Jumat, 21 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky Untuk Kemanusiaan


Ketika Hak Asasi Manusia (HAM) Tidak Lagi Dianggap

Hak asasi manusia umumnya dipahami sebagai "hak-hak dasar asasi mana seseorang secara otomatis berhak hanya karena dia atau dia adalah manusia." Hal ini sama saja dengan pengertian lainnya yang berbunyi "hak asasi manusia merupakan hak-hak yang didapat sejak lahir." Hak asai manusia bersifat absolut, yaitu mutlak; dimana setiap orang yang lahir pasti memiliki hak tersebut, hak asasi yang sama, tanpa terkecuali. Hak asasi manusia dengan demikian dipahami sebagai universal (berlaku di mana-mana) dan egaliter (sama untuk semua orang) . Hak-hak ini mungkin ada yang berfungsi sebagai hak alami atau sebagai hak-hak hukum, baik di nasional maupun hukum internasional. Doktrin hak asasi manusia dalam praktek internasional, dalam hukum internasional, lembaga-lembaga global dan regional, dalam kebijakan negara dan dalam kegiatan organisasi non-pemerintah, telah menjadi landasan kebijakan publik di seluruh dunia. Konsep dasar hak asasi manusia menyatakan, "jika wacana publik dari masyarakat dalam masa damai global dapat dikatakan memiliki bahasa moral yang umum, bahasa moral tersebut adalah hak asasi manusia." Meskipun demikian, klaim yang kuat dibuat oleh doktrin hak asasi manusia terus memprovokasi skeptisisme yang cukup besar dan perdebatan tentang sifat, isi dan pembenaran hak asasi manusia sampai hari ini. Memang, pertanyaan tentang apa yang dimaksud dengan "hak" itu sendiri kontroversial dan menjadi perdebatan filosofis secara terus-menerus.
Banyak ide-ide dasar yang gerakannya semakin dikembangkan pada masa setelah Perang Dunia Kedua dan kekejaman Holocaust, yang berpuncak pada adopsi dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia di Paris oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1948. Dunia kuno tidak memiliki konsep hak asasi manusia universal . Masyarakat kuno memiliki "sistem rumit tugas, konsepsi keadilan, legitimasi politik, dan berkembang manusia yang berusaha untuk mewujudkan martabat manusia, berkembang, atau kesejahteraan sepenuhnya independen hak asasi manusia ". Konsep modern hak asasi manusia yang dikembangkan selama periode modern awal, di samping sekularisasi bangsa-bangsa Barat. Pelopor sejati dari wacana hak asasi manusia adalah konsep hak-hak alam yang muncul sebagai bagian dari tradisi hukum abad pertengahan. Ide awal dari hak-hak alam ini muncul dari filsuf-filsuf seperti John Locke, Francis Hutcheson, dan Jean-Jacques Burlamaqui, dan menonjol dalam wacana politik Revolusi Amerika dan Revolusi Perancis. Dari dasar ini, hak asasi manusia modern telah memunculkan argumen selama paruh kedua abad kedua puluh.
Pada mulanya, hak asasi manusia atau HAM bukanlah sesuatu yang menjadi pusat perhatian seluruh manusia, bahkan seringkali diremehkan. Dulu, hanya orang-orang kaya yang memiliki hak-hak yang hampir mirip dengan hak asasi manusia ini, seperti hak untuk menikmati fasilitas umum, hak untuk bicara, bahkan hak untuk hidup. Filosof Yunani, seperti Socrates (470-399 SM) dan Plato (428-348 SM) meletakkan dasar bagi perlindungan dan jaminan diakuinya hak – hak asasi manusia. Konsepsinya menganjurkan masyarakat untuk melakukan sosial kontrol kepada penguasa yang zalim dan tidak mengakui nilai – nilai keadilan dan kebenaran. Aristoteles (348-322 SM) mengajarkan pemerintah harus mendasarkan kekuasaannya pada kemauan dan kehendak warga negaranya. Tetapi, hal ini tidak begitu dihiraukan oleh pemerintahan saat ini, ditinjau dari masih maraknya perbudakan di masa itu.
Setelah itu, Inggris seringkali disebut-sebut sebagai negara pencetus hak asasi manusia, dikarenakan piagam Magna Charta yang muncul pada tahun 1215 yang berisi tentang pembatasan kekuasaan raja, dan bahwasanya kepentingan rakyat lebih penting dibandingkan dengan kekuasaan raja. Setelah keberhasilan Magna Charta, piagam-piagam atau petisi yang setipe kembali muncul di Inggris, dilanjutkan dengan Petition of Rights, yang menyatakan penghapusan sebagian besar pajak istimewa yang dipungut secara berlebihan oleh para bangsawan serta penyamarataan derajat antara warga biasa dengan tentara. Di Hobeas Corpus Act, piagam selanjutnya, tertulis bahwa penghukuman, terutama penghukuman mati (death sentence) tidak boleh dilakukan semena-mena dan baru boleh dilakukan 2 hari setelah dilakukannya penyelidikan. Bill of Rights akhirnya menyatakan bahwa warga negara Inggris memiliki kebebasan dalam bersuara dan kebebasan dalam memilih anggota parlemen.
Di Amerika, kemenangan atas hak asasi muncul saat pencetusan kemerdekaan Amerika tanggal 4 Juli 1776 (4th of July). Amerika menekankan kebebasan atas 4 hal, yaitu kebebasan beragama, kebebasan berbicara, kebebasan dari kekurangan dan kelaparan, serta kebebasan dari rasa takut. Pada tahun 1789, di Perancis, kemenangan akan hak asasi manusia ditandai dengan munculnya semboyan negara Prancis yang berbunyi liberté, egalité, dan fraternité, yang berarti kebebasan, kesamaan, dan kesetiakawanan.
PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) sendiri mulai membentuk komisi HAM pada tahun 1946, setelah Perang Dunia Kedua selesai. Sidangnya dimulai pada bulan januari 1947 di bawah pimpinan Ny. Eleanor Rossevelt. Baru 2 tahun kemudian, tanggal 10 Desember 1948 Sidang Umum PBB yang diselenggarakan di Istana Chaillot, Paris menerima baik hasil kerja panitia tersebut. Karya itu berupa UNIVERSAL DECLARATION OF HUMAN RIGHTS atau Pernyataan Sedunia tentang Hak – Hak Asasi Manusia, yang terdiri dari 30 pasal. Dari 58 Negara yang terwakil dalam sidang umum tersebut, 48 negara menyatakan persetujuannya, 8 negara abstain, dan 2 negara lainnya absen. Oleh karena itu, setiap tanggal 10 Desember diperingati sebagai hari Hak Asasi Manusia.
Semakin berkembangnya globalisasi, prinsip-prinsip liberalisme yang berkaitan erat dengan penjunjungan tinggi hak asasi manusia (HAM) secara penuh semakin marak disebarkan ke negara-negara di seluruh dunia. Sangat sedikit negara-negara yang masih mempertahankan prinsip penghilangan hak asasi manusia seperti negara yang berada dalam lingkup ruang komunisme seperti Rusia, Cina, dan Korea Utara. 
Sayangnya, sekarang ini, yang banyak menjadi permasalahan adalah, ketika hak asasi manusia tidak dianggap menjadi suatu hal yang penting lagi. Di era globalisasi ini, dimana paham liberalisme yang menjunjung tinggi akan pentingnya hak asasi manusia, marak beredar kejahatan-kejahatan akan hak asasi manusia. Salah satu yang paling kentara, dan termasuk dalam pelanggaran hak asasi berat, adalah perang yang masih berkecamuk di Palestina.
Perang tersebut mungkin bisa dikategorikan sebagai kejahatan genosida, dikarenakan bangsa Yahudi di Israel beramai-ramai membantai umat Islam yang tersisa di Palestina. Meskipun yang terlihat oleh dunia luar hanyalah perang biasa, tetapi, sebenarnya yang terjadi adalah kejahatan genosida, dan bisa disebut sebagai pembantaian dikarenakan bangsa Yahudi memiliki peralatan yang jauh-jauh lebih hebat dari umat Islam disana, dan mereka menggunakan segala macam cara untuk memerangi umat Islam. 
Bahkan di negara-negara yang sarat akan nilai liberalisme yang tinggi, banyak sekali pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi. Meskipun salah satu dari deklarasi kemerdekaan Amerika berbunyi ‘kebebasan akan rasa takut’, masih banyak warga Amerika, terutama yang tinggal di kota-kota besar, hidup dalam ketakutan akan kriminalitas yang tinggi disana. Begitu banyak kejahatan yang terjadi. Pencurian dan kejahatan-kejahatan lain seperti pengroyokan oleh suatu kelompok orang atau geng sangat marak. Bahkan, angka perenggutan nyawa seseorang, yang merupakan hak asasi manusia yang paling dasar, sangatlah tinggi.
Yang masih tidak terlalu terlihat dan seringkali dianggap sebagai penyalahan hak asasi manusia secara halus adalah hak untuk berbicara, berkumpul, atau menyatakan pendapat. Hak untuk berkumpul ini sering dikaitkan dengan sikap rasisme seseorang, dalam bentuk ketidaksukaannya terhadap ras tertentu. Yang sering terjadi adalah, bila sekelompok orang muslim di Amerika mengadakan pertemuan, mereka dianggap teroris. Atau bila sekelompok orang berkulit hitam berkumpul, mereka dianggap akan melakukan tindak kejahatan.
Kebebasan akan berbicara biasanya berada dalam jaminan hukum suatu negara, tetapi seringkali tidak begitu dihiraukan oleh orang-orang tersebut. Banyak tersangka suatu kejahatan yang sebenarnya tidak bersalah tapi harus masuk ke dalam penjara karena mereka dilarang bicara. Atau, yang paling sering terjadi di dalam lingkup yang sempit adalah, anak-anak yang lebih kecil, atau orang-orang dengan status sosial yang dianggap lebih rendah dilarang bicara karena masih berada dalam katagori orang-orang yang tidak dianggap.
Dalam permasalahan ini, solusi yang paling sesuai adalah penyelesaian secara tegas, dan terutama secara internal atau secara dalam negara itu sendiri. Pemerintah seharusnya lebih memfasilitasi lembaga-lembaga perlindungan akan hak asasi manusia (HAM) agar bisa melakukan penelitian yang lebih lanjut bila terjadi penyalahan akan hak asasi manusia. Rakyat negara itu sendiri juga harus diberi sosialisasi akan pentingnya menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, karena itu berkaitan dengan diri mereka sendiri. Bila terjadi penyalahan hak asasi manusia yang berkaitan dengan tindak kriminal, mereka harus segera melapot ke lembaga yang berwajib agar bisa ditindaklanjuti dan diberi tindakan yang setimpal. Dalam kebebasan untuk berbicara, setiap orang memang memiliki haknya untuk menyatakan pendapat dan berbicara dengan bebas tanpa rasa takut akan ancaman lainnya. Karena itu, tersangka-tersangka yang bisa saja tidak bersalah tersebut seharusnya diberi pengacara yang baik agar mereka bisa berbicara, bahkan jika kata-kata mereka harus disampaikan oleh pengacara mereka. 
Terkait dengan pelanggaran hak asasi manusia secara besar-besaran seperti yang masih terjadi di Palestina ini, PBB seharusnya lebih tegas dalam menghadapi hal ini. Ada baiknya bila mereka mengutus orang-orang dalam untuk bekerja bagi mereka, agar mereka mendapat laporan dari dalam yang sebenar-benarnya, sehingga apa yang terjadi bisa ditindak lanjuti dan diselesaikan dengan cepat, sehingga pelanggaran HAM tidak lagi terjadi dan kedamaian dunia bisa diperoleh secara penuh.




Sumber:
www.wikipedia.com
www.google.com
www.wordpress.com
www.nasional.kompas.com
www.komnasham.go.id
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar