Selasa, 18 September 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky Untuk Indonesia

Masalah Pendidikan


Pendidikan merupakan hal yang penting bagi kehidupan manusia. Karena dengan pendidikan, kita mampu membuka jendela pengetahuan dunia yang dapat kita gunakan sebagai ilmu yang berguna bagi perkembangan bangsa. Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas sistem pendidikannya. Salah satu alasan negeri ini belum maju adalah karena banyak hal yang menjadi masalah dalam dunia pendidikan kita.
Terpikirkah oleh kita sesulit apakah permasalahan yang dihadapi murid-murid di sekolah mereka? Setiap hari mereka berhadapan dengan berbagai macam mata pelajaran yang banyak dan dituntut untuk mendapat nilai-nilai yang bagus. Belum lagi bagi murid-murid yang bersekolah di Jakarta harus menghadapi macet tiap pulang dan pergi sekolah. Di satu sisi memang kondisi yang seperti ini akan membuat mereka lebih dewasa dalam menghadapi berbagai persoalan. Namun saat mereka gagal menghadapi dan mengatasi persoalan, justru bukan hal positif yang didapatkan tapi akan lebih memperburuk permasalahan. Berikut adalah beberapa permasalahan dan solusi dalam dunia pendidikan Indonesia.

1.              Sistem pendidikan yang masih kacau
Tak bisa dipungkiri, sistem pendidikan di Indonesia masih terbilang kacau. Hal ini bisa dilihat dari hasil sistem tersebut. Sistem pendidikan Indonesia masih belum bisa memaksimalkan potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap siswa. Hanya siswa yang pintar dalam semua mata pelajaran dan sering mendapatkan nilai tertinggilah yang menjadi patokan apakah siswa tersebut memenuhi keriteria dari sistem tersebut.
UN dinilai merupakan sistem yang kurang tepat
Hal ini tentunya tidak adil bagi siswa lainnya. Siswa dengan berbagai karakter yang berbeda diharuskan mengikuti sistem dan cara belajar yang sama. Padahal tidak semua siswa memiliki satu jenis cara mereka dalam menyerap ilmu.
Selama ini metode yang ada di sekolah-sekolah adalah, guru menerangkan, murid mendengar lalu latihan. Metode ini dianggap sudah ketinggalan zaman dan terlalu kaku. Dan yang paling fatal, mudah sekali menghilangkan minat belajar pada siswa. Memang ada beberapa karakter siswa yang bisa atau malah mudah menyerap pembelajaran dengan metode belajar seperti itu, namun tidak sedikit pula siswa yang tidak bisa menyerap materi pelajaran dengan metode seperti itu. Hal ini disebabkan karena perbedaan karakter dan ditambah pola pendidikan berbeda oleh orang tua masing-masing siswa.
Perlu diketahui bahwa metode belajar setiap manusia berbeda-beda sesuai dengan karakter mereka, ada tipe belajar secara visual, lingual, pendengaran, analisis, debat, individu, kelompok dan lain-lain.
Untuk itu ada baiknya sistem pendidikan yang seperti itu diubah yaitu dengan menganalisis kebutuhan atau ketertarikan dan metode belajar yang tepat bagi siswa sebelum siswa tersebut masuk ke jenjang sekolah. Karena jika tidak, kalaupun ada yang bisa menguasai semua pelajaran hampir dipastikan bahwa siswa akan tidak tahu harus kemana setelah mereka lulus.
Setelah itu, siswa dikelompokan ke beberapa kelompok sesuai dengan kebutuhan atau ketertarkan  dan metode belajar yang dapat diterima siswa. Dengan begitu potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap siswa dapat tergali lagi dengan maksimal.
anak yang lebih tertarik dengan musik
Selain itu jika kita perhatikan, saat ini banyak Taman Kanak-Kanak yang memberikan fasilitas pendidikan anak yang mewah, kemudian menjamin murid-murid Taman Kanak-Kanak bisa menulis, membaca dan berhitung setelah mereka lulus. Mungkin sebagian orang tua bangga dengan itu, namun bagi anak-anak mungkin sekali mereka mengalami depresi dan orang tua tidak mengetahuinya.
Sebenarnya di usia anak-anak, yang mereka butuhkan adalah kebebasan berekspresi dan bermain sehingga perkembangan emosional anak akan berkembang maksimal. Biarkan anak-anak di usia Taman Kanak-Kanak belajar berekspresi dengan menggambar, bernyayi dan bermain sebagaimana anak-anak seharusnya. Merka tidak seharusnya dipaksa untuk bisa membaca, menulis dan berhitung. Biarkan mereka berekspresi dengan bercerita ke guru dan teman-temannya tentang berbagai hal yang mereka tahu dan alami. Hal ini akan memupuk rasa percaya diri si anak untuk mengemukakan pendapat sejak dini di hadapan guru dan teman-temannya.
Orang tua menceritakan sebuah buku ke anaknya
Menumbuhkan minat baca tulis anak paling baik dilakukan orang tua dengan rutinitas membacakan buku-buku cerita bergambar. Hal ini juga dapat membuat komunikasi yang baik antara anak dan orang tua. Setelah anak bisa bebas berekspresi kepada orang-orang disekitarnya, barulah mereka diajarkan menulis. Sehingga, saat mereka belajar menulis nanti, mereka tidak menulis “ini buku Budi” atau sebagainya, tetapi mereka menuliskan apa yang mereka lihat dan rasakan

2.              Akses ke sarana pendidikan yang masih minim
Di desa-desa yang berada di pedalaman, akses atau jalan menuju lembaga pendidikan, sekolah, masih sangat minim. Contohnya di sebuah desa yang ada di pedalaman Kalimantan. Anak-anak berseragam putih-merah yang sebagian besar tidak menggunakan sepatu melwati harus jalan setapak yang berlumpur. Mereka harus bergegas karena perjalanan memakan waktu 60 menit. Perjalanan ini harus mereka tempuh dengan berjalan kaki karena tidak adanya jalan untuk kendaraan.
Namun tak perlu jauh-jauh ke daerah-daerah terpencil di pelosok Indonesia. Di sekitar kita pun masih banyak akses menuju sarana pendidikan yang bisa dibilang sangat memprihatinkan. Contoh terkini yakni berita mengenai “Jembatan Indiana-Jones” yang terdapat di provinsi Banten.
"Jembatan Indiana-Jones"
Jembatan persimpangan itu berpotensi mematikan. Aliran sungai yang deras seakan-akan sudah menanti di bawah mereka. Sekali terpeleset mereka bisa jatuh ke sungai dan terseret arus deras sungai. Tidak ada yang  menjamin, tali yang mereka gunakan tak akan putus diterjang banjir. Walaupun jembatan ini rusak, tapi  jarak tempuh yang jauh jika tidak melewati jembatan memberikan pilihan terpaksa melewati jembatan itu oleh anak-anak agar sampai di kelas tepat waktu.
Hal ini tentunya sangat ironis, apalagi berita tersebut sudah terlanjur tersebar ke penjuru dunia yang secara tak langsung ikut membawa citra buruk dunia pendidikan di Indonesia. Jika tidak segera ditangani, bukannya tidak mungkin berita-berita lain mengenai citra buruk dunia pendidikan lainnya akan banyak tersebar di media asing.
Pemerintah seharusnya memberikan perhatian lebih terhadap sarana dan prasarana pendidikan. juga mengambil tindakan yang cepat saat melihat ketidaknyamanan, seperti kejadian di atas, sebelum hal itu tersebar kemana-mana yang malah mencoreng nama baik Indonesia. Minat belajar anak-anak tersebut yang sampai mau menanggung risiko besar melewati jembatan rusak tersebut seharusnya tidak disia-siakan.

3.              Biaya pendidikan yang mahal

”Pendidikan bermutu itu mahal”. Kalimat ini sering muncul untuk menunujukan betapa mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Untuk masuk TK dan SDN saja saat ini dibutuhkan biaya Rp 500.000, — sampai Rp 1.000.000. Bahkan ada yang memungut di atas Rp 1 juta. Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta.
Tidak bisa sekolah karena biaya yang mahal
Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana.
Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang selalu berkedok “sesuai keputusan Komite Sekolah”. Namun, pada tingkat implementasinya, ia tidak transparan, karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.
Bagi masyarakat tertentu, beberapa PTN yang sekarang berubah status menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) itu menjadi momok. Jika alasannya bahwa pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya berlaku di Indonesia. Di Jerman, Prancis, Belanda, dan di beberapa negara berkembang lainnya, banyak perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah. Bahkan beberapa negara ada yang menggratiskan biaya pendidikan.
Solusinya adalah dengan menambah subsidi dari pemerintah. Besar dan kecilnya subsidi pemerintah itulah yang membuat mahal atau murahnya biaya pendidikan yang harus dibayarkan oleh orang tua atau masyarakat. Kalau kita ingin biaya pendidikan tidak mahal maka subsidi pemerintah harus besar. Dengan mengembangkan konsep CBE, Community-Based Education, maka pemerintah melibatkan tokoh masyarakat, kaum bisnis, pengusaha, dan kaum berduit lainnya dalam urusan pendidikan. Mereka diminta membantu pemikiran, gagasan, dan dana untuk mengembangkan pendidikan baik melalui komite sekolah (school committee), dewan pendidikan (board of education), atau secara langsung berhubungan dengan pihak sekolah.
Selain itu, dalam Pasal 49 ayat (1) UU Sisdiknas disebutkan bahwa dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari APBN dan APBD. Ketentuan semacam ini juga ada dalam Pasal 31 ayat (4) UUD 1945. Sayangnya, pemerintah sendiri tidak konsisten dalam menjalankan ketentuan ini. Seandainya saja ketentuan UU dan UUD tersebut direalisasi maka sebagian permasalahan tentang mahalnya biaya pendidikan di negara kita tentu akan teratasi.
Sebenarnya Negara kita sudah memiliki konsep yang bagus untuk mengatasi mahalnya biaya pendidikan. Namun, karena kita tidak bisa menghilangkan penyakit 'tidak konsisten', akhirnya biaya pendidikan kita pun tetap mahal bagi masyarakat kebanyakan.


4.            Kurangnya tenaga pengajar
Ada sangat banyak tenaga muda yang ikut serta menjadi guru di Indonesia. Tetapi,  kebanyakan tenaga-tenaga pengajar yang masih muda tersebut enggan untuk terjun ke daerah-daerah pelosok yang terpencil. Selain karena minimnya akses, pendapatan mereka di daerah-daerah terpencil tersebut juga tak sebanding dengan pengorbanan mereka untuk bisa masuk ke daerah-daerah terpencil tersebut. Bayangkan saja untuk masuk ke daerah pelosok yang akses jalannya masih susah tentunya diperlukan biaya yang sangat banyak, belum lagi untuk makan dan sebagainya. Karena itu, pendidik berkualitas jumlahnya sangat minim di daerah-daerah pelosok.

Rendahnya kesejahteraan guru juga mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi Guru Independen Indonesia) pada pertengahan tahun 2005, idealnya seorang guru menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. Guru bantu Rp, 460 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya .
Para pendidik yang berperan penting dalam kemajuan dunia pendidikan Indonesia seharusnya diberi apresiasi yang lebih tinggi dari pemerintah. Seperti gaji yang lebih tinggi. Jika para pendidik sekarang sudah tidak memiliki hati nurani yang menginginkan majunya pendidikan Indonesia, hamper bisa diapstikan jumlah pendidik sekarang akan sangat minim. Begitu mulianya para pendidik di Indonesia.
Ternyata masalah pendidikan ini mempunyai efek domino ke masalah-masalah lainnya Untuk itu pemerintah seharusnya juga memperhatikan hal tersebut. Jika tidak, bukannya tidak mungkin sekolah yang nantinya sudah di bangun dengan anggaran tidak sedikit malah akan jadi onggokan bangunan kosong tanpa penghuni karena tidak ada kegiatan belajar-mengajar yang disebabkan ketiadaan tenaga pengajar.

Sebenarnya masih banyak permasalahan dalam dunia pendidikan di Indoseia yang tak bisa saya jelaskan satu per satu. Kita sebagai rakyat Indonesia juga harus ikut berpartisipasi dalam kemajuan dunia pendidikan di Indonesia. Karena jika terus menunggu janji-janji pemerintah yang tak kunjung terealisasi, maka kita tidak akan pernah bisa maju serta mandiri untuk keluar dari segala situasi yang sulit ini. Jika kita ingin menjadi perubahan, jadilah perubahan itu


Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar