Minggu, 23 September 2012

Tugas-3 Solusi Labsky Untuk Indonesia


Benahi pendidikan, baik yang formal maupun informal

Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar yang berada di dunia. Sebagai sebuah Negara kepulauan tentunya peresebaran penduduk Indonesia terpisah antara satu pulau dengan yang lainnya—dari Sabang hingga Merauke. Namun hal ini tidaklah boleh menjadi sebuah penghalang bagi seluruh rakyat Indonesia untuk menerima pendidikan yang layak. Selain layak, tentu saja setiap daerah berhak menerima pendidikan yang kualitasnya sama dengan penduduk yang berada di kota-kota besar. Baik itu mereka yang berada di desa-desa, maupun mereka yang berada di daerah terpencil dan jauh dari jangkauan orang  lain pada umumnya.
Karena, pendidikan merupakan hal yang sangatlah dibutuhkan bagi seseorang hingga sebuah Negara agar mereka dapat terus maju dan tentunya terbebas dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan dari Negara-negara lainnya. Oleh karena itu mereka haruslah menerima pendidikan diberbagai macam hal dalam hidup ini.
Bicara soal pendidikan, apasih pendidikakan itu sebenarnya?
Pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelaharab agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Dari  makna tersebut dapat kita simpulkan bahwa pendidiakan merupakan hal yang mutlak dibutuhkan oleh semua orang, baik itu pendidikan secara formal dengan masuk ke lembaga pendidikan dari berbagai macam tingkatan seperti Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga Universitas. Dan semua lembaga ini—baik lembaga dari pihak Negara atau lembaga dari pihak swasta—memiliki kurikulum tersendiri seperti reguler, aksel, ataupun internasional. Melalui pendidikan formal, seorang individu dapat memperoleh pendidikan untuk meningkatkan kecerdasan melalui semua pelajaran yang ada, dan pembentukan kepribadian jika bersosialisasi dengan banyak orang baik yang sebaya maupun lebih tua dan muda.
Selain itu ada pula pendidikan yang bersifat informal. Pendidikan seperti ini tidak harus masuk ke sebuah lembaga pendidikan tertentu. Pendidikan secara informal dapat diterima orang baik dengan cara menjalani kehidupan sehari-hari melalui semua pengalaman yang telah mereka pelajari selama hidup mereka. Tentunya lingkungan sosial sanagtlah berpengaruh dengan pendidikan informal yang diterima oleh seseorang, terutama lingkungan keluarga dan teman bermain sebaya.
Masalah:
Keluarga menjadi sangat berpengaruh karena merupakan media sosial yang pertama kali diterima oleh seorang individu sejak usia dini. Maka dari itu keluarga harus memberikan contoh yang baik kepada orang disekelilingnya. Karena jika keluarga baik maka sudah ada dasar yang baik juga untuk perkembangan individu kedepannya. Namun pada kenyataannya, banyak keluarga yang justru memberikan contoh seperti prilaku atau kebiasaan bahkan mengajarkan hal yang tidak baik kepada sanak saudaranya sehingga prilaku atau kebiasaan buruk yang ditunjukkan oleh lingkungan keluarga dapat diserap dan diterapkan oleh seorang individu tersebut dengan cepat. Bahkan ada keluarga yang dengan sengaja mengajarkan seluruh anggota keluarganya terutama anak-anak mereka untuk mencopet, mencuri, atau berbuat kejahatan dengan sengaja. Hal ini banyak kita temui di Indonesia, karena Indonesia masih tergolong sebagai Negara yang berkembang sehingga secara otomatis masih terdapat banyak waga Negara yang berpenghasilan rendah dan masuk dalam golongan kurang mampu atau yang lebih dikenal dengan sebutan miskin. Sedangkan biaya kehidupan terus naik hal ini yang mendorong mereka mengajarkan hal yang tidak baik tersebut kepada anak-anak mereka.
Solusi:
Maka dari itu seharusnya pihak keluarga lebih memperhatikan etika jika sedang bersama individu yang masih mengalami pembelajaran atau yang prilakunya masih belum terbentuk. Harus ada kesadaran dari diri sendiri agar dapat menjaga sikap baik tersebut. Ada berbagai cara agar dapat membina keluarga menjadi lebih baik, seperti melalui cara memperdalam agama, seperti membaca kitab suci yang dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan oleh masing-masing agama yang berada di Indonesia. Karena tentunya pedoman setiap agama tersebut akan menjelaskan bagaimana menjalankan keluarga yang baik. Namun ada cukup banyak keluarga yang tidak tertarik untuk mempelajari agama lebih dalam, karena mereka sudah mengenal dunia yang lebih modern dan pada umumnya dunia modern banyak melupakan hal-hal yang berhubungan dengan agama. Sehingga ada cara lain yang dapat meningkatkan sedaran untuk mengajarkan hal-hal yang baik, seperti dengan cara menayangkan iklan-iklan yang memiliki moral tersendiri yang tentunya akan mudah diserap oleh setiap orang karena melalui cara yang lebih sederhana dan secara ringan.
Masalah:
Semakin bertambahnya usia, atau saat memasuki usia remaja, banyak sekali individu yang mengalami masa-masa labil dalam hidupnya. Dalam masa ini pada umumnya seorang individu sedang mencari jati diri mereka sendiri. Pada masa ini pula seorang individu akan dengan mudah dapat menerima pengaruh baik itu positif maupun negatif dari lingkungan pergaulan teman sebayanya. Biasanya waktu lebih banyak dihabiskan dengan lingkungan pertemanan seseorang yang memasuki usia seperti ini.
Banyak pula pengaruh buruk yang dapat diambil dari pendidikan informal yang berasal dari anak-anak usia remaja di Indonesia. Masyarakat remaja di Indonesia dapat dengan mudah menerima pengaruh apapun itu yang berasal dari luar dan tidak sesuai dengan moral bangsa dan Negara kita ini. Dan pengaruh itu dapat tersebar dengan cepat jika orang tersebut belajar dari lingkungan yang memiliki kebiasaan yang baik itu.
Solusi:
Memang susah untuk menghilangkan semua pendidikan informal yang berasal dari lingkungan sosial. Namun kita dapat merubah hal buruk tersebut menjadi lebih baik dengan perlahan-lahan. Dimulai dari diri kita sendiri. Kita harus bisa memilah mana yang benar dan mana yang tidak sesuai dengan moral, etika serta nilai-nilai kebudayaan bangsa. Kita harus menerima hal-hal yang baik dan sesuai serta patut di tiru, mau menerima perubahan ke arah yang lebih positif dan meninggalkan hal-hal yang dianggap tidak baik dan tidak sesuai dengan etika, moral dan budaya bangsa.
Tidak ada gunanya jika kita kerap mengingatkan orang lain, namun tidak ada perubahan dalam diri kita sendiri. Jika setiap orang sadar akan hal ini maka akan banyak orang yang menjadi lebih baik dalam menjalani kehidupan bernegara di Indonesia, Tentunya jika tidak dimulai dari kesadaran oleh setiap batin masyarakat, maka tidak akan ada masyarakat yang dapat berubah.
Kita dapat dengan mudah memberikan contoh yang baik mulai dari hal yang kecil seperti tersenyum pada orang, membantu orang yang kesusahan—disaat yang tepat tentunya, yang berarti tidak saat mencontek dan sebagainya. Atau cukuo dengan menunjukkan sikap yang saying dan contoh prilaku baik kepada lingkungan. Kemudian kita juga harus peduli pada lingkungan, bukan berarti hanya merubah dari diri sendiri saja. Kita juga perlu menyadarkan lingkungan kita untuk berprilaku yang baik. Karena pada umumnya orang akan lebih mudah menerima pendidikan yang diajarkan melalui orang lain dengan cara yang tidak terlalu formal. Dengan begini tentunya pendidikan informal yang berasal dari lingkungan sosial dapat menjadi pendidikan yang baik.
Selain pendidikan informal yang baru saja disebutkan, di Indonesia sendiri, terapat banyak sekali lembaga pendidikan formal yang dapat ditemui baik itu yang bersifat lembaga pendidikan milik Negara ataupun lembaga pendidikan yang dimiliki oleh pihak swasta. Terutama di Ibu Kota Indonesia, yakni Jakarta, disini terpusat banyak sekali lembaga pendidikan.
Masalah:
Jika kita berkunjung ke daerah lainnya di Indonesia, kita akan menemukan perbedaan yang sangat jauh, seratus delapan puluh derajat sangat berbeda dengan Jakarta. Misalkan saja daerah Sukabumi, jangankan fasilitas, beberapa sekolah disini bahkan  hanya memiliki dua buah kelas. Gedung mereka beralaskan tanah, atap mereka bocor bahkan tembok yang membatasi kedua buah kelas sudah bolong. Tidak ada fasilitas lain yang melengkapi sekolah ini selain sebuah papan kapur pada setiap kelas, serta beberapa meja dan kursi yang diisi dengan sangat berdesak-desakkan oleh semua murid sekolah ini yang hampir tidak tertampung.
Kemudian, banyak sekali lembaga pendidikan. Mulai dari lembaga pendidikan formal maupun lembaga pendidikan informal, baik itu milik swasta, milik Negara, maupun milik Negara asing. Sehingga orang-orang yang mampu membayar biaya untuk menyekolahkan anaknya maka anaknya akan mendapat ilmu yang sepadan dengan apa yang telah dikeluarkan oleh orang tuanya. Kata sepadan memilliki arti yang sangat dalam jika menyangkut masalah pendidikan yang sedang dibicarakan sekarang ini. Karena tentunya untuk menyekolahkan anak membutuhkan biaya yang berbeda-beda tergantung dari lembaga apa yang dipilihnya.
Misalnya untuk lembaga pendidikan yang milik swasta, biaya untuk masuknya saja sudah memakan biaya lebih dari sepuluh juta rupiah. Namun tentunya biaya yang besar tersebut sebanding dengan apa yang nantinya akan mereka dapat disekolah yang mereka pilih tersebut. Seperti fasilitas yang lengkap, ruangan yang full dengan AC, gedung yang hampir menyamai kantor bahkan memiliki lift. Tentu saja semua kemewahan ini hanya dapat dinikmati oleh mereka yang berada dan masuk ke dalam golongan orang kaya yang mampu membiayai anaknya bersekolah yang memiliki biaya yang tinggi.
Namun tentu saja berbeda dengan sekolah yang biayanya jauuh lebih murah dibandingkan dengan sekolah yang memakan biaya besar tersebut. Masalah yang dapat mereka temui anrara lain perpustakaan yang tidak lengkap bukunya, laboratorium yang semua peralatannya tidak selengkap dengan apa yang ada di sekolah berbiaya tinggi, dan masih banyak perbedaan yang dapat diterima oleh para pelajar. Orang yang tidak memiliki biaya yang cukup tentu saja akan memilih untuk menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan yang berbiaya lebih rendah, sesuai dengan kemampuan mereka.
Hal ini tentunya sangat memprihatinkan, karena bukan berarti karena sekolah tersebut berbiaya rendah makan fasilitas dan standar yang mereka miliki juga rendah. Seharusnya mereka juga memiliki fasilitas yang memadai karena tentu saja semua ilmu yang didapat akan terus berkembang dari masa ke masa dan membutuhkan banyak fasilitas serta diseuaikan pula dengan perkembangan zaman dan teknologi. Seperti pelajaran biologi yang membutuhkan mikroskop, pelajaran kimia dan fiska yang  membutuhkan laboraturium serta semua perlengakapan dan peralatannya.
Solusi:
Pemerintah seharusnya membuat standar bagi setiap sekolah. Dan tidak hanya menentukan standar saja, mereka juga harus menyediakan semua yang dibutuhkan sesuai dengan standar yang telah mereka tentukan tersebut. Agar setidaknya mereka yang hanya mampu membiayai pendidikan di lembaga yang berbiaya rendah tetap merasakan semua fasilitas yang memadai. Dan setidaknya tidak terlalu berbeda jauh dengan sekolah lainnya. Walaupun mungkin memang tidak selengkap dengan apa yang diterima oleh mereka yang membutuhkan biaya yang sangat tinggu untuk masuk ke sebuah lembaga pendidikan. Tetapi jika ada standar, pasti setidaknya mereka yang bersekolah di sekolah yang biasa saja tetap memiliki ilmu yang masih bisa sebanding dan tidak berbeda terlalu jauh dengan yang berfasilitas lengkap. Jika fasilitas sudah memadai dan sesuai dengan standar yang ada tentu saja pembelajaran juga dapat berlangsung dengan lebih efektif. Jika pemebelajaran efektif maka tentu saja akan memajukan semua yang telah mengenyam pendidikan dari lembaga tersebut.
Masalah:
Mungkin banyak sekali pelajar-pelajar di sekeliling kita. Pada kenyataannya banyak juga orang-orang disekeliling kita yang tidak bersekolah. Mereka yang berlatar belakang berasal dari keluarga yang kurang mampu banyak yang hanya mengenyam pendidikan hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) saja, bahkan banyak diantara mereka yang terpaksa putus sekolah, atau bahkan tidak mengenyam pendidikan secara formal dari sekolah atau lembaga pendidikan formal lainnya. Beruntunglah bagi kita yang mampu merasakan bersekolah di  tempat manapun itu, baik yang berbiaya tinggi maupun biasa saja, karena masih banyak orang Indonesia yang ingin belajar. Jadi kesempatan kita untuk belajar janganlah disia-siakan begitu saja.
Solusi:
Pemerintah seharusnya bertindak tegas terhadap kenyataan betapa menyedihkannya pendidikan yang ada di Indonesia. Mereka seharusnya memberikan pemberataan ke setiap daerah agar semua orang dari manapun itu tidak peduli kota besar maupun pelosok desa sekalipun menerima pendidikan secara formal dan tidak hanya Sembilan tahun saja. Uang yang seharusnya disalurkan untuk pendidikan jangan diambil untuk keuntungan pribadi setiap anggota pemerintah.
Mereka juga bisa membuat kartu pelajar yang berjangka waktu dua belas tahun agar untuk menandakan bahwa mereka kurang  mampu dalam hal biaya untuk bersekolah sehingga dapat menjamin mereka untuk bersekolah dan menerima pendidikan formal secara layak tanpa dipungut biaya—baik itu biaya sekolah maupun biaya perlengkapan buku pribadi.
Selain dengan penentuan standar pada setiap sekolah dan pembuatan kartu pelajar geratis, harus ada kesadaran juga dari pihak siswa-siswi untuk saling membantu teman sebayanya yang mengalami pendidikan. Harus ditanamkan dalam diri mereka rasa solidaritas kepada bangsa dan Negara Indonesia.
Usaha yang dapat dilakukan oleh siswa-siswi adalah seperti dengan berbagi ilmu yang mereka miliki lebih kepada mereka yang kurang memiliki pengetahuan yang sepadan dengannya tanpa pamrih, ikhlas dan tidak mengharap imbalan sedikitpun dari mereka yang suda diajari.
Atau membangun sekolah geratis secara sukarela khusus bagi para orang yang tidak mampu. Sekolah tersebut juga dapat mengajarkan hal-hal yang mungkin saja tidak ditemukan di sekolah-sekolah biasanya seperti menari, komputer dan sebagainya dengan diajarkan oleh orang yang sukarela baik itu berasal dari dalam maupun luar negri.
Karena jika setiap warga Negara mendapatkan pendidikan yang baik, maka Indonesia kedepannya tentunya akan menjadi lebih baik dan tidak dipandang sebelah mata lagi oleh Negara lain. Pelajar-pelajar ini lah yang nantinya akan menjadi pemimpin Indonesia dimasa depan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar