Sabtu, 01 September 2012

Tugas 3 - Solusi Untuk Indonesia


ANALOGI TUKANG BECAK


            “Bapak saya tukang becak. Saya tukang becak. Anak saya sudahlah, jadi tukang becak saja.”

                   Saya pernah tak sengaja mendengar itu dari tukang becak di dekat rumah saya.

            Takdir, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mempunyai pengertian ketetapan Tuhan; ketentuan Tuhan. Tak jauh berbeda dengan sinonimnya, nasib, yang berarti sesuatu yang sudah ditentukan Tuhan atas diri seseorang. Tetapi, di Indonesia, kebodohan dan takdir hanya berbatas tipis dan membuat kasta tersendiri.

            Kemiskinan terlihat seperti kondisi absolut Indonesia. Dimana-mana, kita melihat orang miskin bertebaran. Di jalanan, dekat sekolah, bahkan jika kita pergi berjalan-jalan, masih saja ada peminta-minta atau orang-orang miskin di dekat kita. Kita sebenarnya merupakan negara kaya. Kita kaya dengan sumber daya manusia, yang mencapai sekitar 250 juta jiwa, yang menempatkan kita sebagai negara keempat dengan penduduk terbanyak. Sumber daya alam kita melimpah, tambang emas bertebaran dimana-mana. Hanya saja, dalam hal ekonomi, Indonesia masih termasuk ke dalam katagori negara berkembang. Pendapatan per kapita kita hanya 3.542 USD, kalah jauh dibanding negara Asia lain, misalnya Singapura, yang memiliki pendapatan per kapita 52.840 USD meskipun ukurannya kalah jauh dibanding Indonesia. Sampai-sampai, sering terdengar ungkapan bahwa jika seluruh orang Indonesia hijrah ke Singapura dan buang air kecil di tanah mereka, Singapura akan tenggelam saking tak kuat menahan banyaknya penduduk Indonesia.

            Memang, data terakhir menyebutkan bahwa pendapatan per kapita kita naik sebanyak 6,5% dibandingkan dengan tahun 2010 yang berjumlah sekitar 3.010 USD. Untungnya, Indonesia masih mendapat ‘kehormatan’ untuk menempati posisi menengah bawah, dengan pendapatan per kapita dibawah 3.855 USD. Sebagian dari kita mungkin bisa berbangga diri atas kemajuan kecil yang telah kita peroleh ini. Sebagian dari kita mungkin masih hidup dalam lingkaran setan kemiskinan.

            Menurut BBC Indonesia, berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2010, ditemukan data bahwa 35 juta orang di Indonesia hidup dalam kemiskinan. Kemiskinan secara konseptual dibedakan menurut kemiskinan relatif dan kemiskinan absolut, dimana perbedaannya terletak pada standar penilaiannya. Standar penilaian kemiskinan relatif merupakan standar kehidupan yang ditentukan dan ditetapkan secara subyektif oleh masyarakat setempat dan bersifat lokal serta mereka yang berada dibawah standar penilaian tersebut dikategorikan sebagai miskin secara relatif. Sedangkan standar penilaian kemiskinan secara absolut merupakan standar kehidupan minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhaan dasar yang diperlukan, baik makanan maupun non makanan. Standar kehidupan minimum untuk memenuhi kebutuhan dasar ini disebut sebagai garis kemiskinan. BPS mendefinisikan garis kemiskinan sebagai nilai rupiah yang harus dikeluarkan seseorang dalam sebulan agar dapat memenuhi kebutuhan dasar asupan kalori sebesar 2.100 kkal/hari per kapita (garis kemiskinan makanan) ditambah kebutuhan minimum non makanan yang merupakan kebutuhan dasar seseorang, yaitu papan, sandang, sekolah, dan transportasi serta kebutuhan individu dan rumahtangga dasar lainnya (garis kemiskinan non makanan). Bank Dunia, atau World Bank, mendefinisikan kemiskinan absolut sebagai hidup dengan pendapatan dibawah 1 USD per harinya, dan kemiskinan menengah untuk pendapatan dibawah 2 USD per hari. Sementara, BPS mengatakan bahwa taraf minimum orang-orang Indonesia adalah 182.636 rupiah per bulannya, atau sekitar 7000 rupiah per harinya. Sayangnya, dengan pengaruh inflasi, hitungan dolar dalam rupiah menjadi 9.608 rupiah per dolarnya, yang menempatkan hampir seluruh warga miskin di Indonesia dalam garis kemiskinan absolut.
            Kemiskinan itu sendiri, menurut penyebabnya, terbagi atas 2 macam. Pertama adalah kemiskinan kultural, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh adanya faktor-faktor adat atau budaya suatu daerah tertentu yang membelenggu seseorang atau sekelompok masyarakat tertentu sehingga membuatnya tetap melekat dengan kemiskinan. Kemiskinan seperti ini bisa dihilangkan atau sedikitnya bisa dikurangi dengan mengabaikan faktor-faktor yang menghalanginya untuk melakukan perubahan ke arah tingkat kehidupan yang lebih baik. Ini yang penulis sebut sebagai kemiskinan karena kebodohan. Kedua adalah kemiskinan struktural, yaitu kemiskinan yang terjadi sebagai akibat ketidakberdayaan seseorang atau sekelompok masyarakat tertentu terhadap sistem atau tatanan sosial yang tidak adil, karenanya mereka berada pada posisi tawar yang sangat lemah dan tidak memiliki akses untuk mengembangkan dan membebaskan diri mereka sendiri dari perangkap kemiskinan atau dengan perkataan lain ”seseorang atau sekelompok masyarakat menjadi miskin karena mereka miskin”. Secara tidak langsung, ini merupakan kemiskinan atas takdir.     
            Sekali lagi, memang, kemiskinan di Indonesia mungkin telah mengalami penurunan. Menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kemiskinan di Indonesia telah berkurang. Hal ini dikutip dari pernyataannya di siaran pers Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian pembangunan, Sabtu (23/6/2012) lalu. "Ekonomi dunia telah tumbuh dari 34 triliun USD sampai lebih dari 64 triliun USD pada saat ini. Perdagangan internasional telah tumbuh tiga kali lipat menjadi 28 triliun USD. Banyak negara telah menyeberang melewati status penghasilan menengah, termasuk Indonesia. Dan bersama dengan ini kemiskinan seluruh dunia telah berkurang secara signifikan dari 1,9 miliar pada tahun 1990 menjadi 1,29 miliar tahun 2008. Di Indonesia pun, kemiskinan telah menurun dari 24 persen pada tahun 1998 menjadi 12,5 persen beberapa hari ini," kata Presiden SBY. Tetapi tetap saja masih banyak terlihat orang-orang miskin di jalanan.
            Sayangnya, penurunan angka kemiskinan di Indonesia ini juga membawa masalah lainnya. Indonesia dilabel dengan predikat negara dengan pemberatasan kemiskinan tersulit di Asia Tenggara pada tahun 2011. Penurunan angka kemiskinan masih dinilai lamban. Ironisnya, jumlah harta 40 orang terkaya di Indonesia mencapai 71,3 miliar USD atau sekitar 680 triliun rupiah, yang setara dengan 10,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Ini mengingatkan orang-orang terhadap peribahasa yang marak terdengar beberapa tahun terakhir ini—‘yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.’  Seharusnya, dengan pembayaran pajak yang jujur dari warga Indonesia, terutama yang termasuk ke dalam golongan-golongan atas, uang mereka bisa digunakan untuk membantu para orang miskin menaikkan taraf hidup mereka.
            Menurut saya, permasalahannya sebagian besar terletak pada orang-orang Indonesia sendiri. Masih banyak orang Indonesia yang hidup dalam lingkup pemikiran primitif, yang secara tidak langsung ‘membunuh’ imaginasi calon-calon pemikir bangsa. Masih banyak orang Indonesia yang hidup dalam keprimitifan, terbelenggu oleh gelapnya hutan dan terisolasi di tengah-tengah alam. “Bapak saya tukang becak, saya tukang becak, anak saya jadi tukang becak saja sudah cukup.” Apalagi namanya selain kebodohan, bila kita membiarkan kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik begitu saja?
      
            Pemerintah seharusnya bisa mempertegas usahanya dalam memberantas kemiskinan. Usaha yang selama ini dilakukan hanya bisa membantu sebagian kecil rakyat miskin saja. Solusinya, menurut saya, pemerintah harus lebih mensosialisasikan hal ini kepada rakyat-rakyat kecil, terutama yang berada di pedalaman dan berada jauh dari jangkauan globalisasi, agar mereka mengerti seberapa penting usaha dan kemauan dalam memperbaiki taraf hidup.

            Pemberian gaji atau upah yang layak seharusnya lebih dinasionalisasikan. Sebenarnya, banyak sekali perusahaan-perusahaan atau pabrik-pabrik di Indonesia. Sayangnya, sebagian dari mereka lebih memilih memperkerjakan orang-orang kaya atau orang-orang yang berasal dari luar negeri. Banyak pula perusahaan-perusahaan asing yang telah menginjakkan fondasinya di tanah Indonesia. Akan lebih baik bila peraturan perjanjian pembangunan perusahaan asing diubah; agar mayoritas pekerja yang bisa bekerja di pabrik-pabrik tersebut dibuka lebih lebar bagi seluruh warga Indonesia. Keuntungan yang didapat dari pabrik tersebut seharusnya dibagi lebih besar kepada pemerintah Indonesia, karena, bagaimanapun juga, bahan yang mereka ambil, tenaga yang mereka gunakan, serta segala macam embel-embel lainnya lahir dari tanah Indonesia.

            Tentu saja, untuk mendapatkan gaji atau upah yang layak, dibutuhkan pendidikan tinggi. Memang, sudah ada sekolah gratis dan wajib belajar 9 tahun. Menurut saya, seharusnya peraturan batas minimal pendidikan di Indonesia diubah menjadi wajib belajar 12 tahun, dan sekolah digratiskan hingga SMA (Sekolah Menengah Atas) atau sederajat. Kualitas tentunya tetap harus diperhatikan. Jangan karena sekolah gratis untuk anak tidak mampu, sekolah tersebut diganti menjadi sekolah tidak mampu juga. Sekolah yang tidak mampu mendidik murid-muridnya dan memberikan fasilitas yang memadai. Orangtua juga harus disosialisasikan dengan anak-anaknya agar mengerti pentingnya pendidikan. Pemikiran bahwa kemiskinan itu turun-temurun harus dihentaskan, agar terbebasnya Indonesia dari tingkat pengangguran yang tinggi, yang berujung pada pembebasan atas kemiskinan. Diperlukan juga sosialisasi keterampilan, agar orang-orang yang sudah melewati batas umur sekolah memiliki keahlian lain untuk mencari nafkah.

            Pengalokasian dana juga sangat harus diperhatikan dan diawasi dengan ketat. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, Indonesia merupakan negara dengan potensi pajak yang sangat tinggi. Hasil pajak ini, daripada digunakan untuk membangun kota-kota menjadi kerajaan megah yang dikuasai para megalomania, lebih baik digunakan untuk membantu para rakyat kecil. Daripada digunakan untung membangun gedung DPR yang senilai miliaran rupiah dengan fasilitas seperti hotel bintang lima, berikut dengan kolam renang dan yang lainnya, lebih baik dialokasikan untuk perngembangan sumber daya manusia dan pemberantasan kemiskinan. Selain itu, dengan penganut agama Islam sekitar 208 juta jiwa di Indonesia, secara nasional memiliki potensi zakat setinggi 300 triliun rupiah per tahunnya. Ini akan sangat membantu memberantas kemiskinan bila tentu saja, tidak disalah gunakan.

            Bidang-bidang yang bisa mendatangkan devisa negara harus lebih dikembangkan, dengan dukungan penuh dari pemerintah. Bidang pariwisata dan budaya, contohnya. Promosi daerah-daerah terbaik negeri pertiwi harus lebih digencarkan, agar orang-orang yang selama ini melihat Indonesia identik dengan kriminalitas, kemacetan, dan tata kota yang berantakan bisa merubah pandangan dan menatap Indonesia yang sesungguhnya, yaitu zamrud khatulistiwa.

             Kita sesungguhnya bisa bila kita mau. Lihat dengan apa yang terjadi ketika Malaysia mencoba mengklaim beberapa kebudayaan yang seharusnya milik kita? Kita semua bersuara satu; melindungi warisan kita dari tangan-tangan yang berusaha merebutnya dari kita. Sayangnya, ketika kita pada akhirnya merasa di atas kemenangan, kita melepaskannya dan membiarkannya begitu saja.

            Bagi saya, kemiskinan berupa seperti para tukang becak di dekat rumah saya. Mereka memang miskin. Banyak yang menjadi miskin dan tetap miskin karena takdir. Entah itu karena tempat yang terpencil (jauh dari fasilitas seperti posyandu dan lain-lain), tidak terjangkau dunia luar (ketidaktahuan), pemikiran primitif, atau karena Tuhan memang belum mengijinkan. Banyak yang tetap miskin karena kebodohan, yaitu berpikir bahwa kemiskinan tidak bisa dihilangkan dari garis keturunan atau tidak mau berusaha. Belum tentu bila bapaknya tukang becak, anaknya harus menjadi tukang becak. Bagaimanapun juga, kita, sebagai warga Indonesia, sebuah negara berbasis demokrasi, harus saling bahu membahu dalam menyelesaikan masalah negara—baik dengan menyampaikan aspirasi, solusi, atau membuat sebuah perubahan baru. Itu takdir namanya bila kita telah berusaha, tapi belum ada perubahan yang baik. Tapi itu kebodohan namanya bila kita tahu kita bisa membantu, tapi tidak melakukan apa-apa.

            Dan tentu saja sebuah kebodohan yang luar  biasa bila kita tahu kita bisa berubah menuju kebaikan, tapi tetap diam.



Jakarta, 1 September 2012



Sumber:

www.google.com
www.wikipedia.com
www.wordpress.com
www.bi.go.id
www.rmol.co
statmisker.wordpress.com
finance.detik.com
sp2010.bps.go.id
www.bisnis.com



Tidak ada komentar:

Posting Komentar