Kamis, 20 September 2012

TUGAS-3 SOLUSI LABSKY UNTUK INDONESIA


"Wajah Anak Jalanan di Indonesia"


Anak jalanan kumbang metropolitan
Selama ramai dalam kesepian
Anak jalanan korban kemunafikan
Selalu kesepian dalam keramaian
Tiada tempat untuk mengadu
Tempat mencurahkan isi kalbu
Cinta kasih dari ayah dan ibu
Hanyalah peri yang palsu
Kasih sayang dari ayah dan bunda
Hanyalah adat semata


           


            
Permasalahan anak jalanan sudah menjadi problem yang tidak berdiri sendiri. Banyak variable yang menjadi variable dari fenomena tersebut. Buruknya perekonomian di Indonesia menyebabkan angka kemiskinan di Indonesia cukup tinggi. Kemiskinan adalah sebuah topic yang dibicarakan hampir diseluruh belahan dunia. Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan,dan lain-lain.
Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:
§  Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
§  Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
§  Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia
            Kemiskinan bisa dikelompokan dalam dua kategori , yaitu Kemiskinan absolut dan Kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut mengacu pada satu set standard yang konsisten , tidak terpengaruh oleh waktu dan tempat / negara. Sebuah contoh dari pengukuran absolut adalah persentase dari populasi yang makan dibawah jumlah yg cukup menopang kebutuhan tubuh manusia (kira kira 2000-2500 kalori per hari untuk laki laki dewasa). 
            Kini di Indonesia jerat kemiskinan semakin parah. Kemiskinan bukan semata-mata persoalan ekonomi melainkan kemiskinan kultural dan struktural. Masalah ini diangkat dengan asumsi bahwa nyatanya di zaman globalisasi seperti sekarang ini kemiskinan di Indonesia semakin banyak saja seperti tak kunjung usai. Masalah ini menimbulkan masalah-masalah baru seperti pengangguran, dan kekerasan yang belakangan ini sering terjadi di Indonesia dan akhirnya pembangunan ekonomi tidak berjalan dengan lancar.
            Berdasarkan survey sosial ekonomi nasional, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 35 juta jiwa. Angka kemiskinan yang tinggi ini membuat Indonesia belum mampu untuk memenuhi kebutuhan anak bangsa, khususnya Jakarta. Padahal, sebagai ibukota negara, seharusnya Jakarta memberikan contoh kepada daerah – daerah lain di Negara ini untuk memberikan kondisi yang ramah, aman, dan nyaman bagi anak-anak. Keadaan ini adalah salah satu faktor yang membuat anak jalanan tidak memiliki tempat bernaung dan dengan terpaksa mereka harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Seseorang bisa dikatakan anak jalanan, bila berumur dibawah 18 tahun, yang menggunakan jalanan untuk mencari nafkah dan berada di jalanan lebih dari 6 jam sehari.
            Dapat ditemui adanya pengelompokkan anak jalanan berdasarkan hubungan mereka dengan keluarga. Pada mulanya ada dua kategori anak jalanan, yaitu children in the street atau sering disebut juga dengan children from families of the street.
            Pengertian untuk children on the street adalah anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan yang masih memiliki hubungan dengan keluarga. Ada dua kelompok anak jalan dalam kategori ini, yaitu anak-anak yang tinggal bersama orang tuanya dan senantiasa pulang ke rumah setiap hari, dan anak-anak yang melakukan kegiatan ekonomi dan tinggal di jalanan tetapi masih mempertahankan hubungan dengan keluarga dengan cara  pulang baik berkala ataupun dengan jadwal yang tidak rutin.
            Children of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan dan tidak memiliki hubungan atau ia memutuskan hubungan dengan orang tua atau keluarganya.
            Children in the sreet atau children from families of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh waktunya di jalanan yang berasal dari keluarga yang hidup atau tinggalnya juga di jalanan.
           
Faktor yang membuat membuat anak menjadi anak jalanan diantaranya:
1. Buruknya keadaan perekonomian, keadaan ekonomi yang tidak baik membuat anak  dibawah umur bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.
2. Kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tua. Orang tua yang memaksa anak sebagai sumber ekonomi keluarga pengganti peran yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa. Anak yang seharusnya berada dalam tahap belajar di sekolah baik itu formal maupun non-formal malah harus bekerja yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa.
3. Ketidakharmonisan dalam keluarga. Banyak anak jalanan yang berasal dari keluarga yang diwarnai dengan ketidakharmonisan, baik itu perceraian, pencekcokan, adanya ayah atau ibu tiri, tidak adanya orang tua baik karena meninggal dunia maupun tidak bisa menjalankan fungsinya. Hal ini kadang diperparah dengan hadirnya kekerasan fisik atau emosional terhadap anak. Keadaan rumah yang seperti ini sangat potensial untuk mendorong anak meninggalkan rumah.
4. Kurangnya perlindungan dari pemerintah atau perlindungan hukum. Hal ini menjadikan anak-anak tersebut rentan terhadap kekerasan. Kekerasan bisa berasal dari sesame anak-anak itu sendiri, atau dari orang-orang yang lebih dewasa yang menyalahgunakan mereka, ataupun dari aparat. Bentuk
kekerasan bermacam-macam mulai dari dimintai uang, dipukuli, diperkosa, ataupun dirazia dan dijebloskan ke penjara.
5. Lingkungan yang tidak mendukung anak untuk berkembang sebagaimana yang seharusnya. Masalah anak jalanan ini berhubungan dengan adanya pemutusan masa perkembangan anak.

Solusi problem anak jalanan:
            Berdasarkan kompleksitas masalah, ada tiga pendekatan untuk mengatasi masalah anak jalanan. Pertama pendekatan Penghapusan (Abolition), yang berupaya menghapus gejala anak jalanan scara radikal dan menyeluruh. Kedua, Pendekatan Perlindungan (Protection) yang berupaya melindungi hak-hak anak jalanan seperti juga hak-hak anak lainnya dengan tidak berpotensi menghapus anak jalanan. Ketiga, Pendekatan Pemberdayaan (Empowerment) yang berupaya mereduksi jumlah anak jalanan dengan cara memberdayakan mereka supaya berfikir kritis, baik secara ekonomi, sosial, budaya dan politik.
            Untuk mengatasi masalah anak jalanan sangat tidak mungkin tanpa menciptakan struktur sosial yang adil dalam masyarakat. Pendekatan ini lebih menekankan kepada perubahan struktur sosial atau politik dalam masyarakat, dalam rangka melenyapkan masalah anak jalanan. Pendekatan perlindungan (protection) mengandung arti perlunya perlindungan bagi anak-anak yang terlanjur menjadi anak jalanan. Karena kompleksnya faktor penyebab munculnya masalah  kemiskinan, maka dianggap mustahil menghapus kemiskinan secara tuntas. Untuk itu anak-anak yang menjadi korban perlu dilindungi dengan berbagai cara. Fungsionalisasi lembaga pemerintah, LSM, dan lembaga-lembaga sosial lainnya. Perlindungan ini sesuai dengan pendapat pemerintah melalui departemen sosial, praktisi-praktisi LSM dan UNICEF membentuk sebuah lembaga independen yang melakukan perlindungan terhadap anak. yaitu Lembaga Perlindungan Anak (LPA), lembaga tersebut didasarkan pada prinsip dasar terbentuknya LPA, yaitu: anak difasilitasi agar dapat melaporkan keadaan dirinya, menghargai pendapat anak, LPA bertanggung jawab kepada masyarakat bukan pemerintah.
            Pendekatan pemberdayaan (empowerment) menekankan perlunya ada pemberdayaan bagi anak jalanan. Pemberdayaan ini bermaksud menyadarkan mereka yang telah menjadi anak jalanan agar menyadari hak dan posisinya dalam konteks sosial, politik ekonomi yang abadi di masyarakat. Pemberdayaan bisa dilakukan dalam bentuk pendampingan. Pemberdayaan ini dikatakan berhasil apabila anak jalanan berubah menjadi kritis dan mampu menyelesaikan masalahnya secara mandiri.
            Pendekatan penghapusan (abolition) yaitu suatu pendidikan yang menekankan pada cara penghapusan anak jalanan secara radikal, dengan melalui perubahan tatanan struktur tersebut, mengendalikan teratasinya problem kemiskinan yang menjadi akar dari fenomena anak jalanan.
            Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang memberikan pengaruh sangat besar bagi tumbuh kembangnya anak. Dengan kata lain, secara ideal perkembangan anak akan optimal apabila mereka bersama keluarganya. Tentu saja keluarga yang dimaksud adalah keluarga yang harmonis, sehingga anak memperoleh berbagai jenis kebutuhan, seperti kebutuhan fisik-organis, sosial maupun psiko-sosial.
            Upaya pemberdayaan anak jalanan. Upaya pemerintah dalam mengatasi anak jalanan harus berhadapan langsung dengan lingkungan masyarakat dengan berbagai unsur penopangnya. Dukungan peraturan perundang-undangan serta kebijakan penanggulangan maupun pemberdayaan yang dilaksanakan oleh pemerintah kota masih harus disinergikan dengan kondisi sosial kemasyrakatan di daerah. Berbagai faktor yang selama ini dianggap sebagai persoalan klasik yang memunculkan anak jalanan memerlukan perhatian serius sehingga efektifitas dari kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah kota dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Adanya keinginan sebagian besar anak jalanan untuk berhenti menjadi anak jalanan dan berkeinginan untuk merubah profesi yang ditekuni sekarang.
            Dapat disimpulkan bahwa kemiskinan merupakan masalah yang kompleks yang memerlukan penanganan lintas sektoral, lintas professional, dan lintas lembaga. Departemen sosial merupakan salah satu lembaga pemerintah yang telah lama aktif dalam program pemberantasan kemiskinan.
           




        



           

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar