Rabu, 19 September 2012

Tugas-4 Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


“Child Abuse merusak masa depan generasi muda”

Kekerasan, sebagai salah satu bentuk agresi, memiliki definisi yang beragam. Meski tampaknya setiap orang sering mendengar dan memahaminya. Salah satu definisi yang paling sederhana adalah segala tindakan yang cenderung menyakiti orang lain, berbentuk agresi fisik, agresi verbal, kemarahan atau permusuhan ( Abu Huraerah:2006). Masing-masing bentuk kekerasan memiliki faktor pemicu dan konsekuensi yang berbeda- beda. Penderaan anak atau penganiayaan anak atau kekerasan pada anak atau perlakuan salah terhadap anak merupakan terjemahan bebas dari child abuse, yaitu perbuatan semena-mena orang yang seharusnya menjadi pelindung (guard) pada seorang anak (individu berusia kurang dari 18 tahun) secara fisik, seksual, dan emosional. Pengertian kekerasan Menurut UU perlindungan anak no 23 tahun 2003 dalam Pasal 3 UU PA adalah meliputi kekerasan fisik, psikis, seksual, dan penelantaran. UNICEF mendefinisikan bahwa kekerasan terhadap anak adalah “Semua bentuk perlakuan salah secara fisik dan/atau emosional, penganiayaan seksual, penelantaran, atau eksploitasi secara komersial atau lainnya yang mengakibatkan gangguan nyata ataupun potensial terhadap perkembangan, kesehatan, dan kelangsungan hidup anak ataupun terhadap martabatnya dalam konteks hubungan yang bertanggung jawab, kepercayaan, atau kekuasaan”
Child abuse ini terbagi menjadi 4 tipe, yaitu :
1. Kekerasan fisik - Kekerasan yang mengakibatkan cedera fisik secara nyata maupun potensial terhadap anak, sebagai akibat dari interaksi atau tidak adanya interaksi yang layaknya berada dalam kendali orangtua atau orang dalam posisi hubungan tanggungjawab, kepercayaan atau kekuasaan
2. Kekerasan Seksual - Meliputi : eksploitasi seksual, prostitusi, pornografi, paksaan untuk melihat kegiatan seksual, memperlihatkan kemaluan kepada anak untuk tujuan kepuasan seksual, stimulasi seksual, perabaan, memegang kemaluan, hubungan seksual, incest, perkosaan, sodomi.
3. Kekerasan Emosional - Perbuatan terhadap anak yang mengakibatkan gangguan kesehatan atau kelainan perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial, seperti: membentak, menghardik, berkata-kata kasar kepada anak-anak.
4. Penelantaran Anak - Kegagalan dalam menyediakan kebutuhan tumbuh kembang anak (kesehatan, pendidikan, perkembangan emosional, nutrisi, rumah, keamanan, pengasuhan) yang mengakibatkan gangguan kesehatan fisik, mental, moral, spiritual dan sosial, termasuk pula pengawasan dan perlindungannya.
5. Eksploitasi anak - Eksploitasi anak berarti menggunakan anak dalam pekerjaan atau aktifitas lainnya, untuk keuntungan orang lain atau merugikan kesehatan disik, mental, perkembangan spiritual, moral dan sosial-emosional anak-anak.

Menurut hasil pengaduan yang diterima KOMNAS Perlindungan Anak (2006), pemicu kekerasan terhadap anak yang terjadi diantaranya adalah :
1) Kekerasan dalam rumah tangga, yaitu dalam keluarga terjadi kekerasan yang melibatkan baik pihak ayah, ibu dan saudara yang lainnya. Kondisi menyebabkan tidak terelakkannya kekerasan terjadi juga pada anak. Anak seringkali menjadi sasaran kemarahan orang tua,
2) Disfungsi keluarga, yaitu peran orang tua tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Adanya disfungsi peran ayah sebagai pemimpin keluarga dan peran ibu sebagai sosok yang membimbing dan menyayangi
3) Faktor ekonomi, yaitu kekerasan timbul karena tekanan ekonomi. Tertekannya kondisi keluarga yang disebabkan himpitan ekonomi adalah faktor yang banyak terjadi. Seperti halnya pemaksaan anak untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan material
 4) Pandangan keliru tentang posisi anak dalam keluarga. Orang tua menganggap bahwa anak adalah seseorang yang tidak tahu apa-apa. Dengan demikian pola asuh apapun berhak dilakukan oleh orang tua.

Disamping itu, faktor penyebab lainnya adalah terinspirasi dari tayangan-tayangan televisi maupun media-media lainnya yang tersebar dilingkungan masyarakat. Yang sangat mengejutkan ternyata 62 % tayangan televisi maupun media lainnya telah membangun dan menciptakan prilaku kekerasan. 
Secara umum ciri-ciri anak yang mengalami kekerasan adalah sebagai berikut :
-       Menunjukkan perubahan pada tingkah laku dan kemampuan belajar di sekolah.
-       Tidak memperoleh bantuan untuk masalah fisik dan masalah kesehatan yang
-       seharusnya menjadi perhatian orang tua.
-       Memiliki gangguan belajar atau sulit berkonsentrasi, yang bukan merupakan akibat
-       dari masalah fisik atau psikologis tertentu.
-       Selalu curiga dan siaga, seolah-olah bersiap-siap untuk terjadinya hal yang buruk.
-       Kurangnya pengarahan orang dewasa.
-       Selalu mengeluh, pasif atau menghindar.
-       Datang ke sekolah atau tempat aktivitas selalu lebih awal dan pulang terakhir, bahkan sering tak mau pulang ke rumah.
Sedangkan ciri-ciri umum orang tua yang melakukan kekerasan pada anak adalah:
-       Tak ada perhatian pada anak.
-       Menyangkal adanya masalah pada anak baik di rumah maupun sekolah, dan
-       menyalahkan anak untuk semua masalahnya.
-       Meminta guru untuk memberikan hukuman berat dan menerapkan disiplin pada anak.
-       Menganggap anak sebagai anak yang bandel, tak berharga, dan susah diatur.
-       Menuntut tingkat kemampuan fisik dan akademik yang tak terjangkau oleh anak.
-       Hanya memperlakukan anak sebagai pemenuhan kepuasan akan kebutuhan emosional untuk mendapatkan perhatian dan perawatan.


Ciri-ciri tersebut penting diketahui agar keluarga, kerabat, tetangga, anggota masyarakat lainnya mudah untuk mengenali secara dini permasalahan yang berkaitan tindak kekerasan baik sebagai korban atau pelaku tindak kekerasan.
Dampak kekerasan pada anak bisa melekat pada korban untuk jangka waktu yang lama. Berikut ini adalah beberapa dampak ke internal yaitu, Kecenderungan korban menyalahkan diri, menutup diri, menghukum diri, menganggap dirinya aib, hilangnya kepercayaan diri, dan terutama adalah trauma sehingga seperti halnya perempauan tidak mau lagi berkeluaraga setelah dirinya trauma menerima kekerasan dari suaminya. Sementara dampak ke eksternal nya yaitu kecenderungan masyarakat dalam menyalahkan korban, media informasi tanpa empati memberitakan kasus yang dialami korban secara terbuka, dan tidak menghiraukan hak privasi korban.

JOSEPH KONY
Salah satu kasuss kekerasan anak yang sedang marak-marak nya pada bulan mei lalu adalah kasus Kony.
Joseph Kony adalah ketua Tentara Perlawanan Tuhan, kony sebagai ketua grup gerilyawan yang mengatasnamakan Kristen yang terlibat dalam kekerasan untuk mendirikan pemerintah teokratik berdasarkan agama Kristen di Uganda, yang mengklaim berdasarkan kitab suci dan Sepuluh Perintah Allah, tetapi praktek yang dilakukan justru bertentangan dengan kitab suci dan Sepuluh Perintah Allah. Tentara Perlawanan Tuhan, yang memperoleh reputasi mengerikan atas kebrutalannya terhadap rakyat Uganda utara, telah menculik sekitar 20.000 anak sejak pemberontakan dimulai tahun 1987
Pada tanggal 9 Oktober 1996, tentara pemberontak Kony masuk ke sekolah gadis Aboke di Uganda utara seperti pencuri di malam hari, menculik 139 anak perempuan antara 12-15 tahun. Selama masa pemerintahannya jahat terornya, Joseph Kony dihidupkan rakyatnya sendiri. Di bawah komandonya, anak laki-laki dipaksa untuk menjadi pembunuh, seringkali orang tua mereka sendiri dan anggota keluarga. Gadis-gadis muda yang dipetik dari rumah mereka, atau, dalam kasus gadis-gadis Aboke dari College St Mary, sekolah katolik peremouan. Mereka diculik di malam hari dan dipaksa menjadi budak seks untuk pria Kony. Kony telah merekrut hingga 66.000 tentara anak-anak dalam dua dekade terakhir

Bulan Mei 2010, presiden Amerika, Barack Obama mendatangani pembuatan RUU “Lord's Resistance Army Disarmament and Northern Uganda Recovery Actuntuk memberhentikan Kony dan LRA-Lord’s Resistance Army, organisasi yang diketuai Kony. RUU disahkan dengan suara bulat di Senat Amerika Serikat pada tanggal 11 Maret. Pada tanggal 12 Mei 2010, RUU disetujui oleh dua pertiga suara di DPR. Presiden Obama menyampaikan dokumen strategi untuk Kongres, meminta dana lebih untuk membubarkan Kony dan LRA. Pada bulan Oktober 2011 Presiden Obama menempati sekitar 100 tempur dilengkapi pasukan AS untuk Afrika Tengah. Tujuan mereka adalah untuk membantu pasukan daerah menghilangkan Kony dan Senior LRA.
Kita sebagai saudara bisa ikut membantu membubarkan LRA, dan membebaskan anak-anak yang diperbudak oleh Kony dengan cara mendonasi sebagian dari uang kita ke https://www.stayclassy.org/checkout/donation?eid=1471. Di website Kony2012, kita bisa membeli action kit yang berisi poster, gelang, t-shirt untuk menyebarluaskan campaign ini. Untuk membeli nya bisa lihat di website ini http://invisiblechildrenstore.myshopify.com/.
Child abuse ini tidak hanya terjadi di Uganda, tapi hampir di semua negara di bumi ini. World Health Organization (WHO) menyatakan ada sekitar kurang lebih 40 juta anak yang terkena child abuse setiap tahun nya. UNICEF mengirakan ada 2 juta anak meninggal dan 6 juta anak yang terluka akibat child abuse ini.
Setiap tahun, sekitar satu juta anak lagi di seluruh dunia yang diperkenalkan ke eksploitasi seksual komersial. Statistik pelecehan seksual bervariasi di setiap negara. Penelitian Satu negara menunjukkan 36% dari perempuan dan 29% dari anak laki-laki telah mengalami pelecehan seksual anak, studi lain mengungkapkan persentase mencapai 46% dari perempuan dan 20% dari anak laki-laki memiliki pemaksaan seksual.

Solusi
Kesadaran masyarakat untuk ikut membantu mengawasi dan melindungi anak-anak  perlu ditingkatkan. Pada dasarnya anak-anak dilindungi undang-undang secara yuridis formal, pemerintah telah memiliki Undang-Undang (UU) No 4/1979 tentang Kesejahteraan Anak, UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak, UU No 3/1997 tentang Pengadilan Anak, Keputusan Presiden No 36/1990 tentang Ratifikasi Konvensi.
Karena itu untuk menanggulangi persoalan kekerasan terhadap anak tersebut, perlu adanya penegakan hukum yang maksimal. Sebab, bukan tidak mungkin fakta-fakta tentang kesengsaraan dan kesusahan hidup anak akan menjadi persoalan yang sangat pelik di masa mendatang. Adapun langkah nyata yang harus dilakukan adalah mengumandangkan  penghapusan kekerasan terhadap anak, seperti pelatihan kepada ibu-ibu, dan permintaan dukungan dari pemerintah di setiap daerah agar hak-hak anak perlu dilindungi.
Untuk menghilangkan kekerasan yang terjadi terhadap anak anak diseluruh dunia diperlukan tindakan kolektif untuk mengatasinya, memerlukan proses pendidikan yang terus menerus untuk mensosialisasikan nilai-nilai demokratis dan penghargaan pada hak-hak anak-anak, berusaha menegakkan undang-undang yang melindungi anak-anak dari perlakuan sewenang-wenang orang-orang dewasa dan membangun lembaga-lembaga advokasi anak-anak.
Saya berharap di tahun mendatang persentase child abuse ini mengurang, karena child abuse sangat merusak moral dan masa depan generasi muda.
Sumber :
1.http://www.antaranews.com/berita/300756/siapakah-joseph-kony
2. https://ideguru.wordpress.com/2010/04/22/faktor-faktor-yang-melatar-belakangi-kekerasan-pada-anak/
3. http://www.bpkpenabur.or.id/id/node/8172
4. http://www.child-abuse-effects.com/child-abuse-statistics.html
5. http://www.bpkpenabur.or.id/id/node
6. http://en.wikipedia.org/wiki/Child_abuse 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar