Sabtu, 22 September 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky Untuk Indonesia


Lestarikan Budaya Indonesia

            Selain kaya akan sumber daya alam, Indonesia juga kaya akan budaya. Budaya-budaya tersebut berasal dari berbagai daerah Indonesia yang sangat luas dari Sabang sampai Merauke.  Budaya daerah banyak sekali macamnya seperti tarian, lagu, alat musik, baju tradisional, rumah adat dan masih banyak lagi. Kebudayaan daerah tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di seluruh daerah di Indonesia. Setiap daerah memiliki ciri khasnya sendiri. Budaya-budaya daerah itu akan membentuk satu kesatuan menjadi suatu sebagai Budaya Nasional atau Budaya Indonesia.
            Tetapi sering terjadi bahwa kita lupa akan budaya-budaya tersebut. Terkadang kita kurang menghargai budaya daerah yang unik dan seharusnya kita banggakan dan lestarikan. Padahal orang asing sendiri banyak yang mengagumi budaya kita yang beragam dan tidak dimiliki oleh negara lainnya. Sampai-sampai terjadi konflik antara negara kita dan negara tetangga, Malaysia.
            Dari tahun 2007-2012, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Windu Nuryati, berkata bahwa kurang lebih tujuh kebudayaan Indonesia telah diklaim oleh Malaysia sebagai warisan budaya mereka. Diantaranya yaitu lagu Rasa Sayange, Reog Ponorogo, Batik, Angklung, Tari Tor-tor dan alat musik Gondangan Sambilan. Apa perasaan saya setelah mendengar kabar ini? Tentu saja kecewa.
            Pertama kali Malaysia mengklaim budaya Indonesia yaitu pada tahun 2007, yaitu Lagu Rasa Sayange. Lagu Rasa Sayange dipakai oleh pemerinta Malaysia untuk mengiklankan pariwisata Malaysia. Lalu terjadilah perebutan lagu daerah tersebut. Pemerintah Indonesia pun mengumpulkan semua bukti-bukti dari Maluku bahwa lagu Rasa Sayange adalah lagu dari Indonesia. Tetapi Menteri Pariwisata Malaysia tetap tidak mengakui bahwa lagu tersebut adalah lagu Indonesia. Bagaimanapun, bukti tersebut akhirnya ditemukan. 'Rasa Sayange' diketahui direkam pertama kali di perusahaan rekaman Lokananta Solo 1962.
            Mendengar konflik yang satu ini saya sudah sedih dan tidak percaya bahwa budaya Indonesia bisa di-klaim semudah itu. Tetapi konflik itu ternyata berlanjut pada objek yang berbeda. Setelah gagal mengklaim lagu Rasa Sayange, kemudian muncul di website Kementrian Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia gambar suatu kesenian di Malaysia yang sangat mirip dengan Reog Ponorog. Reog Ponorogo aslinya merupakan kesenian rakyat Jawa Timur. Malaysia menyebutkan bahwa itu adalah tarian asal Malaysia yaitu Tari Barongan. Pada akhirnya Pemerintah Jawa Timur berupaya mendaftarkan Reog Ponorogo untuk mendapatkan hak paten tingkat dunia. Duta Besar Malaysia juga menyatakan bahwa Pemerintah Malaysia tidak pernah mengklaim Reog Ponorogo sebagai budaya asli negara itu, mereka mengakui bahwa Reog Ponorogo adalah milik bangsa Indonesia, akhir November 2007.
            Di tahun 2009, konflik Indonesia dan Malaysia kembali berlanjut. Kerajinan Batik di-klaim oleh Malaysia. Hal ini membuat para pengrajin Batik prihatin. Karena untuk membuktikannya akan sulit karena batik sudah dibuat dari ribuan tahun yang lalu. Malaysia mengakui bahwa motif dari Malaysia itu berbeda. Dan pada akhirnya perjuangan Indonesia atas batik pun diakui oleh United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Pada Oktober 2009, tradisi batik dikukuhkan sebagai salah satu budaya warisan dunia asli Indonesia.
            Agustus 2009 terjadi lagi konflik Indonesia dan Malaysia akibat penayangan film promosi Enigmatic Malaysia yang dibuat oleh Discovery Channel yang berbasis di Singapura menampilkan gambar Tari Pendet. Akan tetapi, telah diakui bahwa itu merupakan kesalahan dari Discovery Channel. Sehingga klaim Malaysia atas Tari Pendet itu tidak benar, dan telah diakui bahwa Tari Pendet adalah tari tradisional dari Bali, Indonesia.
            Bulan November 2010, ramai berita di-klaimnya Angklung oleh Malaysia. Saat itu, Malaysia sedang gencar-gencarnya mempublikasikan kepada wisatawan bahwa Angklung adalah alat musik tradisional milik negara mereka. Mereka menyebut Angklung sebagai Bambu Malay. Pada akhirnya Angklung dikukuhkan sebagai salah satu warisan budaya dunia dari Indonesia atau "World Intangible Heritage" oleh UNESCO.
            Akhir-akhir ini sedang ramai tentang Tarian Tor-tor dan juga gondangan sambilan. Seperti di Twitter sekitar bulan 2012, ramai akan hashtag #TorTorPunyaIndonesia. Tarian Tor-Tor dan Gondangan Sambilan ini, direncanakan oleh Malaysia untuk dimasukkan kedalam akta budaya negaranya. Tarian Tor-Tor dan Gondangan Sambilan aslinya berasal dari Batak. Maka banyak mahasiswa Batak di Jakarta yang menggelar aksi unjuk rasa. Maka dari itu, Windu Nuryati segera mengajukan dan mencatatkan tarian tersebut ke UNESCO. Pengajuan warisan budaya baru dilakukan setiap akhir bulan Maret, jadi pengajuan tersebut baru bisa dilakukan tahun 2013. Sebelum Malaysia merencanakan Tari Tor-Tor yang ingin dicatat sebagai budaya nasionalnya, pemerintah Indonesia sudah mencatat terlebih dahulu kebudayaan asal Sumatera Utara itu kedalam daftar warisan budaya nasional. Sampai saat ini, pihak Malaysia masih belum jelas.
            Selain yang diatas, terdapat lagi kebudayaan-kebudayaan Indonesia yang pada akhirnya diakui oleh UNESCO setelah adanya kejadian klaim antara Indonesia-Malaysia. Diantaranya yaitu Keris dan Wayang Kulit. Wayang Kulit dikukuhkan tanggal 7 November 2003 dan Keris dikukuhkan tanggal 25 November 2005.
            Masalah kebudayaan di Indonesia bukan  hanya karena budaya-budaya yang di-klaim oleh negara lain. Kebudayaan bisa punah dengan sendirinya apabila sudah tidak memiliki peminat dan juga pelaku kebudayaan. Bayangkan saja wayang tanpa dalang? Tidak mungkin wayang tersebut bisa bercerita dengan sendirinya. Selain itu juga kepunahan bisa disebabkan oleh tidak adanya regenerasi seperti yang terjadi di Papua. Papua saat ini sedang terancam punah kebudayaan aslinya. Saat ini tidak ada peraturan daerah yang melindungi budaya asli mereka. Seperti Festival Danau Sentani di Jayapura beberapa bulan lalu, yang datang hanya orang-orang Papua yang sudah sepuh.
            Pasti hanya sedikit orang  yang tahu bahwa tanggal 29 April adalah Hari Tari Sedunia. Di Hari Tari Sedunia sebagian penari-penari tradisional Indonesia melakukan pentas. Kurangnya dukungan dari pemerintah membuat hal ini tidak berkembang dengan baik. Padahal bisa menjadi ajang melestarikan tarian-tarian agar tarian daerah tidak punah.
            Generasi muda kurang partisipatif dalam melestarikan kebudayaan Indonesia. Ini bisa disebabkan oleh pengaruh budaya asing yang membuat tidak tertarik dengan budaya-budaya Indonesia yang unik. Padahal budaya kita banyak sekali yang menghibur dan kebanyakan dari generasi sekarang hanya menghabiskan waktu di alat-alat elektroniknya.
            Walaupun terjadi masalah klaim antara Indonesia-Malaysia, hal ini juga mendatangkan sisi positif bagi Indonesia. Pada awalnya, pasti ada banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengenal Reog Ponorogo atau Tari Tor-tor. Dengan terjadinya klaim oleh Malaysia, pasti budaya-budaya yang tersembunyi tersebut lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia sendiri. Buktinya Batik, yang tadinya banyak hanya digunakan untuk pergi ke pernikahan sekarang menjadi mode. Walaupun memberikan sisi baik, tentu jangan sampai bisa terjadi lagi kebudayaan kita di-klaim lagi. Selain itu juga tidak baik apabila kita berkonfrontasi dengan negara lain. Kita sebagai yang "punya" seharusnya sudah mengenali sehingga tidak sembarang diambil orang lain.     
            Menurut pemikiran saya, apabila Indonesia tidak ingin di klaim budayanya oleh negara lain, sebaiknya diresmikanlah budaya-budaya asli milik Indonesia. Jika tidak, maka negara lain akan dengan mudah bisa meng-klaim bahwa budaya yang bersangkutan adalah budaya mereka karena tidak ada bukti bahwa budaya tersebut merupakan milik Indonesia. Jangan menunggu untuk di-klaim terlebih dahulu baru dikukuhkan. Untuk budaya-budaya yang memang sudah resmi milik Indonesia sebaiknya dilestarikan dengan baik agar masyarakat dunia tau bahwa kebudayaan tersebut adalah milik Indonesia.
            Kita sebagai generasi baru dari Indonesia juga harus turut membantu melestarikan budaya Indonesia. Karena apabila tidak dilestarikan budaya Indonesia bisa juga lenyap dengan sendirinya. Banyak sekali kegiatan yang bisa kita lakukan demi melestarikan budaya Indonesia. Seperti mengikuti sanggar tari. Atau kita juga bisa memulai dengan sederhana, dengan menggunakan pakaian batik. Dengan mengenakan pakaian batik saja, kita sudah membatu budaya kita jauh dari kepunahan. Atau karena sekarang sedang booming yaitu jejaring sosial yang kita sering gunakan bisa kita manfaatkan untuk menyebarkan budaya-budaya Indonesia. Sayang bukan apabila budaya yang unik seperti Tari Tor-tor, Wayang, Gamelan dan sebagainya di klaim oleh negara lain atau bahkan lenyap dengan sendirinya karena kita yang tidak mau berperan?
             Walaupun masih kurang maksimal, pemerintah sudah melakukan berbagai cara untuk melestarikan budaya Indonesia. Seperti yang akan dilaksanakan pada 28-31 Oktober 2012 yang akan datang, akan diadakan acara Pekan Seni, Tradisi dan Produk Kreatif (PESTA) Nusantara 2012 di Yogyakarta. Di acara ini akan disosialisasikan kepada publik berbagai kekayaan seni dan tradisi Indonesia seperti lagu-lagu, tari-tarian, tata cara meminang, kuliner khas dan sebagainya. Menurut saya, ini merupakan acara yang sangat bagus dan sangat mendukung pelestarian budaya Indonesia. Selain itu juga terdapat lembaga IACI (Indonesian Archipelago Culture Initiatives) yang memberikan NCHSL (Nusantara Cultural Heritage State License). NCHSL adalah perlindungan hukum terdapat budaya tradisional Indonesia dan merupakan bentuk upaya untuk melindungi budaya kita dari pencurian oleh pihak asing.
            Upaya Labschool dalam melestarikan budaya juga cukup baik. Seperti adanya ekstrakulikuler Tari Tradisional dan juga pelajaran Karawitan. Dan di eskul Tartrad terdapat kegiatan Misi Budaya yang menyebarkan/mempromosikan budaya Indonesia ke dunia Internasional.
            Jadi tidak hanya pemerintah yang harus membantu mempertahakan budaya kita. Tapi kita juga harus bisa. Karena ini semua milik kita. Dan kita harus pertahankan apa yang memang milik kita. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar