Jumat, 21 September 2012

Tugas-4: Solusi Labsky untuk Kemanusiaan

“Perempuan itu untuk dihargai, bukan untuk diperjualbelikan harga dirinya"

Di era globalisasi ini, kebutuhan setiap orang di dunia kut meningkat. Mulai dari kebutuhan sandang, pangan, papan, hingga tersier sekalipun. Untuk memenuhi kebutuhan mereka tersebut, mereka harus melakukan usaha-usaha agar bisa dapat memenuhinya. Contohnya dengan bekerja. Bisa dikatakan semua pekerjaan itu halal. Tetapi, akan menjadi salah ketika tujuannya menjadi menyimpang dari apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang dalam usahanya.
Contohnya, seseorang bekerja keras di sebuah perusahaan besar dan mendapatkan gaji yang besar pula hanya untuk kesenangan dunia dan tidak menghiraukan kebutuhan akhiratnya. Ia bekerja untuk hura-hura, dan berakhir kepada dunia gemerlap. Kemudian ia membawa dirinya kedalam lifestyle orang kota yang cenderung negatif. Padahal, bekerja itu bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani, tapi juga rohani. Seseorang yang bekerja untuk dirinya maupun keluarganya harus bisa memenuhi kebutuhan rohaninya sebagai tanda nyukur kepada Tuhan-nya.

Dari ratusan jumlah pekerjaan di dunia ini, tidak semua pekerjaan dianggap baik bagi yang melihatnya dan bagi yang mengerjakan sekalipun. Tidak dianggap baik oleh orang lain karena biasanya pekerjaan mereka itu merugikan lingkungan sekitar seperti mengganggu ketertiban lingkungan, menyalahgunakan kepercayaan lingkungan yang  diberikan kepadanya, dan masih banyak lagi alasan-alasan masyarakat atas presepsi mereka tentang tidak baiknya suatu pekerjaan. Bagi yang mengerjakan, biasanya mereka merasa terpaksa akan apa yang dikerjakan mereka saat itu, tidak suka dengan pekerjaannya, tidak suka dengan lingkungan di tempat ia bekerja, dan anggapan-anggapan atau perasaan lainnya yang ada pada mereka ketika melakukan pekerjaannya masing-masing.
Pada artikel ini, pekerjaan yang dibahas adalah pelacuran dan prostitusi perempuan. Pekerjaan yang yang selama ini selalu dianggap tidak baik bagi si pengamatnya maupun bagi yang melakukannya.
Tak bisa dipungkiri lagi, citra negatif memang dan akan selalu melekat ketika kita mendengar pekerjaan dengan nama ‘pelacur’. Pekerjaan yang dilakukan dengan cara ‘menjual diri’ ini memang sangat bertentangan dengan norma-normab yang berlaku di masyarakat. Baik itu norma agama maupn norma sosial. Tetapi, dibalik profesi mereka yang selalu dipandang negatif itu, pernahkah tersirat dipiran anda untuk mengetahui apa latar belakang mereka menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK)? Bukankah selalu ada alasan pasti mengapa mereka rela menjajakan harga diri mereka sebagai perempuan hanya untuk mencari sesuap nasi?
Sepertinya tidak ada di dunia, wanita yang memang berkeinginan menjadi seorang pelacur saja di kemudian hari. Berbagai faktor dalam hidupnya pasti memaksanya untuk pada akhirnya ‘terjun’ ke dalam dunia prostitusi. Dibawah ini adalah faktor-faktor yang melatarbelakangi mereka untuk menjadi seorang PSK, yang merupakan sebuah pekerjaan yang akan selalu dianggap negatif oleh orang-orang, beserta solusi bagi setiap latar belakang yang ada dibawah ini.

Dunia Prostitusi


Tak semua wanita dengan kehendaknya ingin menjadi seorang pelacur sebagai pekerjaan utamanya. Perjualbelian wanita di Indonesia bagaikan ayam-ayam yang dengan mudah diperjualbelikan di pasar-pasar tradisional. Dan ironisnya, mangsa yang menjadi target utama mereka adalah remaja putri yang masih sangat belia. Perjualbelian ini kemudian menyeret masuk para remaja putri tersebut kedalam dunia prostitusi dan yang tak pernah diketahui orang banyak, dunia prostitusi itu penuh dengan kekejaman, penyiksaan, sampai terkadang bisa saling membunuh hanya karena masalah ‘pelanggan’. Dunia prostitusi kerap kali menjadi arena kriminalitas yang kejam dan keji hanya karena mempermasalahkan uang, uang, dan uang. Ketika seorang wanita telah masuk ke dalam dunia ini, tak akan lagi ia bisa menghirup udara segar kebebasan. “Terjerat sekali, kan terikat selamanya.”, begitulah kira-kira yang dikatakan para pujangga. 
Wanita di dalam dunia prostitusi sangat jauh dari kata ‘merdeka’, ‘bebas’, dan ‘emansipasi’. Orang yang berkecimpung di dunia itu seolah-olah buta akan rasa kemanusiaan, haus akan kekejian, tuli akan rontaan-rontaan yang meminta kebebasan. Emansipasi tak akan pernah berlaku di dunia ini. dengan iming-iming gaji yang besar, apapun terpenuhi, mereka mau dengan mudahnya masuk ke dalam dunia yang kejam itu. Dimana peran pemerintah? Apakah mereka tak punya hati?

Beban Ekonomi

Kebutuhan semakin meningkat, lapangan kerja terbatas, tak punya keahlian khusus dalam mengerjakan sesuatu, mau gampangnya saja, tak mau bersusah payah, ingin yang instan, dan masih banyak lagi alasan-alasan yang di lontarkan para pelacur ketika ditanyai mengapa mereka memilih untuk jadi seorang Pekerja Seks Komersial.


“Sekarang apa-apa mahal mbak, kalo hanya jadi pembantu rumah tangga ‘satu pintu’ saja ya nggak cukup. Paling nggak ada lah yang bisa dikerjain buat nambah-nambah. Kan saya cari uang juga sendiri, jadi ya susah, mbak”. Itu merupakan kutipan salah satu kutipan percakapan saya dengan seorang PSK yang tinggal tak jauh dari kediaman saya dan namanya tak bisa saya sebutkan. Ia bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga di pagi hari, dan ketika jarum pendek berada pada angka 9 dan bulan telah menunggunya di tengah gelapnya malam, ia keluar mencari ‘tambahan’. Ia memiliki seorang anak yang beurumur kurang lebih 2 tahun. Tak bersuami sehingga secara otomatis ia adalah single parent. Menurut saya, untuk menjadi sosok single parent saja sudah sangat sulit, apalagi ditambah dengan statusnya yang tidak bersuami tapi memiliki anak. Ia juga bercerita kalau di hari-hari pertamanya ia membawa anak, warga sekitar mempertanyakan siapa anak tersebut dan jawabannya hingga saat ini adalah keponakannya. Menutup-nutupi rahasia yang besar dan dapat mencoreng wajahnya habis-habisan adalah hal tersulit baginya. 
“Punya anak dan tanggungan seperti ini itu bukan masalah bagi saya mbak. Tapi kalo ada orang yang tau ini anak saya kan kasian anak saya pas udah gede. Dibilang anak haram lah, apa lah, ya saya nggak tega. Kalo saya yang dikatain gapapa, asal jangan anak saya aja”, begitulah pembelaan yang ia lontarkan. Rasa sayang seorang ibu kepada anaknya dan seperti menyalahkan dirinya sendiri atas keadaan yang ia buat. Tapi ia harus apa lagi? Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali melanjutkan hidup dan bekerja untuk kehidupan anaknya saat ini dan nanti. Keluar di malam hari dan kembali pulang di pagi hari, lalu kembali melakukan pekerjaan utamanya yaitu pembantu rumah tangga. Bukanlah hal mudah bagi seseorang yang mempunyai beban seberat dia. Di umurnya yang masih tergolong muda, ia harus melawan kerasnya kehidupan tanpa menghiraukan yang terjadi di sekelilingnya.

Ketidakmampuan Pemerintah & Negara

Memiliki sebuah profesi yaitu menjadi seorang pelacur bukanlah pilihan utama bagi wanita-wanita di dunia. Tidak ada wanita yang ingin harga dirinya diperjualbelikan dengan mudahnya hanya untuk mencari sesuap nasi. Sebuah keputusan berat bagi yang menjalankan hal ini. Ketika desakan kebutuhan ekonomi melanda dan tidak punya pilihan lain karena tak punya cukup kemampuan khusus untuk menjadi orang yang lebih berarti daripada seorang Pekerja Seks Komersial, pilihan cara untuk menjalani hidup sudah habis kecuali menjual harga dirinya. Menginginkan sesuatu dengan instan, bisa menjadi salah satu faktor. Tetapi yang pasti, memiliki keputusan untuk masuk ke dalam dunia yang paling kontroversial pekerjaannya ini, dunia prostitusi, merupakan pilihan yang ada titik penghabisan. 


Terdapat di UUD 1945, negara berjanji akan melindungi fakir miskin dan anak terlantar yang ada di tanah air kita ini. Pada kenyataannya, yang negara lindungi adalah para koruptor dan perusak-perusak negara lainnya yang seharusnya dimusnahkan dari negara ini. Nampaknya, janji negara yang tertera di UUD 1945 hanya berperan sebagai tulisan saja, namun tak merubah apa-apa. Seandainya negara bisa lebih peduli dengan wanita-wanita yang miskin dan kekurangan dengan cara membuka lapangan kerja yang lebih luas untuk terutama wanita di pabrik-pabrik tekstil ataupun pabrik lainnya, tak akan ada wanita yang berfikiran untuk menjadikan pelacuran sebagai profesi utamanya mencari nafkah. Munculnya profesi ini juga banyak menimbulkan kontroversi, tetapi pemerintah harus lebih bergerak karena kalau pemerintah hanya begini-begini saja, negara ini tak akan maju. Prostitusi akan tetapi ada di jalur ‘lancar’ dan akan semakin banyak wanita yang putus asa dan memiliki pelacuran sebagai jalan pintasnya.
Pemerintah juga harus melindungi wanita dari kekerasan yang terjadi kepadanya. Terutama di dunia prostitusi yang sangat kejam, mereka sering kali disiksa, kerja paksa, bahkan terlukai secara fisik maupun batin hanya karena sebuah penolakan yang tak seberapa, namun harus berakhir dengan kekerasan berdarah. Kerap kali harus ada nyawa yang melayang yang disebabkan oleh ketidakmauan si pelacur untuk tetap berada di dunia prostistusi. Kriminalitas seperti ini harus bisa dikendalikan oleh pemerintah karena akibatnya sangatlah fatal.


Cobalah sesekali kita menengok kehidupan mereka, para pelacur di ibukota. Bukan untuk bertegur sapa apalagi menggunakan jasanya untuk kesenangan pribadi, tetapi justru lebih peduli akan betapa beratnya kehidupan mereka saat ini. Keharusan sekaligus ancaman selalu mengelilingi pikiran mereka. Tidak ada di dunia ini yang benar-benar bersih, namun tak ada juga yang benar-benar kotor. Suatu hari, setiap manusia akan menemui titik kesulitan yang solusinya ada pada pandangan orang lain yang melihat individu tersebut. Ada kalanya kita akan terjerumus ke dalam sesuatu yang belum tentu dikehendaki sebelumnya. Namun, ada baiknya jika diambil yang baiknya saja dan lalu tinggalkan yang tidak baiknya.
Menurut pandangan saya, yang harus benar diusahakan adalah perubahan dari pemerintah. Norma-norma di lingkungan masyarakat tidak punya hukum tertulis namun bisa ditaati dengan sendirinya. Kalau saja ada peraturan yang tertulis dan mengikat, hal itu setidaknya akan membuat keadaan lebih baik. Pemerintah harus membuat peraturan yang lebih ketat dan teratur terhadap dunia prostitusi seperti itu. Pekerja-pekerja seks yang ada ditangkap dengan cara yang pali tepat dan dibawa ke dalam sebuah lembaga pemasyarakatan yang benar-benar memiliki sistem yang baik agar mereka yang dibawa masuk ke dalam lembaga tersebut dapat keluar menjadi orang yang lebih baik dan tidak melakukan pekerjaan lamanya lagi dengan cara memberi lapangan pekerjaan di pabrik-pabrik sebagai buruh dan tinggal jauh dari ibukota agar ia juga jauh dari pikiran-pikiran ingin mengulangi pekerjaannya dulu yang dianggap sebagai jalan pintas tercepat untuk memdapatkan nafkah. Selain itu, dengan dibawanya ia ke lingkungannya yang baru, ia akan lebih mudah menyesuaikan diri karena lingkungan barunya belum tentu mengetahui masa lalunya yang kelam dan dapat melanjutkan hidupnya dengan membuka lembaran baru. Dan di kehidupannya yang baru iya akan berusaha untuk belajar menjadi individu yang lebih baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Sumber:
wawancara narasumber
orangtua

Tidak ada komentar:

Posting Komentar