Minggu, 23 September 2012

Tugas-4 Solusi Labsky Untuk Dunia


mungkin kami hanyalah anak yang tidak berdaya, tetapi kami juga punya perasaan dan ingin disayangi

Manusia diciptakan sebagai mahluk yang cerdas dibandingkan mahluk lainnya yang ada di dunia ini. Dan manusia dituntut untuk terus berinteraksi antara satu dan yang lainnya karena kita adalah mahluk sosial. Tetapi semua interaksi yang terjadi tidaklah selalu berdampak positif. Tak sedikit dari banyak interaksi yang terjadi justru menimbulkan permasalahan, baik itu yang tergolong kecil, sedang maupun besar. Dan sudah banyak sekali masalah tersebut adalah masalah kemanusiaan yang ada di dunia ini.

1. BULLYING
Contohnya adalah interaksi antara kakak dan adik kelasnya. Di setiap sekolah di  negara manapun itu sudah pasti ada senioritas. Dan senioritas muncul karena orang yang sudah lebih lama bersekolah atau lebih senior disekolahnya akan merasa dirinya sebagai jagoan yang patut ditakuti dan dituruti apa yang mereka inginkan. Dan terkadang terkesan terlalu mengurusi urusan anak-anak yang tingkatan kelasnya masih dibawah mereka. Sehingga akhirnya timbul lah tindak bullying yang kini sudah mendunia.
Ada berbagai macam tindak bullying. Semua tergantung dimana adanya tindak itu dan tradisi apa yang biasanya dilakukan dari tahun ke tahun oleh senior kepada juniornya yang biasanya selalu diikuti oleh junior yang nantinya akan menjadi senior. Seperti misalnya harus salam kepada kakak kelas jika lewat di depannya, jika tidak maka anak tersebut akan diberi hukuman, seperti pukulan atau dipermalukan di depan sekolah dan sebagainya. Namun ini masih contoh kecil. Banyak tindak bullying yang bisa dibilang diluar batas kemanusiaan seperti pengeroyokan terhadap seorang anak, dipermalukan yang kelewat batas dan disebar semua aibnya, hingga tindak pelecehan seksual.
Tetapi tindak bullying tidak hanya secara fisik saja. Bisa saja tindak bullying dilakukan secara verbal. Seperti memberikan julukan yang tidak baik pada orang, mengolok-olok orang yang tidak bersalah, membawa-bawa aib dan menyebarnya di depan umum dan sebagainya. Dan terkadang tindak bullying secara verbal lebih melekat karena dapat terus diingat dan susah untuk dilupakan. Apalagi bagi yang mendengarnya dan sudah terbiasa olehnya.
Biasanya orang yang mengalami tindak bully adalah orang yang bisa dibilang lemah, yang dimata orang aneh tidak seperti orang pada umumnya, orang yang memiliki kekurangan bahkan orang yang sangat terkenal sekalipun karena kakak kelas mungkin tidak suka melihat keberadaan mereka, atau terkadang penyebabnya adalah iseng, agar terlihat keren, agar ditakuti, dan lain sebagainya yang kadang tidak sesuai dan justru bukanlah alas an yang tepat untuk melakukan tindakan seperti itu.
Mungkin kita sering mendengar kalau tindak bullying itu terjadi disekolah. Memang benar, namun ternyata tidak hanya disekolah saja, seperti misalnya perkantoran, hingga instansi penting contoh kecilnya adalah orang yang lebih senior akan semena-mena pada pegawai yang masih baru, seperti menyuruh untuk menyelesaikan pekerjaan mereka dan lain sebagainya.
Dampak dari tindak bullying sangatlah banyak. Bagi anak yang di bully—terutama—mereka akan merasakan kesedihan yang mendalam, rasa takut yang terus menghantui mereka serta bisa jadi mengalami trauma dan nama baik mereka bisa jadi sudah hilang jika orang tersebut dipermalukan dan disebar aibnya. Bagi yang membully, nama baik mereka pastinya sudah rusak, banyak orang yang jadi benci padanya, musuh terus bertambah, mempermalukan orang tua mereka sendiri dan menambah tanggungan dosa mereka karena sudah menyiksa orang lain yang belum tentu punya salah pada orang tersebut. Bagi instasi yang terdapat tindak bullying tentunya akan merusak nama baik dari instansi tersebut. Bisa menyebabkan sepinya peminat karena takut dengan adanya tindakan bullying.

Solusi:
Karena banyak sekali nilai negatif dari tindakan bullying, alangkah bainya jika kita dapat menghapuskan tindakan yang tidak baik itu di lingkungan kita. Seniortias tentunya akan selalu ada, namun bukan untuk dijadikan ajak bully membully. Senioritas yang semestinya adalah agar angkatan yang lebih junior menjadi menghargai seniornya bukan justru ditakuti. Sebagai senior, justru harus bisa mengayomi juniornya, menunjukkan hal yang patut untuk ditiru, menegur dengan cara yang baik jika memang tindakan yang dilakukan sudah tidak menghormati mereka dan bersikap seperti adik yang baik. Jika hal tersebut dapat terlaksana, maka secara otomatis junior mereka akan menghormati mereka dengan senang hati. Bagi para junior, seharusnya mereka bisa menempatkan diri mereka dan tidak bertindak berlebihan yang dapat menyebabkan masalah, menghormati senior mereka, tidak berlagak layaknya mereka lah yang paling mengerti dan mendengarkan apa yang dikatakan senior mereka jika memang hal yang dikatakan bermanfaat dan benar. Kemudian instansi harus memperhatikan semua warga yang ada di dalamnya. Memberi peringatan bagi yang melakukan tindak bullying atau bahkan memberikan tindakan yang serius agar orang yang membully menjadi jera dan adanya peraturan yang jelas dan tegas. Serta pihak yang menjalankan instansi juga memberi contoh yang baik dengan menuruti semua peraturan yang diberikan pula bagi warga dari instansi itu. Jika hal itu semua dapat terlaksana, maka tindakan  bullying di dunia akan bisa jadi berkurang. J

2.  Kekerasan Terhadap Anak
Anak-anak merupakan masa yang paling indah dan tidak dapat terulang lagi, namun tidak semua anak di dunia merasakan keindahan masa kanak-kanaknya. Orang-orang yang tidak bisa merasakan indahnya masa kanak-kanak mereka biasanya mengalami kekerasan. Banyak orang yang sudah besar menganggap kalau anak itu lemah dan tidak berdaya serta tidak mengerti apa-apa. Namun hal ini bukan berarti bisa dijadikan ajang untuk bertindak keras dan sewenang-wenang terhadap anak.
UNICEF melaporkan bawhasanya di tahun 2003 terdapat tiga ribu lima ratus laporan mengenai tewasnya anak yang berusia dibawah lima belas tahun akibat tindak kekejaman. Selain itu hasil riset dari UNICEF mengatakan kalau tindak kekerasan, kekejaman yang berujung pada kematian yang tergolong tinggi banyak terjadi di negara kawasan Amerika, Eropa, Pasifik , seperti di negara Amerika Serikat, Meksiko, Portugal, Belgia, Ceko, Hongaria, Prancis serta Selandia Baru. Namun ada pula negara yang memilki tingkat kekerasan pada anak yang rendah, seperti pada negara Spanyol, Italia, Yunani, Irlandia dan Norwegia.
Penyebab kekerasan kepada antara lain adalah stress. Orang tua yang mengalami stress dan menerima tekanan yang banyak misalnya dari kantor akan dengan mudah melampiaskan kekeselannya terhadap anak mereka saat mereka sudah bertemu dengan anak mereka. Karena biasanya anak merupakan sasaran empuk dan jika melakukan kesalahan sedikit akan dimarahi habis-habisan. Bisa dibilang anak merupakan melampiasan karena orang tua mereka tidak tahu harus melampiaskannya kemana lagi. Dan anak pun tidak bisa melawan jika hal tersebut terjadi.
Selain itu kemiskinan juga sangat berpengaruh terhadap prilaku yang diberikan lingkungan kepada seorang anak. Tak jarang ditemui orang tua yang rela mempekerjakan anaknya untuk mencari nafkah, baik dengan cara mengemis atau bahkan menjual anaknya. Sedangkan usia dari anak tersebut masih dibawah angkatan kerja dan belum patut untuk dipekerjakan. Terkadang anak yang dipaksa tersebut mendapat perlakuan kasar dan sewena-wena dari orang tuanya—memaksanya untuk bekerja, kemudian memarahinya jika tidak mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh orang tua mereka atau siapapun yang mempekerjakan mereka tersebut. Terkadang anak akan menerima hukuman atas kekecewaan tersebut, seperti tidak boleh pulang atau tidak boleh makan hingga kekerasan fisik seperti pemukulan.
Penyebab lainnya adalah hubungan rumah tangga yang kurang harmonis antara suami dan istri. Pertengkaran yang terjadi tentu dapat membuat suasana rumah menjadi kisruh, gaduh dan tidak nyaman. Anak bisa ikut menjadi bahan pertengkaran antara kedua orang tuanya. Dan jika hal ini terjadi, anak akan selalu dianggap sebagai beban dan sumber masalah sehingga mungkin orang tua dari anak tersebut menjadi selalu terbawa emosi untuk terus memarahinya, membencinya hingga tidak ingin melihat anaknya lagi. Sehingga banyak pula kasus anak yang dibuang begitu saja di panti asuhan atau ditinggalkan begitu saja di rumah warga bahkan tempat pembuangan sampah dan hanya berharap kalau nantinya akan ada orang yang akan menemukan anak mereka atau rela. Jika orang tua yang matrealistis, tidak menutup kemungkinan juga jika mereka pada akhirnya menjual anak mereka sendiri.
Berbagai macam bentuk kekerasan pada anak akan selalu berpengaruh buruk pada anak dalam jangka waktu yang lama. Seperti misalnya kekerasan secara verbal dengan mengungkapkan kata-kata yang tidak sepatutnya dikatakan sebagai contoh, “dasar anak nakal” atau “kamu memang anak pembawa sial” akan selalu melekat pada diri anak. Anak akan selalu merasa sedih akan dirinya sendiri, Ia bisa jadi merasa dirinya seperti hal negatif yang dikatakan oleh orang tua mereka selagi memarahi mereka. Anak bisa juga merasa kalau Ia tidak disayangi oleh orang tua mereka sendiri. Ia bisa menjadi tidak percaya diri untuk kehidupan yang lepas dari keluarganya, karena support dari orang tua mereka sendiri justru kurang, mengingat kata-kata kasar yang dikeluarkan pada anaknya mereka sendiri.
Kekerasan pada anak yang disertai dengan kekerasan fisik juga kerap terjadi di banyak kasus yang kini kita temui. Kekerasan fisik yang sudah melewati batas bisa jadi penyebab kematian pada anak mereka sendiri. Contoh kecil dari kekerasan fisik yang paling bnayak kita jumpai adalah amarah yang disertai pukulan. Mungkin pada saat sekali memukul orang tua merasa itu biasa saja, namun jika oragtua tersebut selalu berfikir seperti itu, maka mereka akan terus melakukannya berulang-ulang tanpa mereka sadari yang kemudian menjadi kebiasan bagi mereka.
Kekerasan fisik seeperti pemukulan tersebut dapat merusak batin anak. Anak akan merasa sedih, dan hal ini juga tidak enak jika dilihat oleh orang di sekitar lingkungan keluarga. Orang lain yang melihatnya akan melakukan tindakan yang sama kepada anak tersebut karena mengingat kalau orangtuanya saja melakukan tindakan kekerasan tersebut. Bisa juga timbul rasa benci pada orang tua oleh si anak yang mengalami kekerasan. Jika anak sudah merasa benci pada orang tua mereka, maka rasa hormat mereka sebagai anak kepada orang tua bisa jadi sudah tidak ada. Jika sudah tidak ada rasa hormat dari anak kepada orang tua mereka sendiri, maka anak justru akan makin sering membangkang dari apa yang dikatakan orang tua mereka. Efek lain pada anak adalah anak bisa jadi merasa rendah diri, malu atas apa yang telah dialaminya, dan anti-sosial, berusaha semaksimal mungkin untuk tidak bersosialisasi karena rasa trauma dan tidak ingin orang lain mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padanya. Dan efek yang paling buruk adalah jika anak menirukan apa yang telah dilakukan orangtuanya padanya kepada orang lain. Karena keluarga merupakan media belajar paling pertama bagi setiap individu. Dan mengingat pula betapa mudahnya seorang anak yang sedang dalam tahap pembelajaran untuk mengikuti apa yang dilihatnya, terutama yang dilakukan oleh orangtuanya.
Akibat berikut adalah dampak yang mungkin tidak terfikirkan oleh kita sebelumnya, yakni anorexia (penyakit takut gemuk), anak jadi sering memuntahkan makanan kembali, pola makan yang berantakan, kecanduan alcohol, pemakaian obat-obatan terlarang dan yang paling buruk adalah bunuh diri.
Solusi:
Orang tua sebagai media pembelajaran anak seharusnya memberikan contoh yang baik dalam mendidik anak. Karena kekerasan bukannya merubah apa yang buruk menjadi baik, melainkan memperburuk keadaan yang sudah ada. Cara untuk menghindarinya adalah dengan mendekatkan diri lebih banyak kepada anak, seperti meluangkan waktu sejenak untuk berbincang dan menanyakan hari si anak, mengajak anak pergi dan menghabiskan waktu bersamanya dan banyak hal positif lainnya agar anak merasa dekat dan sayang kepada orangtuanya. Jika anak sayang, maka tentu saja mereka menjadi patuh kepada apa yang dikatakan orang tuanya. Anak akan mendengarkan dengan sepenuh hati karena tidak pernah ada masalah antara anak dan orang tuanya. Sehingga tidak perlu ada kekerasan dalam mendidik anak.
Selain itu, jika sedang ada masalah, orangtua harus dapat mencernanya terlebih dahulu dan memikirkannya kembali, apakah penyebab dari masalah yang sedang mereka hadapi itu berasal dari anak mereka atau tidak. Jika memang tidak orang tua harus bisa menahan amarah dan bersikap dewasa bagaimana caranya membedakan waktu untuk menghadapi masalah, dan waktu untuk anak mereka sendiri tanpa melibatkan masalah yang sedang dihadapi, karena semua masalah jika tidak di selesaikan dengan baik akan berimbas buruk pula pada anak yang tidak bersalah.
Jangan pula meninggalkan anak sendirian dalam menyelesaikan masalah. Bimbing anak untuk mencari jalan keluar bagi masalah yang sedang dialaminya. Gunakan bahasa sehari-hari yang ringan agar anak juga lebih gampang menerima dan masuk untuk dicerna. Jadilah orang tua sekaligus teman bagi anak yang selalu ada di sisi anak dengan dua peran tersebut sekaligus, agar anak juga tidak merasa kesepian.
Dan percayai anak dengan tanggung jawab yang diberikan oleh orang tua. Karena anak pasti tumbuh dan tidak selamanya menjadi anak kecil yang harus diikuti kemanapun mereka pergi. Ada saatnya bagi sang anak untuk tumbuh mandiri, namun harus tetap diawasi walaupun dengan cara yang berbeda dari saat anak masih balita dan diberikan tanggung jawab agar anak juga tidak terjerumus pada pergaulan yang tidak baik.
Dari pihak pemerintah setiap negara juga turut bertanggung jawab jika ada tindak kekerasan pada anak. Karena anak harus berada bada lindungan dibawah undang-undang atau hokum yang berlaku di setiap negara. Negara harus turut mengawasi tindak-tindak kekerasan yang kerap terjadi dan menindak tegas dengan jalur hukum jika ada laporan-laporan tindak kekerasan terhadap anak. Lembaga masyarakat yang bertugas melindungi anak juga harus aktif mengawasi perkembangan yang terjadi di negaranya, jangan sampai negara tersebut memiliki label yang tidak baik mengenai kekerasan terhadap anak.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar