Senin, 24 September 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky untuk Indonesia

Angka Kematian Ibu yang Masih Tinggi


Melahirkan bisa jadi momen yang sangat ditunggu-tunggu bagi sebagian besar orang di dunia ini, karena saat-saat itu adalah puncak dari penantian selama kurang lebih 9 bulan lamanya. Namun bukan berarti melahirkan adalah hal yang mudah, karena pada kenyataannya, melahirkan itu sulit. Nyawa menjadi hal utama yang dipertaruhkan, baik nyawa sang anak maupun nyawa sang ibu. Tak jarang, proses melahirkan harus mengorbankan nyawa sang ibu.

Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN Dr. Sudibyo Alimoesa mengatakan, tingkat kematian ibu saat melahirkan di Indonesia terbilang masih tinggi, atau hampir setiap satu jam, dua ibu melahirkan meninggal dunia.

"Bila jumlah tersebut ditotal maka dapat dibayangkan dalam satu hari berapa ibu melahirkan yang meninggal dunia," katanya dalam pertemuan dengan Ulama se-Kalimantan Selatan di Banjarmasin, Selasa, 31 Januari 2012. Menurut dia, berdasarkan data dan penelitian tentang kualitas penduduk Indonesia tahun 2011, tercatat Angka Kematian Ibu (AKI atau MMR) masih sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup.

Selanjutnya angka kematian bayi usia 0-11 bulan (AKB-IMR) adalah 34 per 1.000 kelahiran hidup, kemudian 60 persen penduduk hanya tamat SD atau lebih rendah, angka harapan hidup Indonesia sekitar 68/72 tahun. Hal ini jika dibandingkan dengan negara Jepang akan sangat terlihat perbedaannya. Jepang kini rata-rata umur penduduknya telah mencapai 100 tahun, sehingga saat ini 40 persen penduduknya merupakan lansia.

Kematian ibu saat melahirkan terjadi karena beberapa penyebab seperti berikut.

1.      Pendarahan

Pendarahan memang bukan sesuatu yang mustahil terjadi saat proses persalinan. Perdarahan adalah penyebab tersering kematian ibu. Perdarahan tersebut bisa dialami oleh ibu baik ketika sedang hamil, pada saat persalinan dan dalam masa pemulihan selama 40 hari setelah melahirkan ( masa nifas ).

Penyebab perdarahan pada masa persalinan:

1.      Proses persalinan yang tidak aman ditolong dukun yang tak terlatih.

2.      Proses pengguguran kandungan yang disengaja dan tidak aman

3.      Usia ibu terlalu muda ( kurang dari 20 tahun ) Ibu yang hamil usia muda kondisi alat kandungan belum siap sehingga mudah terjadi perdarahan

4.      Ibu terlalu tua ( lebih dari 35 tahun ).Kondisi fisik ibu bila tidak terjaga kesehatannya akan beresiko terhadap kemungkinan perdarahan

5.      Melahirkan anak dengan jarak terlalu dekat, kurang dari 2 tahun.

6.      Terlalu sering melahirkan, misalnya ibu yang melahirkan lebih dari 3 kali

7.      Kondisi kesehatan ibu akibat penyakit kronis dan anemia ( kurang darah ) dan gizi yang buruk

8.      Gangguan pembekuan darah

9.      Gangguan kelemahan kontraksi otot rahim setelah bayi dan ari - ari lahir, dsb

2.      Persalinan di rumah

Sebanyak 43 persen kaum ibu masih melakukan proses persalinan di rumah. Dan berdasarkan riset kesehatan dasar tahun 2010, persalinan di rumah berarti bukan di fasilitas kesehatan, polindes, atau poskesdes. Sebesar 51,9 persen persalinan di rumah dibantu bidan, 40 persennya dibantu dukun. Di Indonesia, dukun menjadi mitra dalam persalinan. Padahal persalinan sebisa mungkin jangan dilakukan di rumah dan harus ditolong bidan. Padahal jika kita melihat Singapura, melahirkan di klinik pun sudah tidak diperbolehkan. Sementara itu di Malaysia, persalinan dengan dibantu oleh bidan sudah tidak boleh lagi.

Penelitian Women Research Institute di tujuh kabupaten tahun 2009, kepercayaan masyarakat masih tinggi terhadap dukun beranak serta berbagai mitos seputar kehamilan, perempuan hamil, dan prosesi kelahiran. Proses melahirkan pun masih dianggap proses alami yang bisa dilakukan alami.

Walaupun di sejumlah negara Eropa, seperti Belanda, muncul tren melahirkan di rumah, Ali Ghufron Mukti yang merupakan Wakil Menteri (Wamen) Kesehatan RI menyarankan perempuan jangan melahirkan di rumah. Hal itu dilatarbelakangi tingginya angka kematian ibu di Indonesia, yakni 228 per 100.000 kelahiran hidup (Survei Demografi Kesehatan Indonesia, 2007). Angka ini 3-6 kali lebih besar dibandingkan negara lain di ASEAN.

Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah. Yang dikhawatirkan dari persalinan di rumah adalah jika terjadi pendarahan. Jika terjadi pendarahan di rumah sakit atau kantor pelayanan (sarana) kesehatan lain, bisa dengan cepat diatasi oleh para dokter ataupun tenaga medis yang sudah memiliki skill. Tapi kalau pendarahan terjadi karena persalinan di rumah, maka pertolongan pertama tidak bisa dilakukan, karena dukun beranak (orang yang biasa membantu proses persalinan yang dilakukan di rumah) kemungkinan besar tidak menguasai seluruh tindakan proses persalinan dengan benar.

Menurut ketua Institute for Ecosoc Rights Sri Palupi, masalah persalinan di rumah ini bukan semata-mata persoalan bidang kesehatan. Contohnya, di Nusa Tenggara Timur (NTT), tempat melakukan persalinan tidak hanya menjadi persetujuan kaum perempuan, tapi kaum laki-lakipun turut ikut campur. Budaya tersebut juga diakibatkan oleh rentetan masalah lainnya, yaitu ketersediaan fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, kemiskinan, ketersediaan transportasi, dan jarak. Berbagai daerah mengalami kompleksitas masalah itu.

Selain itu, tingginya persalinan di rumah juga menjadi gambaran belum adanya perspektif hak asasi manusia dalam pembangunan. Setidaknya, ada empat indikator keberadaan perspektif hak asasi manusia itu, yakni ketersediaan pelayanan dasar; keterjangkauan fisik, ekonomi, ketiadaan diskriminasi, dan keadilan informasi; kualitas pelayanan dan sumber daya manusia; serta fleksibilitas dalam arti kebijakan dapat diterima secara budaya dan konteks masyarakat.

3.      Kasus ‘3 Terlambat’

a.       Terlambat mengenali tanda bahaya persalinan dan mengambil keputusan

b.      Terlambat dirujuk

c.       Terlambat ditangani oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan

4.      Kasus ‘4 Terlalu’

a.     Terlalu tua untuk hamil (hamil diatas usia 35 tahun) sebanyak 27 persen

b.    Terlalu muda untuk hamil (hamil di bawah usia 20 tahun) berdasarkan Riset itu sebanyak 2,6 persen

c.     Terlalu banyak (jumlah anak lebih dari 4) sebanyak 11,8 persen

d.    Terlalu dekat (jarak antar kelahiran kurang dari 2 tahun)

5.      Kekurangan Nurisi

Menurut Utusan Khusus Presiden RI untuk Millenium Development Goals (MDGs), Prof Dr dr Nila Moeloek, SpM(K), kasus kematian ibu terbanyak adalah karena kurang gizi, anemia, pendarahan, dan cacingan.

 

Hal tersebut di atas merupakan beberapa penyebab tingginya angka kematian ibu saat melahirkan di Indonesia. Mungkin kita semua berpikir bahwa hal tersebut sebagian besar terjadi di daerah pedalaman atau pedesaan. Tapi ternyata, Angka kematian ibu melahirkan di Indonesia atau Maternal Mortality Rate (MMR) justru tercatat paling tinggi di Pulau Jawa. Data ini mungkin cukup mencengangkan. Betapa tidak, Pulau Jawa dinilai memiliki akses kesehatan lebih baik ketimbang daerah terpencil atau perbatasan. Tapi yang terjadi adalah angka kematian ibu di Pulau Jawa lebih banyak dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.

Kita semua tentu menginginkan proses persalinan yang berjalan dengan baik dan lancar, karena momen tersebut akan sangat mengharukan. Maka dari itu, penyebab-penyebab kematian saat persalinan harus bisa ditekan seminimalisir mungkin. Beberapa cara yang mungkin bisa ditempuh akan saya jabarkan sediki di bawah ini.

Yang pertama adalah langkah-langkah pencegahan terhadap pendarahan pada saat persalinan:

·         Melahirkan ditolong oleh tenaga kesehatan, baik bidan atau dokter.

Pada masa sekarang ini tenaga kesehatan baik bidan maupun dokter sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Keputusan untuk melahirkan di fasilitas kesehatan adalah keputusan untuk melahirkan secara aman. Keputusan melahirkan yang aman akan menetukan keselamatan jiwa ibu saat bersalin.

·         Pendampingan dari suami sebagai orang terdekat

Pendampingan ini menjadi penting karena dapat memberi dukungan atau support selama persalianan dan pengambil keputusan saat darurat.

·         Persiapan anggota keluarga bila sewaktu - waktu diperlukan untuk donor darah

Kebutuhan darah pada ibu hamil dan melahirkan itu tidak dapat diprediksi. Meskipun ibu hamil tampaknya sehat dan baik-baik saja selama kehamilan, tapi kejadian perdarahan tak terduga bisa saja mengancam keselamatan jiwa. Oleh karena itu sebaiknya dari pihak keluarga sudah menyiapkan anggotanya untuk dapat mendonorkan darah bila sewaktu-waktu diperlukan.

·         Persiapan kesehatan ibu

Ibu yang akan melahirkan jangan sampai terlalu lelah agar persalinan dapat berlangsung lancar. Seorang ibu hamil, sebaiknya sungguh sungguh mempersiapakan kesehataan fisiknya menjelang saat persalinan. Istirahat yang cukup akan sangat membantu. Pada saat proses persalinan dibutuhkan waktu yang cukup lama, ada berbagai proses, tahapan demi tahapan persalinan. Bila seorang ibu kelelahan selama persalinan atau kondisi tubuhnya sedang tidak sehat, maka akan mempengaruhi kontraksi dari rahim. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya perdarahan.

·         Segera menyusui bayi setelah bayi lahir

Hal ini bertujuan agar membantu kontraksi rahim (proses mengecilnya kembali rahim ibu secara alami) hisapan bayi pada puting susu ibu akan merangsang keluarnya hormon oksitosin yang membantu mencegah terjadinya perdarahan.

Sementara itu, untuk mengurangi angka persalinan di rumah, pemerintah beserta lembaga kesehatan swasta harus memperbanyak sosialisasi dan penyuluhan tentang pentingnya melakukan persalinan di fasilitas kesehatan, baik rumah sakit maupun klinik persalinan. Para kaum ibu harus mengetahui bahwa persalinan yang aman adalah persalinan yang dibantu oleh tenaga medis yang sudah berpengalaman dan memiliki skill dalam bidang itu. Namun tak hanya kaum ibu yang harus mendapatkan penyuluhan tersebut. Para kaum lelaki atau kaum bapak juga harus mendapatkan penyuluhan tentang persalinan aman ini. Mengapa begitu? Karena kaum bapak juga turut berperan serta dalam pemutusan tempat persalinan.

Selain penyuluhan tentang persalinan yang amannya dilakukan di fasilitas kesehatan yang telah tersedia, pemerintah dibantu swasta juga harus melakukan penyuluhan tentang pertolongan pertama jika terjadi pendarahan, jika kondisi sangat memaksa untuk melakukan persalinan di rumah.

Untuk melakukan penyuluhan tersebut, maka langkah yang harus diambil adalah menghidupkan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) yang telah disebar di daerah-daerah. Posyandu itulah yang kemudiannya akan menyediakan dan memberikan informasi-informasi tersebut, termasuk bagaimana menjaga kesehatan saat kehamilan. Memperbanyak Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) juga bisa menjadi alternatif lainnya. Puskesmas-puskesmas tersebut harus dapat dijangkau dengan mudah dan mempunyai tarif yang murah, karena telah disubsidi oleh pemerintah. Perbanyakan Puskesmas ini bisa menjadi alternatif dari kesulitan akses kesehatan yang diperlukan masyarakat.

Untuk kasus-kasus ‘4 Terlalu’ yang salah satunya adalah terlalu muda untuk hamil, maka langkah yang bisa diambil adalah jangan menikah pada usia muda. Terkadang, mental ibu yang usianya masih muda belum siap untuk melahirkan, sehingga terjadi stress dan akhirnya terjadi pendarahan. Terlalu tua, terlalu dekat, dan terlalu banyak juga menjadi masalah. Yang bisa dilakukan adalah memberlakukan sistem atau program Keluarga Berencana (KB). Program ini memang telah lama diterapkan di Indonesia, tapi belum benar-benar tersosialisasikan. Maka pemerintah dan swasa harus lebih giat lagi dalam melakukan sosialisasi.

Dan yang terakhir adalah memperhatikan gizi ibu hamil beserta janin yang dikandungnya. Salah satu caranya adalah dengan melakukan penyuluhan tentang pentingnya nutrisi pada makanan. Banyak ibu-ibu yang menambah porsi makannya saat hamil, padahal yang diperlukan adalah peningkatan kualitas makanannya, bukan kuantitasnya. Selain itu, banyak pikiran bahwa untuk mendapatkan makanan dengan gizi yang seimbang, diperlukan biaya yang tidak sedikit. Padahal ternyata tidak seperti iu, karena selalu ada bahan pengganti dengan kulaitas yang serupa. Misalnya, salah satu sumber protein adalah daging. Tapi daging di pasaran tidak bisa didapatkan dengan harga murah. Untuk itu kita dapat menggantikan protein itu dari telur atau pun ikan yang sama-sama memiliki sumber protein yang tinggi.

Itulah salah satu permasalahan yang ada di Indonesia beserta solusinya. Semoga ke depannya angka kematian ibu saat melahirkan bisa ditekan sampai sekecil mungkin, dan target nasional pada tahun 2015 AKI akan turun dari 228/100.000 kelahiran hidup menjadi 102/100.000 kelahiran hidup. Begitu juga dengan angka kematian bayi turun menjadi 23/1.000 kelahiran hidup.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar