masing-masing individu, apalagi di kota besar seperti ini, untuk berlomba-lomba menang merek. Siapa yang paling bermerek dan memiliki uang, ia yang menang.
Seperti dapat kita lihat sendiri, kita ini hidup di kota yang sangat dipengaruhi modernisasi. Banyak pengaruh-pengaruh dari luar baik dari segi penampilan maupun dalam bentuk gadget-gadget dan tren terbaru, yang membuat kita kadang ingin memiliki semuanya itu. Sifat kompetitif dari dalam diri manusia pun dengan mudah terpancing keluar, dan kita pun tidak ingin kalah dengan orang lain.
Sejak kecil, masyarakat kota besar, terlebih yang berasal dari golongan menengah keatas, memang sudah terbiasa dengan kemewahan dan kemudahan yang ditawarkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya jika ke sekolah diantar jemput dengan kendaraan yang memadai, dan di rumah pun segala kebutuhan dilayani oleh pembantu sehingga tidak terbiasa bersusah-susah. Kadang maksud orang tua memang baik, yaitu ingin supaya anaknya bisa merasakan kenyamanan dan merasa diperhatikan. Namun kadang pola asuh seperti ini justru membuat anak menjadi manja dan bahkan meremehkan lingkungan sekitarnya, dan alhasil hanya ingin mencari kesenangan saja.
Tidak jarang di kota besar ini jika kita melihat anak kelas 3 SD sudah memiliki iPhone sendiri. Seperti dikatakan, mungkin maksud orang tuanya baik, yakni untuk membahagiakan anaknya. Namun bukankah anak itu justru akan menjadi terbiasa dengan kemewahan, sehingga semakin ia dewasa ia akan terus mencari gadget yang terbaru?
Akan lebih parah lagi kondisinya jika kita lihat pada usia-usia anak muda seperti dari jenjang SMP dan SMA. Ini merupakan suatu fase dimana anak-anak tersebut mencoba mencari jati diri dan menentukan kepribadian masing-masing. Acara-acara TV maupun majalah-majalah dan lainnya bisa dengan mudah mempengaruhi pemikiran anak-anak seusia ini. Anak-anak yang melihat artis idola mereka dengan gaya hidup mewah dan glamour, kadang bisa iri dan berharap hidup mereka bisa seperti itu. Akhirnya mereka pun meniru gaya hidup tersebut sebisa mungkin. Maka tidak jarang kita melihat anak yang meminta mobil pada orang tuanya, padahal belum bisa menyetir sendiri, hanya karena pengaruh media massa.
Jika kita hanya melihat sekilas, mungkin kita mengira pola hidup konsumtif membuat anak merasa tercukupi hidupnya. Mungkin kita pun mengira bahwa kemewahan membuat anak merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Namun nyatanya tidak demikian. Menurut artikel sebuah pakar, terdapat dua dari lima anak-anak perempuan berusia 10 hingga 15 tahun yang menyatakan bahwa mereka sangat membenci diri sendiri setelah melihat gambar para idola yang kesannya sempurna dan mewah sekali hidupnya. Ini berdasarkan jajak pendapat dari 400 anak perempuan yang dijadikan obyek penelitian ini. Anak-anak perempuan ini pun ingin berpenampilan seperti idolanya sehingga berkeinginan untuk memiliki pakaian, gadget, atau ponsel dengan model terbaru. Sehingga dari sini kita bisa melihat bahwa dari sekian faktor yang bisa memicu stress di usia dini, sikap materialistis merupakan salah satunya.
Ini juga merupakan salah satu alasan banyak anak muda yang terjerumus narkoba atau tindak kriminalitas lainnya tidak sedikit yang berasal dari golongan mampu. Tidak selalu korban kriminalitas didorong oleh rasa minder karena berasal dari keluarga miskin, namun justru akibat rasa depresi karena sebenarnya hidupnya yang dilimpahi harta tidak bahagia, atau mungkin ia merasa tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Ini sangat disayangkan, mengingat jumlah anak muda yang menyia-nyiakan hidupnya dengan percuma tiap tahunnya, padahal sebenarnya ia bisa memiliki masa depan yang cerah. Mungkin wajar-wajar saja jika anak sangat menggantungkan hidupnya pada harta orang tuanya dan kompetisinya dengan teman-temannya untuk banyak-banyakan harta. Bagaimana tidak? Sejak kecil mereka diperkenalkan pada masyarakat yang hanya memandang harta dan status. Watak dan kepribadian seseorang pun sudah tidak lagi dipersoalkan.
Persepsi yang sudah salah terhadap konsep kemewahan sejak usia dini bisa mempengaruhi kehidupan anak seterusnya. Anak tersebut tentu justru tidak merasa nyaman, apalagi senang dengan hidupnya, karena ia akan selalu merasa kalah jika melihat milik orang lain yang dianggapnya lebih bagus. Ini disebabkan oleh suatu dorongan dari dalam dirinya untuk selalu bisa menang dalam hal harta.
Seperti dikatakan diatas, uang seolah sudah menjadi semacam penentu hidup. Dan bukan hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan saja, tapi juga untuk menentukan dimana letak seseorang dalam suatu social hierarchy atau ‘hierarki sosial’; asal mempunyai uang maka tidak hanya statusnya tinggi, namun sudah pasti didulukan, baik ia benar atau salah.
Contoh hal semacam ini bisa kita lihat jelas dalam kasus-kasus korupsi yang seolah sudah menjadi makanan sehari-hari di negara kita. Terbukti bahwa kadang, jika memang sudah terlalu memuja hal-hal duniawi, incaran pertama manusia adalah uang dan hanya uang. Dan dengan melihat bahwa justru koruptor-koruptor tersebut berasal dari kalangan teratas, sebut saja para anggota direksi, maka kita bisa menyimpulkan bahwa manusia cenderung tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, meskipun apa yang dimilikinya itu sudah lebih dari cukup. Dan kondisi ‘hierarki sosial’ bisa kita lihat di kasus-kasus penyuapan. Demi menaikkan status dan posisi dan tanpa harus bekerja keras, seseorang bisa dengan mudah mendapatkan keinginannya hanya dengan membayar sejumlah uang. Dan orang yang disuap pun tidak lebih baik, karena juga mengutamakan uang diatas segalanya. Anehnya, orang-orang yang dipenjarakan kadang bisa dengan mudah menghindari dipenjarakan, lagi-lagi dengan menyuap pihak-pihak berwenang. Jadi sama saja menyangkal diri dari kasus suap dengan menyuap.
Akhirnya, kelakuan seperti itu pun menjadi tren tersendiri. Misalnya dokter yang menipu pasien agar mau dirawat lebih lama daripada seharusnya, hanya supaya mendapatkan pendapatan lebih. Guru yang hanya bersedia mengajar jika gajinya besar. Rumah sakit hanya mau menolong pasien yang punya uang. Dan lain sebagainya. Seolah-olah etika dan sifat tolong menolong yang seharusnya telah diabaikan, lagi-lagi demi uang.
Kita pun sering mendengar orang yang tinggal di kota besar tidak sedikit yang bunuh diri. Dari sekian banyak penyebab bunuh diri, salah satunya yaitu depresi. Mengapa seseorang yang berkecukupan bisa depresi? Karena sikap materialis tadi. Dari berbagai contoh-contoh kita bisa melihat bahwa prinsip hidup yang materialis menjauhkan kita dari sesama kita karena kadang kita terlalu sibuk memilih mana orang-orang yang cukup padan dan cukup layak status sosialnya untuk menjadi teman kita. Bayangkan saja jika hampir semua orang memiliki pola hidup seperti itu. Alhasil, orang-orang akan sulit berteman satu sama lain dan akhirnya sendirian. Kesepian merupakan salah satu faktor penyebab bunuh diri yang paling signifikan di kota besar.


Solusi

Paham materialis ini cenderung membuat pelaku-pelakunya, yakni ‘korban-korban iklan’ yang termakan bayangan kehidupan mewah, nampak sebagai orang-orang yang jahat dan seolah merusak tatanan masyarakat. Namun, sebenarnya itu semua dapat diperbaiki. Memang, iming-iming kehidupan serba punya bisa dengan mudah mengubah pola pikir seseorang yang tadinya polos.
Memang untuk mencapai hidup yang sejahtera, kita harus mencukupi kebutuhan kita sehari-hari. Dan memang uang bisa membantu kita melengkapi kebutuhan-kebutuhan kita sebagai manusia. Tapi kita juga harus mengetahui kapan waktunya semua kebutuhan itu sudah tercukupi. Kita perlu menyadari bahwa keinginan dan kegigihan yang kuat untuk bisa hidup enak memang bisa menjadikan kita optimis dan giat bekerja mencari uang, namun hendaknya tidak dijadikan tujuan hidup satu-satunya.
Kita perlu mengingat bahwa untuk mencapai kehidupan yang membahagiakan, caranya bukan dengan berlomba-lomba merek dengan sesama kita. Mungkin bisa memiliki harta benda yang banyak, kita bisa merasa terpuaskan. Tapi kepuasan itu hanya sesaat. Jika kita menjadi terlalu terbiasa memiliki keinginan untuk harus memiliki semua gadget atau perhiasan atau mobil keluaran terbaru, maka tidak akan ada habisnya keinginan itu. Justru yang akan terjadi ialah semua persediaan kita untuk kebutuhan pokok sehari-hari, seperti makanan, akan terbuang sia-sia.
Di kota besar seperti ini, terlihat jelas sekali kesenjangan social yang ada diantara kalangan atas dan bawah. Gedung-gedung tinggi dan mewah yang didirikan di tengah kota bersebelahan langsung dengan pemukiman padat rakyat-rakyat kecil. Tidak heran tindak kriminal seperti pencurian sering terjadi. Pasalnya, masyarakat kecil ini dihadapkan langsung dengan pemandangan kehidupan kalangan atas yang serba lebih dan cukup.
Masyarakat kaum atas ini perlu menyadari bahwa kadang tidak semua milik kita adalah sepenuhnya hak kita. Kita pun harus selalu memikirkan mereka yang masih membutuhkan bantuan kita. Disaat kita bisa dengan seenaknya membuang-buang makanan, masih ada orang-orang yang harus bekerja keras seharian hanya demi sesuap nasi. Disaat kita mengeluh karena tidak mendapatkan benda yang kita inginkan, masih banyak orang-orang yang bahkan tidak pernah berkeinginan memiliki benda-benda semewah itu, karena masih harus memikirkan akan makan apa besok.
Konsep ‘hierarki’ juga tidak layaknya dijadikan panduan untuk memilih-milih teman. Status bukanlah segalanya, dan jika semua orang terlalu sibuk berebutan status, maka apa gunanya lagi identitas diri? Status tidak selalu bertahan lama, dan suatu saat jika status tidak lagi kita miliki, maka yang ada tinggalah jati diri dan kepribadian kita masing-masing. Jika kita terlalu lama berangan-angan menginginkan status dan ‘pengakuan’ dari masyarakat, tanpa kita sadari kita membuang waktu kita dengan percuma hanya untuk berupaya menyenangkan orang-orang yang sesungguhnya tidak memedulikan kita atas siapa diri kita sebenarnya, melainkan hanya atas apa yang kita miliki. Anehnya, banyak orang kini lebih bangga dinilai atas harta. Seharusnya kita malu jika menggantungkan hidup terhadap benda mati. Jika diciptakan sebagai benda hidup, mengapa menggantungkannya demi benda mati?
Dengan menanamkan kesadaran ini pada masyarakat, mungkin akan mengurangi sikap materialistis tersebut meski hanya sedikit. Pengajaran yang tepat mengenai materialisme juga hendaknya diajarkan pada anak-anak seusia dini agar tidak mengganggu masa depannya. Perlu ditanamkan rasa rendah hati, agar kita bisa mengendalikan diri saat apa yang kita miliki itu sudah cukup.




 Referensi:









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar