Kamis, 20 September 2012

Tugas-4 Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


HILANGKAN BUDAYA TELAT


Datang terlambat rasanya sudah menjadi budaya atau penyakit akut yang sulit disembuhkan. Baik itu anak sekolah, mahasiswa, karyawan kantor, seminar atau workshop pasti ada yang datang terlambat. Jika terlambatnya lima hingga sepuluh menit bisa dimaklumi dan dianggap masih dalam batas toleransi. Tapi kalau terlambatnya setengah hingga satu jam tentu sangat keterlaluan. Ini menunjukkan kalau kesadaran berdisiplin masyarakat masih rendah.
Ada sebuah budaya yang tidak berasal dari suku apa-apa, yang berasal dari diri kita sendiri yaitu: budaya terlambat biasa disebut dengan sebutan “ ngaret”. Apakah  ngaret adalah suatu budaya yang bisa kita banggakan dan apa akibatnya jika kebiasaan ini dipelihara? Apakah budaya terlambat sebuah bangsa menentukan cepat/lambatnya kesuksesan sebuah bangsa? Apakah keterlembatan seseorang mempengaruhi cepat/lambatnya kesuksesan seseorang? Lalu apakah budaya ngaret ini berkaitan dengan bagaimana seseorang menghargai hidupnya? Apakah budaya ngaret ini juga berkaitan dengan bagaimana seseorang menghargai  waktu orang lain? Dan apakah budaya ngaret ini berkaitan dengan bagaimana cara berpikir seseorang memandang dan menjalani seluruh aspek hidupnya,Istilah ‘ngaret’ tampak sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Namun kenyataannya hal tersebut tetap merugikan kita semua. Herannya masih ada saja di antara kita yang punya hobby ngaret. Dari berbagai level sosial, ekonomi dan pendidikan, ngaret sudah menjadi sebuah penyakit yang tampak  disukai  namun juga dibenci.
Anak sekolah terlambat karena kesiangan alasannya jalanan macet. Pembicara datang telat karena lupa alasannya menghadiri undangan lain. Tentu banyak contoh lainmya. Sayangnya ada yang apatis sampai-sampai menganjurkan orang lain untuk datang terlambat.
“Kalau undangannya jam 9, berarti acara dimulai jam 10.”
Itu kalimat yang sering kali terdengar dan dampaknya adalah keterlambatan itu dianggap sebagai hal yang wajar dan harus dimaklumi. Apa jadinya kalau mayoritas orang berpikir semacam itu.Tentu kegiatan apapun tidak akan berjalan efektif dan jadwal pun jadi kacau balau.
Telat berkaitan erat dengan sikap disiplin. Jika kita sering telat dan tidak ada masalah dengan itu, itu artinya kita tidak memiliki sikap disiplin atau tidak terbiasa dengan kedisiplinan. Itu sama artinya merendahkan diri kita sendiri.
Budaya telat, merupakan sebuah tanda dasar yang dapat dilihat secara fisik yang merujuk pada sesuatu yang diwakilinya, dalam hal ini yang diwakilinya adalah diri pribadi nya sendiri. Ketika seseorang terlambat datang ke sekolah atau tempat bekerja, maka dia telah memperlihatkan keterlambatannya tersebut dengan dirinya sendiri. Orang-orang yang berada disekitarnya yang melihat proses keterlambatannya tersebut akan menilai bahwa orang tersebut mungkin kesiangan bangun tidur, atau mungkin ada sesuatu hal yang menghambatnya diperjalanan, seperti kecelakaan, tidak dapat angkutan umum, dan berpuluh interpretasi lainnya. Oleh karena itu, aktivitas terlambat ini selain merepresentasikan diri si subjek yang terlambat juga menjadi proses menginterpretasi.
Oleh karena itu sudah sepatutnya kita mulai berubah dengan menerapkan disiplin waktu bagi diri sendiri, orangtua mengajarkan kedisiplinan kepada anak-anaknya, guru juga mengajarkan kedisiplinan kepada anak didiknya. Selain itu, orangtua dan guru harus memberikan teladan, jika ingin anaknya memiliki sikap disiplin, tentu orangtua dan guru harus memilikinya sikap disiplin terlebih dahulu.
Orang luar negeri sangatlah berbeda jauh dengan kita,dispiln dengan waktu karna kata mereka waktu adalah uang dan waktu itu tak akan kembali terulang lagi jadi kita harus memerhatikan dan displin waktu,displin adalah kunci utama kesuksesan,budaya orang kita selalu menunda menunda waktu beda dengan orang luar negeri selalu displin dan tepat waktu,Suka tidak suka, mau tidak mau disiplin waktu adalah poin utama agar  bisa sukses memanajemen waktu. Sayangnya seringkali didikan disiplin yang kerap diajarkan kepada kita semenjak kecil efeknya masih kurang. Akibatnya sering saya lihat orang-orang yang ada di lingkungan sekitar rendah sekali kesadaran dirinya atas sikap disiplin ini.
Aktivitas terlambat ini seolah sudah menjadi karakter dari masyarakat Indonesia dan susah untuk dihilangkan. Inilah yang kemudian menjadi tanda mengapa etos kerja dan etos belajar masyarakat Indonesia rendah. Ketika seorang mahasiswa terlambat datang menghadiri perkuliahan misalnya, dia telah kehilangan waktu berharganya untuk mendapatkan ilmu. Ketika seorang PNS terlambat datang apalagi sering membolos disela-sela pekerjaannya, maka dia telah melakukan korupsi karena telah menurunkan produktifitas kerja dan karena dia telah memakan gaji buta. Budaya terlambat yang telah mengakar ini telah menggeser peran penting dari budaya disiplin yang dulu dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia.
Pergeseran budaya ini sekali lagi tidak dapat terlepas dari kesadaran individu dari masyarakatnya sendiri. karena selama masyarakat masih memaklumi aktivitas terlambat, dan selama aktivitas yang sudah menjadi budaya itu terus menerus dilakukan oleh masyarakat, maka bukan tidak mungkin atau malah sekarang telah menjadi kenyataan bahwa budaya telat merupakan symbol identitas masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia yang selalu dan selalu datang terlambat untuk menghadiri suatu pertemuan atau untuk melaksanakan sesuatu hal adalah masyarakat yang tidak bisa menghargai waktu. Mereka tidak mengerti akan betapa berharganya waktu, karena waktu yang terbuang percuma tidak akan pernah bisa diputar kembali. Oleh karena itu, melalui tulisan ini, mari coba kita kurangi aktivitas telat yang sudah mengakar dalam masyarakat Indonesia dengan memulai dari kesadaran per individu untuk tidak lagi melakukannya.
Jika proses keterlambatan ini hanya dilakukan sesekali saja, maka aktivitas ini tidak dapat dikatakan sebagai aktivitas berbudaya. Tetapi kenyataan dilapangan sekarang menyebutkan bahwa, aktivitas terlambat ke sekolah, ke tempat bekerja, untuk menghadiri suatu pertemuan, terlambat melakukan ibadah, dan terlambat dalam segala hal lainnya yang mungkin kita pun pernah melakukan aktivitas tersebut, kini merupakan sesuatu hal yang sudah lazim, dilakukan terus menerus bahkan sudah menjadi sebuah kebiasaan. Dalam hal ini, kebiasaan terlambat juga dipengaruhi oleh factor lingkungan. Kita ambil sebuah contoh kasus, seorang mahasiswa yang datang terlambat karena tidak disengaja misalnya, ketika dia datang terlambat itu ternyata dosennya pun terlambat datang. Maka si mahasiswa ini pun akan merasa keterlambatannya itu merupakan sesuatu yang dapat dietrima, bahkan lingkungannya pun seolah-olah mendukungnya untuk menerima hal tersebut. Jadi ketika dia akan menghadiri pertemuan lain, menghadiri seminar misalnya, dia akan merasa orang lain pun toh tetap akan datang telat. Toh kalau acara di undangan tertera jam 9 berarti dimulai jam 10. Inilah mengapa timbul sebuah istilah ‘jam karet’ di kalangan masyarakat Indonesia. Pihak yang terlambat dan yang diterlambati seolah sudah maklum atau bahkan kebal terhadap kata yan satu itu. Terlambat seolah bukan lagi suatu hal yang besar. Hingga akhirnya kebiasaan telat tersebut mengakar di diri pribadi masyarakat karena lingkungan pun seolah mendukung untuk telat.
Budaya displin menghasilkan Negara yang maju,bisa mengatur waktu dengan semaksimal mungkin dan baik, Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita semua menanamkan prinsip tersebut dalam diri kita, khususnya dalam hal menjadikan Bangsa Indonesia yang lebih baik dan terbaik. Hal ini cukup menarik karena rahasia kesuksesan adalah dengan menjadikan tindakan secepatnya. Sebelum terlarut-larut dalam kondisi, yang dirasa oleh sebagian orang belum memuaskan, bangsa kita ini. Mengelola waktu belajar bukan berarti kehilangan waktu luang untuk bersenang-senang. Bukan pula berarti bahwa waktu dalam 24 jam per hari harus dihabiskan untuk belajar. Justru sebaliknya. Prinsip utama dari pengelolaan waktu secara efektif adalah pembagian waktu yang efektif untuk kegiatan-kegiatan yang meliputi: waktu untuk belajar, waktu untuk bekerja dan kegiatan sosial maupun waktu bagi diri sendiri untuk bersantai.Bagaimanapun waktu untuk bersantai diperlukan oleh seorang mahasiswa selain waktu untuk belajar. Sebagian waktu untuk bersantai tersebut diperlukan untuk mengembalikan energi yang sudah terpakai untukbelajar dan bekerja. Baik belajar maupun bekerja membutuhkan energi yang tidak sedikit, terutama untuk berkonsentrasi dalam mengerjakan sesuatu. Energi yang terpakai untuk berkonsentrasi ini harus diganti. Jika tidak, maka sangat mungkin sekali seseorang mengalami perasaan tertekan atau stress. Memperoleh waktu sama artinya dengan memperoleh semuanya dalam  hal percintaan, perdagangan, dan perang.Sampai anda menghargai diri anda sendiri, anda tidak bisa menghargai waktu yang anda miliki. Sampai anda menghargai waktu yang anda miliki, anda tidak bisa menggunakan waktu dengan baik.
Akhirnya kita sampai pada suatu kesimpulan bahwa aktivitas berbudaya merupakan aktivitas yang berupa kebiasaan dan perilaku social yang dilakukan masyarakat yang penuh dengan proses semiosis, yaitu proses pemaknaan simbolik. Budaya tersebut tidak melulu berbentuk hal-hal yang positif karena ternyata kebiasaan-kebiasaan negative yang sering dilakukan oleh masyarakat pun dapat dikategorikan sebagai budaya, kebiasaan datang terlambat adalah salah satunya. Dalam menelaah budaya telat ini, kita dapat menemukan satu pemaknaan simbolik yang menandai terjadi dan akibat dari budaya tersebut. Dalam hal ini, dapat kita simpulkan bahwa budaya telat yang sudah mengakar dalam diri masyarakat Indonesia dapat kita sebut itu sebagai symbol identitas diri dari masyarakat Indonesia. Budaya telat yang telah menjalar di masyarakat Indonesia menyimbolkan identitas bangsa yang memiliki etos kerja dan etos belajar yang rendah dan yang menyimbolkan pribadi masyarakat yang tidak menghargai waktu.      
Jika sikap disiplin dibiasakan sejak kecil, hingga dewasa pun ia akan terus bersikap disiplin. Seandainya seseorang yang terbiasa berdisiplin lalu masuk ke dalam lingkungan yang menerapkan disiplin yang ketat, seperti militer misalnya. Hal itu tidak akan menjadi masalah baginya. Jika tidak terbiasa bersikap disiplin tentu ia tidak akan tahan dan lari dari tugas. Segalanya dimulai dari diri kita. Banggalah kalau datang tepat waktu, kita tidak akan rugi. Karena perbuatan baik itu bernilai ibadah dan selalu ditiru.
Istilah ‘ngaret’  sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Namun kenyataannya hal tersebut tetap merugikan kita semua. Herannya masih ada saja di antara kita yang punya hobby ngaret. Dari berbagai level sosial, ekonomi dan pendidikan, ngaret sudah menjadi sebuah penyakit yang tampak  disukai  namun juga dibenci,budaya ngaret di indonesia sudah menjadi hal yang wajar bagi setiap orang bahkan cuek,hal ini masih belom hilang dikalangan orang indonesia,kurang nya disiplin terhadap waktu yang sudah menjadi budaya hingga saat ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar