Kamis, 20 September 2012

Tugas 3 - Solusi untuk Indonesia


9.607.787

                Berdasarkan sensus penduduk yang dilaksanakan secara nasional pada tahun 2012, angka-angka di atas merupakan jumlah dari jiwa yang hidup di Jakarta. Sembilan juta enam ratus tujuh ribu tujuh ratus delapan puluh tujuh jiwa. Hal ini sangat tidak sebanding dengan luas Jakarta yang hanya sebesar 661,52 km2, atau hanya sekitar enam ratus enam puluh dua kilometer persegi. Perbandingan yang amat tidak sesuai ini mengakibatkan kepadatan penduduk Jakarta yang sangat tinggi, sejumlah 13.667 jiwa atau sekitar empat belas ribu jiwa per kilometer persegi. Memang, hal ini terlihat sangat sepele pada awalnya. Tapi, bagaimana kita bisa membuat tata kota menjadi lebih baik, dengan kepadatan penduduk yang begitu tinggi?

                Kepadatan penduduk hanya merupakan judul awalnya; hanya merupakan konteks awalnya. Kepadatan penduduk membawa masalah-masalah lain, yang sebenarnya bisa dicegah dengan pengorganisasian penduduk yang baik. Salah satu penyebab kepadatan penduduk di Jakarta adalah karena Jakarta merupakan ibu kota negara, Jakarta merupakan kota yang tergolong sangat besar bagi para penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar dua ratus lima puluh jiwa itu. Kota besar merupakan tujuan semua orang, bahkan orang-orang asing yang hendak mencoba peruntungan di sini. Perusahaan-perusahaan asing lebih memilih untuk membuat kantor di kota Jakarta dibandingkan dengan kota lain, dengan harapan karena Jakarta merupakan ibu kota negara, maka Jakarta merupakan tujuan utama seluruh warga Indonesia.

                Sayangnya, hal ini lebih sering membawa efek negatif dibandingkan dengan efek positifnya. Memang, dengan banyaknya, kantor atau perusahaan asing yang membuka kantor cabangnya di Indonesia, tepatnya di Jakarta, akan lebih banyak lapangan pekerjaaan yang bisa dibuka. Begitulah pikiran semua orang. Tepatnya, hampir semua orang.

                Persepsi semua orang yang hampir sama justru membawa efek yang sebaliknya. Karena hampir semua orang berharap mendapatkan pekerjaan di Jakarta, ketika mereka pada akhirnya pindah ke Jakarta, harapan mereka hanya merupakan harapan pepesan kosong. Bukannya mendapatkan pekerjaan, mereka malah ditolak mentah-mentah oleh perusahaan-perusahaan di Jakarta, dengan alasan bahwa kantor mereka sudah penuh atau para pelamar kurang berkualifikasi untuk bekerja di kantor-kantor mereka.

                Hal ini melahirkan sebuah masalah lainnya; yaitu pengangguran. Banyaknya pengangguran yang diakibatkan oleh sekelompok orang yang pindah ke kota besar, atau transmigran, bisa melahirkan pribadi-pribadi baru yang jauh dengan pribadi-pribadi orang desa. Misalnya, orang desa yang biasanya lembut dalam melakukan segalanya, karena tidak adanya lapangan pekerjaan, dan karena tuntutan untuk menafkahi keluarga dan dirinya, bisa membuatnya menjadi seorang kriminal, seperti preman, rampok, pencuri, dan lain-lain. Tentu saja hal ini meningkatkan kriminalitas di kota Jakarta sendiri.

                Itu tentu saja berlaku untuk orang-orang yang berhasil mengubah pribadinya menjadi orang-orang keras yang tidak peduli akan moral lagi. Bagi orang-orang terlalu takut atau tidak mau menjadi penindak kriminal, mereka lebih memilih menjadi orang-orang di strata ekonomi terbawah kota Jakarta; menjadi pengemis. Bagi mereka, menjadi pengemis bukanlah hal yang memalukan. Meskipun memang itu merupakan pekerjaan yang halal, segala cara mereka lakukan untuk bisa mendapatkan lebih banyak uang, seperti memalsukan penyakit, meminjam anak orang agar terlihat seperti memiliki anak kecil yang harus dinafkahi, pura-pura menjadi orang cacat, dan sebagainya.

                Hal tersebut tentu saja menimbulkan kesempatan bagi orang-orang yang berniat jahat. Preman-preman jalanan atau tempat-tempat rakyat seperti daerah pasar memaksa para pengemis ini untuk menyerahkan sebagian dari hasil yang didapatnya per hari bila mereka masih ingin mengemis di daerah itu. Menjadi pengemis bukannya meningkatkan taraf hidup mereka, tapi membuat mereka terikat dengan lintah darat jalanan.

                Bagi mereka yang tidak perlu menyerahkan setorannya kepada para preman, penghasilan yang didapat terkadang bisa cukup besar bagi mereka, yaitu sekitar 30.000 per harinya. Sayangnya, dengan penghasilan sebesar ini tiap harinya, dengan perhitungan mereka mengemis tiap harinya, mereka bisa mendapat sekitar 900.000 per bulannya, dipotong dengan biaya hidup, yaitu sekitar 200.000 per bulannya, mereka sudah bisa mendapatkan modal untuk memulai sebuah usaha baru. Sayangnya, mereka lebih memilih menjadi pengemis karena uang yang mereka dapatkan sudah bisa dibilang pasti; berbeda dengan uang yang mereka dapatkan bila mereka memulai usaha, yang tentunya pasti akan merasakan kerugian sesaat.

                Masalah pengangguran, sangat mempengaruhi tingkat kriminalitas serta masalah-masalah lainnya. Orang-orang, atau pelajar ataupun mahasiswa lulusan baru, yang masih tergolong kelas menengah, bisa saja tidak mendapatkan pekerjaan. Jika mereka tidak mendapatkan pekerjaan, mereka akan stress. Kondisi stress adalah kondisi dimana seseorang merasakan adanya tekanan, yang membuat seseorang berada dalam kondisi lemah, penuh tekanan, tidak bisa fokus, dan gugup. Bagi stress ringan, hal ini hanya akan menyebabkan kegugupan sesaat dan insomnia. Bagi penderita stress berat, bisa menyebabkan gangguan mental yang lebih berat, misalnya kegilaan.

                Beberapa orang yang tidak mau merasakan stress memilih untuk melepaskan rasa stressnya ke hal-hal yang negatif seperti mabuk-mabukan, bahkan sampai menggunakan narkoba. Awalnya mereka akan sanggup membayar, tapi, karena mereka tidak mempunyai pekerjaan dan orangtua tidak lagi mau memberikan uang dalam jumlah besar pada mereka, mereka melakukan tindak kejahatan seperti pencurian atau rampok. Hal ini berakibat dengan meningkatnya tindak kriminalitas di Jakarta.

                Peningkatan tindak kriminalitas ini tentunya berakibat buruk bagi orang-orang kaya yang hendak berinvestasi atau pergi ke Jakarta. Mereka lebih memilih untuk menanamkan investasi ke kota lain, atau bahkan negara lain. Hal ini mencegah adanya pertambahan devisa negara, dan pembuatan lapangan pekerjaan di Jakarta.

                Banyaknya pengangguran, atau orang-orang desa miskin yang melakukan urbanisasi dan akhirnya menjadi pengangguran, menyebabkan perubahan tata kota yang bisa terlihat agak drastis. Di daerah Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat, yang bisa dibilang merupakan bagian dari daerah Jakarta yang cukup elite, terlihat begitu banyak gedung-gedung tinggi yang megah, mewah mencakar langit. Sedangkan di daerah Jakarta Barat, terutama daerah pinggiran, terlihat banyak sekali rumah-rumah kardus berdesakan di bawah jembatan atau di pinggir sungai.

                Hal ini memberikan pengaruh buruk bagi tata kota Jakarta. Pemerintah, yang salah satu fokusnya adalah memperbaiki tata kota-kota besar, merasa bahwa banyaknya orang-orang yang tinggal di kolong jembatan atau pinggir sungai yang kumuh merusak penataan kota. Mereka mengambil langkah cepat; yaitu penggusuran. Sebenarnya, ada anggaran untuk memberi ganti rugi atas penggusuran tersebut. Tapi, terkadang, karena faktor korupsi yang sudah mengakar di pemerintahan Indonesia, uang ganti rugi tersebut tidak sampai ke tangan rakyat.

                Munculnya daerah-daerah kumuh di pinggiran Jakarta juga memberi efek buruk terhadap sanitasi dan kesehatan. Limbah-limbah rumah tangga yang seharusnya disalurkan dengan baik melalui jalur pembuangan malah dibuang begitu saja ke sungai, atau ke bagian depan rumah. Kondisi rumah yang rapat serta sempit memperparah keadaan. Suasana akan terasa pengap, serta udara akan lebih panas dibanding dengan rumah-rumah yang lebih memiliki ruang-ruang kosong di dalamnya. Udara yang panas dan kondisi rumah yang kotor mempercepat perkembangbiakan bibit-bibit penyakit, seperti bakteri atau virus. Kondisi rumah yang rapat juga mempermudah penularan dari satu orang ke satu orang lainnya.

                Solusi dari masalah-masalah di atas tersebut adalah; melakukan pemerataan penduduk. Hal ini bisa dilakukan dengan cara memberikan penyuluhan ke desa-desa untuk merubah pola pikir mereka yang masih beranggapan bahwa Jakarta adalah pusat segalanya. Tidak semua kota-kota besar memiliki lapangan pekerjaan yang cukup, dan tidak semua kota yang tidak seterkenal Jakarta berarti tidak bisa mendapatkan penghasilan yang layak. Selain itu, banyaknya pengangguran, terutama pengangguran miskin yang mengakibatkan timbulnya banyak daerah kumuh di daerah pinggiran bisa diatasi juga dengan melakukan pemindahan mereka ke kota lain dimana mereka bisa hidup tanpa tarif yang tinggi, tidak seperti di Jakarta ini. Tingginya tingkat pengangguran sendiri bisa diatasi dengan cara melakukan kelas-kelas terbuka yang mengajarkan mereka keahlian-keahlian untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, dan tidak menjadi pengangguran atau pengemis yang meminta-minta di jalanan. Sekolah-sekolah gratis harus lebih disosialisasikan dan lebih digencarkan, agar dengan mudah orang-orang memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menempuh pendidikan minimal SMA atau sederajat. Dengan berkurangnya tingkat pengangguran, terutama pengangguran yang miskin, tentu saja daerah-daerah kumuh akan semakin berkurang. Bila daerah kumuh berkurang, maka rencana-rencana untuk lebih mengembangkan Jakarta dengan tata kota yang sesuai tentunya akan bisa dilaksanakan dengan lebih maksimal.

                Sudah seharusnya, bagi pemerintah, hal ini berhak mendapat konsentrasi penuh dari mereka yang berkuasa di atas sana. Terlebih lagi karena Jakarta baru saja melaksanakan pemilihan gubernur untuk periode masa yang baru. Pada masa kampanye, biasanya para calon gubernur akan berdatangan ke daerah-daerah kumuh atau terpencil untuk memberi santunan sambil mempromosikan dirinya masing-masing. Mereka akan menebarkan janji-janji untuk membangun kota yang lebih baik. Begitu pula yang terjadi pada tahun-tahun pertama mereka menjabat. Sayangnya, seringkali, seperti yang sudah-sudah kebanyakan dari mereka merupakan tugasnya dan janji-janji mereka ketika mereka sudah agak lama menjabat. Maka dari itu, merupakan tugas dari kita, generasi muda, untuk membantu merubah Jakarta dan Indonesia menjadi sebuah tempat yang lebih baik.


Sumber:
wikipedia.com
google.com
www.bps.go.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar