Jumat, 21 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky Untuk Kemanusiaan



Kekerasan Dalam Rumah Tangga: Mari Hentikan!

MASALAH

Pengertian Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)
Dari Wikipedia Indonesia, “Kekerasan dalam rumah tangga adalah kekerasan yang dilakukan di dalam rumah tangga baik oleh suami maupun oleh istri. Menurut Pasal 1 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisikseksualpsikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.”

Pelaku Kekerasan Dalam Rumah Tangga
            Pelaku atau korban KDRT adalah orang yang mempunyai hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, perwalian, dan anak bahkan pembatu rumah tangga. Biasanya, pelaku KDRT adalah pihak laki-laki yaitu sang suami. Banyak suami yang menganggap dirinya patut dipatuhi dalam setiap omongan dan tindakan, sehingga perlakuan istri dan anak yang tidak sesuai bisa membuat sang suami kesal dan merasa butuh menghukum mereka. Namun, ada pula istri yang melakukan KDRT terhadap suami dan anak.

Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga
            Mayoritas korban adalah perempuan yaitu istri atau anak pelaku. Hal ini dikarenakan sifat perempuan yang lebih memilih untuk menyelesaikan masalah dengan pembicaraan pribadi dan cenderung memaafkan. Tapi jika kekerasan kembali dilakukan, korban harus segera melapor agar tidak berlanjut. Ironisnya, kasus KDRT sering ditutup-tutupi oleh si korban karena terpaut dengan struktur budaya, agama dan sistem hukum yang belum dipahami. Padahal perlindungan oleh negara dan masyarakat bertujuan untuk memberi rasa aman terhadap korban serta menindak pelakunya.

Penyebab Kekerasan Dalam Rumah Tangga
·         Laki-laki dan perempuan tidak dalam posisi yang setara
·         Masyarakat menganggap laki-laki dengan menanamkan anggapan bahwa laki-laki harus kuat, berani serta tanpa ampun
·         KDRT dianggap bukan sebagai permasalahan sosial, tetapi persoalan pribadi terhadap relasi suami istri
·         Pemahaman keliru terhadap ajaran agama, sehingga timbul anggapan bahwa laki-laki boleh menguasai perempuan

Bentuk-bentuk KDRT
·         Kekerasan Fisik Berat

Segala penganiyaaan seperti memukul, menendang, melakukan percobaan pembunuhan dan segala hal yang bisa mengakitbatkan:

1.      Cedera berat
2.      Tidak mampu menjalankan tugas sehari-hari
3.      Pingsan
4.      Luka berat pada tubuh korban dan atau luka yang sulit disembuhkan atau yang menimbulkan bahaya mati
5.      Kehilangan salah satu panca indera.
6.      Mendapat cacat.
7.      Menderita sakit lumpuh.
8.      Terganggunya daya pikir selama 4 minggu lebih.
9.      Gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan
10.  Kematian korban.

 

·         Kekerasan Fisik Ringan
Seperti menampar, menjambak, mendorong, dan perbuatan lainnya yang mengakibatkan:
1.      Cedera ringan
2.      Rasa sakit dan luka fisik yang tidak masuk dalam kategori berat
3.      Melakukan repitisi kekerasan fisik ringan dapat dimasukkan ke dalam jenis kekerasan berat.



·         Kekerasan Psikis Berat

Berupa tindakan pengendalian dan manipulasi, seperti ancaman, penghinaan, dan larangan yang mengakibatkan:
1.     Gangguan tidur atau gangguan makan atau ketergantungan obat atau disfungsi seksual yang salah satu atau kesemuanya berat dan atau menahun.
2.     Gangguan stres pasca trauma.
3.     Gangguan fungsi tubuh berat (seperti tiba-tiba lumpuh atau buta tanpa indikasi medis)
4.     Depresi berat atau destruksi diri
5.     Gangguan jiwa dalam bentuk hilangnya kontak dengan realitas seperti skizofrenia dan atau bentuk psikotik lainnya
6.     Bunuh diri

·         Kekerasan Psikis Ringan

Berupa tindakan pengendalian dan manipulasi, seperti ancaman, penghinaan, dan larangan yang mengakibatkan:
1.     Ketakutan dan perasaan terteror
2.     Rasa tidak berdaya, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak
3.     Gangguan tidur atau gangguan makan atau disfungsi seksual
4.     Gangguan fungsi tubuh ringan (misalnya, sakit kepala, gangguan pencernaan tanpa indikasi medis)
5.     Fobia atau depresi temporer

·         Kekerasan Seksual Berat
1.     Pelecehan seksual dengan kontak fisik, seperti meraba, menyentuh organ seksual, mencium secara paksa, merangkul serta perbuatan lain yang menimbulkan rasa muak/jijik, terteror, terhina dan merasa dikendalikan.
2.     Pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan korban atau pada saat korban tidak menghendaki.
3.     Pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak disukai, merendahkan dan atau menyakitkan.
4.     Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan pelacuran dan atau tujuan tertentu.
5.     Terjadinya hubungan seksual dimana pelaku memanfaatkan posisi ketergantungan korban yang seharusnya dilindungi.
6.     Tindakan seksual dengan kekerasan fisik dengan atau tanpa bantuan alat yang menimbulkan sakit, luka,atau cedera.

·         Kekerasan Seksual Ringan
Berupa pelecehan seksual secara verbal seperti komentar verbal, gurauan porno, siulan, ejekan dan julukan dan atau secara non verbal, seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh atau pun perbuatan lainnya yang meminta perhatian seksual yang tidak dikehendaki korban bersifat melecehkan dan atau menghina korban. (Melakukan repitisi kekerasan seksual ringan dapat dimasukkan ke dalam jenis kekerasan seksual berat).

·         Kekerasan Ekonomi Berat
Tindakan eksploitasi, manipulasi dan pengendalian lewat sarana ekonomi berupa:
1.     Memaksa korban bekerja dengan cara eksploitatif termasuk pelacuran.
2.     Melarang korban bekerja tetapi menelantarkannya.
3.     Mengambil tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan korban, merampas dan atau memanipulasi harta benda korban.

·         Kekerasan Ekonomi Ringan,
Berupa melakukan upaya-upaya sengaja yang menjadikan korban tergantung atau tidak berdaya secara ekonomi atau tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya.

Beberapa Contoh Kekerasan Dalam Rumah Tangga

            JAKARTA, KOMPAS.com — Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terjadi di Cilandak Barat, Jakarta Selatan, terhitung memiliki penyebab yang sangat sepele. Hanya gara-gara lontong yang disiapkan untuk sang anak dimakan DYI, MK pun tega menghajar DYI yang tak lain istrinya, ibu dari sang anak.
Peristiwa tersebut terjadi di rumah kediaman pasangan MK-DYI di Jalan Pangeran Antasari Gang Pam II RT 013 RW 001, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, Minggu (15/7/2012) pagi. Berdasarkan laporan DYI kepada penyidik, persoalan timbul karena lontong yang disediakan untuk sarapan anaknya kemudian dimakan oleh korban. Suaminya langsung berang, begitu melihat makanan anaknya sudah ludes.
"Dia memukul dan menjambak rambut saya sampai saya jadi begini," kata DYI di hadapan penyidik. Akibat penganiayaan itu, DYI mengalami luka memar di bagian kepala dan wajah.

SMS seorang korban KDRT kepada psikiater yang saya dapat di Internet:
Saya seorang istri (sebut saja Maria) yang sudah menikah satu tahun. Saat ini, saya sedang hamil sembilan bulan. Suami saya sangat kasar. Dia sangat mudah menempeleng, menendang, menjambak, dan mengucapkan kata-kata kasar kepada saya. Di tubuh saya sudah banyak bekas kekerasan fisiknya.Saya tidak berani bercerita kepada siapapun karena takut suami akan semakin kejam. 

Kami tinggal di rumah orangtua suami.
 Dia sangat dimanja sekaligus ditakuti oleh anggota keluarga lainnya. Apa pun yang suami inginkan pasti dilaksanakan oleh bapak-ibu maupun adik-adiknya. 

Suami melakukan kekerasannya selalu di kamar kami.
 Saya malu saat bapak-ibu mertua bertanya mengapa wajah atau tangan saya lebam. Selama ini saya selalu menjawab karena jatuh atau menabrak sesuatu. Mendengar jawaban saya, mereka selalu menggerutu karena saya dianggap tidak bisa hati-hati padahal dalam kondisi hamil. 

Saat ini, saya merasa takut kalau suami semakin kejam.
 Saya ingin sekali melahirkan di rumah bapak-ibu tapi selalu dilarang suami. Dia mengancam akan melakukan sesuatu yang lebih menyakitkan kalau saya berani pulang ke rumah. Saya ingin bercerita kepada orang lain, tetapi saya malu atas apa yang saya alami. Apa yang harus saya lakukan, Bu? Seringkali saya ingin mengakhiri hidup saya saja karena tidak kuat, tapi saya kasihan pada janin yang saya kandung. Tolong Bu, bantu saya. 

SOLUSI
            Sejak memulai hubungan, setiap pasangan sebaiknya tahu betul apakah mereka cocok satu sama lain. Walaupun ada perbedaan pendapat, jangan sampai perbedaan itu terlalu besar dan tidak bisa menemukan jalan keluar. Sebisa mungkin satu sama lain memahami dengan baik serta saling melengkapi. Dengan begitu, kemungkinan menyelesaikan masalah dengan kekerasan menjadi hilang.
            Jika sudah berumah tangga dan ternyata terjadi KDRT, selesaikan secara kekeluargaan dengan pelaku. Mungkin saja ia khilaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Jika pelaku melakukan kekerasan lagi dan bahkan lebih kasar dari sebelumnya, hal ini perlu dibicarakan dengan orangtua korban dan meminta saran sebaiknya bagaimana. Menurut saya, setiap orang mempunyai 3 kali kesempatan. Sehingga jika KDRT kembali terjadi, saat itulah korban harus melapor kepada pihak kepolisian. Tetapi 3 kali kesempatan ini tidak berlaku jika korban sudah banyak terluka pada kekerasan pertama.
            Selain itu, berikut cara-cara yang harus dilakukan untuk menghentikan KDRT:
1.      Kenali kondisi-kondisi pemicu munculnya KDRT. Misalnya, saat pelaku marah, sedih, bingung, atau mabuk karena minuman keras. Dengan mengenali kondisi-kondisi pemicu, lingkungan bisa ikut mencegah munculnya KDRT dengan berusaha meminimalkan kondisi pemicu tersebut.
2.      Cari perlindungan sementara yang cukup aman sehingga kekerasan fisik dapat dihindarkan. Misalnya, membuat daerah aman di dalam rumah sehingga saat pelaku mengamuk, korban bisa melindungi diri di tempat itu. 
3.      Minta tolong orang ketiga yang bisa melindungi korban. Biasanya pelaku KDRT agak sungkan melimpahkan kemarahan saat ada orang ketiga sehingga mengurangi kekerasan yang dia lakukan. Sayangnya, korban sering malu minta tolong pada pihak ketiga. Keengganan minta tolong pihak ketiga ini sering memperparah kekerasan yang dia terima karena pelaku semakin menjadi-jadi. Untuk itu, korban perlu memberanikan diri mengutarakan permasalahan yang sebenarnya kepada orangtua, mertua, atau seseorang yang dipercaya supaya mereka bisa menolong. Tanpa adanya keterbukaan, orang lain tidak akan tahu permasalahan yang terjadi. Pihak ketiga sering enggan menolong bila korban tidak lapor karena pihak ketiga takut dituduh ikut campur urusan keluarga lain. 
4.      Usahakan pelaku dan korban mendapat terapi psikis. Pelaku perlu diterapi supaya tidak mengulangi perbuatannya. Korban juga perlu diterapi supaya luka-luka batinnya bisa sembuh segera. Luka batin yang tidak diterapi dapat menyebabkan seseorang ganti menjadi pelaku kekerasan di lain waktu dan anak biasanya menjadi korban.Karena itu, pada pasangan yang sudah punya anak, akan baik bila anak-anak juga mendapat terapi karena mereka biasanya juga mengalami ketakutan-ketakutan akibat melihat kekerasan yang dilakukan ayah-ibu mereka. 

Pencegahan dan pengenalan lebih dalam tentang apa itu KDRT juga perlu didapatkan oleh masyarakat terutama perempuan. Contohnya seperti penyuluhan penanganan KDRT yang dilaksanakan di Kabupaten Banyuasin di bawah ini.

SRIPOKU.COM, PANGKALANBALAI - Sekitar 50 orang ibu rumah tangga (IRT) yang ada di Kota Pangkalanbalai Kabupaten Banyuasin dilatih untuk penanganan bagi korban kekerasan dalam rumah tangga.

Pelatihan psikososial KDRT dan Pekerja Migran ini diselenggarakan Dinas Sosial Kabupaten Banyuasin di Rumah Makan Sari Alam Pangkalanbalai, Selasa (29/5/2012).

Tampil sebagai pemateri, Kasi Urais Haji Kementerian Agama Banyuasin  H Jahri, Kabag Pemberdayaan Perempuan Banyuasin Hj Eka Mutika dan Hj Mas Ayufaridaariani, Kabid Pelayanan Kesehatan Dinkes, Kabupaten Banyuasin.

H Jahri menjelaskan konsep agama bagaimana menciptakan keluarga bagai surga. Jika ini terbentuk maka tidak akan ada kekerasan. "Tekanan pemukulan, tekanan kejiwaan yang dilakukan suami tidak diperbolehkan dalam agama, maka antara suami istri harus seimbang baik peran, tanggungjawab dan fungsi masing," katanya.

Ibarat organisasi, suami adalah ketua dan istri adalah sekretaris. Artinya saling membutuhkan dan saling melengkapi. "Jadi kedudukan harus seimbang, istri memahami suami dan suami pun mengerti istri," tandasnya.

            Semoga kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di Indonesia bisa segera musnah! Damainya Indonesiaku tercinta. J

Sumber:

id.wikipedia.org/wiki/Kekerasan_dalam_rumah_tangga
kompas.com
hidupkatolik.com
sripoku.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar