Kamis, 20 September 2012

Tugas 3- Solusi Labsky untuk Indonesia




Pendahuluan

Indonesia adalah suatu negara dengan pemeluk agama yang bermacam-macam dan hidup berbaur satu sama lainnya. Indonesia hanya mengakui 5 agama saja, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha, sementara untuk agama diluar itu dilarang untuk berkembang.
Belakangan ini, seperti yang kita ketahui di Indonesia banyak terjadi permasalan-permasalahan antar umat beragama. Hal ini di sebabkan minimnya rasa persaudaraan dan rasa memiliki dan membutuhkan antara satu dengan yang lain, antar umat beragama. Selain itu salah satu pemicu adanya pertikaiyan antar umat beragama ini adalah kurangnya rasa toleransi. Rasa toleransi sangat di perlukan di dalam kehidupan beragama, karena hal ini dapat menciptakan kedamaian antar umat beragama.

Masalah

Pertikaian yang terjadi belakangan ini terkadang di sebabkan oleh masalah kecil seperti masalah batas wilayah, ekonomi,politik serta kurangnya kesadaran antara masing-masing individu yang berlanjut kemasalah agama. Masalah ini sering kali mengatas namakan agama, karna  agama memiliki tirai atau pembatas yang sangat tipis dengan masalaha-masalah di atas. Sehingga sedikit saja terjadi masalah tersebut maka agama akan di ikut sertakan.
Beberapa tahun ini sering kita dengar di Indonesia terjadi berbagai konflik, yang paling sangat disayangi adalah konflik dengan pemeluk agama lain yang berbeda dengan mereka, seperti bisa kita ambil beberapa contoh dibawah ini :
   Adanya pertikaian di kampus Sekolah Tinggi Theologi Injil Arastamar (SETIA) dengan penduduk sekitar hanya karena kesalahpahaman akibat kecurigaan masyarakat setempat terhadap salah seorang mahasiswa SETIA yang dituduh mencuri, dan ketika telah diusut Polisi tidak ditemukan bukti apapun. bertambah parah lagi dengan muncullnya preman yang melempari masjid dan masuk ke asrama putri kampus tersebut. Dan bisa ditebak, akhirnya meluas ke arah agama, ujung-ujungnya pemaksaan penutupan kampus tersebut oleh masyarakat sekitar secara anarkis.
   Tahun 1996, 5 gereja dibakar oleh 10,000 massa di Situbondo karena adanya konflik yang disebabkan oleh kesalahpahaman.
    Perbedaan pendapat antar kelompok – kelompok Islam seperti FPI (Front Pembela Islam) dan Muhammadiyah.
   Perbedaan penetapan tanggal hari Idul Fitri, karena perbedaan cara pandang masing – masing umat.

Perbedaan pendapat pun sering memicu adanya pertikaian antar pihat/pemuka agama, bahkan masyarakat awam dengan kepercayaan yang berbeda pun dapat juga berkelahi karena kesalahpahaman yang timbul dari kedua belah pihak. Mereka pada umumnya kurang mengerti tentang arti kedamaian yang telah diajarkan dalam agama masing-masing dan mereka kadang kala terlalu ‘fanatik’ terhadap sesuatu hal sehingga membuat mereka memandang kepercayaan orang lain berbeda. Mereka seolah-olah menutup mata mereka terhadap kepercayaan yang ada di sekitar mereka. Mereka pun seakan-akan lupa akan semboyan Indonesia, padahal mereka adalah warga Indonesia sendiri. Seperti yang sudah tersirat didalam Al-Quran Q.S Al-Hajj : 39 (22) yang berarti:

 “(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata:” Tuhan kami hanyalah Allah “. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.


 Dalam konteks ini, Tuhan mengayomi mereka semua yang menyebut nama-Nya. Tuhan disini tidak memandang perbedaan sama sekali, namun umatnya malah berselisih satu sama lain. Pertikaian biasanya diawali dari berbagai ejekan dengan satu sama lainnya. Seperti yang telah di jelaskan dalam Injil Lukas 6 : 45 yang berbunyi:

(45) Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.”


Disini dijelaskan bahwa orang yang dari dalam hatinya sudah jahat maka perkataan yang dikeluarkan pun pastilah mengandung sesuatu yang jahat. Mengandung kedengkian ataupun iri hati terhadap sesamanya sehingga mengakibatkan permusuhan. Akibat dari ejekan-ejekan yang terlontar dari mulut seseorang pun, maka terjadilah tawuran atau pertikaian antara kelompok agama tertentu.
Bahkan Sang Buddha pun telah menjelaskan tentang diri yang baik adalah yang mau mengalah dan menguasai ego dan emosi yang ia miliki.

“Meskipun seseorang telah mengalahkan jutaan orang dalam pertempuran, namun dia yang dapat menundukan dirinya sendiri sesungguhnya adalah seorang penakluk utama. Sesungguhnya seseorang yang telah menundukkan dirinya sendiri adalah lebih baik daripada yang telah menundukkan orang lain. Bagi orang yang menguasai dirinya sendiri, yang selalu hidup terkendali”(Dhammapada, Bab VIII : 103-104)



Penyebab munculnya pertikaian antar umat beragama antara lain:

A. Perbedaan Doktrin dan Sikap Mental
Semua umat beragama yang sedang terlibat dalam bentrokan masing-masing menyadari bahwa justru perbedaan doktrin itulah yang menjadi penyebab dari benturan itu.
Entah sadar atau tidak, setiap pihak mempunyai gambaran tentang ajaran agamanya, membandingkan dengan ajaran agama lawan, memberikan penilaian atas agama sendiri dan agama lawannya. Padahal bisa saja kita melihat persamaan agama kita dengan agama lain. Agama Islam dan Kristen di Indonesia, merupakan agama samawi yang meyakini terbentuk dari wahyu Ilahi karena itu memiliki rasa superior, sebagai agama yang berasal dari Tuhan.
Di beberapa tempat terjadinya kerusuhan kelompok masyarakat Islam dari aliran sunni atau syiah. Bagi golongan sunni, memandang Islam dalam keterkaitan dengan keanggotaan dalam umat. Islam sebagai hubungan pribadi lebih dalam artian pemberlakuan hukum dan oleh sebab itu hubungan pribadi itu tidak boleh mengurangi solidaritas umat, sebagai masyarakat terbaik di hadapan Allah. Dan mereka masih berpikir tentang pembentukan negara dan masyarakat Islam di Indonesia. Kelompok ini begitu agresif, kurang toleran dan terkadang fanatik.
Karena itu, faktor perbedaan doktrin dan sikap mental dan kelompok masyarakat Islam dan Kristen punya andil sebagai pemicu konflik.

B. Perbedaan Suku dan Ras Pemeluk Agama
Tidak dapat dipungkiri bahwa perbedaan ras dan agama memperlebar jurang permusuhan antar bangsa. Perbedaan suku dan ras ditambah dengan perbedaan agama menjadi penyebab lebih kuat untuk menimbulkan perpecahan antar kelompok dalam masyarakat.
Contoh di wilayah Indonesia, antara Suku Aceh dan Suku Batak di Sumatera Utara. Suku Aceh yang beragama Islam dan Suku Batak yang beragama Kristen; kedua suku itu hampir selalu hidup dalam ketegangan, bahkan dalam konflik fisik yang merugikan ketentraman dan keamanan.
Di beberapa tempat yang terjadi kerusuhan seperti: Situbondo, Tasikmalaya, dan Rengasdengklok, massa yang mengamuk adalah penduduk setempat dari Suku Madura di Jawa Timur, dan Suku Sunda di Jawa Barat. Sedangkan yang menjadi korban amukan massa adalah kelompok pendatang yang umumnya dari Suku non Jawa dan dari Suku Tionghoa. Jadi, nampaknya perbedaan suku dan ras disertai perbedaan agama ikut memicu terjadinya konflik.


C. Perbedaan Tingkat Kebudayaan
Agama sebagai bagian dari budaya bangsa manusia. Kenyataan membuktikan perbedaan budaya berbagai bangsa di dunia tidak sama. Secara sederhana dapat dibedakan menjadi dua kategori budaya dalam masyarakat, yakni budaya tradisional dan budaya modern.
Tempat-tempat terjadinya konflik antar kelompok masyarakat agama Islam - Kristen beberapa waktu yang lalu, nampak perbedaan antara dua kelompok yang konflik itu. Kelompok masyarakat pribumi memiliki budaya yang sederhana atau tradisional, sedangkan kaum pendatang memiliki budaya yang lebih maju atau modern. Karena itu bentuk rumah gereja lebih berwajah budaya Barat yang mewah.
Perbedaan budaya dalam kelompok masyarakat yang berbeda agama di suatu tempat atau daerah ternyata sebagai faktor pendorong yang ikut mempengaruhi terciptanya konflik antar kelompok agama di Indonesia.

D. Masalah Mayoritas dan Minoritas Golongan Agama
Di berbagai tempat terjadinya konflik, massa yang mengamuk adalah beragama Islam sebagai kelompok mayoritas; sedangkan kelompok yang ditekan dan mengalami kerugian fisik dan mental adalah orang Kristen yang minoritas di Indonesia. Sehingga tampak kelompok Islam yang mayoritas merasa berkuasa atas daerah yang didiami lebih dari kelompok minoritas yakni orang Kristen. Karena itu, di beberapa tempat orang Kristen sebagai kelompok minoritas sering mengalami kerugian fisik, seperti: pengrusakan dan pembakaran gedung-gedung ibadat atau ketidaknyamanan saat hendak melakukan perayaan-perayaan seperti paskah ataupun hari raya natal.

Solusi

Solusi yang dapat dilakukan adalah dengan dimulai dari diri sendiri. Kenali agama yang kita anut dengan baik dan benar kemudian barulah agama lain secara garis besarnya. Carilah nilai positif yang diajarkan oleh agama sendiri maupun yang diajarkan oleh agama lain sehingga kita terus memandang agama lain secar sinis atau negatif.
Ada beberapa upaya penghindaran konflik agar tidak terjadi di masyarakat. Upaya yang perlu ditempuh unuk menantisipasi konflik agama antara lain :
1.                  Dalam menangani konflik antaragama, jalan terbaik yang bisa dilakukan adalah saling menyatukan hati di antara umat beragama, mempererat persahabatan dengan saling mengenal lebih jauh, serta menumbuhkan kembali kesadaran bahwa setiap agama membawa misi kedamaian.
2.                  Tidak memperkenankan pengelompokan tempat tinggal dari kelompok yang sama didaerah atau wilayah yang sama. Jadi tempat tinggal/domisili atau perkampungan sebaiknya bercampur dan tidak mengelompok berdasarkan suku (etnis), agama, atau status sosial ekonomi tertentu agar tidak terjadi kesenjangan.
3.                  Masyarakat pendatang dan masyarakat atau penduduk asli juga harus berbaur
atau membaur atau dibaurkan.
4.                  Segala macam bentuk ketidakadilan agama harus dihilangkan atau
dibuat seminim mungkin.
5.                  Kesenjangan sosial dalam hal agama harus dibuat seminim mungkin.
6.                  Perlu dikembangkan adanya identitas bersama misalnya kebangsaan (nasionalisme-Indonesia) agar masyarakat menyadari pentingnya persatuan dalam berbangsa dan bernegara.



Perlu dicari tokoh masyarakat yang dipercaya dan atau dihormati oleh kedua belah pihak yang berkonflik, untuk berusaha menghentikan konflik melalui negosiasi. Hal ini merupakan usaha membuat perdamaian.
Dalam usaha untuk mengembangkan adanya perdamaian yang lestari, , maka metode yang dipakai oleh pihak ketiga sebaiknya adalah mediasi.
Mediasi adalah suatu cara intervensi dalam konflik, di mana mediator (fasilitator) dalam konflik ini juga harus mendapat kepercayaan dari pihak yang berkonflik. Tugas mediator adalah memfasilitasi adanya dialog antara pihak yang berkonflik, sehingga semuanya dapat saling memahami posisi maupun kepentingan dan kebutuhan masing-masing, dan dapat memperhatikan kepentingan bersama.
Jalan keluar atau penyelesaian konflik harus diusulkan oleh atau dari pihak-pihak yang berkonflik. Mediator sama sekali tidak boleh mengusulkan atau memberi jalan keluar/penyelesaian, namun dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membantu pihak-pihak yang berkonflik untuk dapat mengusulkan atau menemukan jalan penyelesaian yang dapat diterima oleh semua pihak. Mediator tidak boleh memihak, harus bersifat netral.
Mediator harus juga memperhatikan kepentingan-kepentingan stakeholders, yaitu mereka yang tidak terlibat secara langsung dalam konflik, tetapi juga mempunyai kepentingan-kepentingan atas penyelesaian konflik itu. Kalau stakeholders belum diperhatikan kepentingannya atau kebutuhannya, maka konflik akan dapat terjadi lagi, dan akan meluas serta menjadi lebih kompleks dan dapat berlangsung dengan berkepanjangan.


Lady Gaga VS Front Pembela Islam


Mengembangkan kegiatan pendamaian itu tidak mudah. Ada beberapa tahapan atau perkembangan yang dapat kita amati yaitu:
a)  Peace making yaitu memfokuskan pada penyelesaian masalah –masalahnya (isunya: persoalan tanah, adat, harga diri, dsb.) dengan pertama-tama menghentikan kekerasan, bentrok fisik, dll. Waktu yang diperlukan biasanya cukup singkat, antara 1-4 minggu.
b) Peace keeping yaitu menjaga keberlangsungan perdamaian  yang telah dicapai dan memfokuskan penyelesaian selanjutnya pada pengembangan/atau pemulihan hubungan yang baik antara warga masyarakat yang berkonflik. Untuk itu diperlukan waktu yang cukup panjang, sehingga dapat memakan waktu antara 1-5 tahun.
c) Peace building .Dalam usaha peace building ini yang menjadi fokus untuk diselesaikan atau diperhatikan adalah perubahan struktur dalam masyarakat yang menimbulkan ketidak-adilan, kecemburuan, kesenjangan, kemiskinan, dsb. Waktu yang diperlukan pun lebih panjang lagi, sekitar 5-15 tahun


   Sumber-sumber:
   Al-Quran
   Perjanjian Baru
   www.wikipedia.com
   www.google.com
   Pemikiran penulis



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar