Kamis, 27 September 2012

Tugas-3 Solusi Labsky untuk Indonesia


"Kemana Perginya Uang Rakyat?"


Indonesia, sebuah negara yang merupakan negara terpadat ke tiga dalam hal jumlah penduduknya. Indonesia juga menempati urutan ke tiga dalam hal lain, namun kali ini dalam hal yang bisa dibilang tidak begitu membanggakan. Indonesia adalah negara terkorup ke tiga di dunia. Hal ini cukup ironis, mengingat indonesia adalah negara yang jumlah penduduknya sangat padat, seharusnya usaha untuk memakmurkan penduduk yang banyak ini lebih maksimal. Namun, korupsi malah merajalela.
Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus politisi maupun pegawai negeri yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.
Korupsi bukan lagi suatu pelanggaran hukum, akan tetapi di Indonesia korupsi sudah sangat umum dan sekedar menjadi suatu kebiasan, hal ini karena korupsi di Indonesia berkembang dan tumbuh mulai dari kalangan para pejabat tingkat atas hingga ke tingkat yang paling bawah. Di tingkat pusat, kita telah menyaksikan jenis masalah yang menyengsarakan rakyat ini, sebagaimana dilakukan oleh pihak anggota DPR, Menteri, Kejaksaan Agung, Bank Indonesia, Mabes POLRI, dan KPU. Di bagian menengah kita juga telah menyaksikan pihak Gubernur dan beberapa pejabat lainnya di tingkat provinsi. Sementara di bawah, ada beberapa Bupati, sejumlah anggota DPRD Kabupaten/Kota, dan beberapa pejabat lainnya.



Beberapa kasus korupsi yang telah terjadi di Indonesia adalah: Kasus dugaan korupsi Soeharto yaitu dakwaan atas tindak korupsi di tujuh yayasan, kasus korupsi Pertamina yaitu dalam Technical Assistance Contract dengan PT Ustaindo Petro Gas, kasus korupsi Bapindo yaitu pembobolan di Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) oleh Eddy Tansil, kasus korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yaitu penyimpangan penyaluran dana BLBI, dan kasus korupsi oleh Abdullah Puteh yang mengkorupsi APBD.
Itu hanyalah sebagian kasus korupsi dari sekian banyaknya yang terjadi namun tidak terungkap. Pada tahun 2011 terdapat 436 kasus korupsi dengan jumlah tersangka 1.053 orang. Potensi kerugian negara akibat korupsi ini mencapai jumlah Rp2,169 triliun. Angka yang tidak sedikit. Tidak heran bila Indonesia dilanda kemiskinan, melihat uang rakyat sejumlah sebanyak itu yang diambil haknya dan dipersalahgunakan.
Pertanyaannya adalah, mengapa indonesia dipenuhi oleh koruptor?
Pertama adalah moral bangsa yang rendah. Para koruptor bersifat tamak. Sebagian besar para koruptor adalah orang yang sudah cukup kaya. Namun, karena ketamakannya, mereka masih ingin untuk memperkaya diri. Sifat tamak ini biasanya berpadu dengan moral yang kurang kuat dan gaya hidup yang konsumtif. Pada akhirnya, aparat cenderung mudah tergoda untuk melakukan korupsi. Sifat yang lain adalah keegoisan. Dengan seenaknya para koruptor mengambil hak uang rakyat tanpa merasa bersalah. Mereka tidak peduli sama sekali akan masyarakat lain yang miskin dan kelaparan. Selain itu, kemalasan mereka membuat mereka melakukan tindakan korupsi itu karena ingin segera mendapatkan uang yang banyak dengan cepat dan mudah tanpa harus banting tulang seperti orang kebanyakan.
Tidak hanya koruptor saja, hal ini bisa terjadi karena aparat pemerintah. Alasan kedua adalah, kurangnya upaya pengawasan tindakan korupsi oleh aparat pemerintah. Bila pemerintah dapat lebih jeli dalam mengawasi keuangan maka tindakan korupsi dapat segera teratasi dan tidak akan mengalami kerugian sampai bertriliun-triliun. Dari sekian banyaknya kasus korupsi, hanya beberapa saja yang terungkap dan ditindaklanjuti.
Ketiga adalah, sistem politik yang kurang ketat. Peraturan-peraturan yang longgar dan sanksi-sanksi yang pelaksanaan dan penegakkannya masih kurang, terlalu ringan, tidak konsisten dan pandang bulu, kualitas peraturan yang kurang memadai, peraturan yang kurang disosialisasikan, serta lemahnya bidang evaluasi dan revisi peraturan perundang-undang, memicu tindakan korupsi.
Kemiskinan hanyalah salah satu dampak yang disebabkan oleh korupsi ini. Definisi dari kemiskinan itu sendiri adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.



Uang yang seharusnya milik rakyat disalah gunakan oleh para koruptor. Badan Pusat Statistik (BPS) menilai kemiskinan di Indonesia sudah pada tahap kronis. Pemerintah sangat kesulitan hanya mengurangi 1% tingkat kemiskinan saja. Bahkan, Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional 2008, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 35 juta.
Jumlah orang miskin di Indonesia tergolong tinggi. Ribuan orang terpaksa harus antri untuk menerima Bantuan Langsung Tunai. Banyak orang harus berduyun-duyun untuk menerima zakat, yang besarnya tidak seberapa. Di Jakarta ditemukan sekelompok orang yang terpaksa memakan daging dan makanan lainnya yang diambil dari tumpukan sampah. Banjir terjadi dimana-mana, karena hasil hutannya dikorupsi secara besar-besaran. Angka Indeks Pengembangan Sumber Daya Manusia masih sangat memprihatinkan, karena dana pendidikan juga tidak luput dari keganasan korupsi ini. Tentunya masih banyak lagi penderitaan-penderitaan lainnya. Sementara itu, para koruptor hidup mewah, semuanya karena uang gelap yang mereka peroleh, dan masyarakat tidak berdaya.
Solusi untuk masalah kemiskinan yang sudah terlalu lama menyengsarakan rakyat ini perlu segera dicari. Namun, sebelum itu perlu dipikirkan terlebih dahulu faktor-faktor penyebab mengapa kemiskinan menjadi masalah Indonesia yang sampai sekarang belum terpecahkan?



Pertama, biaya hidup yang tinggi. Sudah sewajarnya jika biaya hidup meningkat namun pendapatan tidak sesuai, maka tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik. Meningkatnya biaya hidup dalam masyarakat tertentu merupakan indikasi ketidakseimbangan pendapatan yang diperoleh masyarakat yang tidak ditunjang dengan keahlian kerja, sementara persaingan dalam dunia kerja terus meningkat. Jika demikian, wajar saja bila kemiskinan di Indonesia masih saja terjadi.
Kedua adalah, subsidi dari pemerintah yang tidak merata dari pemerintah terhadap daerah. Penyebab kemiskinan di Indonesia dalam hal ketidakmerataan subsidi ini akan menyulitkan terpenuhinya berbagai kebutuhan pokok dalam masyarakat serta minimnya jaminan keamanan bagi masyarakat terutama masyarakat miskin.
Penyebab kemiskinan yang ketiga adalah minimnya lapangan kerja yang tersedia. Masyarakat miskin tidak mempunyai sumber pendapatan maupun uang yang cukup untuk memenuhi biaya hidup yang tinggi karena kurangnya lapangan kerja yang tersedia.
Keempat, sistem pendidikan yang kurang baik. Hingga saat ini, masih banyak sekali jumlah orang-orang yang tidak bersekolah dan bahkan buta huruf. Dengan keadaan yang seperti ini, tidak heran bila mereka masih harus tinggal di jalanan dan meminta-minta uang kepada orang yang lewat demi sesuap nasi. Bila seseorang tidak mempunyai pendidikan yang baik, maka ia tidak mungkin bisa mendapat pekerjaan serta pendapatan yang baik pula dan dapat memenuhi biaya hidupnya.
Selain faktor-faktor di atas, menurut saya kemiskinan juga dapat disebabkan oleh korupsi. Keduanya saling berhubungan erat. Oleh karena itulah, diperlukan pemecahan atas kedua masalah besar tersebut untuk Indonesia yang lebih baik dan terbebas dari kemiskinan serta korupsi.



Sudah sejak lama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan perang terhadap korupsi dan berupaya untuk menghilangkannya. Namun, berdasarkan data Transparency International Indonesia masalah korupsi tak teratasi dengan baik dan menempatkan Indonesia di peringkat 100 dari 183 negara pada 2011 dalam Indeks Persepsi Korupsi.
Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perubahan signifikan yang terjadi dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. 
Dalam rangka pencegahan dan pemberantasan korupsi untuk ke depannya, terdapat empat hal yang bisa dijadikan bahan renungan dan pemikiran. Keempat hal tersebut, yakni: harmonisasi peraturan perundang-undangan dalam rangka pencegahan dan pemberantasan korupsi, pembenaran dan perwujudan peran dan fungsi aparatur penegak hukum yang menangani perkara korupsi, serta reformulasi fungsi lembaga legislatif.
Tetapi upaya pemberantasan tersebut tidak akan efektif tanpa diikuti upaya preventif (pencegahan), karena untuk mewujudkan Indonesia bebas korupsi tidak cukup dengan menangkap para koruptor, melainkan harus diikuti dengan usaha membersihkan generasi korup.
Korupsi erat kaitannya dengan pelanggaran nilai-nilai moral, karena itu upaya preventif yang paling efektif untuk memotong generasi korup adalah perbaikan moral melalui pendidikan dini anti korupsi. Pendidikan diyakini mampu melahirkan manusia yang handal dan berakhlak mulia. Dengan demikian, pendidikan dapat dijadikan solusi atas persoalan bangsa ini, terutama korupsi. Memberikan pendidikan sejak dini kepada anak bangsa dengan menanamkan sikap dan perilaku anti korupsi —pendidikan anti korupsi—  dapat dijadikan upaya preventif terhadap tindakan korupsi.
Selain itu, pemberantasan tindak pidana korupsi harus dimulai dari diri sendiri dari hal-hal yang kecil dan mulai hari ini agar setiap daerah terbebas dari korupsi.
Untuk memecahkan masalah kemiskinan di Indonesia, upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia sebaiknya kita sikapi dengan bijaksana. Jangan hanya mengandalkan pemerintah saja tetapi sekaligus melakukan upaya antisipasi dari faktor-faktor penyebab kemiskinan di Indonesia yang ada.
Kebijakan pemerintah yang diterapkan untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia juga harus kita apresiasikan dengan baik, seperti kebijakan mengikuti wajib belajar sembilan tahun, ikut mensukseskan program keluarga berencana, meningkatkan produktivitas kerja mandiri melalui UKM, memaksimalkan sumber daya manusia untuk mengolah sumber daya alam Indonesia yang kaya, serta menanamkan etos dan motivasi kerja yang baik, sehingga akan meminimalkan angka pengangguran.
Bila solusi-solusi tersebut diterapkan dengan baik dan efektif, maka Indonesia masih mempunyai harapan untuk menjadi Indonesia yang tingkat kemiskinannya teratasi dan bebas dari korupsi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar