Sabtu, 22 September 2012

Tugas-3 Solusi Labsky untuk Indonesia



Kesehatan Penduduk Indonesia

Republik Indonesia biasa disingkat RI atau Indonesia adalah suatu negara di Asia Tenggara, yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia, serta diantara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.487 pulau, oleh karena itu Indonesia disebut juga sebagai Nusantara. Dengan populasi sebesar 222 juta jiwa pada tahun 2006, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, meskipun secara resmi bukanlah negara Islam. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik, dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilih langsung. Ibukota negara ialah Jakarta. Indonesia berbatasan dengan Malaysia di Pulau Kalimantan, dengan Papua Nugini di Pulau Papua dan dengan Timor Leste di Pulau Timor. Negara tetangga lainnya adalah Singapura, Filipina, Australia, dan wilayah persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India.

Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, bahasa dan agama yang berbeda, dikarenakan wilayahnya yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Namun di Indonesia, grup etnis terbesar dan yang secara politis paling dominan adalah suku Jawa.
Semboyan nasional Indonesia adalah “Bhinneka tunggal ika” yang memiliki arti; Berbeda-beda tetapi tetap satu, yang berarti keberagaman yang membentuk satu negara. Selain memiliki populasi padat dan wilayah yang luas, Indonesia memiliki wilayah alam yang mendukung tingkat keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia.

Indonesia adalah negara yang besar dan luas wilayahnya dengan populasi terbanyak ke-empat di dunia. Namun Indonesia bukanlah negara maju seperti negara-negara besar lainnya, Indonesia masih termasuk negara berkembang. Dikarenakan itu ada banyak sekali masalah-masalah yang melanda negara berkepulauan ini.
Masalah yang akan saya bahas disini adalah masalah yang telah lama menghantui negara ini, yaitu masalah kesehatan.

Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan.

Untuk dapat menjaga kesehatan, diperlukan yang namanya pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan adalah proses membantu sesorang, dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal-hal yang memengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain. Definisi yang lebih sederhana diajukan oleh Larry Green dan para koleganya yang menulis bahwa pendidikan kesehatan adalah kombinasi pengalaman belajar yang dirancang untuk mempermudah adaptasi sukarela terhadap perilaku yang kondusif bagi kesehatan.

Usia harapan hidup penduduk Indonesia menurut WHO berkisar pada rata-rata 66,4 tahun. Angka ini jauh lebih rendah daripada angka harapan hidup negara-negara ASEAN lainnya, seperti  Vietnam dengan rata-rata 69,6 tahun, Filipina dengan rata-rata 68,3 tahun, Malaysia dengan rata-rata 72 tahun, dan Singapura dengan rata-rata 79,6 tahun. Selain itu, angka kematian ibu di Indonesia berjumlah 230 per 100 ribu kelahiran hidup. Angka ini jauh diatas negara-negara ASEAN lainnya seperti; Vietnam dengan angka 130, Filipina dengan angka 200, Malaysia dengan angka 41, dan Singapura dengan angka 15. Juga, angka kematian bayi di Indonesia berjumlah 39 per 1000 kelahiran hidup. Jauh diatas negara-negara ASEAN lainnya seperti; Vietnam dengan angka 31, Filipina dengan angka 28, Malaysia dengan angka 8, dan Singapura dengan angka 3.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa Republik Indonesia masih sangat terbelakang dalam hal kesehatan. Terdapat banyak masalah-masalah pada negara ini yang pada akhirnya berkaitan dengan masalah kesehatan. Salah satu alasan mengapa angka-angka kematian ibu dan bayi begitu tinggi, dan usia harapan hidup Indonesia begitu rendah adalah belum memadainya pelayanan kesehatan primer di Indonesia.

“Data kesehatan global menunjukkan bahwa semakin baik sistem pelayanan kesehatan primer (pertama) semakin baik status kesehatan masyarakatnya serta semakin efisien pelayanannya,” ujar Nugroho Wiyadi, Jumat (23/3) di Ruang PBL, Gedung Radiputro FK UGM dalam sosialisasi kegiatan Konferensi dan Pertemuan Ilmiah Nasional yang membahas Refinement Arah Reformasi Sistem Pelayanan Kesehatan Primer dan Pengembangan Profesi Dokter Praktek Umum, Dokter Layanan Primer dan Dokter Keluarga, dilaksanakan pada 29-30 Maret 2007.

Pemahaman masyarakat yang lemah tentang sistem pelayanan kesehatan primer (puskesmas/Dokter Praktek Umum) dan sekunder (Rumah Sakit), mengakibatkan mereka tidak mengikuti sistem rujukan yang ada. “Masyarakat pada kelas ekonomi lemah cenderung memilih pelayanan kesehatan yang paling dekat dan murah, tidak peduli apakah petugas yang dia mintai pertolongan tersebut memiliki kewenangan dan kompetensi yang memadai. Sedangkan masyarakat pada kelas ekonomi menengah ke atas cenderung langsung memeriksa diri ke dokter spesialis dengan berbagai risiko ketidaktepatan pemilihan jenis dokter spesialis yang dipilihnya,” papar Nugroho.


Selain itu, tidak sedikit jumlah pelaku pelayanan primer yang secara profesi tidak memiliki kompetensi dan kewenangan yang memadai, sehingga penanganan penyakit tidak sesuai standar, dan sering terjadi pemakaian berbagai obat secara tidak tepat yang pada akhirnya mengakibatkan ketidakefektifan biaya, dan juga masalah-masalah lain seperti resistensi obat akibat pemakaian obat antibiotik.

Zaman sekarang tidak sedikit dokter-dokter yang langsung memberi obat antibiotik kepada pasien, walau sebenarnya pasien tersebut masih dapat disembuhkan tanpa diberi antibiotik. Alasan dibalik tindakan ini adalah bahwa antibiotic lebih cepat dalam menyembuhkan, dan menambah jumlah pasien yang berobat ke dokter tersebut dikarenakan cepat dalam menyembuhkan penyakit. Namun sebenarnya tindakan memberi antibiotic ini membangun resistensi pasien terhadap obat, atau biasa disebut kebal terhadap obat. Apabila pasien sudah kebal terhadap suatu obat, maka harus diberikan obat yang lebih kuat.

Selain ketidakkompetenan petugas kesehatan primer, masalah-masalah kesehatan di Indonesia juga disebabkan oleh faktor kemiskinan. Data terakhir menunjukkan bahwa saat ini lebih dari 80 persen rakyat Indonesia tidak mampu mendapat jaminan kesehatan dari lembaga atau perusahaan di bidang pemeliharaan kesehatan, seperti Akses, Taspen, dan Jamsostek. Golongan masyarakat yang dianggap 'teranaktirikan' dalam hal jaminan kesehatan adalah mereka dari golongan masyarakat kecil dan pedagang.

Kemiskinan bisa jadi adalah faktor terbesar dalam masalah kesehatan Indonesia, karena lebih dari 80 persen rakyat Indonesia tidak memiliki biaya yang cukup untuk mendapat jaminan kesehatan.
Tertera diatas adalah faktor-faktor yang membuat masalah kesehatan, namun masalah kesehatanya itu sendiri belum dibahas. Ada banyak penyakit yang melanda Indonesia, dan belum semuanya memiliki obat.

Berikut adalah daftar masalah kesehatan pada anak-anak di Indonesia; 

1. Gizi Buruk
Pemahaman orang tua akan pentingnya pemenuhan gizi bagi anak masih belum maksimal, terutama pada orang tua di daerah. Ketidakcukupan pendidikan serta tingginya kepercayaan masyarakat terhadap mitos membuat masalah gizi buruk ini menjadi susah untuk ditangani. Dan faktor kemiskinan memegang peranan penting pada masalah kesehatan anak Indonesia ini, karena banyak sekali anak-anak yang kekurangan gizi karena tidak dapat mendapatkan bahan makanan yang cukup, dikarenakan tidak memiliki biaya untuk mendapatkan bahan makanan bergizi tersebut.

Gizi Buruk

2. ASI
Tidak banyak orang tua yang sadar dan mengetahui bahwa ASI bisa membantu anak untuk memiliki sistem kekebalan tubuh yang prima, sehingga banyak orang tua yang cenderung memilih untuk memberikan susu formula bila dibanding dengan memberikan ASI bagi anak mereka. Hal ini berhubungan dengan tingkat pendidikan di Indonesia (luar Jawa) yang masih rendah. Solusi yang dapat diberikan untuk masalah ini adalah dengan sosialisasi kepada orangtua mengenai ASI.

3. Imunisasi
Dari hasil riset kesehatan dasar tahun 2007 oleh Departemen Kesehatan dan Badan Pusat Statistik, cakupan imunisasi lengkap anak usia 12-23 bulan hanya sebesar 46,2 persen. Mereka mendapat vaksinasi BCG, polio 3 kali, DPT 3 kali, Hepatitis B 3 kali, dan campak.
Hal ini berarti bahwa 53,8 persen (lebih dari setengah) anak-anak lainnya di Indonesia belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Imunisasi sangatlah penting dalam mencegah sakitnya anak-anak, dan sebaiknya dilakukan.

4. Kekurangan Zat Besi
Dapat dikatakan bahwa hampir sebagian besar anak Indonesia kekurangan zat besi. Hal ini dikarenakan tidak semua orang tua menyadari bahwa sejak usia 4 bulan, bayi harus diberi tambahan zat besi.  Kekurangan zat besi atau yang terkadang disebut dengan defisiensi zat besi akan berdampak bagi pertumbuhan anak di kemudian hari. Oleh karena itu, banyak penduduk Indonesia yang menderita penyakit Anemia.

5. Kekurangan Vitamin A
Kekurangan vitamin A bisa menyebabkan berbagai masalah penyakit mata yang apabila tidak ditangani dapat menyebabkan kebutaan. Dikarenakan faktor kemiskinan yang melanda Indonesia, tidak sedikit jumlah anak-anak yang belum mendapatkan vitamin A seperti seharusnya.  

6. Kekurangan Yodium
Penyakit pembengkakan kelenjar gondok adalah penyakit klasik bagi anak Indonesia. Penyakit ini disebabkan kurangnya anak-anak dalam mengkonsumsi yodium yang terkandung dalam garam. Selain karena faktor kemiskinan, kekurangan yodium juga dapat disebabkan oleh ibu yang pada saat hamil menderita penyakit pembengkakan kelenjar gondok. Bayi dari ibu tersebut akan terlahir dengan kekurangan yodium. 

Penderita penyakit gondok
 Upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk menyelesaikan masalah kesehatan ini adalah dengan mengulirkan 7 Reformasi Pembangunan Kesehatan pada tahun 2011 oleh Kementrian Kesehatan. 7 Reformasi tersebut adalah sebagai berikut;
  1. Revitalisasi pelayanan kesehatan,
  2. Ketersediaan, distribusi, retensi dan mutu sumberdaya manusia, 
  3. mengupayakan ketersediaan, distribusi, keamanan, mutu, efektifitas, keterjangkauan obat, vaksin dan alkes, 
  4. Jaminan kesehatan, 
  5. keberpihakan kepada daerah tertinggal perbatasan dan kepulauan (DTPK) dan daerah bermasalah kesehatan (DBK),
  6. reformasi birokrasi dan 
  7. world class health care.

Selain itu, sebagai upaya lainnya oleh pemerintah, sejak tahun 2001 telah diterapkan kebijakan desentralisasi kesehatan. Hal ini dilakukan agar pelayanan kesehatan di daerah-daerah luar sentral dapat berkembang dengan sendirinya tanpa harus menunggu perintah dari sentral. Diharapkan bahwa pelayanan kesehatan setiap daerah dapat lebih cepat berkembang dan mengatasi penyakit yang ada di daerah tersebut.

Menurut saya, solusi yang dapat saya berikan untuk permasalahan kesehatan di Indonesia yang sangat serius adalah untuk pertama mengatasi masalah kemiskinan. Faktor penyebab adanya masalah kesehatan di Indonesia yang terbesar adalah faktor kemiskinan, karena itu harus diselesaikan pertama.

Sejalan dengan penyelesaian kemiskinan, harus diupayakan juga sosialisasi kepada ibu-ibu di berbagai daerah mengenai penyakit-penyakit yang dapat timbul pada anak-anak. Hal ini agar para ibu tahu hal apa yang harus dilakukan saat anaknya sakit, dan agar dapat mencegah anaknya sakit.
Selain itu, kriteria untuk profesi pengobatan harus ditinggikan standarnya, agar hanya yang benar-benar kompeten yang boleh mengurusi pasien. Hal ini agar tidak terjadi kesalahan dalam menangani pasien.

Tertera diatas adalah beberapa solusi yang dapat saya berikan untuk masalah kesehatan di Indonesia. Terselesaikannya masalah tersebut sangat bergantung kepada penduduk Indonesia. Apabila mereka memiliki tekad yang kuat untuk memajukan negaranya, maka akan maju.

Sumber:
http://carapedia.com/masalah_kesehatan_anak_indonesia_info3016.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar