Rabu, 19 September 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky Untuk Indonesia



                          Bergerak Untuk Menyelesaikan Masalah
Setiap hari kita sering membaca di koran atau mendengarkan radio.  Banyak sekali masalah yang terjadi di Indonesia ini.  Sampai-sampai kita bosan mendengarnya.  Benarkah kita tidak bisa memberikan solusi yang baik untuk masalah yang terjadi di Indonesia?
Negara ini bisa dibilang mempunyai banyak masalah.  Baik dibidang ekonomi maupun masyarakat. Masalah yang akan saya tulis ini didapatkan dari informasi penulis baik di media massa maupun pengamatan sendiri.  Masalah-masalah yang dimaksud adalah:
1.       Korupsi
2.       Hutang Luar Negeri
3.       Masyarakat Indonesia Lebih Konsumtif
4.       Kemiskinan
Masalah pertama yang akan dibahas adalah korupsi.  Definisi korupsi sendiri adalah penyalahgunaan baik dalam jabatan, uang, waktu dan lain-lain jika disalahgunakan oleh seseorang yang diberi wewenang memegang amanah tersebut ternyata ia malah menggunakan wewenang itu untuk kepentingannya dia sendiri, keluarganya, dan golongannya.   Korupsi berasal dari bahasa latin corruptio dari kata kerja corrumpere yang berarti busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalikkan, dan menyogok.

Banyak hal yang menyebabkan orang-orang bisa terjerumus ke dalam korupsi.  Budaya merupakan salah satunya.  Yang dimaksud budaya di sini adalah sesuatu yang diwariskan turun temurun.  Dan budaya itu tidak selamanya baik.  Budaya bisa diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya baik dengan pembelajaran secara langsung atau tidak langsung.  Misalnya ketika seorang karyawan senior meninggalkan kantor sebelum jam pulang atau datang terlambat lalu diikuti oleh karyawan junior maka bisa dibilang karyawan senior itu mewariskan budaya korupsi ke karyawan juniornya tanpa disadari.  Jika kantor tidak berusaha untuk menghentikan budaya ini dengan cara menjadi atasan yang baik dengan memberikan budaya yang baik pula maka lama kelamaan budaya kantor bisa berubah menjadi lebih buruk karena karyawannya akan datang terlambat dan pulang lebih cepat semua.
Faktor korupsi ada yang berupa faktor internal dan faktor eksternal.  Faktor internal datang dari niat untuk korupsi dan faktor eksternal datang dari kesempatan yang ada untuk korupsi.  Selain itu, ada faktor enrichment yaitu karena adanya niat dan kesempatan(faktor internal dan eksternal).
Banyak sekali dampak negatif yang dihasilkan dari korupsi. Misalnya saja di bidang ekonomi.  Korupsi bisa membuat pembangunan sektor-sektor public menjadi kian tersendat.  Karena anggaran APBD maupun APBN pemerintah yang harusnya dialokasikan untuk kepentingan rakyat seperti infrastruktur, pendidikan, dan sebagainya tidak bisa terealisasikan karena dana yang ada berhasil dikorupsi oleh orang yang tidak bertanggung jawab.  Dengan tidak jelasnya pembangunan infrastruktur nantinya akan memberikan dampak efek domino kepada publik.  Misalnya karena jalan-jalan tidak bagus, masyarakat menjadi susah melaksanakan mobilitas dan hal ini berpengaruh besar bagi perekonomian.  Karena terhambatnya pembangunan faktor publik, maka kebijakan pemerintah yang pro rakyat menjadi sia-sia akibat maraknya korupsi.  Hal ini dapat menambah kemiskinan, pengangguran, dan masalah sosial.  Akibat kebijakan pemerintah yang tidak optimal maka kualitas pelayanan masyarakat di berbagai bidang pun menurun.  Dan semua hal itu mengakibatkan masyarakat menjadi tidak percaya kepada pemerintah.
Cara paling tepat untuk mengakhiri budaya ini adalah dengan pendidikan.  Baik berupa pendidikan sekolah atau pendidikan agama.  Fakta yang ada, sedikit sekolah dan universitas yang memasukkan pendidikan anti korupsi sebagai kurikulum mereka.  Pendidikan anti korupsi bisa efektif jika ditanamkan sedini mungkin.  Seharusnya pendidikan korupsi dimasukkan ke kurikulum pendidikan nasional.  Karena saat ini pendidikan hanya berorientasi pada hasil akhir saja sehingga proses bagaimana cara sang siswa mendapatkan nilai bagus tidak jadi soal, yang penting nilai 90-100.  Bisa jadi siswa tersebut mendapatkan nilai 90-100 dengan cara tidak halal.  Selain itu anak-anak harus dikenalkan bagaimana orang bisa dianggap melakukan korupsi dan dikenalkan apa itu korupsi.  Agama juga mempunyai peran penting dalam pendidikan anti korupsi.  Pendidikan agama harus mencakup bukan hanya tentang ritual keagamaan saja, tetapi juga harus mencakup pendidikan budi pekerti atau akhlak sehingga dapat menghasilkan generasi yang berbudi pekerti luhur.  Karena banyak sekali orang yang rajin sholat tersandung kasus korupsi.  Ini menunjukkan bahwa agama tidak cukup hanya ritualnya saja, tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.  Agama mengajarkan kita untuk jujur, amanah, dan tanggung jawab.  Sehingga orang yang rajin sholat tapi melakukan korupsi harus dipertanyakan status keagamaannya karena berarti agamanya belum sempurna. 
Ketika korupsi sudah terlanjur terjadi, maka kinerja lembaga pemberantasan korupsi sangat diperlukan.  Mereka harus merupakan lembaga yang netral, tidak memihak pihak manapun.  Karena jika tidak, maka pemberantasan korupsi tidak bisa berjalan maksimal.  Mereka harus bisa melakukan penyelidikan dengan baik.  Selain kinerja dari lembaga korupsi, dukungan dari lembaga-lembaga pemerintahan sangat diperlukan.  Kita sering mendengar berita dimana ada saja lembaga-lembaga yang tidak mau melaporkan kekayaan mereka kepada lembaga pemberantasan korupsi.  Seharusnya jika mereka memang murni tanpa korupsi harusnya mereka tidak protes ketika kekayaannya dipertanyakan.  Oleh karena itu, transparansi lembaga-lembaga pemerintahan sangat dibutuhkan untuk membantu suksesnya pemberantasan korupsi.

Masalah yang kedua ini lagi-lagi sudah menjadi problema di negara kita.  Yaitu hutang luar negeri yang kian menumpuk.  Fakta yang ada adalah setengah dari anggaran negara digunakan untuk pembayaran hutang.  Hutang-hutang Indonesia ini didominasi oleh hutang swasta.  Sampai April 2012, hutang Indonesia mempunyai total 1.944,14 triliun dengan rincian pinjaman luar negeri sebesar Rp 638 triliun, pinjaman dalam negeri sebesar Rp 1 triliun, dan sisanya Surat Berharga Negara(SBN) sebesar Rp 1.304 triliun.  SBN ini terdiri dari nilai harga valas sebesar Rp 246,74 triliun dan nilai harga rupiah sebesar Rp 1.057 triliun.  Alasan yang dikemukakan mengapa kita masih banyak hutang adalah karena APBN negara masih deficit dan pemerintah masih harus melakukan refinancing utang atau membayar hutang yang lama dengan mengambil hutang yang baru yang biasanya dalam jumlah yang sama dan dengan jaminan yang sama selama 10 sampai 20 tahun.  Bisa dibilang seperti menutup lubang yang lama dengan cara menggali lubang baru.  Ada sebuah anekdot yang mengatakan seperti ini: Jika anak anda lahir ke dunia ini, maka jangan lupa memberitahukan “Nak, kamu menanggung beban hutang sebesar Rp5.000.000,00”

Solusi untuk masalah ini adalah negara ini harus lebih mandiri.  Yang dimaksud dengan mandiri adalah negara kita ini harus bisa menghasilkan uang sendiri.  Menurut Standard And Poor, Indonesia ditetapkan sebagai negara dengan tingkatan investasi Great. Artinya Indoneisa ini layak untuk investasi.  Efek dari rating ini adalah banyak investor luar negeri yang berbondong-bondong menginvestasikan modal  dan pembangunan pabrik.  Hal ini jika birokrasi perijinan dipermudah sehingga tidak memakan waktu lama dan pungli atau pungutan liar yang saat ini banyak dikeluhkan investor asing harus dihilangkan. 
Lalu penguasaan dan pengelolaan atas sumber alam baiknya ditangani oleh pemerintah, BUMN, atau pengusaha local sehingga nilai tambahnya dapat langsung dinikmati oleh masyarakat dan keuntungan untuk pemerintah besar.  Contohnya adalah PT Freeport dimana fungsi pemerintah hanya mendapatkan fee sedangkan bahan mentah dan nilai tambahnya dikirim ke luar negeri sehingga tidak ada devisa yang masuk ke Indonesia.
Dalam konteks pengelolaam sumber daya alam, yang harus dilakukan adalah revitalisasi dalam bidang Migas.  Hal ini disebabkan karena sektor menyumbang defisit yang sangat besar terhadap neraca pembayaran.  Hal ini disebabkan karena Indonesia hanya mengekspor minyak mentah ke luar negeri sementara untuk kebutuhan dalam negeri dalam bentuk BBM pemerintah masih mengimpor minyak jadi dari luar negeri.  Sebaiknya minyak mentah Indonesia diolah di Indonesia juga sehingga konsumsi dalam negeri tercukupi dan kita bisa mengekspor minyak dengan harga lebih mahal.  Dengan kata lain, Indonesia bisa menghindari ketergantungan dari minyak impor.
Masalah ketiga adalah masyarakat Indonesia selama ini lebih konsumtif.  Budaya konsumtif ini bukan hanya merasuki masyarakat kelas atas, tapi juga masyarakat kelasa bawah.  Merasuknya budaya konsumtif ini bisa dibilang akibat tidak langsung dari perkembangan teknologi informasi dan media.  Dengan tumbuhnya media seperti tv, internet, radio, dan lain-lain banyak perusahaan yang berusaha membujuk dan merayu masyarakat terus menerus dengan iklan dan promosi mereka secara terus menerus sampai bisa merangsang orang untuk membeli produk mereka.

Memang konsumerisme ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dicegah akibat timbulnya globalisasi dan sistem perdagangan pasar bebas.  Sistem kapitalisme yang berkembang di zaman modern ini mendapatkan kelangsungannya hanya dari menganggap penting konsumerisme pada masyarakat modern atau pos modern.  Dampak dari teknologi yang semakin maju dan kelebihan produksi akibat modal yang banyak adalah perusahaan-perusahaan yang maju berusaha mencari pasar di negara dunia ketiga.  Strategi ini dapat dilaksanakan apabila sistem ekonomi yang dapat memungkinkan leluasanya keluar masuk barang dan uang dalam perdagangan antar negara.  Hal inilah yang menyebabkan sistem Neoliberalisme dianggap sebagai sistem ekonomi terbaik untuk dijalankan karena sistem inilah satu-satunya ideologi yang menjamin kemakmuran terus menerus bagi negara maju.
Indonesia bisa dibilang negara yang potensial untuk dijadikan pasar produk karena jumlah penduduknya yang banyak.  Akibatnya, Indonesia jadi sering kedatangan produk-produk baru yang murah dari Cina dan produk-produk yang dianggap berkelas dari negara barat seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Fakta menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara paling konsumtif kedua di dunia.  Peringkat pertama ditempati oleh Singapura.  Menurut Heppy Trenggono, ketua dari IIBF(Indonesia Islamic Business Forum), hal ini dapat terlihat dari nilai transaksi kartu kredit masyarakat Indonesia yang mencapai 250 triliun setahun.  Padahal anggaran negara kita hanya mencapai 1.200 triliun.
Selain itu, kebijakan pemerintah saat ini lebih menguntungkan impor daripada ekspor karena pajak impor yang sangat tinggi.  Sehingga ketika impor dimudahkan sedemikian rupa, ekspor malah dipersulit. Sehingga produk-produk luar negeri pun semakin banyak diluncurkan ke Indonesia.
Hal ini juga diperparah dengan budaya orang Indonesia sendiri dimana selalu menganggap rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumput sendiri.  Sehingga banyak masyarakat Indonesia berbondong-bondong membeli produk luar negeri dengan alas an gengsi belaka.  Mereka merasa dengan membeli banyak barang luar negeri maka status sosial mereka akan naik.  Sehingga yang ada bukanlah pemenuhan suatu kebutuhan tetapi pemenuhan suatu keinginan.
Banyak solusi untuk masalah ini.  Untuk konsumen, sebaiknya sebelum membeli sebuah barang dipikirkan terlebih dahulu.  Siapa tahu aslinya mereka tidak perlu membeli barang itu.  Selain memikirkan barang yang akan dibeli, seharusnya konsumen-konsumen itu memikirkan orang-orang yang tidak punya uang sama sekali.  Dengan memikirkan seperti itu, maka yang terjadi adalah orang akan membatalkan untuk menghabiskan uangnya untuk konsumsi berlebihan dan malah bisa jadi digunakan untuk kegiatan sosial seperti amal. 
Untuk pemerintah, yang harus dilakukan untuk mencegah masyarakat semakin konsumtif adalah menaikkan pajak untuk setiap barang-barang impor.  Karena dengan menaikkan pajak orang sekali lagi akan berpikir dua kali untuk membeli barang-barang tersebut. 
Selain hutang luar negeri, masyarakat yang menjadi kian konsumtif, dan korupsi masalah yang dihadapi oleh Indonesia saat ini adalah kemiskinan.  Kemiskinan ini merupakan problem yang sering dihadapi oleh Indonesia.  Definisi kemiskinan sendiri adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, pakaian, dan kebutuhan lainnya. Kemiskinan dapat disebabkan oleh bermacam-macam faktor.  Ada yang menganggap bahwa kemiskinan terjadi karena perilaku, kemampuan, atau pilihan dari si miskin. Ada juga yang menganggap kemiskinan terjadi karena aksi dari orang lain, seperi perang, pemerintah, dan ekonomi.  Dan ada juga yang menganggap bahwa kemiskinan terjadi karena hasil dari struktur sosial. Bank Dunia menggambarkan orang bisa dikatakan sangat miskin apabila hidup dengan pendapatan kurang dari $1 per hari dan miskin apabila hidup dengan pendapatan kurang dari $2 per hari.

Menurut BPS, jumlah penduduk miskin(penduduk dengan pendapatan per kapita di bawah garis kemiskinan) di Indonesia pada september 2011 mencapai 29,89 juta orang atau 12,36% dari total seluruh penduduk di Indonesia. Penduduk miskin di daerah perkotaan mencapai 10,95% dan penduduk miskin di daerah pedesaan mencapai 15,59%.
Solusi yang saya tawarkan untuk mengurangi kemiskinan adalah dengan meningkatkan kesejahteraan rakyat.  Bisa dengan bantuan sosial pemerintah atau dengan membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya.  Bisa dengan industri padat karya yaitu industri yang membutuhkan banyak tenaga kerja seperti membangun jalan dan yang paling utama adalah meningkatkan jiwa entrepreneurship atau kewirausahaan.  Karena jika jiwa entrepreneurship atau kewirausahnaan ini ditingkatkan, maka lapangan kerja akan semakin banyak dan selain itu juga banyak dihasilkan inovasi baru dari para entrepreneur yang dapat menyebabkab pertumbuhan ekonomi semakin meningkat.
Selain itu, jika mau dibuat bantuan untuk orang miskin, pastikan yang mendapatkan bantuan itu orang yang berhak.  Pemerintah pernah mencoba membantu rakyat miskin dengan Bantuan Langsung Tunai(BLT), tetapi praktiknya kurang efektif karena data orang miskin yang digunakan masih merupakan data yang lama, sehingga banyak orang miskin yang tidak dapat BLT karena tidak terdaftar dan orang miskin yang terdata ternyata sudah bukan termasuk orang miskin lagi.   Cara untuk memberikan bantuan yang efektif adalah dengan dibuat data yang aktual tentang orang miskin supaya orang miskin yang harusnya berhak untuk mendapat bantuan tercatat dan bisa mendapatkan bantuan yang diberikan.
Setelah kita mengetahui masalah apa yang terjadi di Indonesia, hendaknya kita saat ini mulai bergerak menyelesaikan semua problem yang ada.  Jika kita tidak bergerak,maka selamanya Indonesia akan terus seperti ini.
Sekian dari saya. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam tulisan saya ini. 

Sumber:
alfisyahriyani.wordpress.com 
neraca.co.id
bisnis.com
id.wikipedia.org
birokrasi.kompasiana.com
bisniskeuangan.kompas.com
anneahira.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar