Kamis, 20 September 2012

tugas 3- Solusi Labsky untuk Indonesia


Solusi Rendahnya Tingkat Kesehatan dan Pendidikan di Papua
Masalah
Banyak warga di Papua yang masih kurang tingkat pendidikannya, terbukti dengan masih tingginya tingkat buta huruf di sana, terutama di wilayah Pegunungan Tengah Hanya 25 persen warga Papua yang tidak buta huruf, Hal ini tentu membuat miris, bahwa tingkat pendidikan di Indonesia masih belum merata. Banyak daerah di kota-kota besar seperti Jakarta, Sumatera, dapat dengan mudah dijumpai sekolah-sekolah negeri. Ya mungkin ini salah satu dampak dari sulitnya transportasi untuk menjangkau beberapa daerah di Papua kita dan masih minimnya jumlah tenaga untuk masalah pendidikan di sana.
Jika pemerintah dan masyarakat menganggap pendidikan kunci kemajuan bangsa, semua pihak harus segera memperbaiki proses pendidikan di Pegunungan Tengah, Papua. Penyaluran dana yang begitu besar tidak akan pernah menyelesaikan masalah karena persoalan pendidikan tidak bisa diselesaikan dengan duit semata.
Persoalan mendasar pendidikan di Kabupaten Jayawijaya, induk sejumlah kabupaten pemekaran di Pegunungan Tengah, adalah ketidakhadiran guru-guru di sekolah, khususnya yang berada di luar ibu kota kabupaten Wamena. Gedung-gedung sekolah yang memadai, seperti yang terlihat di Distrik Kurulu, akhir Februari lalu, hanya menjadi tempat murid-murid berkumpul dan bermain. Disini terlihat betapa kurangnya pendidikan di papua.
Kondisi serupa juga ditemukan para pekerja sosial Wahana Visi Indonesia (WVI) yang memantau proses pembelajaran di sejumlah sekolah di beberapa kabupaten di Pegunungan Tengah. Banyak sekolah tidak aktif lebih dari dua tahun. Guru baru datang saat masa ujian hampir tiba. Untuk ujian nasional, anak didik banyak yang diikutkan ujian melalui sekolah di daerah lain
Di Kabupaten Jayawijaya, para guru lebih senang tinggal di Wamena. Alasannya beragam, mulai dari lokasi sekolah yang jauh dari kota, terbatasnya transportasi umum menuju tempat mengajar, mengurus berbagai administrasi sekolah, hingga sibuk mencari kerja sampingan.
Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan penting bagi pembangunan manusia di Papua.Meskipun kadang pemahaman dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan masih terbatas karena terbiasa menggunakan layanan kesehatan secara tradisional. Namun disinilah semakin pentingnya kehadiran pemerintah terutama untuk melayani kesehatan pada daerah-daerah terpencil.Pemerintah menyediakan fasilitas kesehatan dan melakukan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan di lapangan.
Metrotvnews.com, Jayapura: Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengaku kecewa dengan derajat kesehatan masyarakat Papua yang masih belum menunjukkan hasil menggembirakan. Seluruh indikator derajat kesehatan Papua, yaitu angka kematian ibu, angka kematian bayi, angka kematian balita, prevalensi gizi buruk, dan prevalensi gizi kurang, masih berada di bawah angka rata-rata nasional.

"Meskipun kita telah melaksanakan Pembangunan Kesehatan di Papua selama beberapa dasawarsa, hasil yang dicapai belum menggembirakan," sesal Menkes, saat membuka membuka Rakerkesda Provinsi Papua di Jayapura, Senin (20/2) malam.

Agar derajat kesehatan masyarakat Papua yang tertinggal bisa mengejar provinsi lain, Menkes berpandangan perlu dilakukan langkah percepatan agar derajat kesehatan masyarakat di wilayah tersebut dapat meningkat. Berita ini saya ambil dari metrotvnews.
Permasalahan kesehatan di daerah terpencil agak berbeda dengan permasalahan di  bidang pendidikan. Jika dibidang pendidikan masalah utamanya adalah kekurangan tenaga guru dan ruang belajar maka permasalahan kesehatan lebih berfokus pada kekurangan tenaga medis dan pengelolaan keuangan.Sebab dibanyak tempat justru bangunan untuk pelayanan kesehatan sudah tersedia dalam berbagai tingkatan mulai dari Poskeskam(Pos Kesehatan kampung),Pustu(Puskesmas Pembantu) apalagi Puskesmas untuk tingkat distrik.

Pada data pada Dinas kesehatan Provinsi Papua tahun  2011,tercatat ada 230 Puskesmas pada tahun 2006  dan  tahun 2011 berjumlah 314. Juga terjadi penambahan Pustu sebanyak 700an diantara tahun 2006-2011 selain itu  bangunan pondok bersalin pun meningkat pada 2007 sebanyak 454 dan ditahun 2009 meningkat menjadi 497.           
Kementerian Kesehatan berharap Provinsi Papua segera meningkatkan pembangunan di bidang kesehatan masyarakat untuk mengejar ketertinggalan dari daerah lain di Tanah Air. 

Ketertinggalan itu menyangkut hal-hal paling mendasar dalam bidang kesehatan seperti tingkat kematian ibu dan bayi yang tinggi, kurang gizi dan gizi buruk, penyebaran HIV/AIDS serta meningkatkan pelayanan rumah sakit.
            Menurut Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir indikator Papua terkait semua faktor tersebut memang menunjukkan penurunan. "Meskipun kita telah melaksanakan Pembangunan Kesehatan di Papua selama beberapa dasawarsa, tetapi ternyata kita masih harus bekerja lebih keras  dan lebih cerdas lagi. Derajat kesehatan masyarakat di Provinsi Papua belum menggembirakan," katanya saat membuka Rapat Kerja Kesehatan Daerah Provinsi Papua.
            Letak geografis di papua, serta kondisi geografis nya kurang memungkinkan untuk peningkatan perlindungan dan kesehatan pada masyarakat Papua, wilayahnya yang didominasi hutan dan gunung menyulitkan untuk pembangunan serta sarana transportasi. Sebenarnya bukan hanya karena pihak pemerintah yang menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan di papua, tetapi juga dikarenakan oleh para penduduk. Kurangnya pendididan dan kesadaran diri dalam diri mereka menyebabkan rendahnya taraf kesehatan. mereka lebih memilih pengobatan secara tradisional yang mungkin kurang efektif. Sikap kurang memperhatikan diri mereka sendiri dan acuh terhadap lingkungan sekitar. Walaupun bangunan sudah dibuat permanen dan lebih megah dari bangunan disekitarnya, tetap saja kekurangan tenaga medis yang menyebabkan tidak bisa memenuhi hak-hak dasar semua penduduk, seperti hal nya di kampung Sekori dan Kampung Aimbe kabupaten Jayapura ataupun di distrik Tor, distrik pantai barat dan apawer kabupaten sarmi.
            Petugas di beberapa Pustu tak lebih dari 2(dua) orang  harus melayani penduduk yang banyak pada beberapa kampung atau harus menempuh perjalanan yang cukup jauh karena jarak antara satu kampung dengan kampung yang lain saling berjauhan.Seperti di Pustu Bupul Kab Merauke atau Pustu Yuruf di Kab Keerom. Alokasi tenaga medis yang dilakukan oleh dinas Kesehatan setempat kadang tidak memperhatikan kebutuhan riil di lapangan serta tidak berdasarkan kualifikasi yang tepat. Misalnya tidak menyediakan tenaga bidan untuk menolong persalinan sehingga dukun bersalin selalu menjadi pilihan padahal kampanye yang selalu dilakukan oleh pemerintah dukun bersalin tidak boleh melakukan pertolongan persalinan akibatnya kematian akibat persalinan cukup tinggi. Selain itu kebijakan pemerintah untuk menempatkan Sarjana Kesehatan Masyarakat(SKM) di Puskesmas terkadang membawa masalah tersendiri sebab SKM secara teori tidak diajarkan untuk melakukan penanganan terhadap pasien namun masyarakat hanya tahu bahwa siapapun petugas medis yang menggunakan pakaian putih-putih dapat melakukan pertolongan medis. Tetapi penempatan Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) di puskesmas dapat memberi bantuin juga seperti pengurusan manajemen dan lain sebagainya, sehingga dengan tersedianya dokter yang terbatas bisa melayani pasien semaksimal mungkin.
            Masyarakat pun juga susah untuk mempercayai bahwa pertolongan atau “treatment” yang dilakukan oleh dokter lebih manjur atau lebih efektif dibandingkan dengan dukun setempat. Ini dikarenakan oleh belum terjadi perubahan status dari puskesmas menjadi Rumah Sakit (RS). Karena belum ada dokter umum yang cukup memadai serta belum adanya dokter spesialis.

Solusi
            Ada banyak cara dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat papua mulai dari pendidikan, kesehatan, dan yang lainnya. Seperti hal nya untuk pendidikan, pemerintah Papua tidak boleh hanya diam dalam keadaan Papua sekarang ini. Distribusi guru di sekolah-sekolah yang bertempat terpencil sangat dibutuhkan oleh anak-anak agar tersebarnya pendidikan semakin merata. Tidak hanya pemerintah Papua saja ayng bertindak, tetapi pemerintah Indonesia khususnya bagian pendidikan harus terjun langsung ke daerah lingkup papua supaya bisa melihat langsung apa yang menjadi kendala disana. Distribusi guru bisa berasal dari daerah-daerah yang yang tingkat pendidikan nya lebih tinggi juga, seperti Jakarta. Sarjana guru yang baru lulus bisa langsung diberi pekerjaan untuk mengajar di Papua dengan gaji yang lumayan, agar mereka merasa tertarik dan betah untuk mengajar disana. Tetapi pemilihan guru pun tidak boleh semabarang, guru yang di pindahkan ke Papua harus yang mempunyai intelektual yang tinggi dan daya mengajar yang bagus pula, agar pelajar-pelajar di papua mendapat prestasi dan penghargaan tinggi, maka pendidikan di papua pun mulai dilihat.
            Penguatan sumber daya manusia dan peningkatan askes program Jamkesmas yaitu penyedian tim pelayanan kesehatan bergerak, penyedian jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Papua di kelas 3 rumah sakit dan Puskesmas melalui program Jamkesmas dan Jamkesda, pembukaan program studi kebidanan dan keperawatan untuk memenuhi kebutuhan bidan dan perawat, menugaskan residen senior ke beberapa kabupaten/kota, dan penambahan jumlah dokter, dokter gigi, bidan PTT di seluruh kabupaten/kota serta penempatan sanitarian, ahli gizi, analis kesehatan, perawat dan bidan di beberapa kabupaten/kota. Penyuluhan dan penyebarluasan tentang ke efektivitasan berobat ke rumah sakit atau puskesmas lebih baik dibandingkan dukun-dukun setempat. Masyarakat perlu diberitahukan secara detail dan lebih lanjut untuk hal-hal seperti ini. Kesadaran penduduk haus mulai ditingkatkan bisa pula melalui pendidikan yang diajarkan. rekruitmen dan distribusi tenaga medis harus dilakukan dengan lebih baik. Termasuk dengan memperhatikan kendala dan kebutuhan mereka di lapangan.Selain itu monitoring dan sanksi yang tegas terhadap distribusi sarana transportasi dan penggunaan dana bila perlu untuk daerah pesisir dilengkapi dengan transportasi laut seperti untuk sekitar Kabupaten Sarmi dan Kab Yapen.
http://tabloidjubi.com/index.php/daily-news/jayapura/4196-stikes-solusi-tenaga-kesehatan-di-papua

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar