Jumat, 07 September 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky Untuk Indonesia


Pembajakan Karya Intelektual di Indonesia

Pembajakan hak cipta adalah sesuatu yang pantas untuk diperjuangkan haknya. Karena hak cipta menyangkut sang pembuat dan hak-hak dari sang pembuat itu sendiri. Sedangkan, di Indonesia hak cipta akan suatu barang kurang dilindungi. Pembajakan hak cipta ini menyangkut pembajakan film, software, CD, MP3 dan masih banyak lagi.
Kesadaran masyarakat Indonesia tentang hak cipta dirasa sangat kurang. Hal ini dibuktikan dengan kasus pelanggaran hak cipta di Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
 Data dari Lembaga US Trade Representative mencatat angka pelanggaran hak cipta mencapai 15%, namun pada tahun 2010 angka pelanggaran hak cipta di Indonesia meningkat tajam hingga mencapai 500%. Bahkan pada saat itu Indonesia dimasukkan dalam kategori Priority Watch List. Kesadaran masyarakat tentang hak cipta yang sangat kurang dirasa menjadi faktor utama tingginya pelanggaran hak cipta di Indonesia.
            Indonesia masuk kedalam watch list Amerika Serikat karena Indonesia termasuk beberapa Negara yang bermasalah dalam pembajakan hak cipta dan karya intelektual. Negara-negara yang masuk watch list ini seperti Indonesia, Cina, Israel, Rusia, Thailand, India dan Kanada. Amerika Serikar berkepentingan dalam menyusun daftar ini mengingat sebagian besar ekspor mereka terkait dengan hak cipta.
DVD Bajakan yang ditemukan saat razia

            Menurut kantor berita Reuters, penyusunan daftar terbaru itu diumumkan oleh kantor Perwakilan Dagang AS di Washington DC pada Senin waktu setempat. Daftar tahunan itu dikenal dengan nama Special 301 Report.

"Laporan Special 301 tahun ini lebih signifikan, mengingat data pemerintah AS menunjukkan bahwa industri yang terkait dengan hak cipta telah mendukung 40 juta pekerjaan bagi rakyat Amerika dan hingga 60 persen ekspor AS," demikian Kepala Perwakilan Dagang AS, Ron Kirk, yang bertugas memperjuangkan kepentingan dagang AS di mancanegara.   

AS tahun ini menggolongkan Indonesia dalam daftar "priority watch list" untuk pelanggaran hak cipta.     Namun, Indonesia tidak sendiri. Di daftar itu juga terdapat China, Rusia, Argentina, Kanada, India, Aljazair, Chile, Israel, Pakistan, Thailand, Ukraina, dan Venezuela.
             Negara-negara penghuni priority watch list nyaris sama dengan yang disusun AS tahun lalu. Namun, tahun ini punya satu pendatang baru, yaitu Ukraina.  

Daftar negara yang paling bermasalah dengan pelanggaran hak cipta ini tidak berakibat munculnya sanksi. Namun, sekadar untuk membuat efek malu bagi pemerintah negara yang bersangkutan untuk lebih giat lagi memberantas pembajakan dan pemalsuan merek dagang serta memperbaiki penegakan hukum masing-masing di bidang perlindungan kekayaan intelektual. 

Negara yang paling sering menghuni daftar priority watch list adalah Rusia, yaitu 16 tahun berturut-turut. China pemegang rekor delapan tahun berturut-turut.
 Sementara itu, ada sejumlah negara yang naik status dari kelompok "watch list," yang setingkat lebih baik dari "priority watch list." Mereka adalah Malaysia dan Spanyol. 

Menurut Kirk, Malaysia tidak lagi masuk watch list, karena pemerintah setempat telah mengambil sejumlah langkah untuk memperkuat perlindungan dan penegakan hak kekayaan intelektual serta menerbitkan peraturan yang melindungi data uji farmasi. 

Sedangkan Spanyol, menurut AS, berhasil menerapkan sejumlah peraturan untuk memerangi pembajakan hak cipta di Internet.
Software-software illegal

           Hak cipta sendiri merupakan hak ekslusif bagi pencipta atau penerima hak untuk memperbanyak ciptaannya atau memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut perundang-undangan yang berlaku. Peraturan mengenai hak cipta ini diatur dalam Undang-undang No. 19 Tahun 2002 yang telah berlaku sejak Juli 2003 lalu. Melalui undang-undang ini, pelanggar hak cipta dapat dipidana dengan pidana penjara paling singkat satu bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 atau pidana penjara paling lama 7  tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 sesuai dengan bunyi UU No. 19 Tahun 2002 ayat 1. Hak-hak yang tercakup dalam hak cipta antara lain adalah hak perbanyakan (right of reproduction), hak mempertunjukkam (right of performance), hak memamerkan (right of exhibition), hak menuturkan (right of recitation), hak menyebarkan (right of public transmission), dan hak menyajikan (right of presentation.
Hingga tahun 2012, pelanggaran hak cipta di Indonesia masih sangat tinggi. Pelanggaran berupa pembajakan software komputer mendominasi pelanggaran hak cipta di Indonesia. Hasil survey terbaru lembaga bisnis software  (Business Software Alliance) dan International Data Corporation (IDC) menunjukkan tingkat kerugian akibat pembajakan software di Indonesia mencapai angka 89% dengan nilai sebesar USD 1,3 miliar. Angka ini menempatkan Indonesia di urutan kesebelas negara dengan angka pembajakan terbesar di dunia. Tidak bisa dipungkiri, kemajuan teknologi di bidang informasi mendorong masyarakat dengan mudah untuk menggunakan software ilegal.
Contoh Software palsu

            Hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah mengurangi pembajakan itu sendiri dengan tidak mengkonsumsinya. Salah satu yang dapat terjadi disekolah adalah ketika ingin membeli buku pelajaran, lenih baik membeli buku sendiri daripada meng-fotokopinya. Karena buku itu sendiri juga dilindungi oleh hak cipta dari sang penulis. Hal ini tertulis di halamaan awal suatu buku bahwa tertera Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. Yang berisi pasal 2 tentang lingkup hak cipta dan pasal 72 tentang ketentuan pidana. Hal ini jelas tidak dapat dianggap remeh, karena jika hal ini tidak disengaja, maka akan dijatuhkan pidana penjara maksimal 7 Tahun dan denda paling banyak Rp 5.000.000.000,-.
            Guru juga dapat berandil besar, seperti ketika ingin menonton film untuk disuguhkan kepada muridnya, gunakan DVD asli, bukan hasil dari pembajakan. Lalu, software-software yang digunakan di lab komputer juga adalah software asli, bukan yang bajakan. Dari sebagaimana yang kita tahu bahwa pembajakan DVD dan software sangatlah tinggi di Indonesia dan sangat mudah diakses dengan harga yang sangat terjangkau. Tidak seperti jika kita ingin membeli produk asli. DVD bajakan mungkin hanya Rp5.000,- sampai Rp15.000,-. Sedangkan untuk membeli yang asli kita harus mengeluarkan uang sekitar Rp 80.000-150.000,-. Jelas dari harga kita dapat melihat bahwa masyarakat Indonesia, terutama kota-kota besar lebih menyukai membeli yang tidak asli atau hasil pembajakan. Karena harga sebuah DVD asli dapat seharga hingga lebih dari 10 kalinya harga DVD yang tidak asli. Beberapa masyarakat Indonesia sudah menyadarinya, tetapi masih ada juga yang hanya membeli DVD asli untuk hasil produk Indonesia. Malah, ada yang membeli DVD hasil bajakan mau itu produk Indonesia atau produk luar negri. Pembajakan DVD juga menyebabkan jasa peminjaman DVD yang asli menjadi merugi, karena harga sebuah DVD bajakan lebih murah dibandingkan jika harus meminjam DVD asli.
Contoh DVD Bajakan

            Kita juga dapat menghindari pembajakan atas benda-benda fashion, seperti tas, sepatu atau pakaian. Hal ini juga dipicu oleh ke gengsi-an pada masyarakat Indonesia terutama pada kaum wanita. Jika melihat temannya membeli sesuatu, dia juga ingin barang seperti itu.  Hal ini juga terjadi karena perbedaan kasta social di Indonesia. Pada masyarakat menengah keatas, membeli barang-barang mewah seperti tas-tas yang bermerek terkenal mungkin tidak terlalu sulit. Tetapi, untuk masyarakat menengah kebawah hal itu sulit untuk dilakukan mengingat harganya yang tinggi. Sehingga, terjadilah pembajakan. Banyak tas-tas bermerek terkenal seperti Louis Vuitton, Chanel, Longchamp, Gucci dan merek-merek terkenal lainnya ditiru modelnya. Beberapa butik Louis Vuitton dan Hermes di Eropa membatasi pembelian tasnya terhadap seorang pembeli karena takut jika barang itu akan ditiru, apalagi jika sang pembeli orang Asia seperti orang Cina. Karena, di Cina terkenal dengan para pembajak tasnya yang sangat ahli.
            Tak hanya dari diri kita sendiri, tetapi juga dari penegak hukum. Para penegak hukum seharusnya lebih sering melakukan razia ditempat-tempat yang banyak menjual barang-barang yang melanggar hak cipta. Sehingga, para pembajak dapat dikenakan sanksi dan kapok akan tindakannya. Kita harus mencontoh Malaysia dan Spanyol seperti yang telah diceritakan diatas dalam memerangki pembajakan dalam karya intelektual. Karena, pembajakan dapat menyebabkan banyak perusahaan merugi dan merasa bahwa hasil karyanya tidak di apresiasi dengan membiarkan seseorang untuk membajaknya dengan mudah.
Protes masyarakat terhadap barang bajakan dengan cara membakar DVD dan VCD bajakan

            Beberapa artis menghindari pembajakan dengan cara menyediakan hasil karyanya di internet secara gratis. Sehingga seluruh kalangan masyarakat dapat mengaksesnya tanpa memakan biaya yang besar. Beberapa juga mengurangi harga CD mereka, sehingga masyarakat dapat menikmati karya mereka dengan lebih mudah.
            Coba rasakan, ketika kita membuat suatu karya intelektual yang seharusntya dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta, dengan sangat mudahnya disebar luaskan dan digandakan oleh orang lain tanpa sepengetahuan kita dan kita tidak mendapatkan apa-apa dari hasil jerih payah kita itu ? Pasti tidak ada yang mau hal itu terjadi. Maka dari sebab itu, melindungi hak cipta dan karya intelektual sangatlah penting dan kita harus membuka mata kita tentang apa yang terjadi di dunia ini terutama Indonesia bahwa hak cipta sangat mudah diselewengkan. 

sumber :
http://dunia.news.viva.co.id/news/read/309208-as--ri-masuk-daftar-pelanggaran-hak-cipta
http://thehowdyindonesia.blogspot.com/2012/05/kesadaran-masyarakat-tentang-hak-cipta.html
google.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar