Sabtu, 22 September 2012

Tugas-3 Solusi Labsky untuk Indonesia

HUTAN GUNDUL

-->
Planet Bumi merupakan salah satu bagian yang kecil dari alam raya, alam semesta, jagat raya, kosmologi atau universe. Dan Indonesia merupakan bagian yang kecil dari Planet Bumi atau dunia.

Indonesia merupakan sekumpulan pulau (lebih dari 17.000) yang terhampar di antara Benua Asia dan Australia, dan di antara Samudera Pasifik dan Hindia. Begitu unik posisi Indonesia pada permukaan Planet Bumi, tepat berada di sekitar garis khatulistiwa, garis fiktif yang membagi sama belahan bumi dengan arah horizontal.

Indonesia berada pada posisi tengah-tengahnya Planet Bumi, ditambah keberadaan hutan tropisnya, maka Indonesia berperan sebagai “paru-paru-nya” Planet Bumi. Ya, Indonesia adalah gudang oksigennya Planet Bumi. 
Beragam vegetasi menyelimuti permukaan Indonesia.

Vegetasi umumnya berdaun dan memiliki klorofil atau zat hijau daun. Kontribusi klorofil terhadap kelangsungan kehidupan di Planet Bumi cukup besar. Klorofil merupakan tempat pembentukan karbohidrat (sumber makanan) dan oksigen, dengan bahan baku air (yang diambil dari dalam tanah melalui akar) dan karbodioksida (yang diambil dari atmosfir), dengan menggunakan sumber energi matahari. Keseluruh rangkaian proses disebut fotosintesis.

Pada mulanya di Planet Bumi tidak ada kehidupan, hal berlangsung sekitar 1.000 juta tahun. Bumi hanya merupa bola pijar yang sangat panas, dengan suhu atmosfir yang sangat tinggi.  Usia Bumi diperkirakan  telah mencapai 3.000 juta tahun. Sedangkan kehidupan di Bumi diperkirakan mulai berlangsung 2.000 juta tahun yang lalu. Air memegang peranan yang sangat penting pada awal kemunculan kehidupan, karena di dasar samudera mulai terbentuk mahluk sederhana dalam bentuk molekul organik yang mengandung klorofil.

Dengan makin meningkatnya kadar oksigen di atmosfir, maka terbentuklah lapisan ozon. Lapisan ozon menyelimuti Bumi sehingga sinar matahari yang bergelombang pendek (sinar ultra violet – UV)  bisa dipantulkan kembali ke luar angkasa. Sinar UV berpotensi mematikan beragam kehidupan di Bumi.

Dengan makin tebalnya lapisan ozon, maka keberadaan mahluk hidup pun berangsur-angsur berkembang, tidak hanya di dasar samudera, tetapi juga di seluruh kedalaman perairan, di permukaan laut, daratan sampai ke puncak pegunungan. Jenis mahluk hidup pun makin beragam, bermula dari yang ber-sel tunggal sampai yang ber-sel majemuk. Tidak hanya flora saja tetapi juga fauna, mulai menyebar ke seluruh pelosok permukaan Bumi.

Ternyata tanah Indonesia merupakan tanah yang paling subur, terdapat beragan tumbuhan atau vegetasi, tersebar mulai dari dasar samudera, kedalaman lautan, permukaan laut, pesisir, muara, daratan rendah, dataran menengah, dataran tinggi dampai pegunungan.  Tumbuhan, vegetasi atau flora sebagai gudangnya klorofil lebih terkonsentrasi di ekosistem hutan.

Hutan merupakan tempat berhimpunnya beragam flora dan fauna. Sebenarnya luas daratan Indonesia hanya 1,3 persen dari luas daratan di permukaan bumi. Namun hutan Indonesia menyimpan  11 persen spesies tumbuhan yang terdapat di permukaan bumi. Di hutan Indonesia pun terdapat 10 persen spesies mamalia dan 16 persen spesies burung.

Namun ternyata hutan di Indonesia terus ditelanjangi. Jika pada tahun 1950, sekitar 84 persen atau sekitar 162 juta hektar  daratan Indonesia diselimuti hutan, kemudian tahun 1985 luas tutupan hutan tinggal sekitar 119 juta hektar (menyusut 27 persen disbanding tahun 1950). Kemudian pada tahun 1997, World Resource Institue (WRI) mengungkapkan, bahwa Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72 persen.
Hutan asli atau hutan “perawan” di Indonesia memang keberadaannya makin langka. Eksploitasi dan penjarahan hutan terjadi setiap saat, baik secara formal maupun nonformal, legal maupun illegal, serentak terjadi di seluruh pulau.

Sebenarnya “menelanjangi” hutan adalah langkah bunuh diri. Tanpa disadarinya manusia telah membuat kehancuran secara permanen, tidak hanya untuk ekosistem Indonesia, tetapi untuk seluruh Bumi. Penyusutan luas hutan sama artinya dengan mengurangi jumlah vegetasi secara sistematis. Dengan demikian gudang-gudang klorofil yang memproduksi oksigen dan menyerap karbondoiksida itu mulai dilenyapkan.

Angka penggundulan hutan di Indonesia, bersama Nigeria dan Korea Utara dinilai paling tinggi di seluruh dunia. Dalam setahun, Indonesia tercatat kehilangan hutannya seluas 1 juta hektar.
Peringkat pertama ditempati oleh Nigeria, ketiga oleh Korea Utara, keempat oleh Bolivia, kelima oleh Papua Nugini, keenam oleh Kongo, ketujuh oleh Nikaragua, kedelapan oleh Brazil, kesembilan oleh Kamboja, dan kesepuluh oleh Australia. Peringkat 1 hingga 9 diklasifikasikan sebagai negara dengan angka deforestasi ‘ekstrem’, sedangkan Australia di peringkat 10 tercatat memiliki angka deforestasi ‘tinggi’.
Nigeria pada peringkat pertama tercatat kehilangan hutannya seluas 2 juta hektare setiap tahunnya sepanjang tahun 2005 hingga 2010. Ekspansi pertanian, penebangan hutan dan pembangunan infrakstruktur menjadi penyebab utama ekstremnya angka deforestasi di Nigeria.
Sedangkan Indonesia pada peringkat kedua, tercatat sebagai negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Hal inilah yang dinilai menjadi penyumbang sekitar 16 persen dari total angka deforestasi Indonesia yang tercatat ‘ekstrem’. Banyak hutan yang terpaksa digunduli untuk dijadikan lahan kelapa sawit.
Pada dua tahun terakhir, pemerintah Indonesia sebenarnya telah memberlakukan larangan penggundulan hutan untuk produksi minyak sawit. Hal ini membuat sejumlah perusahaan multinasional memisahkan diri dengan produsen minyak sawit di Tanah Air.
Namun sayangnya, pelarangan penggundulan hutan ini justru membuat para produsen minyak sawit mencari lahan baru, yang sebagian besar di wilayah Afrika Barat seperti Liberia, Gabon dan Ghana. Hal ini ditakutkan akan meningkatkan angka deforestasi di wilayah-wilayah tersebut.
Negara-negara dengan angka deforestasi ‘ekstrem’ dinilai kehilangan banyak spesies tumbuhan dan hewan yang bisa membantu menyediakan udara bersih di hutan, aliran sungai yang jernih, dan mangrove yang melindungi pesisir pantai.
“Deforestasi dapat menghambat upaya sebuah negara untuk mengurangi emisi karbon dioksida, mengingat hutan memainkan peranan penting dalam perubahan iklim global melalui penyerapan karbon,” terang analis Maplecroft, Arianna Granziera, kepada Reuters.
Hutan berfungsi untuk menyerap dan mengunci sebagian besar karbon dioksida dan membantu sebagai penghambat perubahan iklim. Namun, deforestasi mengganggu siklus tersebut dan menyumbang sedikitnya 10 persen bagi polusi gas efek rumah kaca.
Program reboisasi dan pengendalian erosi tanah di kedua negara tercatat baik. Di mana wilayah hutan di China meningkat sebesar 3 juta hektare tiap tahun sejak tahun 2000, sedangkan wilayah hutan di AS bertambah sebesar 200.000 hektar per tahunnya.
Kerusakan hutan di Indonesia mendapat sorotan tajam dari
organisasi peduli lingkungan internasional, Greenpeace. Padahal,
kerusakan hutan menyumbang 20 persen dari emisi global gas-gas rumah
kaca (GRK) setiap tahunnya. Perubahan iklim yang kian tidak menentu
diduga menjadi salah satu akibat krisis hutan di Indonesia.
Dari sejumlah hutan yang diawasi Greenpeace, kerusakan hutan terparah terjadi akibat alih fungsi lahan gambut untuk perluasan perkebunan kelapa sawit. Pembalakan, pembakaran, dan penurunan lahan gambut di hutan melepaskan lebih dari dua miliar ton karbon setiap tahunnya. Seperti spons dan busa, fungsi hutan tropis adalah untuk menyerap karbondioksida di udara.
Di Indonesia, hutan rawa gambut di Riau dan Kalimantan telah lenyap akibat pembalakan, pengeringan, dan pembakaran demi perluasan kebun kelapa sawit. Di lain tempat, hutan Papua terancam musnah karena pembabatan luar biasa oleh perusahaan pembuka konsesi baru. Jika ditotal, kerusakan hutan di Indonesia mencapai 3,8 juta hektare per tahun. Ini berarti setara dengan 300 kali lipat luas lapangan sepakbola setiap jam.
Faktor utama pendorong tingginya penggundulan hutan (deforestasi) di Indonesia adalah pembalakan liar untuk industri kertas, kayu, dan pembukaan lahan gambut untuk perluasan kelapa sawit. Padahal, banjir, kekeringan, dan perubahan pola iklim akan memengaruhi ketahanan pangan pula.
Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan tiga per empat luas kawasan hutannya. Dari jumlah tersebut, 40 persennya telah hilang sama sekali.


Ketika hutan digunduli, biomassa yang tersimpan di dalam pohon akan terurai dan menghasilkan gas karbon dioksida [CO2], sehingga menyebabkan peningkatan bumi. Selain itu, beberapa kawasan hutan melindungi sejumlah besar karbon yang tersimpan di bawah tanah.

Ketika pohon-pohon hutan habis, bumi kehilangan sumber dayanya yang sangat berharga yang seharusnya secar terus menerus menyerap CO2 yang ada di atmorfir. Dari 32 miliar ton CO2 yang dihasilkan oleh aktivitas manusia per tahunnya kurang dari 5 miliar ton diserap oleh hutan. Jadi kehilangan satu pohon merupakan kehilangan berlipat ganda. Kita tidak hanya kehilangan cadangan karbon di daratan tetapi juga ekosistem yang mampu menyerap kelebihan karbon di atmofir.


Hutan pada umumnya dibabat dan dipanen kayunya untuk menghasilkan uang. Mengalihgunakan hutan menjadi lahan yang dapat menghasilkan uang secara cepat seperti kebun kelapa sawit tentunya akan menghasilkan keuntungan secara financial. Namun demi kepentingan keadilan dan kesetaraan, masyarakat kurang mampu yang hidupnya bergantung pada hutan tidak seharusnya menjadi korban. Di samping itu, dalam jangka panjang, setiap orang akan memperoleh manfaat dari hutan yang dikelola secara lestari, jika GRK yang tersimpan di dalam hutan dilepaskan maka diperlukan beberapa generasi untuk bisa mengikatnya kembali. Oleh karena itu, jika sebagian besar kawasan hutan akan hilang untuk seterusnya, maka yang akan kita hadapi ke depan adalah sebuah mimpi buruk di mana kita semua dirugikan.

Ketika sudah cukup banyak hutan yang dihancurkan, maka bersama karbon dari sumber lainnya konsentrasi CO2 di atmosfir akan menyebabkan suhu udara mejadi lebih panas. Akibatnya kekeringan dan kebakaran hutan akan lebih sering terjadi dan kebakaran berkali-kali dapat pulih kembali dan hutan tidak mampu lagi menyerap ataupun menyimpan karbon. Jika kita tidak bertindak secepatnya, maka kita akan menghancurkan potensi hutan dalam mitigasi emisi.

Ketika iklim berubah, hutan dan manusia terpaksa harus terbiasa dengan perubahan curah hujan dan suhu udara yang terjadi secara perlahan. Mereka juga akan lebih sering menghadapi berbagai kejadian yang berkaitan dengan kondisi cuaca ekstrim seperti musim kering panjang dan banjir. Strategi adaptasi dapat membantu manusia dalam mengelola dampak perubahan iklim dan melindungi sumber penghidupan atau matapencaharian mereka.

Penanaman kembali hutan-hutan yang gundul disebut juga reboisasi. Reboisasi dilakukan melalui gerakan menanam pohon di tanah gundul, lereng gunung, dan di lingkungan sekitar. Pohon-pohon di hutan lindung sengaja dilindungi oleh manusia. Hutan lindung berfungsi sebagai pengatur air, pencegah banjir dan erosi. Dengan reboisasi, air hujan tidak langsung mencapai tanah. Rimbunnya daun pepohonan akan menahan air. Ketika air mencapai tanah, air akan masuk ke dalam tanah dan diserap oleh akar tumbuhan. Jika tidak, dapat terjadi tanah longsor. Untuk mencegah hutan-hutan menjadi gundul, juga dilakukan gerakan tebang pilih. Artinya, penebangan pohon dilakukan pada pohon-pohon yang telah cukup tua. Selain itu, penebangan pohon tidak dilakukan di hutan lindung. Hutan lindung adalah hutan-hutan yang diperuntukkan pelestarian lingkungan dan daerah resapan air.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar