Jumat, 21 September 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky Untuk Indonesia


Sepeda sebagai solusi macetnya Indonesia?
“Kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutamanya yang tidak mempunyai transportasi publik yang baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk, misalnya Jakarta dan Bangkok”.  Macet, setiap hari kita jalani, setiap hari kita dibodohi dengan kemacetan.  Memang sih, kemacetan merupakan hal yang wajar di negara berkembang seperti Indonesia. Nah dalam kesempatan  ini, izinkan saya untuk menulis suatu artikel yang mudah-mudahan bisa menjadi solusi untuk Indonesia dalam masa depannya.
Fakta mengatakan sebagian besar orang di Indonesia terutama Jakarta, menghabiskan lebih banyak menghabiskan waktu untuk bergelut di semrawutnya lalu lintas ibu kota dibanding waktunya untuk bekerja secara efektif. Bahkan ada yang meramalkan bahwa di tahun 2014 nanti, lalu lintas di Indonesia terutama Ibu Kota tercinta kita Jakarta tidak akan bisa bergerak lagi. Wow! Sebelum ramalan itu menjadi nyata, mari kita buat Indonesia menjadi negara bebas macet.  Bayangkan jika lalu lintas di indonesia lancar, ekonomi pun akan lancar, masalah kemiskinan akan berkurang, masalah kesehatan karena kotornya udara di Indonesia juga bisa berkurang drastis. Semua senang, Indonesia menang!
Apasih sebenarnya akar kemacetan di jakarta?
Banyak sebenarnya, sebutlah gaya hidup yang gengsi sehingga setiap orang berlomba lomba untuk memiliki kendaraan pribadi. Untuk menangani hal ini kita harus merubah pemikiran masyarakat tentang gengsi, gengsi karena bodoh itu harus ditanamkan tetapi gengsi karena kepemilikan harus dibuang jauh jauh.  
Murahnya pajak mobil di Indonesia juga, dan mudahnya orang-orang untuk menghindari dari pajak tersebut. Bayangkan jika pajak mobil dinaikkan menjadi 15 juta per tahun, pastilah berkurang manusia-manusia di Indonesia yang menggunakan kendaraan pribadi. Mereka pasti beralih ke kendaraan umum,  busway pun jadi program yang sukses, MRT (Mass Rapid Transportation) akan menjadi  kendaraan umum yang paling efektif.
Kita juga sudah melihat betapa susahnya pemerintah berusaha untuk mengurangi kemacetan di Indonesia, mulai dari penurunan jumlah penduduk yang gagal, busway yang sangat tidak efektif, dan tentu saja semua orang tahun proyek MRT yang sampai sekarang tidak jelas nasibnya
Masalah Rasio Kendaraan
Berdasarkan data Dinas Perhubungan DKI Jakarta, jumlah kendaraan di Jakarta pada 2007 sebanyak 5,8 juta kendaraan dengan rincian 2,2 juta mobil dan 3,6 juta motor. Pada 2008, jumlah kendaraan kembali meningkat menjadi 6,3 juta kendaraan dengan rincian 2,3 juta mobil dan 4 juta motor.
Pada tahun 2009, jumlah kendaraan kembali naik menjadi 6,7 juta dengan rincian 2,4 juta mobil dan 4,3 juta motor. Pada 2010, peningkatan jumlah kendaraan menembus angka 7,29 juta dengan rincian 2,56 juta mobil dan 4,73 juta motor. Pada tahun 2011, meningkat lagi jadi 7,34 juta kendaraan, kendaraan roda empat sebesar 2,5 juta dan kendaraan roda dua hampir 5 juta
Rasio kendaraan yang begitu meningkat dari tahun ke tahun memang merupakan hal yang sangat sulit untuk dihindari. Dengan rasio kendaraan yang tiap tahunnya meningkat tentunya tidak mengurangi kemacetan ataupun memperbaiki lalu-lintas di Jakarta tapi malah justru semakin memperburuk lalu-lintas ibukota ini.
Dampak Kemacetan bagi Indonesia
Kemacetan membuat warga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi rugi triliunan rupiah. Kantor Menteri Koordinator Perekonomian mencatat, tahun lalu kerugian yang dialami penduduk wilayah itu sebesar Rp 5,5 triliun atau rugi sekitar 3-6 persen ikih.it kemacetan atau inefisiensi sistem transportasi. “Persentase tersebut dibandingkan dengan pendapatan domestik regional bruto di Jakarta,” kata Ketua Masyara-kat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit di Jakarta kemarin.
Lalu lintas Jakarta macet selama sekitar 8-10 jam sehari. Sekretaris MTI Damantoro mengatakan penduduk Jakarta menghabiskan 60 persen waktunya di jalan karena terjebak macet. Hanya 40 persen dari waktu perjalanannya yang digunakan untuk bergerak. “Jadi, kalau pergi ke suatu tempat menghabiskan waktu 1 jam, misalnya, makayang 30 menit terbuang,” ujarnya.
MTI mencatat, rata-rata kecepatan kendaraan di Jakarta lebih rendah dibanding kota tetangganya, Bandung. “Di Jakarta, rata-rata kecepatan hanya 20 kilometer per jam, sedangkan di Bandung rata-ratanya 25 kilometer per jam,” kata Damantoro. Kerugian yang dialami masyarakat tidak hanya finansial, tetap juga sosial. Kemacetan berpengaruh buruk terhadap kualitas udara, yangakhirnya berpengaruh pula terhadap kesehatan masyarakat. Masyarakat, kata Damantoro, rugi sebesar Rp 2,8 triliun per tahun akibat kualitas udara yang buruk.
Jika tak ada perbaikan signifikan, pada 2020 diperkirakan warga Jakarta dan sekitarnya akan rugi Rp 65 triliun. Damantoro mengatakan, selain disebabkan oleh inefisiensi sistem transportasi, kemacetan disebabkan oleh banyaknya kendaraan pribadi.
http://rezasuryatman1111.wordpress.com/2011/04/11/dampak-kemacetan-bagi-perekonomian-indonesia/


Sepeda? Bisa kah jadi solusi?
Sepeda adalah kendaraan beroda dua atau tiga, mempunyai setang, tempat duduk, dan sepasang pengayuh yang digerakkan kaki untuk menjalankannya mungkin terdengar sangat melelahkan bagi orang yang belum biasa, tapi apa sepeda bisa jadi sebuah kendaraan yang lebih efektif dan menjadi solusi sebagai kemacetan Indonesia? Kenapa tidak?
Ada banyak jenis sepeda yang bisa kita pilih, mulai dari sepeda lipat atau folding bike  sepeda gunung atau disebut juga mountain bike, ada juga roadbike, fixed gear  dan masih banyak lagi.
Sebagai alat transportasi, sepeda memang dirancang untuk membawa barang. Sepeda pada awalnya dirancang untuk menunjang mobilitas manusia, agar dengan energi yang relatif kecil dapat mencapai jarak yang cukup jauh.
Kapasitas sepeda dalam mengangkut barang sangat terbatas. Bila dibandingkan dengan manusia yang berjalan kaki pada sebuah dataran selama satu jam dapat mencapai jarak sepanjang 3 sampai dengan 4 km, maka dengan sepeda jarak tersebut dapat dicapai hanya dalam waktu sekitar 15 menit. Selain sebagai alat transportasi sepeda juga memberikan nilai rekreatif dan menunjang pergerakan fisik yang sehat (Mc Cullagh, 1977).
1.       Bentuk dan ukuran yang ringkas, memungkinkan sepeda untuk disimpan dengan mudah atau diangkut dalam kendaraan (untuk dipakai jika diperlukan). Dengan teknologi konstruksi dan material (alucarbon) yang ada saat ini dimungkinkan sepeda untuk dilipat dan mempunyai massa yang ringan.
2.       Teknologi freewheel pada sepeda memungkinkan sepeda dipakai dengan nyaman, sekalipun pada jalan mendaki lebih dari 10%.
3.       Pemakaian sepeda mempunyai fleksibilitas yang tinggi dalam menghadapi kemacetan lalu lintas.
4.       Jangkauan jarak tempuh pemakaian sepeda relatif besar untuk suatu kawasan kota besar (4 sampai dengan 5 km per 15 menit).
5.       Nilai investasi relatif sangat kecil dibandingkan kendaraan bermotor/sepeda motor.
6.       Parawatan sepeda umumnya bisa dilakukan secara mandiri.
7.       Pemakaian sepeda secara teratur memberikan sumbangan kebugaran fisik yang baik.
8.       Pemakaian sepeda memberi sumbangan untuk kebersihan udara (pengurangan pemakaian bahan bakar mineral, yang memberikan emisi buangan beracun – carbon monoksida).
9.       Sepeda, secara teknis dapat dimodifikasi dengan mudah, dibandingkan dengan kendaraan bermotor yang sangat rumit
Segi kelemahan sepeda sebagai alat transportasi sendiri dapat diuraikan sebagai berikut: (Haecher, 1986):
1.       Sepeda hanya memungkinkan bagi transportasi barang secara terbatas, sekalipun diberi tambahan konstruksi khusus (yang tidak membahayakan pengendara maupun pemakai sarana lalu lintas lainnya).
2.       Pengendara sepeda tidak bisa terhindar dari kondisi cuaca yang tidak menguntungkan (panas dan hujan).
3.       Keselamatan pengendara sepeda relatif lemah, bila terjadi kecelakaan dengan alat transportasi lainnya (terutama dengan perilaku berkendaraan yang buruk dari kendaraan bermotor).
4.       Sepeda relatif mudah dicuri.
5.       Bila kondisi cuaca kurang baik atau topografi jalur lintasan yang naik turun membuat pengendara mudah berkeringat, hal mana bisa mengganggu kenyamanan kerja di kantor atau di tempat lainnya.
Dengan adanya kelebihan dan kelemahan sepeda sebagai alat transportasi, maka perencanaan jalur lintasan sepeda di dalam kota hendaknya bisa memenuhi kriteria atau prasyarat keselamatan/ keamanan pengendara dan juga kenyamanan berkendaraan. Bersepeda di dalam kota harus AMAN dan NYAMAN.
Di luar negeri, sudah banyak sekali orang yang bersepeda untuk commuting , kenapa kita tidak bisa bersepeda di Jakarta/kota-kota besar di Indonesia lainnya? Ingatkah betapa asiknya kita dulu saat pertama kali bisa menaiki sepeda dengan roda dua? Bagaimana kita tiap sore main keluar rumah dengan sepeda bersama teman-teman satu kampung/ satu komplek? Mantap rasanya, bukannya tidak mungkin kita jadikan sepeda se asyik dulu, namun dengan skala yang berbeda. Sudah banyak kok yang melakukannya, bahkan ada orang yang bisa dibilang nekat untuk mudik keluar kota dengan sepeda. Tak ada yang tidak mungkin asal kita mau memulainya dari diri kita sendiri. Mari kita jadikan Indonesia kota yang bebas macet dan sehat dengan sepeda!


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar