Sabtu, 22 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky untuk Indonesia


Terorisme untuk ‘Kebaikan’

                Terorisme adalah penggunaan teror secara sistematik, terutama sebagai sarana pemaksaan. Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil. Definisi umum dari terorisme hanya mengacu pada tindakan-tindakan kekerasan yang dimaksudkan untuk menciptakan ketakutan (teror), yang dilakukan untuk agama, politik atau, tujuan ideologis, dan sengaja menargetkan atau mengabaikan keamanan kebanyakan masyarakat (warga sipil). Beberapa definisi sekarang mencakup tindakan kekerasan yang melanggar hukum dan perang. Penggunaan taktik serupa oleh organisasi kriminal untuk perlindungan atau untuk menegakkan kode keheningan biasanya tidak berlabel terorisme meskipun tindakan yang sama dapat diberi label terorisme bila dilakukan oleh kelompok bermotif politik. Definisi terorisme telah terbukti kontroversial. Berbagai sistem hukum dan instansi pemerintah menggunakan definisi yang berbeda tentang terorisme dalam perundang-undangan nasional mereka. Selain itu, masyarakat internasional telah lambat untuk merumuskan definisi, sehingga secara universal disepakati kejahatan ini terikat dengan hukum. Kesulitan-kesulitan ini timbul dari kenyataan bahwa "terorisme" merupakan istilah politis dan emosional.
                Kata "terorisme" dapat didefinisikan secara politis dan emosional, dan ini merupakan sebuah kesulitan dalam memberikan definisi yang tepat. Konsep terorisme mungkin sendiri menjadi kontroversial karena sering digunakan oleh otoritas negara (dan individu dengan akses ke dukungan negara) untuk mendelegitimasi lawan politik atau lainnya, dan berpotensi melegitimasi penggunaan terhadap negaranya sendiri, yang biasanya memiliki kelebihan atas persenjataan dibandingkan dengan negara-negara lawannya
                Terorisme telah dipraktekkan dalam cakupan yang luas dari organisasi-organisasi politik untuk memajukan tujuan mereka. Ini telah dipraktekkan oleh kedua partai politik sayap kanan dan sayap kiri, kelompok nasionalis, kelompok agama, revolusioner, dan pemerintah yang berkuasa. Karakteristik taat adalah penggunaan sembarangan kekerasan terhadap warga sipil untuk tujuan publisitas untuk mendapatkan kelompok, penyebab, atau individu. Simbolisme terorisme dapat memanfaatkan ketakutan manusia untuk membantu mencapai tujuan tersebut. Terorisme sendiri dimaksudkan untuk menciptakan ketakutan secara luas dan kerusakan yang besar, sehingga yang menjadi tempat-tempat target aksi terorisme biasanya merupakan tempat-tempat yang tamai dikunjungi, penuh dengan massa. Para pelaku terorisme itu sendiri seringkali meminta barang secara paksa dengan ancaman akan melakukan aksi kedua bila permintaan mereka tidak dipenuhi.
                Dewasa ini, terorisme yang marak terjadi adalah dengan cara pengeboman secara besar-besaran. Sebagian pelaku bahkan mulai berani untuk mengakui bahwa mereka yang melakukannya atas nama sebuah kelompok, beserta dengan pernyataan tujuan mereka. Terorisme sendiri dikelompokkan berdasarkan tipenya. Yang pertama adalah kekacauan sipil. Terorisme kekacauan sipil adalah bentuk kekerasan secara kolektif yang pastinya menganggu perdamaian, keamanan, dan kegiatan masyarakat. Terorisme jenis ini bertujuan untuk menarik korban sebanyak-banyaknya, karena itu kota-kota besar yang memiliki gedung-gedung berkapasitas tinggi pasti menjadi tujuannya.
                Sebagian besar dari tipe terorisme berkaitan dengan politik. Terorisme politik adalah perilaku kriminal yang kasar dan sangat membahayakan, dirancang untuk menghasilkan ketakutan di masyarakat, atau bahkan dalam lingkup yang lebih luas. Terorisme ini dilakukan murni untuk tujuan politik. Terorisme non-politik adalah terorisme yang sebenarnya tidak ditujukan untuk kepentingan politik, tetapi menunjukkan kekuasaan untuk menciptakan dan mempertahankan rasa ketakutan yang tinggi untuk tujuan koersif. Meskipun begitu, pada akhirnya, keuntungan individu atau kolektif lebih besar daripada pencapaian suatu tujuan politik. Terorisme politik asli adalah terorisme politik yang ditandai dengan pendekatan revolusioner. Terorisme politik terbatas lebih mengacu kepada tindak terorisme yang seringkali dilakukan dalam motif ideologis atau politik, tetapi tindak terorisme ini tidak termasuk ke dalam kampanye resmi suatu partai politik tersebut untuk menangkap kontrol atas negara. Terorisme resmi, atau terorisme negara, adalah terorisme yang mengacu pada negara-negara yang pemerintahannya didasarkan ketakutan dan penindasan, sehingga mirip dengan terorisme.  Hal ini bisa juga diartikan sebagai tindakan teroris yang dilakukan oleh pemerintah resmi dalam mengejar tujuan politik.
                Quasi-terorisme, adalah kegiatan terorisme yang tidak memiliki hubungan dengan politik. Kegiatan ini terkait dengan pelaksanaan kejahatan atau kekerasan yang mirip dalam bentuk dan metod untuk terorisme asli, tetapi tanpa tujuan untuk menyebarkan teror secara luas pada korban seperti kasus lainnya. Quasi-terorisme bertujuan mendapatkan konsekuensi dan reaksi yang sama dengan menggunakan teknik terorisme asli. Contohnya adalah narapidana yang mengambil sandera dalam pelariannya.
                Prinsip utama terorisme adalah menciptakan rasa ketakutan yang besar dan luas, agar masyarakat dapat, secara tidak langsung, mengenal suatu kelompok dan takut akan kelompok atau individu tersebut. Harapan lainnya adalah, seiring dengan berjalannya waktu, orang-orang mulai berpikir secara berbeda, yang mengarah pada dukungan terhadap para pelaku terorisme tersebut. Hal ini biasanya berujung pada meluasnya jaringan terorisme, dikarenakan semakin banyaknya masyarakat yang bergabung di dalamnya.
                Kini, tindak terorisme tampaknya merupakan hal yang biasa dilakukan oleh para pelakunya. Mereka melakukannya dengan berbagai alasan, untung menjunjung tinggi ideologi perkumpulan mereka. Yang tampaknya sekarang menjadi tren di kalangan para pelaku teroris adalah, tindak terorisme yang bertujuan untuk ‘memurnikan dunia’. Hal ini beragam macamnya. Jika dilakukan oleh sekelompok penganut agama atau keyakinan tertentu, biasanya mereka bertujuan agar masyarakat internasional menganut agama mereka, agama yang mereka anggap paling benar. Yang mulai marak dan terdengar namanya akhir-akhir ini adalah sekelompok pelaku terorisme yang menjuluki diri mereka sendiri sebagai purist. Para purist ini adalah sekelompok orang yang melakukan terorisme, dengan alasan memberikan pelajaran kepada orang-orang yang merusak bumi. Mereka sering melakukan demonstrasi secara anarkis tentang penyelamatan bumi, dan mereka melakukan tindak terorisme atas dasar untuk membalas kerusakan yang telah orang-orang timbulkan terhadap bumi.
                Yang menjadi permasalahannya adalah, sebaik apapun tujuannya, sepositif apapun tujuannya, seindah apapun visinya, bila menggunakan hal terorisme, hal tersebut adalah salah. Tindak terorisme yang memberikan ketakutan masyarakat secara luas merupakan sebuah hal yang tidak bisa dimaafkan. Rasa ketakutan itu akan merusak sistem sosial yang ada, baik secara individu atau secara kelompok (secara luas). Meskipun mereka melakukannya untuk tujuan yang sangat mulia, cara yang mereka lakukan adalah salah.
                Sebagian besar orang yang menganggap tujuan mereka benar dan cara yang mereka lakukan, misalnya dengan melakukan pengeboman, adalah benar, mereka akan bergabung dengan kelompok terorisme ini. Hal ini tentu saja mengakibatkan kelompok tersebut akan menjadi lebih kuat, dan lebih gencar melakukan aksi-aksi terorisme mereka.
                Aksi terorisme itu sendiri, karena pastinya sudah menyebabkan kerugian hingga jutaan, bahkan mungkin triliun, merupakan sebuah tanggungan yang besar. Belum lagi bila terenggutnya korban nyawa, yang biasanya pasti akan terjadi jika aksi terorisme dilakukan di tempat umum. Karena terorisme merupakan pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) yang sangat berat, karena mengambil hak-hak dasar, terutama hak hidup, sudah sepantasnya terorisme mendapat predikat sebagai musuh dunia internasional.
                Solusinya, menurut saya, terorisme secara mutlak harus diperangi hingga setuntas-tuntasnya. Terkait dengan aksi terorisme itu sendiri yang telah menimbulkan banyak korban, aksi pembebasan dunia dari terorisme itu harus dengan korban dan kerugian seminim mungkin. Sebisa mungkin, anggota dari kelompok teroris itu dibiarkan hidup agar bisa lebih ditanyai tentang keanggotaan para pelaku terorisme tersebut.
                Masyarakat harus memiliki kesadaran atas kejadian atau tindak terorisme itu sendiri. Terkadang, beberapa orang yang melihat kerusakan moral sebagian masyarakat merasa hal itu perlu ditindak lanjuti dengan berbagai macam cara. Orang-orang seperti itu akan setuju atas dasar apapun, bahkan bila cara yang dilakukan melibatkan kerugian akan banyak hal dan cara itu merupakan sebuah pelanggaran hukum internasional.
                Kewaspadaan masyarakat akan tindak terorisme harus lebih ditingkatkan. Keamanan suatu tempat, atau jaminan keamanan suatu tempat, bukan merupakan alasan kewaspadaan harus diturunkan. Tindak terorisme bisa mengintai dimana saja. Kadang-kadang, anggota para kelompok terorisme berasal dari paksaan, yaitu mereka diculik atau didoktrin untuk masuk ke dalam kelompok mereka. Kesadaran masyarakat yang tinggi akan tindak terorisme tentunya akan mengurangi kesempatan atas terjadinya hal itu.
                Terakhir, yang sangat perlu disadarkan adalah para pelaku terorisme itu sendiri. Mereka harus menyadari, bahwa untuk menyampaikan pesan mereka ke seluruh dunia, tidak dibutuhkan tindak kekerasan. Jika mereka menyampaikan agama atau pesan-pesan dari kepercayaan mereka, mereka tidak perlu melakukan pengeboman; karena hakikat awal kepercayaan atau agama adalah memberikan rasa perdamaian diantara para penganutnya. Jika mereka hendak menyampaikan pesan untuk menyelamatkan bumi, mereka tidak perlu melakukan pengeboman seperti itu karena, bumi tidak akan bisa selamat jika mereka melepaskan bahan peledak berbahaya ke alam. Dan tentunya, asap, limbah, dan sisa-sisa dari bahan peledak tersebut malah akan menambah sampah bumi, bukan?


Sumber:
www.wikipedia.org
www.id.wikipedia.com
www.google.com
www.solopos.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar