Sabtu, 22 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labky Untuk Kemanusiaan


Mewujudkan Perdamaian Dalam Perbedaan


MASALAH
                Khususnya di dunia belahan timur, banyak remaja yang memikirkan tentang masa depan mereka. Sementara mempertimbangkan berbagai kemungkinan, adalah wajar jika mereka merenungkan masa lalu mereka. Siapa nenek moyang mereka? Apakah mereka keturunan penduduk asli amerika, atau budak dari afrika, atau orang-orang yahudi yang melarikan diri dari Jerman dan Eropa pada masa Perang Dunia ke 2?
Ras, memberikan penampilan dan sifat dasar yang berbeda-beda pada manusia. Marc Aronson, pemenang penghargaan penulis buku Witch Hunt: Mysteries of the Salem Witch Trials, menenggelamkan dirinya ke dalam peredaran ras dalam konteks sejarah. Berawal ketika ia berada di sebuah toko, ia melihan sekelompok remaja yang dituduh mencuri uang dari meja kasir. Ia percaya mereka bersalah, karena remaja itu berkulit hitam. Terjebak dalam pola pikirnya sendiri, Aronson memutuskan untuk memeriksa mengapa dan bagaimana prasangka rasial ini terlihat penting dalam sejarah dunia dan dampaknya terhadap isu-isu yang berhubungan dengan ras. Aronson telah mengumpulkan cerita dan isu-isu ras saat ini untuk di eksplorasi dan di diskusikan, ia juga telah menelusuri kemungkinan asal-muasal rasisme hingga ke akar-akarnya. Pada jaman dahulu, orang memiliki budak dan merasa bahwa beberapa manusia lebih baik dari yang lain, banyak yang mengatasnamakan Tuhan atas tindakannya. Perang Salib juga membawa konflik antara kulit hitam dan kulit putih. Aronson merinci kasus tentang bagaimana agama dan awal dari gerakan Kristiani yang mulai membagi masyarakat ke dalam faksi-faksi yang bertikai. Idealisme tersebut disalahgunakan untuk membenarkan dominasi atas satu kelompok terhadap kelompok yang lain.
Sejarah Amerika telah dieksplorasi sedemikian rupa dari imigrasi Irlandia hingga perbudakan Afrika, dari Gerakan Hak Sipil sampai hari ini. Semasa Perang Sipil, hukuman gantung sering diterapkan dan betapa mengerikan cara orang-orang yang mengirim kartu pos mengenai “acara” hukum gantung. Siapa yang mau menerima atau mengirim kartu-kartu tersebut? Melihat kembali sejarah, sangat mudah untuk menyadari bahwa selama ini pandangan orang-orang tidak benar, bahwa satu ras lebih baik dari ras lain. Namun sulit untuk menerapkan pemikiran tersebut kepada orang-orang di jaman sekarang. Sejarah adalah relevan, dan pembaca sejarah dapat melihat masa lalu dan kesalahan yang dapat diulang atau di panen saat ini, dalam skala yang berbeda.
Sampai 150 tahun yang lalu, praktik penjualan budak-budak kulit hitam yang didatangkan dan diculik dari Afrika marak terjadi di Amerika Serikat. Budak-budak itu diperjualbelikan untuk dipekerjakan di ladang-ladang atau di rumah-rumah. Kesalahan sekecil apapun yang dilakukan seorang budak harus dibayar mahal dengan rasa sakit penyiksaan atau bahkan nyawa diri dan keluarganya. Meski Piagam Hak Asasi Manusia sudah dikeluarkan, sisa-sisa dari perlakuan yang tidak manusiawi itu masih terlihat di tengah masyarakat Amerika. Undang-undang kesamaan hak tidak banyak dihiraukan dan diskriminasi ras dapat disaksikan di seluruh sisi kehidupan sosial. Orang-orang kulit hitam dan kelompok minoritas adalah korban praktik diskriminasi yang terjadi secara luas di sana. Bagi warga kulit hitam, pengadilan justru menjadi lembaga yang tidak adil. Kondisi kehidupan dan kesejahteraan warga kulit berwarna juga mengenaskan. Mereka rata-rata hidup di bawah standar kesejahteraan.  Kantor Statistik di Amerika Serikat dalam laporan yang dirilis tanggal 26 Agustus 2008 menyatakan, pendapatan rata-rata warga Amerika tahun 2007 mencapai 20.233 USD setahun. Pendapatan pertahun warga kulit putih tercatat sebesar 54,920 USD dan warga kulit hitam 33.916 USD. Seperempat komunitas kulit hitam di Amerika hidup di bawah garis kemiskinan, atau tiga kali lipat dari jumlah warga kulit putih yang hidup dalam kondisi yang sama.
Di bagian lain, warga kulit hitam dan kulit berwarna di Amerika sulit untuk memperoleh pekerjaan karena praktik diskriminasi luas di negara itu. Akibatnya, angka pengangguran di antara warna minoritas lebih tinggi dibanding warga kulit putih. Tercatat, 15 persen dari angka pengangguran terkait warga kulit hitam, 13 persen warga eropa dan 9 persen warga kulit putih. Di antara remaja dan pemuda kulit hitam usia 16-24 tahun, tercatat hampir 34 persen tidak bekerja. Angka ini adalah tiga kali lipat dari angka rata-rata pengangguran di Amerika. Pengangguran di kalangan kelompok terpelajar dari komunitas kulit hitam juga mencapai dua kali lipat dari kasus yang sama di antara warga kulit putih. Di penghujung tahun 2009, meski tercatat 27 persen dari jumlah penduduk kota New York, warga kulit hitam dan eropa (Spanish) tidak memperoleh peluang kerja yang cukup. Dari 11.529 lapangan kerja di lembaga pemadam kebakaran, warga kulit hitam hanya memperoleh 3 persennya sementara warga Spanish mendapatkan 6 persen.
Tak hanya dalam pekerjaan, media massa sering menggambarkan sisi negatif dari kehidupan warga kulit berwarna. Hal ini jelas menimbulkan masalah sosial dan kesulitan bagi mereka di tengah masyarakat yang mayoritasnya berkulit putih. Misalnya, untuk bisa menyewa rumah, warga kulit berwarna mesti menyisihkan lebih banyak uang dibanding warga mayoritas. Masalah itu semakin komplek ketika angka penderita penyakit AIDS yang mematikan itu lebih tinggi di antara warga keturunan Afrika. Diskriminasi ras juga terjadi di lingkungan sekolah dan lembaga pendidikan. Misalnya, Lembaga Nasional New York tahun 2008 menerbitkan laporan tingkat pendidikan menengah atas di kalangan warga kulit hitam dan angka mereka ke perguruan tinggi saat ini masih jauh di bawah tingkat pendidikan warga kulit putih tiga dekade yang lalu. Lebih dari setengah warga minoritas etnis meninggalkan bangku sekolah sebelum menyelesaikan pendidikan menengah atas. Sementara, 53 persen kulit hitam yang lulus SMA tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi. Akibatnya, warga minoritas yang menyelesaikan pendidikan tinggi jauh lebih kecil dari warga kulit putih. Antara tahun 2003 sampai tgahun 2008, 61 persen calon mahasiswa kulit hitam dan keturunan Spanyol ditolak masuk fakultas hukum. Padahal untuk warga kulit putih angka itu hanya mencapai 34 persen. Jika diskriminasi ras tidak mengakar kuat di Amerika Serikat, tentu nasib warga kulit hitam tidak akan separah ini.

SOLUSI
                Sulit sekali untuk menghilangkan pola pikir masyarakat mengenai diskriminasi ras. Meski sudah dilindungi Universal Declaration of Human Rights, masih ada jutaan orang yang di perlakukan dengan tidak sewajarnya. Hal ini dikarenakan kurangnya rasa pengertian dan solidaritas manusia terhadap sesama. Sejak dini, manusia harus dibiasakan untuk menghargai dan menghormati setiap perbedaan yang ada.
Membangun tujuan bersama.
                Merupakan salah satu cara efektif untuk mempersatukan suatu kelompok manusia dengan pemikiran yang berbeda-beda. Slogan Indonesia “Bhineka Tunggal Ika” seharusnya menjadi pedoman juga bagi dunia. Hampir seluruh negara di dunia ini memiliki tujuan dan visi-misi negara, yang diantaranya selalu berisi kalimat menjaga perdamaian dunia. Solidaritas dan kesadaran akan kewarganegaraan meningkat dengan adanya tujuan dan visi-misi tersebut. Namun negara-negara ini tetap berdiri sendiri-sendiri. Yang saya maksud disini adalah mengapa kita tidak membuat suatu tujuan dan visi-misi bersama untuk seluruh umat manusia yang ada di bumi, mempersatukan dunia. Solidaritas yang harus dibangun tidak hanya sekedar hubungan internasional saja, namun juga membangun tanggung jawab atas sesame. Visi-misi ini tidak hanya sekedar menjaga perdamaian dunia, melainkan juga menciptakan sesuatu yang dapat dikerjakan bersama-sama dengan tujuan kesejahteraan dunia tak hanya kesejahteraan beberapa negara saja. Misalnya, dengan mengadakan proyek pembersihan sampah internasional skala besar. Dalam mencegah global warming, membuat suatu perkumpulan dengan perwakilan dan relawan dari seluruh negara di dunia, melakukan penyisiran sampah di setiap sudut dunia dari negara ke negara dan seluruh negara di dunia ini diwajibkan untuk berpartisipasi karena ini menyangkut kelangsungan hidup seluruh makhluk hidup di bumi. Program-program semacam ini diharapkan meningkatkan solidaritas dunia.
Menanamkan pola pikir sejak dini.
                Karena nila setitik, rusak susu sebelangga. Saya merasa bahwa awal dari rasisme adalah pola pikir yang ditanam sejak kecil. Banyak orang memanggil orang lain dengan panggilan yang menyinggung fisik seseorang misalnya, si hitam, atau si gendut. Mungkin rasanya sepele, tapi justru hal-hal seperti ini yang membuat timbulnya rasisme dan diskriminasi. Pola pikir seperti ini membuat manusia menjadi dikelompokan berdasarkan kondisi dan ciri fisiknya. Seharusnya manusia dewasa menyadari efek dari pengelompokan ini jika terus berlanjut ke generasi berikutnya. Semakin hal-hal seperti ini terlihat biasa, maka akan semakin parah persepsi orang-orang mengenai perbedaan ciri fisik. Kita harus berhati-hati dalam berbicara dan memikirkan perasaan orang lain, meskipun orang yang kita ajak bicara seakan tidak peduli dengan ini.
Akhir kata saya memohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan tugas ini dan apabila ada pihak-pihak yang merasa dirugikan karenanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar