Senin, 24 September 2012

Tugas-3 Solusi Labsky untuk Indonesia

Mengembangkan Profesi Guru untuk Sebuah Pendidikan Yang Lebih Baik





Pendidikan merupakan bidang yang sangat penting bagi kehidupan manusia, pendidikan dapat mendorong peningkatan kualitas manusia dalam bentuk meningkatnya kompetensi kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), maupun psikomotor (gerakan). Seluruh aspek-aspek penting dalam kehidupan pastinya tentu juga dipengaruhi oleh kualitas pendidikan yang didapat seseorang, karena lewat pendidikanlah nilai-nilai serta keterampilan ditanamkan dan dipraktikkan, idealnya.

Dalam pandangan makro terhadap pendidikan, menjanjikan sebuah sistem pendidikan yang berkualitas pada akhirnya walaupun harus menjadi investasi mahal akan berbalik dengan keuntungan yang tidak ternilai; sumber daya alam yang siap mengabdi untuk memperbaiki kesejahteraan suatu bangsa. Oleh karena itu, apalagi dengan kondisi SDM & SDA Indonesia yang kritis, mencari sebuah konsep sistem pendidikan yang berkualitas menjadi sebuah kebutuhan kenegaraan.

Kalau dilihat lewat kacamata Undang-undang Sisdiknas No 20 tahun 2003: "Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara." 

Dengan adanya kebutuhan akan sebuah sistem edukasi yang bisa melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk bangsa, tentunya diperlukan sebuah kesadaran bahwa pendekatan berkualitas harus dibangun mulai dari titik terendah dan paling esensial - titik interaksi antara yang diajar dengan yang mengajar; antara murid dan guru. Ketika sesosok guru dapat mengajarkan dengan baik dan berinovasi untuk memotivasi dan mengeluarkan potensi terbaik dari dalam diri seorang murid, tentunya disitulah inti dari bagaimana sebuah sistem pendidikan dapat dibilang baik atau tidak, bukan sekedar dari persentase anggaran pendidikan dalam APBN, kualitas menteri & stafnya, atau fasilitas sekolah & lembaga-lembaga pendidikan.

Karena intinya pendidikan tidak akan terjadi tanpa adanya yang diajar, dan yang mengajar.

Dengan demikian, nampak bahwa Pendidik diharapkan mempunyai pengaruh yang signifikan pada pembentukan sumberdaya manusia (human capital) dalam aspek kognitif, afektif maupun keterampilan, baik dalam aspek fisik, mental maupun spiritual. Hal ini jelas menuntut kualitas penyelenggaraan pendidikan yang baik serta pendidik yang profesional, agar kualitas hasil pendidikan dapat benar-benar berperan optimal dalam kehidupan masyarakat. Untuk itu pendidik dituntut untuk selalu memperbaiki, mengembangkan diri dalam membangun dunia pendidikan.


Oleh sebab itu, institusi pemerintahan yang berkaitan dengan sistem pendidikan harusnya terus menggembleng dan mendorong tenaga pendidik/guru agar terus berinnovasi dan menciptakan sebuah pengajaran yang efektif dan berhasil. Maka dari itu, pengembangan pribadi seorang guru menjadi penting.

Pengembangan pribadi Pendidik/Guru
Dalam konteks Indonesia dewasa ini, secara umum terlihat makin menguatnya upaya pemerintah untuk terus mengembangkan profesi pendidik sebagai profesi yang dihormati sejajar dengan profesi lainnya, hal ini terlihat dari lahirnya UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Undang-undang ini jelas menggambarkan bagaimana pemerintah mencoba mengembangkan profesi pendidik melalui kodifikasi hukum nasional.

Perlindungan hukum memang diperlukan terutama secara sosial agar efek sosial dari identitas profesi pendidik mendapat pengakuan yang memadai, namun hal itu tidak serta-merta menjamin berkembangnya profesi pendidik secara individu, sebab dalam konteks individu justru kemampuan untuk mengembangkan diri sendiri menjadi hal yang paling utama yang dapat memperkuat profesi pendidik. Oleh karena itu upaya untuk terus menggemblengnya merupakan suatu keharusan agar kemampuannya terus meningkat.

Dengan demikian, dapatlah difahami bahwa meskipun perlindungan hukum itu penting, namun pengembangan diri sendiri lebih penting dan strategis dalam upaya pengembangan profesi, ini didasarkan beberapa alasan yaitu :
· Perlindungan hukum penting dalam menciptakan kondisi dasar bagi penguatan profesi pendidik, namun hanya bersifat nominal hukum, tidak memberikan efek bagi sistem pengajaran.
· Pengembangan diri sendiri dapat menjadikan guru sadar dan terus mengasah diri sendiri dalam mengemban peranannya & mengembangkan sebuah spesialisasi

Strategi Pengembangan
Mengemengembangan profesi tenaga pendidik bukan sesuatu yang mudah, hal ini disebabkan banyak faktor yang dapat mempengaruhinya, untuk itu pengamatan dan pencermatan lingkungan pendidikan harus dipertimbangkan dengan sangat baik oleh instansi pemerintah agar dapat melihat titik-titik mana yang menjadi kelemahan yang dapat menghambat pengembangan pribadi seorang guru, dan dimana pula yang menjadi potensi baiknya.

Beberapa faktor yang saya kira menghambat pengembangan pribadi guru:
1. Pendidikan Moral/Etika Mengajar
2. Kesadaran Batin tentang Kemuliaan Profesi Mengajar
        Dua hal mendasar yang paling berpengaruh ini dapat diperbaiki dengan cara mendidik guru lewat pengalaman; contohnya tidak langsung mengirimnya / PPG ke lapangan namun dengan mengikuti dan mengobservasi pendidikan yang terjadi di berbagai latar belakang, mulai dari pedalaman Papua hingga perkotaan Jakarta, agar kesadaran itu tumbuh sendiri tentang kondisi pendidikan, etika-etikanya dan betapa profesi mengajar itu sebenarnya mulia. Ini berarti juga harus adanya konsep untuk mengubah pemikiran di tingkat Pengajaran Calon Guru bahwa menjadi guru bukan hanya berarti menjadi pekerjaan karir atau mencari duit saja. Seharusnya banyak cara lain yang bisa diambil untuk menumbuhkan kesadaran tersebut, oleh karena itu, menguatkan bidang riset psikologis pengajaran harusnya menjadi prioritas pemerintah pula.

3. Kesejahteraan & Tekanan Sosial
Tekanan kebutuhan hidup yang butuh duit
          Sering kali kita lihat betapa banyak orang-orang yang tidak diapresiasi menjadi harus menghalalkan berbagai cara untuk bertahan hidup, seperti contohnya mantan-mantan atlit yang harus banting tulang di masa tua; hal yang sama berlaku dalam hal tenaga kependidikan, bagaimana tidak idealisme guru-guru dihantam oleh realita beratnya biaya penghidupan yang harus ditanggung, sehingga terkadang mereka harus mendahulukan pekerjaan lainnya agar bisa menghidupi keluarga. Sebenarnya faktor ini juga masih terkait dengan 2 faktor pertama, tetapi di sisi ini juga hadir guru-guru yang sebenarnya memiliki kesadaran tentang idealisme posisi seorang guru dalam sistem pendidikan yang berkualitas, namun terhimpit oleh realita hidup.

            Pernah mendengar tentang atlit-atlit Cina? Walaupun melewati serangkaian latihan berjam-jam yang dibilang oleh beberapa media sebagai brutal, mereka tinggal berlatih; makanan, gaji, semuanya dijamin oleh pemerintah sementara mereka terus mendulang prestasi. Nampaknya sistem penghargaan tersebut boleh juga dicoba sampai batas tertentu, mengingat pemerintah juga mempunyai ambang batas pembiayaan.

4. Birokrasi Sistem Pendidikan
             Birokrasi Sistem Pendidikan kurang lebih sama dengan Birokrasi yang terjadi besar-besaran di seluruh bidang pelayanan publik lainnya. Sebenarnya bisa dibilang ini adalah peninggalan sistem Feudal & Kolonial sejak Belanda, namun tersisa hingga sekarang - dimana orang-orang diposisi penting terbiasa untuk dilayani, bukan berada di posisi penting untuk melayani kemauan konsumen/rakyat, jika dalam hal ini; keluarga & siswa atau peserta didik.
Sudut pandang birokratis itu sudah sangat terasa kental diberbagai tempat, oleh karena itu, harus dibalikkan menjadi sebuah sudut pandang bagi seluruh individu yang berkiprah dalam sistem pendidikan nasional bahwa yang terpenting adalah melayani rakyat yang butuh pendidikan yang layak, dengan adanya jabatan sebagai hak posisi wewenang & komando (perintah) yang lebih besar saja, bukan sebuah ajang untuk mendapat tunjangan yang lebih baik. Tentunya hak wewenang & komando tersebut dibarengi dengan sebuah kewajiban yang bernama menjaga/mengontrol aparatur yang berada dibawah tangannya.

Arah perkembangan pendidikan di Indonesia
Selain perkembangan pribadi guru di ranah individual, sebuah perubahan harus terjadi di sistem pendidikan kita yaitu mengenai arah perkembangannya.

Selama ini, telah terjadi sebuah perkembangan sistem pendidikan yang terus mencoba mencetak lulusan yang lulus dengan nilai yang baik dan mampu mendapat pekerjaan; tidak lebih dari itu, jarang sekali ada para pendidik yang mencoba sebuah sudut pandang baru yaitu belajar untuk lulus dengan karakter yang baik dan keterampilan siap kerja yang mampu membuka/mencari potensi kreatif. Sudut pandang baru itu haruslah ditanamkan kepada setiap guru agar mampu mengarahkan anak muridnya ke arah tersebut.

Dengan melihat hal tersebut, jelas bahwa peran pemerintah sangat besar dalam terbentuknya kondisi yang demikian, pengembangan sekolah yang kurang/tidak mengacu pada potensi yang dimiliki bangsa jelas berakibat pada timpangnya pemilihan peserta didik dalam memilih bidang pekerjaan/kehidupan, sehingga menjadi pegawai dianggap sebagai suatu pilihan yang paling tepat, meskipun bidang lain sebenarnya banyak menjanjikan bagi peningkatan kualitas kehidupan. Kondisi ini memang punya kaitan dengan kultur yang diciptakan penjajah Belanda, dimana mereka membuka sekolah untuk mendidik manusia menjadi pegawai (ambtenaar) rendahan yang diperlukan oleh Penjajah. Namun demikian upaya pembangunan pendidikan nasional sejak jaman kemerdekaan jelas mestinya telah mampu merubah cara berfikir demikian, hal ini tentu saja dapat terjadi jika pembangunan pendidikan nasional selalu mengacu pada potensi luhur yang dimiliki bangsa Indonesia.

K E S I M P U L A N
Setelah mengikuti uraian terdahulu, berikut ini akan dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
· Pembangunan untuk meningkatkan kualitas pendidikan memerlukan dukungan banyak faktor, salah satu faktor penting, bahkan terpenting, adalah peran tenaga pendidik yang sangat menentukan dalam peningkatan kualitas pendidikan tersebut.
· Oleh karena itu diperlukan upaya untuk mengembangkan profesi tenaga pendidik agar semakin berkualitas sehingga dapat berperan lebih produktif dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan.
· Dalam pengembangan profesi tenaga pendidik sebagai perancang masa depan, hal yang penting adalah membangun kemandirian di kalangan tenaga pendidik sehingga dapat lebih mampu untuk mengaktualisasikan dirinya guna mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Dalam hubungan ini tujuh pelajaran seperti yang diikemukakan oleh Prof Idochi dapat menjadi dasar pengembangan tersebut, sehingga dapat tumbuh sikap inovatif tenaga pendidik/pendidikan dalam melaksanakan peran dan tugasnya mendidik masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik dan berkualitas.

Dengan itu semoga sistem pendidikan kita semakin berkualitas, amin
 


 Sumber:
http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/04/solusi-pendidikan-yang-berkualitas/
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=26&jd=Guru+Harus+Mampu+Menjadi+Insan+Pendidik+yang+Profesional&dn=20120504092622
http://sdnkeputran2.sch.id/news73_aplikasi_kebijakan_sekolah_gratis_terhadap_pelaksanaanya_dalam_sistem_pendidikan_nasional.html
http://wijayalabs.com/2008/09/27/peningkatan-kualifikasi-guru-dalam-pandangan-guru-itu-sendiri/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar