Jumat, 07 September 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky Untuk Indonesia


Bermula Dari Padatnya Negara Ini

Indonesia, negara kita yang telah merdeka selama 67 tahun masih saja terbelit permasalahan-permasalahan yang mengganjal. Belum menjadi negara maju yang bisa membuat rakyatnya semua damai dan berkecukupan tanpa masalah apa-apa. Belum memenuhi seluruh tujuan bangsa Indonesia yang tercantum di pembukana UUD 1945 yaitu,
1. Melindungi segenap bangsa Indonesia
2. Mencerdaskan kehidupan bangsa
3. Memajukan kesejahteraan umum
4. Ikut melaksanakan ketertiban  dunia
Namun, sepertinya tujuan negara tersebut masih belum bisa kita nikmati sebagai bangsa Indonesia. Masih banyak permasalahan bangsa ini. Korupsi, kepadatan penduduk, kurang meratanya penduduk Indonesia, pendidikan yang kurang, mental yang masih belum sadar akan pentingnya berbangsa dan bernegara, dan lain-lain. Dan kali ini, saya akan mengangkat tentang beberapa permasalahan bangsa yang menurut saya merupakan akar permasalahan dan mencoba memberi solusi.

Indonesia Semakin Padat
Indonesia kini merupakan rumah bagi sekitar 250 juta lebih penduduknya yang sekaligus  bergantung dan bernaung di negara kepulauan ini. Dalam pendataan penduduk oleh Kementerian Dalam Negeri, jumlah penduduk Indonesia terhitung 31 Desember 2010 mencapai 259.940.857. Jumlah ini terdiri atas 132.240.055 laki-laki dan 127.700.802 perempuan. Negara kita yang memiliki wilayah yang 2/3 bagiannya merupakan lautan, dan hanya 1/3 daratan, mulai padat sesak.
Masyarakat yang menduduki Indonesia semakin tahun semakin bertambah. Hal ini dikarenakan tingginya tingkat kelahiran di negara Indonesia ini. Memang, pemerintah sudah menggalakan program KB, yaitu dengan menegaskan betapa baiknya hidup berumah tangga dengan 2 orang anak. Namun, masyarakat Indonesia sekarang kurang menanggapi hal tersebut. Mereka tetap memiliki banyak anak bahkan ketika mereka menyadari bahwa mereka tidak mampu untuk membiayai kebutuhan mereka, mulai dari biaya pendidikan yang wajib sampai bahkan untuk makan sekeluarga sehari-hari saja susah.
Keadaan Indonesia yang sangat padat ini menurut saya merupakan pokok dari permasalahan-permasalahan yang ada di Indonesia ini. Jumlah orang yang terlalu banyak, sering dikaitkan dengan keadaan rusuh. Sulit diatur. Dan akan mengarah pada lingkungan yang padat, sesak, kumuh. Dan hal itulah yang terjadi pada kenyataannya. Warga yang hidup di wilayah yang kumuh pasti penuh sesak. Tapi kini bukan hanya orang yang kurang mampu saja yang banyak, tapi orang kaya di negeri ini juga banyak.

Pemukiman kumuh di Jakarta

Bisa dilihat, dari jumlah orang di kawasan tempat wisata atau mall, penuh sesak. Apalagi saat musim liburan. Orang seperti tidak ada matinya. Mulai dari keadaan di dalam mall atau tempat wisata yang penuh sesak dengan manusia, sampai jalanan yang kini sudah tidak ada ruang karena begitu banyak kendaraan yang melintas. Tak jarang, yang terjadi adalah kemacetan yang sangat panjang. Padahal hal itu sangat merupakan tindak pemborosan bahan bakar. Sedangkan bahan bakar masih dalam subsidi pemerintah, dan diwaktu yang sama, kita tidak menyadari berapa milyar yang telah dibuang di jalan raya tersebut oleh semua mobil.
Begitu banyak faham yang meyakinkan mereka untuk menyumbang jumlah penduduk di negara ini, tentu dengan kelahiran. Mulai dari kepercayaan ‘banyak anak banyak rezeki’ sampai yang menuju ke unsur agama seperti ‘tidak boleh menolak pemberian Tuhan’. Tetapi, tidak dapat dibenarkan juga secara logika, karena jika semakin banyak dan semakin tak terurus, negara ini semakin banyak kehilangan potensinya.
Dalam hal ini, kita harus bisa lebih meyakinkan mereka, orang yang memiliki pendapat yang sebenarnya yang untuk diterapkan di zaman sekarang ini sangat tidak baik. Dengan merubah mind set mereka, bahwa jika populasi terlalu banyak, tingkat persaingan akan semakin sulit. Dan pada akhirnya, mereka yang kalah akan semakin terpuruk.
Kita juga harus terus saling mengingatkan dan berusaha untuk memberdayakan orang-orang sekitar kita supaya menjadi berguna. Sehingga, dengan jumlah yang banyak seperti sekarang ini, dengan memiliki potensi yang baik, maka itu juga bisa membantu untuk memajukan negara Indonesia kita ini.

Penduduk & Pembangunan yang Tidak Merata
Dahulu, Indonesia mengenal sistem Transmigrasi. Yaitu, pemindahan beberapa warga dari daerah yang padat penduduknya ke suatu daerah yang lebih sepi dengan diberi keuntungan berupa lahan yang bisa mereka kelola. Hal itu sangat bagus karena bisa juga membuka potensi alam di daerah-daerah yang belum terexplore. Tetapi sekarang program tersebut sudah mulai ditinggalkan dengan berbagaimacam alasannya.
Akibatnya, kini kepadatan penduduk di Indonesia sangat tidak merata. Secara geografis, Indonesia terdiri dari 5 pulau besar dan ratusan pulau-pulau kecil yang menyebar. Tetapi pada kenyataannya, hal yang terjadi adalah penduduk banyak yang lebih memilih tinggal di pulau Jawa dan Sumatera. Dan kebanyakan mereka memilih untuk tinggal di kota-kota besar.
Persebaran penduduk yang tidak merata membawa dampak yang lumayan besar bagi Indonesia. Seperti, jika di daerah perkotaan, maka kota yang sangat padat, keadaan kota yang sangat bising sehingga kurang nyaman sebagai tempat tinggal, macet dimana-mana yang mengharuskan kita untuk bangun dan berangkat lebih pagi, polusi udara yang menumpuk yang menyebabkan berbagai macam penyakit, tingkat kriminalitas yag tinggi yang membuat kita tidak bisa merasa aman seperti dulu, mahalnya lahan untuk tempat tinggal, tempat untuk membuang sampah limbah yang kita hasilkan semakin sempit, dan dampak-dampak lainnya.
Sementara, dampak yang ditimbulkan di daerah pedesaan yang agak sepi, lapangan pekerjaan semakin mundur karena merasa semua warganya lebih memilih untuk kekota, daerah juga bisa semakin tertinggal karena potensinya kurang terbimbing atau tergali.
Tapi, mungkin hal ini, kepadatan wilayah yang tidak merata, juga didasari oleh faktor yang realistis. Menurut pembicaraan yang saya lakukan dengan beberapa orang disekitar saya, dan juga menurut pendapat saya pribadi, mereka tidak akan ingin menuju ke suatu wilayah tanpa adanya pendorong. Memang, di negara kita ini, pembangunan di beberapa daerah terlihat sangat kontras perbedaannya dengan di beberapa daerah lainnya.
Jika diamati dengan seksama, sebenarnya bisa dibilang, ‘Kita ini Indonesia atau Jawa?’. Karena pembangunan yang sangat berjalan dan sangat diperhatikan hanya pulau Jawa. Moderenisasi, penataan yang lebih baik, pembangunan, pembukaan lapangan kerja, dan lain sejenisnya hanya dipusatkan lebih banyak di pulau jawa. Sedangkan di pulau-pulau lainnya, seperti di pulau Kalimantan atau Papua, jujur saja, kita juga bahkan sangat jarang mendengar beberapa pembangunan-pembangunan di sana. Kasar katanya, ‘kurang diperhatikan’.
Padahal bisa kita akui, pulau-pulau itu merupakan daerah yang memiliki hartakarun alam yang sangat berlimpah di bawahnya. Namun, hal itu tidak bisa dikelola baik oleh negara. Sektor lain yang malah memeganya dan justru tidak menguntungkan bangsa Indonesia ini sendiri. Maka tidak heran jika mereka berbondong-bondong menuju suatu daerah yang mereka anggap maju dan mereka memiliki pikiran bahwa jika pindah dan mencari kerja di kota, maka kehidupan mereka menjadi lebih baik.
Tapi tentu saja itu salah. Sudah banyak bukti yang dapat kita lihat. Begitu banyak orang yang menganggur. Atau, mereka menunggu untuk mendapat pekerjaan. Namun sayang, karena kurangnya skill, mereka jadi tidak terpakai. Dan akhirnya hanya duduk-duduk dipinggir jalan atau bahkan beralih menjadi pelaku kriminal. Dari hal ini, kita juga bisa menyimpulkan hal ini terjadi juga karena kurangnya pendidikan.
Menyangkut hal ini, saya ingin memberikan saran bahwa dengan kenyataan pembangunan yang tidak merata, yang berbeda antar daerah seperti yang terjadi saat ini, kita harus bisa mengakalinya dengan cara menyikapinya dengan cerdik. Pasti semua daerah memiliki potensinya masing-masing. Lebih baik jika warga-warga dari daerah tersebut tetap tinggal di daerahnya. Karena, biasanya mereka yang berasal dari lingkungannya sendiri, ia akan lebih mengenal daerahnya. Hal itu bisa dimanfaatkan untung mengembangkan potensi daerah sesuai potensi yang dimiliki setiap daerah yang berbeda-beda.
Seperti contohnya, di daerah sekitar pulau Jawa memang bagus di bidang pertaniannya. Tapi di bagian Kalimantan atau Papua, memiliki potensial dibidang sumber daya alamnya yang berasal dari dalam bumi. Jadi sebaiknya, masyarakat kita bisa menelolanya dengan baik tanpa harus sama setiap daerah.
Dan untuk pemerintah, sebaiknya di daerah-daerah juga dibangun lapangan pekerjaan yang bisa menampung warga daerah tersebut tanpa harus pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Permerataan ini bukan berarti penyamarataan, tapi untuk mencukupi dan mempermudah masyarakat mencari pekerjaan tanpa berpikiran ‘di desa tidak ada kerjaan, jadi mencari kerja harus di kota’.

Pendidikan yang Tidak Berfungsi Dengan Semestinnya
Pembangunan yang diakibatkan oleh persebaran yang tidak merata juga berdampak bagi pendidikan. Pendidikan yang kurang, sebenarnya jika kita sadari, itu merupakan hal yang sangat fatal. Generasi muda, sebagai penerus bangsa, seharusnya mendapatkan pendidikan semaksimal mungkin. Tapi karena pembangunan yang berbeda, kualitas pendidikan yang diberikan juga berbeda.
Tidak dapat dipungkiri, walaupun telah diadakan ujian negara, yaitu ujian yang dilakukan serentak di Indonesia, tapi tingkat kesulitannya tetap berbeda. Hanya beberapa  nomer yang sama di seluruh Indonesia. Tapi, beberapa nomer lainnya disesuaikan dengan Provinsi/Kota yang bersangkutan. Seperti pada contohnya, (maaf) secara logika, tidak mungkin soal yang diberikan kepada anak-anak siswa/siswi di Jakarta dengan ditambah mengikuti les-les tambahan disamakan dengan anak-anak siswa/siswi dyang bersekolah di suatu pelosok daerah yang kadang belajar kadang tidak. Hal itu tidak adil jika disamakan, karena prosesnya juga sudah berbeda.
Dan kini, bahkan masih ada anak-anak yang putus sekolah karena biaya pendidikan yang terlalu berat. Mereka tidak sanggup untuk membayar biaya mereka untuk bersekolah dan lebih memilih untuk langsung bekerja; jualan koran, jual minuman, dan sebagainya.
Pendidikan yang seharusnya didukung oleh pemerintah dengan memberikan sekoloah gratis, pada kenyataannya tidak berjalan dengan semestinya. Dana BOS (biaya operasional sekolah) menjadi santapan empuk bagi para koruptor.
Sekolahan yang tidak layak

Menurut saya, jika dalam sistem yang sekarang ini, dengan masih adanya anak yang putus sekolah, biaya sekolah yang mahal, dan sebagainya; memang dalam ujian nasional harus tidak disamaratakan karena itu tidak adil. Tapi, solusi yang paling baik adalah dengan menyamaratakan level pendidikan di seluruh penjuru Indonesia. Hal ini dilakukan agar tingkat pendidikan yang diterima dan diberikan sama.
Dengan memberantas orang-orang yang tidak bermoral dengan mencuri uang-uang dana untuk sekolah, uang tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu memberikan kelengkapan alat belajar bagi sekolah yang masih kekurangan, merenovasi sekolah-sekolah yang tidak layak, dan yang terpenting mewujudkan pendidikan gratis khususnya bagi masyarakat yang tidak mampu untuk membayar  biaya sekolah agar bisa menempuh pendidikan wajib minimal 12 tahun.

Demikianlah beberapa permasalahan dari suatu pokok permasalahan yaitu kepadatan penduduk yang saya utarakan dalam artikel ini dan berikut solusi, saran, dan pendapat saya mengenai permasalahan-permasalahan tersebut. Saya harap dengan membahas permasalahan dan solusinya, kita dapat mengusahakan untuk membangun dan memulai memajukan negara kita Indonesia supaya terbebas dari permasalahan-permasalahan ini. Dan yang lebih baik lagi, supaya Indonesia juga bisa merealisasikan dan mewujudkan cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia.


Sumber :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar