Sabtu, 22 September 2012

Tugas - 4 Solusi Labsky Untuk Kemanusiaan


Kemanusiaan yang adil dan beradab”

Kalimat itulah yang tertera dalam dasar Negara kita, Indonesia. Pancasila ayat ke 2 merupakan bagian dasar Negara yang menjelaskan tentang kemanusiaan. Namun pada kenyataannya, tidak semua masyarakat Indonesia dapat mengimplementasikan nilai-nilai pancasila pada kehidupan, termasuk salah satunya kegagalan mengimplementasikan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Nilai kemanusiaan di Indonesia masih sangat kurang. Banyak kejahatan-kejahatan kemanusiaan yang sering terjadi di berbagai kalangan masyarakat. Salah satu kejahatan kemanusiaan yang banyak terjadi di Indonesia adalah Kejahatan Dalam Rumah Tanggah atau yang biasa disebut KDRT.

Definisi Kekerasan dalam Rumah Tangga

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan tindakan kekerasan yang dilakukan di dalam rumah tangga baik oleh suami maupun istri. KDRT juga dapat bermakna setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Berbagai pendapat, persepsi, dan definisi mengenai KDRT berkembang dalam masyarakat. Pada umumnya orang berpendapat bahwa KDRT adalah urusan intern keluarga dan rumah tangga. Anggapan ini telah membudaya bertahun, berabad bahkan bermilenium lamanya, di kalangan masyarakat termasuk aparat penegak hukum.

Definisi KDRT menurut UUD:
Menurut UU P KDRT:
 KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaranrumah tangga termasukancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Pasal 1 Butir 1).
Catatan: Untuk anak telah diatur dalam UU No.23 Tahun 2002 tentang PERLINDUNGAN ANAK.
Pasal 2 menjabarkan selanjutnya:
(1) Lingkup rumah tangga dalam Undang-undang ini meliputi:
a. suami, istri, dan anak
. orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud dalam huruf a karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga; dan/atau
c. orang yang bekerja membantu rumah tanggadan menetap dalam rumah tangga tersebut
(2) Orang yang bekerja sebagaimana dimaksud dalam huruf c dipandang sebagai anggota keluarga dalam jangka waktu selama berada dalam rumah tangga yang bersangkutan.
Sebagian besar korban KDRT adalah kaum perempuan (istri) dan pelakunya adalah suami, walaupun ada juga korban justru sebaliknya, atau orang-orang yang tersubordinasi di dalam rumah tangga itu. Pelaku atau korban KDRT adalah orang yang mempunyai hubungan darah, pengasuhan, perwalian dengan suami, dan anak bahkan pembantu rumah tangga, tinggal di rumah ini. Jika seseorang (perempuan atau anak) disenggol di jalanan umum dan ia minta tolong, maka masyarakat (termasuk aparat polisi) akan segera menolong dia. Namun jika seseorang (perempuan dan anak) dipukuli sampai babak belur di dalam rumahnya, walau pun ia sudah berteriak minta tolong, orang segan menolong karena tidak mau mencampuri urusan rumahtangga orang lain.
 Berbagai kasus akibat fatal dari kekerasan orangtua terhadap anaknya, suami terhadap istrinya, majikan terhadap pembantu rumahtangga, terkuak dalam surat kabar dan media masa. Masyarakat membantu dan aparat polisi bertindak setelah akibat kekerasan sudah fatal, korbannya sudah meninggal, atau pun cacat. Ironisnya kasus KDRT sering ditutup-tutupi oleh si korban karena terpaut dengan struktur budaya, agama dan sistem hukum yang belum dipahami. Padahal perlindungan oleh negara dan masyarakat bertujuan untuk memberi rasa aman terhadap korban serta menindak pelakunya.

Bentuk-bentuk KDRT

KDRT dapat dibagi menjadi:
1. Kekerasan Fisik
   Kekerasan Fisik Berat, berupa penganiayaan berat seperti menendang; memukul, menyundut; melakukan percobaan pembunuhan atau pembunuhan dan semua perbuatan lain yang dapat mengakibatkan:
Cedera berat, Tidak mampu menjalankan tugas sehari-hari, Pingsan, Luka berat pada tubuh korban dan atau luka yang sulit disembuhkan atau yang menimbulkan bahaya mati, Kehilangan salah satu panca indera. Mendapat cacat, Menderita sakit lumpuh, Terganggunya daya pikir selama 4 minggu lebih, Gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan, Kematian korban.
   Kekerasan Fisik Ringan, berupa menampar, menjambak, mendorong, dan perbuatan lainnya yang mengakibatkan:
Cedera ringan, Rasa sakit dan luka fisik yang tidak masuk dalam kategori berat. Melakukan repitisi kekerasan fisik ringan dapat dimasukkan ke dalam jenis kekerasan berat

Kekerasan Psikis
   Kekerasan Psikis Berat, berupa tindakan pengendalian, manipulasi, eksploitasi, kesewenangan, perendahan dan penghinaan, dalam bentuk pelarangan, pemaksaan dan isolasi sosial; tindakan dan atau ucapan yang merendahkan atau menghina; penguntitan; kekerasan dan atau ancaman kekerasan fisik, seksual dan ekonomis; yang masing-masingnya bisa mengakibatkan penderitaan psikis berat berupa salah satu atau beberapa hal berikut:
Gangguan tidur atau gangguan makan atau ketergantungan obat atau disfungsi seksual yang salah satu atau kesemuanya berat dan atau menahun, Gangguan stres pasca trauma, Gangguan fungsi tubuh berat (seperti tiba-tiba lumpuh atau buta tanpa indikasi medis), Depresi berat atau destruksi diri, Gangguan jiwa dalam bentuk hilangnya kontak dengan realitas seperti skizofrenia dan atau bentuk psikotik lainnya, Bunuh diri.

   Kekerasan Psikis Ringan, berupa tindakan pengendalian, manipulasi, eksploitasi, kesewenangan, perendahan dan penghinaan, dalam bentuk pelarangan, pemaksaan, dan isolasi sosial; tindakan dan atau ucapan yang merendahkan atau menghina; penguntitan; ancaman kekerasan fisik, seksual dan ekonomis;yang masing-masingnya bisa mengakibatkan penderitaan psikis ringan, berupa salah satu atau beberapa hal di bawah ini:
Ketakutan dan perasaan terteror, Rasa tidak berdaya, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, Gangguan tidur atau gangguan makan atau disfungsi seksual, Gangguan fungsi tubuh ringan (misalnya, sakit kepala, gangguan pencernaan tanpa indikasi medis), Fobia atau depresi temporer

Kekerasan Seksual
   Kekerasan seksual berat, berupa:
1. Pelecehan seksual dengan kontak fisik, seperti meraba, menyentuh organ seksual, mencium secara paksa, merangkul serta perbuatan lain yang menimbulkan rasa muak/jijik, terteror, terhina dan merasa dikendalikan.
2. Pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan korban atau pada saat korban tidak menghendaki.
3. Pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak disukai, merendahkan dan atau menyakitkan.
4. Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan pelacuran dan atau tujuan tertentu.
5. Terjadinya hubungan seksual dimana pelaku memanfaatkan posisi ketergantungan korban yang seharusnya dilindungi.
6. Tindakan seksual dengan kekerasan fisik dengan atau tanpa bantuan alat yang menimbulkan sakit, luka,atau cedera.

   Kekerasan Seksual Ringan, berupa pelecehan seksual secara verbal seperti komentar verbal, gurauan porno, siulan, ejekan dan julukan dan atau secara non verbal, seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh atau pun perbuatan lainnya yang meminta perhatian seksual yang tidak dikehendaki korban bersifat melecehkan dan atau menghina korban.
   Melakukan repitisi kekerasan seksual ringan dapat dimasukkan ke dalam jenis kekerasan seksual berat.

Kekerasan Ekonomi
   Kekerasan Ekonomi Berat, yakni tindakan eksploitasi, manipulasi dan pengendalian lewat sarana ekonomi berupa:
Memaksa korban bekerja dengan cara eksploitatif termasuk pelacuran, Melarang korban bekerja tetapi menelantarkannya, Mengambil tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan korban, merampas dan atau memanipulasi harta benda korban.
§  Kekerasan Ekonomi Ringan, berupa melakukan upaya-upaya sengaja yang menjadikan korban tergantung atau tidak berdaya secara ekonomi atau tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya.



Faktor Penyebab KDRT

Masalah kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi saat ini merupakan masalah yang banyak menimpa kehidupan rumah tangga di masyarakat saat ini. Bentuk kekerasan dalam rumah tangga yang meliputi kekerasan fisik, psikis, seksual, dan penelantaran rumah tangga kenyataannya cukup sering terjadi, tetapi jarang mengemuka karena masyarakat berpendapat bahwa campur tangan pihak lain yang bukan anggota rumah tangga dianggap tidak lazim. Berbagai Kekerasan dalam sebuah rumah tangga dapat terjadi karena berbagai faktor. Berikut merupakan faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya KDRT
1.  Landasan Iman dan agama yang tidak kokoh. Jika suami ataupun istri senantiasa mengembalikan segala permasalahan kepada agama, maka keduanya akan lebih konsisten untuk menunaikan hak dan kewajiban masing masing. Inti dari semua konflik termasuk KDRT adalah adanya perasaan hak dan kewajiban yang tidak terpenuhi.
2.     Masyarakat membesarkan anak laki-laki dengan menumbuhkan keyakinan bahwa anak laki-laki harus kuat, berani dan tidak toleran.
3.     Istri yang terlalu menuntut dan tidak menghargai suami (Biasanya secara verbal).
4.     Laki-laki dan perempuan tidak diposisikan setara dalam masyarakat.
5.     Persepsi mengenai kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga harus ditutup karena merupakan masalah keluarga dan bukan masalah sosial.
6.     Pemahaman yang keliru terhadap ajaran agama mengenai aturan mendidik istri, kepatuhan istri pada suami, penghormatan posisi suami sehingga terjadi persepsi bahwa laki-laki boleh menguasai perempuan.
7.     Budaya bahwa istri bergantung pada suami, khususnya ekonomi.
8.     Kepribadian dan kondisi psikologis suami yang tidak stabil.
9.     Pernah mengalami kekerasan pada masa kanak-kanak.
1.  Budaya bahwa laki-laki dianggap superior dan perempuan inferior.
11.  Melakukan imitasi (Meniru), terutama anak laki-laki yang hidup dengan orang tua yang sering melakukan kekerasan pada ibunya atau dirinya.
12.  Komunikasi yang tidak lancar antara suami dan isteri, akibat kesibukan, keletihan, ataupun ego. Sehingga keduanya tidak terbiasa untuk mengungkapkan kebutuhan dan keinginan masing masing dengan cara yang assertif (Win-win communication).

Solusi dan Pencegahan

Masalah kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi saat ini merupakan masalah yang banyak menimpa kehidupan rumah tangga di masyarakat. Bentuk kekerasan dalam rumah tangga yang meliputi kekerasan fisik, psikis, seksual, dan penelantaran rumah tangga kenyataannya cukup sering terjadi, tetapi jarang mengemuka karena masyarakat berpendapat bahwa campur tangan pihak lain yang bukan anggota rumah tangga dianggap tidak lazim.
Menilik beberapa faktor pemicu KDRT sebagaimana yang dipaparkan di atas, maka tindakan KDRT dapat dicegah dengan;

pertama, mempersiapkan diri dengan baik ketika berniat untuk menikah. Persiapan yang dimaksud bukan saja persiapan materi atau jasmani, namun meliputi persiapan mental, baik menyangkut penguatan akidah, pemahaman hukum-hukum agama khususnya tentang kehidupan suami isteri, memperkuat kepribadian dan sebagainya.

Kedua, konsisten untuk turut andil dalam upaya mengubah kehidupan sekuler yang menyebabkan beban persoalan keluarga kian berat. Sejalan dengan penguatan internal individu-individu dalam keluarga, kondisi sosial yang melingkupi mereka tidak boleh kontra produktif. Oleh karena itu, kehidupan masyarakat harus diubah menjadi kehidupan yang melahirkan kesejahteraan, ketenangan dan ketentraman. Upaya ini harus menjadi perhatian semua pihak jika tidak ingin laju tindak KDRT semakin kencang.

 sumber:
http://perimakgpm.wordpress.com
http://repository.usu.ac.id
http://www.ccde.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=200:pemicu-kekerasan-dalam-rumah-tangga&catid=6:bidik&Itemid=7
http://www.merdeka.com
http://solusikeluargakita.blogspot.com/2010/07/kekerasan-dalam-rumah-tangga.html






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar