Minggu, 23 September 2012

Tugas-3 Solusi Labsky untuk Indonesia


INDONESIA "BELUM" MERDEKA

Merdeka pada hakikatnya adalah dimana sebuah negara meraih hak penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya.  Sebetulnya sudahkah Indonesia merdeka?

Ir. Soekarno presiden pertama Republik Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Mungkin pada saat itu Indonesia baru merdeka dari penjajahan yang secara langsung. Bagaimana dengan penjajahan yang secara tidak langsung? Apakah Soekarno memproklamirkan Indonesia dari penjajahan secara tidak langsung? Pernahkah terpikir bahwa Indonesia akan terjajah oleh bangsanya sendiri? Sungguh miris jika para pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan Indonesia melihat hal seperti ini.

MASALAH

Menurut beberapa praktisi, Indonesia sebetulnya masih dijajah oleh bangsa lain secara tidak sadar sedikit demi sedikit kekayaan sumber daya alam Indonesia berpindah tangan ke negara-negara lain dengan mudahnya. Kekayaan sumber daya alam Indonesia memang sudah tersohor hingga ke selutuh dunia. Bahkan di dalam salah satu lagu band Koes Plus yang berjudul Kolam Susu liriknya ada yang mengatakan bahwa tanah kita tanah surga yang mengekspresikan tentang kekayaan sumber daya alam di Nusantara. Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 silam, Belanda masih ingin menguasai Indonesia. 2 kali Belanda melancarkan agresi militernya ke Indonesia.  Pada zaman penjajahan pun sumber daya alam Indonesia di eksploitasi oleh Belanda dan juga Jepang.

Pada dewasa ini Indonesia memang kurang maju pada bidang iptek dibanding Negara-negara lainnya. Faktor ini yang menyebabkan banyaknya perusahaan asing berkedok membantu mengolah sumber daya alam namun dengan maksud yang lain sesungghunya. Sebagai contoh adalah timah , timah didapatkan dari pertambangan di daerah Bangka Belitung namun diolah di Singapura dan dijual dengan harga yang mahal oleh Singapura kembali ke Indonesia. Sungguh merugikan bukan? Keadaan di Papua mengenai pertambangan emas yang dilakukan oleh PT. Freeport juga merupakan bentuk penjajahan terselubung. Bayangkan bumi Papua yang kaya akan emas digali habis dan Indonesia hanya berhak sekitar 10% dari pertambangan itu. Kontraknya juga luar biasa merugikan negara. 90 tahun wilayah pertambangan emas di Papua dikuasai oleh PT. Freeport yang merupakan perusahaan yang mayoritas sahamnya milik asing.


Sektor energi khususnya perminyakan Indonesia sebetulnya dikuasai oleh asing. PT. Chevron Pacific Indonesia merupakan salah satu diantara penguasa minyak bumi di Nusantara yang menguasai wilayah perminyakan Indonesia 48%, dan dalam perdagangan bisa dikatakan selalu mengungguli PT. Pertamina yang merupakan badan usaha milik Negara (BUMN). Mereka boleh memasang iklan bahwa mereka turut membantu rakyat Indonesia sengan mengadakan bakti sosial. Bagi saya hal itu yak setimpal dengan apa yang telah mereka ambil dari kita. Tak heran sebetulnya mengapa negara ini dilanda krisis energi. Terang saja kita secara olangsung "memberinya" kepada pihak asing. Kelangkaan BBM juga sebetulnya berakar dari asing yang memonopoli perminyakan Indonesia. Minyak pada modern ini memegang peranan penting sebagai bahan bakar utama kendaraan. Dan kebanyakan dari pengguna kendaraan adalah Negara yang memiliki sumber daya minyaknya rendah.

Pihak asing seharusnya sulit untuk menguasai daerah kita, tapi mengapa dengan mudahnya didapatkan? Tentu ada benang merah antara perusahaan-perusahaan asing dengan pihak internal atau bisa dikatakan para pejabat tinggi pusat maupun daerah. Permainan yang dilakukan oleh para pejabat pemerintah pusat maupun daerah merugikan Negara, bangsa dan tentunya rakyatnya sendiri. Harga bbm ingin dinaikkan oleh pemerintah, sebetulnya kenapa harus dinaikkan harga bbm? Sumber daya minyak dan gas kita melimpah ruah tapi rupanya di rampok asing. Para pejabat di Indonesia mayoritas hanya memikirkan diri sendiri. Mereka berfikir bahwa dengan menjual asset Negara ke pihak asing dapat memperkaya diri sendiri tanpa melihat efek sampignya. Rakyat menjadi merana karena harga-harga bahan-bahan pokok melambung naik.

Indonesia merupakan Negara agraris yang cukup makmur. Beras-beras yang dihasilkan di Indonesia merupakan beras kualitas internasional. Tak hanya beras, Indonesia dari sejak awal abad 18 rempah-rempahnya sudah tersohor ke pelosok dunia hingga akhirnya Portugis dan Belanda ingin menguasai Nusantara pada saat itu. Namun, kini judul sebagai Negara agraris patut dipertanyakan. Seiring dengan krisis pangan di Indonesia. Cabai, tauge, beras dsb merupakan salah satu contoh bahan pangan yang sempat dilanda krisis. Pemerintah Indonesia sebetulnya dapat mengatasi krisis pangan di Indonesia dengan mengadakan program swasembada pangan. Namun pemerintah sekali gagal untuk menjaga ketahanan pangan di Indonesia. Setelah menemui jalan buntu dalam ketahanan pangan pemerintah khususnya kementrian perdangangan memberi solusi yang mereka anggap jitu yakni mengimpor bahan pangan. Negara agraris mana yang mengimpor bahan pangan kecuali Indonesia. Resep-resep makanan Indonesia pada umumnya menggunakan cabai, tapi cabai di Indonesia sedang krisis. Impor bahan pokok sebetulnya dapat dikatakan menghina kita sebagai Negara agraris. Impor membuat kita tergantung terhadap Negara lain. Jika Negara pengekspor bahan pangannya

Korupsi di Indonesia dewasa ini kiranya sudah menjadi hal yang lumrah. Di pusat maupun daerah pasti ada kasus korupsi yang ditemukan. Dari pungutan liar hingga markup proyek. Para pejabat yang melakukan tindakan korupsi hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan apa yang akan terjadi pada rakyat dan negaranya. Pada zaman pemerintah Hindia Belanda masih berkuasa, seluruh infrastruktur yang dibuat kokoh bahkan ada yang hingga kini masih aktif dipergunakan. Tapi bagaimana dengan infrastruktur hasil rancangan pejabat-pejabat masa kini? Ambil jembatan Kutai Kartanegara sebagai contoh. Belum ada genap sepuluh tahun jembatan itu sudah rubuh. Bandingkan dengan jalan Pantura. Dari zaman pemerintahan gubernur jenderal Herman Willem Daendels hingga pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih digunakan sebagai jalur vital transportasi di pulau Jawa. Hal ini dapat terjadi karena para pejabat tinggi Hindia Belanda mempunyai pemikiran bahwa akan menjajah untuk waktu yang cukup lama maka dibuatlah infrastruktur yang kokoh. Lain halnya dengan pejabat masa kini. Mereka mempunyai pemikiran bahwa sebentar lagi akan lengser dari jabatan dan uang yang dimilikinya masih kurang. Rakyat Indonesia terlebih yang kelas menengah-kebawah merasakan penjajahan yang dilakukan oleh para pejabat pemerintahan.

Inikah yang diinginkan para pejuang kemerdekaan Indonesia pada masa silam? Tentunya yang dimaksud mereka merdeka adalah sungguh-sungguh lepas dari belenggu penjajah asing dan rakyat hidup dengan adil makmur dan sejahtera.

SOLUSI

Di Indonesia kepemimpinan yang tegas sangat diperlukan. Tegas merupakan modal awal untuk memimpin. Ketegasan yang dimaksud adalah tegas menindak oknum-oknum yang “bermain” dalam proyek, manajemen maupun anggaran.

Rasa nasionalisme dalam memimpin sebetulnya juga sangat penting. Rasa nasionalsime mampu mengingatkan kita pada jasa para pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan Republik Indonesia. Selain itu, rasa nasionalisme dapat menimbulkan ras tak tega jika Negara ini secara tidak langsung di jajah bangsa lain. Bekerjalah dengan ikhlas demi keutuhan dan kesatuan bangsa.

Kesejahteraan rakyat merupakan prioritas yang harus didahulukan dalam menjalani program kerja. Rela berkorban demi kepentingan bangsa daripada kepentingan pribadi harus dilaksanakan. Indonesia merupakan Negara dengan system demokrasi maka janganlah lupa para pejabat sebelum terpilih menjadi kepala daerah/pusat adalah rakyat biasa yang seharusnya dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang rakyat jelata.

Fungsi Dewan Perwakilan Rakyat dan legislative harus berjalan sesuai dengan kewajibannya. Anggotanya adalah orang-orang yang dipilih oleh rakyat untuk mewakili suara dan aspirasinya. Jika seorang Iwan Fals pernah menulis lagu Surat Buat Wakil Rakyat yang saya kutip salah satu liriknya “Di hati dan lidahmu kami berharap. Suara kami tolong dengar lalu sampaikan. Jangan takut jangan ragu karang menghadang. Bicaralah yang lantang jangan hanya diam” dimankah seorang wakil rakyat disaat rakyat membutuhkan?
Pada intinya kita kembali kepada masing-masing. Berhentilah bertanya apakah yang Negara ini telah berikan kepada anda tapi mulailah bertanya apakah yang dapat saya berikan kepada Negara ini.


Sumber :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar