Kamis, 27 September 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky untuk Indonesia

Limbah.. Konflik... Kriminalitas....
 
Saya tinggal di negara yang bernama Indonesia, negara yang memiliki berbagai macam sejarah dari awal ditempati sampai sekarang ini, negara yang konon memiliki garis pantai terbesar kedua di dunia, serta negara yang mempunyai beragam budaya unik tersendiri.  Indonesia ditempati oleh berbagai macam ras dari seluruh penjuru dunia, yang akhirnya membuat negara ini cenderung memiliki kepadatan penduduk yang tinggi.  Dengan tingginya kepadatan penduduk negara Indonesia, maka dapat dengan mudah muncul banyak masalah atau permasalahan, diantaranya masalah limbah sampah, konflik terjadi dimana-mana, dan masih banyak lagi.  Sebagai seorang warga Indonesia, kita dapat melihat dan menganalisa permasalahan tersebut, lalu mencari solusi yang dapat digunakan, dengan tujuan mengurangi dampak negatif yang disebabkan dari permasalahan tersebut. 

Tumpukan Sampah

Permasalahan yang banyak terjadi di lingkungan kita adalah limbah pembuangan atau sampah yang tersebar di pinggir jalan maupun di lingkungan sekitar.  Sering kita lihat orang-orang membuang sampah tidak pada tempatnya, seperti di jalanan atau di sungai, walaupun di beberapa tempat telah diberi tanda yang bertuliskan dilarang mebuang sampah di tempat tersebut.  Berbagai pabrik maupun bangunan-bangunan lainnya juga sering tertangkap basah membuang limbahnya ke sungai terdekat.  Mereka sesungguhnya tidak mengerti apa yang akan terjadi jika sampah dan limbah tersebut dapat membawa berbagai macam kerugian, diantaranya wabah penyakit, lingkungan yang tidak sehat atau kumuh, pencemaran lingkungan, berkurangnya sumber air bersih, dan yang paling sering terjadi adalah banjir.  Wabah penyakit biasanya menyerang tempat berpemukiman kotor.  Mereka sering terserang penyakit tipes maupun diare.  Tidak jarang juga mereka teracuni oleh makanan yang mereka makan.  Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh sampah ataupun limbah dapat menghancurkan rantai makanan di suatu wilayah tersebut.  Produsen seperti tanaman, akan memakan zat hara yang terkandung di tanah yang tercemar.  Otomatis produsen itu menjadi tercemar dan teracuni.  Konsumen seperti ayam, yang memakan tanaman tersebut pastinya akan ikut teracuni.  Dan jika kita memakan ayam yang telah teracuni tadi, maka racun yang kita makan itu dapat berunjuk ke kematian.  Sumber air bersih yang tercemar juga dapat dengan mudah meracuni siapa saja yang meminumnya.  Jika kita menggunakan air tersebut untuk keperluan mandi, maka air yang tercemar itu dapat merusak kulit kita, membuatnya kasar dan bisa saja terinfeksi.  Sedangkan banjir yang dihasilkan oleh meluapnya sungai akibat sampah-sampah warga dapat menelan korban jiwa.  Oleh karena itu diperlukan cara untuk menanggulangi permasalahan tersebut, salah satu cara yang sangat standar digunakan para penduduk ialah memasang tanda larangan untuk membuang sampah.  Namun solusi tersebut sangat jarang membuahkan hasil, bahkan dihiraukan begitu saja oleh warga setempat.  Solusi yang selanjutnya ini dapat mengurangi sampah di tanah atau tempat-tempat kosong, yaitu dengan mendirikan pagar beton maupun pagar duri, yang bertujuan agar warga tidak bisa masuk untuk membuang sampahnya disana.  Bagi warga yang cerdik, pagarpun bukan suatu masalah, mereka dapat melempar sampah tersebut kedalam area yang telah dipagari.  Ada beberapa solusi yang seharusnya dapat meminimalkan sampah yang menumpuk tersebut, namun tidak semua warga menggunakannya.  Salah satunya adalah mengganti bahan dasar plastik yang susah teruraikan dengan bahan dasar plastik yang lebih mdah terurai.  Dengan itu, sampah plastik yang tertimbun dapat terurai dalam kurun waktu lebih cepat.  Selain itu terdapat solusi dimana plastik yang dibuang akan didaur ulang kembali.  Namun, dalam proses pemisahan antara sampah berbahan dasar plastik dan sampah non plastik, sering dialami kesulitan, karena warga enggan untuk memasukkan sampah sesuai dengan tempat yang disediakan.

Permasalahan berikutnya banyak terdapat di pinggir-pinggir sungai ataupun rel kereta, yaitu pemukiman kumuh.  Padatnya penduduk di negara Indonesia merupakan salah satu faktor mengapa pemukiman kumuh sangat sering dijumpai.  Mereka yang tidak dapat bersaing dalam hal ekonomi tersebut terpaksa membuat rumah dari seng-seng atau besi-besi dan tinggal di pinggir sungai, di bawah jembatan, maupun di pinggir rel kereta api. Tak jarang polisi menggusur mereka dengan kekerasan, dan mereka terpaksa mencari tempat baru untuk tinggal.  Dengan adanya pemukiman kumuh di kota-kota besar seperti Jakarta, akan menghilangkan citra Jakarta sebagai ibu kota negara Indonesia.  Kota Jakarta juga seakan terlihat kumuh dan tidak teratur.  Akan timbul juga kriminalisme yang didasari oleh faktor ekonomi, yang dapat mengubah Jakarta menjadi kota yang tidak aman atau penuh dengan kekerasan. Cara menanggulangi permasalahan tersebut salah satunya dengan membangun rumah susun bagi warga yang tinggal di pemukiman kumuh itu.  Dengan bantuan didirikannya rumah susun, banyak warga dapat tinggal di satu wilayah yang tidak terlalu besar, dibadingkan dengan pemukiman kumuh yang memakan banyak tempat. Rumah susun juga lebih indah dilihat daripada pemukiman kumuh yang kesannya kotor dan tidak terawat.  Perbanyak rumah susun dan kurangi pemukiman kumuh, solusi tersebut memungkinkan pemerintah untuk meminimalisasikan adanya pemukiman kumuh di negara Indonesia.                                              

Tawuran 

Sekarang ini, konflik memuncak dimana-mana, tidak hanya di tempat-tempat terpencil seperti di Papua, konflik juga terdapat di sekitar kita, umumnya terdapat di kalangan remaja.  Remaja saat ini banyak disoroti oleh media massa, bukan karena prestasinya, namun melainkan akan kehebohannya dalam tawuran.  Tawuran tak hanya terjadi di sekolah-sekolah yang kurang terkenal dalam hal eksistensinya, namun sekolah-sekolah ternama sekalipun sering kali muncul dalam berita tawuran antar pelajar.  Dengan adanya tawuran, banyak dampak-dampak negatif yang ditimbulkan, diantaranya pelajar menjadi hilang konsentrasi pada sekolahnya, melainkan focus pada kegiatan tawuran.  Selain itu, semua orang tahu jika tawuran dapat membuat fasilitas-fasilits di sekitarnya menjadi rusak, seperti lampu jalanan rusak, banyak pecahan kaca mobil dari mobil korban yang dirusak, dan sebagainya.  Sebenarnya, apa yang kita dapat peroleh dari kegiatan tawuran itu?  Adakah manfaat yang didapat setelah kita selesai mengejar dan dikejar tersebut?  Dari sudut pandang orang yang melihat kejadian itu, tentunya tidak ada satupun manfaat yang dapat diambil dari tawuran.  Namun jika kita menjadi orang yang melakukan kegiatannya, mungkin akan berbeda cerita.  Sekarang, bagaimana cara menanggulangi aksi-aksi remaja dalam hal tawuran ini?  Beberapa hari sebelum libur lebaran, saya dan teman saya seperti biasa duduk-duduk di depan sekolah, alias “nongkrong”.  Tiba-tiba beberapa bocah yang saya tidak ketahui dari SMA mana, berlarian di jalan depan sekolah.  Ternyata mereka sedang terlibat dengan kegiatan yang bernama tawuran tersebut.  Semuanya tampak panik berlarian, sampai salah satu dari mereka menabrak motor dan terjatuh.  Pemilik motor tersebut langsung menarik anak itu ke pinggir jalan dan menahannya disana.  Untungnya pemilik kendaraan bermotor itu dapat menahan emosinya dengan tidak memukuli bocah tersebut, melainkan hanya berbicara dengan muka yang agak emosi karena menahan amarah.  Beberapa saat kemudian, bocah itu sepertinya dibawa oleh pengendara motor ke kantor polisi terdekat.  Cerita tersebut merupakan kejadian nyata yang terjadi tepat sebelum libur lebaran.  Dari cerita diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa pelaku tawuran seharusnya ditangkap dan dibaawa ke kantor polisi, agar mereka jera dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.  Tetapi akankah lebih nyaman jika kita tidak menggunakan kekerasan atau melibatkan pihak kepolisian.  Oleh karena itu, orang tua sangat berperan aktif dalam mencegah agar anaknya tidak terlibat kegatan tawuran.  Jika orang tua bersifat pasif, atau masa bodo terhadap anaknya, sudah dapat dipastikan kalau anaknya akan berubah menjadi liar dan tidk terkendali.  Selain partisipasi dari orang tua, sekolah juga membantu orang tua menjaga dan mendidik muridnya selagi diluar jangkauan ayah dan ibunya.  Akan lebih baik lagi jika sekolah mengutus beberapa guru untuk shift di daerah yang rawan tawuran, sehingga memungkinkan untuk menertibkan siswa yang kurang teratur, atau menghukum mereka.

Copet

Permasalahan terakhir yang ingin saya bahas adalah mengenai angka kriminalitas yang tinggi.  Jenis kriminalitas di Indonesia pun berbeda-beda, dari mencopet, merampok, sampai korupsi, semuanya terdapat di negara kita sendiri.  Mungkin kita semua tahu bahwa salah satu faktor yang sangat mendukung untuk melakukan kegiatan tersebut adalah uang, atau ekonomi.  Uang yang hanya berupa logam atau lembaran itu dapat merubah seseorang berhati mulia menjadi seseorang dengan akal dan pikiran yang tidak terkontrol.  Mereka akan melakukan apa saja demi mendapatkan uang, entah untuk menafkahi keluarga, maupun berjudi.   Dengan menculik saja, seseorang dapat meraup hasil sampai beratus-ratus juta, bahkan milyaran.  Itu merupakan suatu kegiatan yang dengan tenaga tidak banyak, dapat menghasilkan banyak masukan, atau “Easy money”.  Contoh lain adalah korpsi, hanya dengan korupsi saja, kita dapat menghasilkan milyaran, cukup untuk menafkahi seluruh keluarga selama bertahun-tahun lamanya.  Namun, tentu saja tidak hanya meriugikan orang lain, tetapi juga merugikan negara.  Nama baik negara akan tercoret dengan maraknya korupsi di Indonesia.  Cara-cara untuk mengurangi banyaknya kriminalitas di Indonesia tentunya adalah menangkap dan mengadili setiap pelaku kejahatan tersebut.  Tetapi tidak mungkin hanya dengan mengandalkan kepolisian atau KPK saja, tentunya harus dimulai dari diri sendiri.  Kita harus percaya jika berusaha lebih keras akan menghasilkan sesuatu yang lebih besar.  Kejujuran juga sangat diuji disini.  Oleh karena itu, janganlah terlena untuk mengambil hak yang bukan milik kita sendiri.     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar