Jumat, 28 September 2012

Tugas-3 Solusi Labsky untuk Indonesia


          Ironi dari Negeri Agraris
               
                Indonesia. Sebuah negara kepulauan yang terletak di wilayah Asia Tenggara. Indonesia adalah negara dengan kepulauan terbesar di dunia, yaitu sekitar 13.487 pulau. Negara ini dilintasi oleh equator line, garis khatulistiwa atau dilalui titik 0 (nol) derajat. Ditinjau dari sisi geografis, Indonesia letaknya diapit oleh dua benua, satu terbesar, satu yang terkecil, Benua Asia dengan Australia. Letaknya juga di antara 2 samudra, Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
                Kekayaannya? Tidak ternilai. Indonesia memiliki keuntungan besar, hanya jika ditinjau dari sisi letak geografisnya. Negara yang dilalui oleh garis khatulistiwa dikenal dengan iklim tropisnya yang bersahabat. Lain dengan negara di utara maupun selatan, Indonesia hanya mengalami 2 musim, kemarau dan hujan. Atas faktor tersebut, Indonesia seolah-olah mendapatkan keseimbangannya tersendiri dalam hal cuaca, yang tentunya akan berpengaruh terhadap aktivitas serta kegiatan manusia yang tinggal di Indonesia.
                Semenjak tanggal 17 Agustus tahun 1945, Indonesia telah bebas dari belenggu penjajah-penjajah yang dahulu pernah berkuasa. Namun, bebas dari penjajahan sepertinya belum akhir dari permasalahan. Indonesia memang melakukan banyak perubahan, namun masih juga tertinggal jauh dari Negara lain. Sedangkan kita tahu, Indonesia seolah memiliki “segalanya” untuk meraih kesuksesan di dunia.
                Namun, faktanya kini, yang terjadi adalah sebaliknya. Menurut saya, Indonesia belumlah melakukan yang “terbaiknya”. Indonesia belum sepenuhnya memanfaatkan sumber daya yang ada, sehingga kalah jauh dari negara-negara lain dengan kekayaan yang tidak sebanyak yang Indonesia miliki.
                Menurut beberapa sumber yang saya telusuri lewat internet, saya dapat merangkum beberapa permasalahan besar yang kini terjadi di Indonesia.
1.       Kepadatan penduduk
2.       Krisis pangan
3.       Toleransi antar umat manusia
4.       Pengangguran
5.       Dunia pendidikan
6.       Korupsi
7.       Kemiskinan 
Di antara 7 permasalahan di atas, permasalahan nomor 2 agaknya berupa maslah yang sangat menohok . Mengapa?
                Selama ini, Indonesia dikenal akan sebutannya sebagai “negeri agraris”. Negara agraris adalah negara yang sebagian besar penduduknya mempunyai mata pencaharian sebagai petani. Mata pencaharian utama masyarakat Indonesia pada umumnya adalah petani. Berbagai hasil pertanian diunggulkan sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia. Para petani pun mendapat posisi yang mulia dengan berbagai pandangan, bantuan dan dukungan baginya.
                Di tahun 1980-an, orang tua saya mengaku begitu terdengar “negara kita adalah negara agraris” yang terbayang adalah hamparan sawah dengan padi menguning, sementara pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur irigasi. pada masa tersebut merupakan masa keemasan pembangunan berbasis pertanian.Puncaknya ketika Indonesia mampu swasembada pangan (padi) dari salah satu negara pengimpor beras terbesar.
                Namun, secara perlahan namun pasti terjadi pergeseran prioritas pembangunan negara, dimana sektor Industri menjadi tulang punggung utama dari perekonomian nasional. Setiap daerah berlomba-lomba membentuk kawasan khusus menyediakan jasa dan industri, dengan menjunjung harapan mampu menyedot Penghasilan Asli Daerah (PAD) dan menjadi sumber perekonomian bagi masyarakatnya.
                Bisa dipastikan, wajah ruang setiap perkotaan menjadi hutan beton dan baja. Sementara,  di kawasan pedesaan terjadi pergeseran lahan pertanian menjadi lahan yang kritis dan belukar. Kalau tidak, pedesaan menjadi kawasan yang terpinggirkan dengan penghuninya yang menjadi kaum urban. Alasannya jelas, mencari pekerjaan yang dikira lebih layak ketimbang mengurusi bidang agraria.
                Ada satu hal yang terlupakan dalam keriuh-ramaian pembangunan, bahwa semua manusia yang ada di kota dan desa perlu sesuatu untuk dimakan. Pada dasarnya, seluruh manusia butuh makan untuk bertahan hidup. Kurangnya perhatian pada bidang agrarian ini menyebabkan suatu permasalahan nomor 2 tadi, yaitu krisis pangan. Problema ini terjadi ketika harga pangan melambung karena produksi pertanian menurun namun tidak mampu memberikan kesejahteraan bagi petani. Untuk mengatasinya, langkah pintas pun diambil, impor pangan.
                Dari tahun ke tahun, tingkat impor pangan di Indonesia semakin meningkat. Dampaknya tentu saja berkaitan dengan harga pangan yang ikut terus meningkat, yang harganya masih terlampau mahal bagi masyarakat miskin.
                Ketergantungan masyarakat Indonesia akan impor sepertinya masih akan terus berlanjut. Negeri ini nyaris tidak bisa berbuat banyak jika terjadi permasalahan suplai pangan di negara pengimpor. Sebagai contoh, beberapa bulan terakhir, Indonesia mengalami krisis kacang kedelai. Indonesia biasa mengimpor kedelai dari Amerika Serikat, yang notabene adalah bahan baku dari temped an tahu. Ketika kekeringan melanda Amerika Serikat, peredaran tempe dan tahu di pasaran menjadi sulit untuk ditemukan.
                Kini, seolah-olah fitrah Indonesia, sebagai negeri agraris sudah hilang, lenyap. Indonesia tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan nasionalnya, sehingga harus mengimpor dari Negara lain. Tentu saja ini mengherankan. Bagaimana mungkin sebuah Negara agraris mengimpor atau meminta pasokan komoditas agrarian kepada Negara yang fitrahnya bukan sebagai Negara agraris? Sungguh ironi.
                Pertanian merupakan aspek yang sangat luas dalam negeri ini, jika dihubungkan dengan bidang lain. Akan ada kait-mengait, ibarat rantai yang tak bersimpul. Revolusi hijau merupakan salah satu bukti pertanian merupakan ahal yang pokok di negeri kita. Bagaimana saat itu ketika krisi, pertanianlah yang dapat membantu bangsa ini dalam menanganinya.
               
SOLUSI
1.    Mengedepankan Pertanian
                          Hampir seluruh pengembangan, khususnya pada  sebuah Negara memang selalu  memiliki tujuan yang baik. Namun, pengembangan ini harus diperhatikan bagaimana baiknya, bagaimana arahnya. Pada kasus ini, yang terjadi di Indonesia, sudah semestinya pertanian, sebagai modal utama Indonesia, dikedepankan sebagai prioritas utama. Tidak bermaksud untuk mengecilkan peran industri di Indonesia, hanya saja akan terlihat lebih mudah dan berciri jika kita memaksimalkan apa yang sudah ada, bukan?

2.    Sosialisasi Profesi Petani
                         Jika kita melihat pemberitaan terkait profesi petani di lain negeri, yang kita lihat adalah petani dipandang sebagai pekerjaan mulia, dengan apresiasi yang setimpal. Namun, bias kita bandingkan bagaimana profesi petani di Indonesia hanya dipandang sebelah mata. Pekerjaan petani dianggap belum cukup keren untuk bisa dibanggakan.
                         Sudah menjadi tugas pemerintah untuk meyakinkan para pemuda, khususnya yang berdomisili di pedesaan dengan hamparan sawah yang luas, meyakinkan bahwa petani adalah profesi yang tidak kalah keren dan dapat menghasilkan sesuatu yang besar, serta  memfasilitasi dengan sarana dan prasarana yang baik.
                         Perlu adanya penyadaran kembali bahwa pertanian masih menjadi salah satu prioritas pembangunan di Indonesia. Dimulai dari penataan ketersediaan pangan, pengaturan keberlanjutan produksi pangan dengan penyediaan lahan pangan berkelanjutan dan infratruktur pertanian yang handal (pembangunan dan pemeliharaan) dan pengaturan tata niaga pangan yang pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan petani.
                          Kesejahteraan para petani juga harus diperhatikan, dan masuk dalam urutan pertama. Seserang melihat potensi sebuah pekerjaan dari segi kesejahteraanjika ia mengambil profesi tersebut. Akan sangat disayangkan, petani dengan hasil kerja kerasnya itu tidak sejahtera dalam hidupnya. Padahal, hasil dari usahanya sangat berpengaruh dengan kelangsungan hidup seluruh penduduk dunia.

3.    Membudayakan “Menghasilkan”
                       Terkait dengan kasus impor, dapat dilihat seberapa besar Indonesia bergantung. Tentunya hal ini tidak baik. Impor memang diperlukan, namun harus pada taraf yang wajar. Menggunakan kesempatan impor berarti mengurangi cadangan devisa Negara, juga membunuh beberapa peluang yang dimiliki oleh pengusaha lokal.
               Impor juga memberikan dampak negative tersendiri, bagi masyarakat Indonesia. Yaitu timbulnya budaya konsumtif, yang cenderung lebih suka membeli ketimbang menghasilkan. Dalam pandangan saya, sudah sepantasnya Indonesia dengan 250 juta penduduknya lebih banyak menghasilkan dan dinikmati sendiri daripada membeli dari pihak lain yang hanya akan membawa keuntungan sepihak.
             Kegiatan impor juga berdampak pada semangat para petani. Kegiatan impor  membuat petani enggan untuk memproduksi lagi komoditas tersebut. Kita sebagai negara yang memiliki ketersediaan lahan yang cukup luas dengan berbagai jenis tanaman yang dapat dihasilkan, sudah seharusnya justru menjadikannya sebagai aset untuk negara kita.
            Walaupun saat ini perdagangan bebas dari aspek pertanian telah diterapkan diberbagai negara, kita juga harus memikirkan sektor pembangunan bangsa dengan tidak ”latah” untuk mengikuti  kebijakan luar tanpa menyesuaikan tempo yang ada. Karena jika kita belum mampu menyamai negara lain, mengikuti sistem perdagangan bebas lama kelamaan hanya akan menggerus kondisi pertanian kita menuju titik paling kritis.

4.    Intensifikasi, baru Ekstensifikasi
                   Intensifikasi produk berarti meningkatkan kualitas dari produk. Solusi yang ketiga ini masih berkaitan erat dengan solusi kedua. Jika banyaknya permintaan produk ke luar negeri, dalam hal ini pangan, berkaitan dengan kualitas produknya yang lebih baik, intensifikasi adalah kunci utamanya. Intensifikasi produk bertujuan untuk meningkatkan kualitas dari sebuah produk.
                   Selain mendapatkan kepercayaan dari masyarakat Indonesia sendiri, berita atau kabar-kabar terkait produk pangan Indonesia yang berkualitas akan terdengar koarnya hingga ke kancah internasional. Dengan terjadinya hal tersebut, akan banyak peluang terbuka bagi Indonesia.
               Salah satu cara efektif untuk mengembangkan produk adalah dengan mengembangkan teknologi pengolahannya terlebih dahulu, di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
               
                Masalah ini tentu saja tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dapat membahayakan stabilitas masyarakat Indonesia. Peran serta kontribusi pemerintah sangat diperlukan dalam penyelesaikan permasalahan ini. Diperlukan juga peran serta masyarakat dalam memajukan produk-produk pangan local Indonesia. Yang patut ditekankan adalah, masyarakat Indonesia adalah wajah dari negaranya. Apa yang dihasilkan, itu yang akan dilihat oleh orang banyak di luar Indonesia sana, dari mancanegara.
                Prinsip dan pengertian mekanisme persaingan yang sehat atau mekanisme pasar haruslah mengacu pada kepentingan pasar di dalam negeri, bukan kepentingan pasar internasional. Karena bagaimanapun juga Negara memiliki tanggung jawab dalam mensejahterakan dahulu rakyatnya. Hal ini dikarenakan Indonesia masih memiliki potensi dan kemampuan untuk memproduksi, ataupun memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Maka dari itu, ada banyak hal yang harus dibenahi terkait dengan sektor pertanian, agar kesejahteraan petani tidak hanya dirasakan oleh orang-orang tertentu saja. Tetapi dirasakan semua petani. Sehingga Indonesia sebagai negeri agraris dapat mengembalikan khasanahnya yang semakin pudar.
                Semoga, paparan solusi yang sudah disebutkan sebelumnya dapat berguna dan memberikan kontribusi terhadap perkembangan Indonesia di masa depan. Juga, kalimat “Negara Kita Negara Agraris”, mampu membangunkan Indonesia bahwa untuk membangun mimpi-mimpi kita harus tertidur pulas dalam posisi tenang dan tidak dalam kondisi kelaparan.

Sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar