Sabtu, 22 September 2012

Tugas 3 - Solusi labsky untuk Indonesia


Kemacetan

Transportasi merupakan masalah yang sangat pelik bagi Negara berkembang. Betapa tidak, di Negara berkembang Tingkat pertumbuhan penduduk lumayan tinggi, sehingga berimbas kepada pengguna jasa transportasi yang meningkat tajam. Indonesia merupakan salah satu Negara dengan Populasi terbesar di dunia, sehingga di Negara ini masalah Transportasi sudah mengganggu kehidupan sosial masyarakat khususnya di Jakarta. Jakarta merupakan Ibu kota negara, 9.000.000 jiwa penduduk terkonsentrasi di kota ini. Padatnya penduduk Jakarta berakibat pada kemacetan, masalah kemacetan ini sudah makanan sehari-hari penghuni Jakarta.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah DKI dari mulai Tree In One, pembangunan jalan layang dan jalan tol, sampai ditelurkan Transportasi masal seperti Busway, perluasan jalan yang tidak pernah selesai. Namun, kemacetan tetap saja terjadi. Akibat dari kemacetan yang berlarut-larut membuat masyarakat dan pemerintah frustasi, sehingga lempar kesalahan tak terelakan. Masyarakat menganggap masalah kemacetan ini merupakan Tanggung Jawab gubernur. Tentu saja, Gubernur tidak mau saja dijadikan kambing hitam atas segala masalah.

Sistem lalu lintas adalah salah salah satu faktor kemacetan. Misalkan para polisi lalu lintas atau di singkat polantas yang bekerja secara kurang efektif menyebabkan kurang lancarnya perjalanan para pengguna jalan. Para polisi yang menerima suap berupa uang dan meloloskan para pengguna jalan yang mampu membayar mereka, jika para polantas tidak menerima suap maka pengguna jalan tidaklah semena-mena melanggar jalan dan akan merasa jera jika ditangkap para polisi.

Tata jalanan juga merupakan faktor kemacetan. Coba misalkan setiap 16 meter ada lampu merah, walaupun terlihat dapat menertibkan para pengemudi akan tetapi para pengemudi yang semena-mena akan melanggar atau menerobos lampu merah. Luas dan kondisi jalan juga berpengaruh kepada lajunya kendaraan karena mobil lebar harus berhati-hati saat melaju dan kondisi jalan seperti lobang berpengaruh pada mobil-mobil sedan atau city car karena mereka harus berjalan pelan dan menghidari lubang.

Pembangunan dan sistem lalu lintas bukanlah satu-satunya faktor kemacetan. Pengguna jalan juga adalah sebuah faktor kemacetan. Terdapat banyak penyebab misalkan angkot-angkot yang berhenti sembarangan padahal sudah ada rambut dilarang stop, pedagang kaki lima yang memakai bahu jalan sebagai tempat berjualan, metro mini yang berjalan dengan kecepatan tinggi dan berhenti mendadak menyebabkan kendaraan dibelakangnya berheti atau bahkan terjadi tabrakan beruntun. Pengguna sebenarnya juga bukan Cuma faktor melainkan juga sebagai solusi kemacetan itu tersendiri. Pengguna dapat menghilangkan kemacetan dengan berkemudi secara tertib dan tidak semena-mena melanggar peraturan yang ada di jalan raya tanpa harus diawasi polisi. Contohnya saat lampu merah macet para pengemudi tidaklah maju dan bersabar, motor atau mobil tidak menyelip saat macet, tidak menggunakan jalur busway sebagai jalan cepat.

Kualitas transportasi umum merupakakn faktor yang tidaklah kalah penting. Para kalanangan bawah mengharapkan bus kota yang sejuk, bersih dan tidak bising, akan tetapi mereka mendapati bus kota yang sempit, kotor, dan pengemudi yang berkendara secara ugal-ugalan. Hal tersebut menyebabkan para pengguna tidak nyaman dan berpaling dari dari kendaraan umum dan membeli kendaraan yang murah, ini menyebabkan penuhnya jalan akan mobil dan motor. Jika pemerintah lebih peduli terhadap kendaraan umum dan menaikain kualitas sarana transportasi umum maka para masyarakat tidak akan berpaling pada bus kota.

Sikap masyarakat yang hedonis memberi dampak. Karena harga motor yang murah dengan cicilan rendah juga bersifat menggiurkan dan para masyarakat akan tertarik untuk membel kendaraan tersebut.

Negara kita mempunyai Kementrian perhubungan, kenapa Departemen ini tidak pernah disorot terkait dengan persoalan kemacetan. Kalau kita perhatikan, Kementrian Perhubungan disorot apbila ada sebuah kecelakaan, seperti, Kapal Tenggelam, Pesawat Jatuh dan Kereta Api terbalik. Apakah cuman itu domain Kementrian Perhubungan? Jika memang sekitar masalah kecelakaan Transportasi enak betul ya kerjanya Kementrian ini.
Singkatan biar ga ribet daah

Indonesia dan di Negara berkembang lainya, timbul gaya hidup mengoleksi dan gonta-ganti produk, semisal Handpone, pakaian dan Kendaraan. Sebagian besar kalangan menengah keatas cendrung berlomba-lomba membeli mobil baru, belum genap seminggu iklan mobil itu muncul di Televisi kita sudah menyaksikan kendaraan tersebut berseleweran di jalanan. Bagi kalangan orang kaya ini ada 2-3 unit mobil terparkir di garasi rumah mereka. Nilai jual harta bergerak (mobil) yang selalu turun, tetap saja tidak mengurangi niat mereka untuk memiliki mobil ini. Bagi mereka kebanggan memiliki mobil tersebut mungkin salah satu alasan utama, namun juga ada alasan lain, salah satunya adalah tingkat kenyamanan dan keamanan sipengendara sampai di tempat tujuan.

Agar meredam gaya hidup konsumtif masyarakat, maka Pemerintah seharusnya menyediakan layanan Bus atau Transportasi masal. Sehingga pengguna jasa akan memakai layanan angkutan untuk melakukan berbagai aktifitas. Menyangkut layanan ini berbagai aspek harus diperhatikan mulai dari kondisi kendaraan, ketersediaan dan kualitas sopir serta pegawai-pegawai yang mengurusi Jasa Transportasi tersebut. Sehingga para penumpang senang atas layanan yang mereka berikan dan sang sopir selalu disiplin serta mematuhi peraturan lalu lintas. Juga, pemandangan Bus/jasa transportasi yang berhenti di sembarang tempat yang berkibat tersumbatnya laju kendaraan tidak terlihat lagi.

Jika hal ini sudah diperhatikan maka berlanjut pada masalah keamanan yang menjadikan alasan kenapa masyarakat enggan menggunakan Jasa Transportasi masal. Polisi yang mempunyai kewenangan hendaknya di selalu memantau, dimana penumpang terkonsentrasi seperti halte dan terminal yang merupakan seringnya terjadi kecopetan dan tindak premanisme. keamanan ini juga termasuk salah satu sebab enggannya penumpang untuk menggunakan Jasa Transportasi, karena seringnya terjadi kecopetan, pemerasan dan pelecehan seksual. Pihak keamanan harus menggaransi tempat-tempat seperti halte dan terminal terbebas dari peristiwa yang ditakuti oleh penumpang.

Jika kenyamanan dan keamanan sudah terjamin, maka masyarakat akan segera beralih ke Bus/Transportasi masal. Sehingga mereka akan mengandangkan mobil pribadi dan berganti ke Jasa Transportasi, jika telah terjadi pengurangan volume kendaraan di jalanan maka dengan sendirinya kemacetan itu akan terselesaikan dengan sendirinya.

Jepang, merupakan Negara maju, tingkat pendapatan dan daya beli beli disana sangat tinggi. Namun masyarakat Jepang hanya menggunankan Sepeda, Bus, Trem dan kereta Api. Kenapa demikian, karena alat Tranportasi Jepang terjamin keamanan dan kenyamanannya. Jepang Negara yang telah terkenal dengan kedisiplinannya, tidak ada cerita keterlambatan yang dialami oleh penumpang. Tidak ontime pun menjadi salah satu keengganan bagi masyarakat untuk mernggunakan jasa Transportasi.

Didaerah kita saja sering terjadi Bus yang kita tumpangi ngetem berjam-jam di terminal sehingga keberangkatan molor beberapa jam. Memang benar tidak bisa kita bandingkan antara negara kita dengan Negara maju seperti Jepang. Namun, tidak salahnya kita meniru hal kecil tapi merupakan suatu yang dalam kelancaran berlalu lintas. Bukankah menuju seribu langkah juga dimulai dari langkah pertama.

Andaikan kenyamanan,keamanan dan disiplin itu saja sudah diterapkan dengan benar maka akan membawa perubahan besar dalam bidang Transportasi Negara kita. Sebenarnya masalah Transportasi hanyalah masalah prilaku atau kebiasan yang buruk para penyedia layanan, tapi sudah membudaya yang diakibatkan oleh pembiaran dari pihak-pihak yang berwenang dan bertanggung jawab. Akibat dari pembiaran tersebut timbulah masalah yang sedemikian komplek. Sehingga kita terpaksa mengurai satu persatu aspek yang berkaitan dengan Transportasi.

Kita bisa melihat sendiri pemandangan sehari-hari, Bus yang seharusnya masuk ke dalam Terminal yang sudah disediakan, hanya sampai di diluar saja atau hanya sekedar berputar. Padahal, ada banyak petugas yang mengawasi namun tidak memberikan teguran datu penidakan terhadap bus tersebut. Akibatnya bus-bus lain mengikuti sehingga timbulah Terminal bayangan di setiap perempatana jalan. Penumpang pun tidak perlu repot, hanya menggunakan Terminal bayangan tersebut. Efeknya terjadilah penumpukan kendaraan dan penumpang di badan-badan jalan yang mengakibatkan terhentinya kelancaran arus kendaraan dan itulah yang dinamakan dengan kemacetan.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar