Sabtu, 22 September 2012

Tugas-3 Solusi Labsky untuk Indonesia



The only way to stop Piracy, is to provide a better service than the pirates.”

MASALAH

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan terbesar  di dunia yang terletak di benua Asia bagian Tenggara. Garis khatulistiwa yang melintasi negara ini dan letaknya yang diapit oleh dua benua, Asia dan Australia serta Samudera Hindia dan Pasifik, membuat Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Selain itu, Indonesia juga merupakan negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman seni budaya yang sangat kaya. Hal ini sejalan dengan keanekaragaman etnik, suku bangsa dan agama yang secara keseluruhan merupakan potensi nasional yang perlu dilindungi. Kekayaan seni dan budaya merupakan salah satu sumber dari karya intelektual yang perlu dilindungi.


Namun, pada kenyataannya pembajakan hak kekayaan intelektual di bidang hak cipta semakin memprihatinkan, terutama pembajakan atas karya cipta di bidang musik dan perfilman. Banyaknya pembajakan di bidang Hak Cipta lainnya menjadikan Indonesia sebagai surga bagi para pembajak, sehingga pemegang Hak Kekayaan Intelektual banyak yang di rugikan. Banyak sekali wisatawan asing yang memborong CD, VCD, DVD, maupun MP3 bajakan ketika berkunjung ke Indonesia, karena jika mereka membeli di negaranya sendiri harganya cukup mahal. Pembajakan atas karya cipta musik ini dilakukan lewat berbagai media, baik berupa kaset, CD, VCD, DVD, MP3, dll. Munculnya pembajakan ini juga tidak lepas dari kondisi sosial ekonomi dan sosial masyarakat menjadi kian merosot dan tidak teratur.
Salah satu toko DVD bajakan di Glodok

Hal ini dibuktikan dengan mudahnya dijumpai pedagang-pedagang yang menjual CD, VCD, DVD, dan MP3 bajakan di beberapa tempat di Jakarta, seperti pada daerah Glodok, Ratu Plaza, Mangga Dua, dan tempat-tempat lainnya. Meskipun polisi telah mengadakan razia di tempat-tempat tersebut, namun tidak mengurangi jumah pembajak yang ada di Indonesia.
Jika dilihat dari industri musik di era digital ini sedang marak terjadi berbagai pembajakan, hal ini dikarenakan kecanggihan teknologi, sehingga memungkinkan untuk menggandakan suatu karya cipta atau bahkan mengunduhnya secara bebas di dunia maya. Semua orang dapat mengakses tanpa perlu mengeluarkan biaya sepeserpun untuk membayar royalty kepada penciptanya, tentunya hal ini merugikan pencipta dari segi ekonomi. Industri musik Indonesia saat ini betul-betul dalam keadaan gawat darurat. Semakin tingginya angka pembajakan terhadap karya musisi Indonesia baik berupa kaset dan CD membuat royalty yang seharusnya diterima oleh para musisi (setelah dibagi oleh para label rekaman dan produser) harus dengan rela hati diberikan kepada para insan pembajak tersebut.

Industri musik dibagi menjadi dua, yaitu pihak label rekaman dan musisi (artis). Dewasa ini, kedua pihak tersebut sedang dilanda kebingungan. Setiap artis berkuras otak untuk menghasilkan karya musiknya. Hampir seluruh musisi tersebut menghasilkan album rekaman satu kali dalam setahun. Dalam satu tahun tersebut mereka betul-betul meriset bagaimana pola animo pasar agar hasil karya mereka diterima oleh pendengar. Tidak jarang pada saat selesainya karya mentah mereka, justru dimentalkan
kembali oleh pikah label rekaman dan produser. Namun, ketika karya mereka sudah selesai dan siap dilempar kepasaran, ketika itu pula karya harus siap-siap di bajak.
Indonesia menjadi negara pembajak No.1 di Asia

Sedangkan jika dilihat dari segi pembajak, pembajak adalah pelaku pembajakan yang mengcopy Kaset, CD, ataupun MP3 secara illegal dan mendistribusikannya ke masyarakat luas. “Hasil Karya” pembajak pada tahun 2011 disbanding dengan produk legal sebesar 95,7% dan 4,3% (data ASIRI). Di Jakarta sendiri pusat penjualan barang bajakan berlokasi  di kawasan Glodok dengan tempat yang populer dengan nama penampungan. Disana para pengecer mendapatkan CD, MP3 maupun DVD.

Faktor utama yang mendukung pelaku untuk melakukan pembajakan, yaitu faktor ekonomi. Para pembajak tidak mempunyai pendapatan yang memadai untuk membiayai kehidupan sehari-hari, sehingga mereka terpaksa menjual kaset-kaset bajakan karena keuntungan yang diperoleh lumayan banyak. Berdasarkan pengamatan di lapangan diperoleh gambaran bahwa harga kaset bajakan rata-rata dijual dengan harga Rp. 6000,- (enam ribu rupiah) per kaset, sedangkan harga kaset asli adalah Rp. 20.000,- (dua puluh ribu rupiah) per kaset. Perbedaan harga inilah yang mendorong masyarakat untuk membeli kaset bajakan dengan perbandingan 1 kaset asli berbanding 3 kaset bajakan.

Faktor berikutnya yaitu faktor sosial budaya. Hal ini tercermin dari masyarakat kita secara sosial dan budaya tidak terbiasa untuk membeli produk-produk asli, terutama untuk hasil karya dari industri rekaman. Masyarakat Indonesia tidak mementingkan keaslian suatu produk, namun lebih bangga jika membeli produk berharga murah.

Disamping masalah harga, masyarakat tidak memiliki budaya malu untuk membeli atau mempergunakan produk-produk bajakan khususnya produk kaset. Budaya tidak malu menggunakan produk bajakan didukung oleh kurangnya penghargaan masyarakat terhadap hasil karya orang lain. Selain itu, para pedagang dalam menjajakan produk bajakan memanfaatkan kegiatan masyarakat seperti pasar malam, pasar kaget, dan keramaian lainnya. Pemilihan lokasi penjualan kaset bajakan ini didasarkan pada strategi bahwa tempat-tempat tersebut hanya berlangsung sesaat, sehingga mereka merasa aman untuk berjualan. Para pedagang kaset bajakan juga memiliki mobilitas yang tinggi dimana mereka dapat berpindah secara cepat kelokasi yang berbeda.

Di Indonesia, masalah hak cipta diatur dalam Undang-undang Hak Cipta, yaitu, yang berlaku saat ini, Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002. Dalam undang-undang tersebut, pengertian hak cipta adalah "Hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan.” Namun, selama ini masyarakat kita kurang mendapatkan sosialisasi atau penyuluhan mengenai Undang-Undang Hak Cipta. Keadaan tersebut mengakibatkan masyarakat tidak mematuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam Undang-Undang Hak Cipta. Ketidakpatuhan terhadap Undang-Undang Hak Cipta dipengaruhi oleh faktor
ketidakpatuhan dan ketidakpahaman masyarakat terhadap tujuan yang terdapat dalam undang-undang hak cipta itu sendiri. Ketidakpatuhan masyarakat terhadap ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam Undang-Undang Hak Cipta tidak hanya dilakukan oleh masyarakat biasa, tetapi juga dilakukan oleh masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan menengah, Sarjana, dan Pasca Sarjana.
Ketidaktahuan masyarakat sebagai dampak dari kurangnya sosialisasi terhadap Undang-Undang Hak Cipta mengakibatkan kesulitan yang dialami oleh masyarakat untuk bisa membedakan antara produk asli dengan produk bajakan. Ketidakmampuan masyarakat untuk membedakan antara kaset asli dengan kaset bajakan inilah yang dimanfaatkan oleh para penjual kaset untuk mengelabui para konsumennya. Kesulitan untuk membedakan kaset asli dan kaset bajakan ini disebabkan produk kaset bajakan dibuat semirip mungkin dengan kaset aslinya, baik mengenai cover maupun isi lagunya.

Pihak pemerintah dalam hal pembajakan dibagi menjadi beberapa bagian, seperti pihak kepolisian sebagai eksekutor di lapangan, pihak pengadilan, ataupun pembuat undang-undang. Pada Undang-Undang No. 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta ternyata belum cukup untuk memberantas para pembajak. Pemerintah kita telah memiliki political will sejak lama, tetapi tidak untuk political action. Bahkan, hal ini jugalah yang mengakibatkan melambungnya produksi mereka.

Perlindungan hukum bagi pencipta sekarang ini tak lain hanya sekedar tertulis dalam undang-undang, namun tidak dapat terimplementasikan dengan baik. Peraturan bukan satu-satunya faktor menyebabkan munculnya kepastian hukum, melainkan faktor yang muncul dari perilaku masyarakat itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa minimnya daya beli masyarakat terhadap bentuk asli memang merupakan permasalahan dalam memberantas berbagai pelanggaran HKI (Hak Kekayaan Intelektual) di Indonesia.

Selain masalah tersebut, dalam penegakan hukum HKI di Indonesia terdapat dilemma, yang dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, aspek budaya dimana masyarakat cenderung belum merasa bersalah menggunakan barang bajakan. Masyarakat Indonesia lebih bangga menggunakan hasil karya bajakan karena lebih murah dibandingkan hasil karya orisinil. Kemudian, aspek sosial dimana seharusnya penegak hukum harus dilakukan tanpa pandang bulu. Selanjutnya, aspek hukum dimana masih terdapat perbedaan persepsi mengenai hukum HKI antara para penegak hukum dan masyarakat.

SOLUSI

Menurut saya, pemerintah kurang serius dalam menangani masalah pembajakan. Sanksi terhadap kasus pelanggaran hak cipta hanya sebatas tertulis dalam undang-undang, namun dalam pelaksanaannya jarang sekali diterapkan oleh pemerintah, aparat keamanan, polisi, maupun masyarakat itu sendiri. Bahkan, masyarakat tidak mengetahui sanksi dari perbuatan yang mereka lakukan.

Pemerintah harus melindungi karya musisi-musisi tanah air dengan membuat proteksi terhadap situs-situs yang menyediakan lagu-lagu mereka untuk didownload secara illegal. Bagi pelaku dan pengunduh yang menyebarkan lagu tersebut secara gratis harus dilacak serta dikenakan sanksi yang tegas.

Bagi musisi, hal yang dapat dilakukan mereka adalah dengan menghindari pembuatan album dalam bentuk fisik. Seiring dengan berkembangnya teknologi, maka musisi dapat memasukkan lagu mereka ke dalam sebuah situs, kemudian memasang harga yang mereka inginkan untuk penjualan satu lagu atau pun satu album. Jika solusi yang pertama telah diterapkan oleh pemerintah dengan baik, maka tindakan yang akan dilakukan oleh para musisi ini dalam melawan pembajakan akan berjalan dengan mulus.

Rhoma Irama melakukan aksi anti pembajakan
Ada pula solusi yang telah dilakukan oleh sebagian besar musisi di Indonesia, yaitu melalui penjualan RBT (ring back tone). RBT adalah nada dering untuk ponsel yang dapat diganti sesuai keinginan pemakainya. Penjualan RBT merupakan hasil kerjasama antara label rekaman dengan perusahaan provider telepon seluler. Hasil dari penjualan RBT akan dibagi sesuai kesepakatan dan kontrak antara pihak musisi, label rekaman, dan perusahaan provider telepon seluler tersebut. Hal ini menguntungkan bagi semua pihak termasuk pengguna telepon genggam yang notabenenya adalah konsumen.

Beberapa musisi menunjukkan aksi kepedulian dan keprihatinan mereka melalui aksi kampanye melawan pembajakkan di Indonesia. Menurut mereka, pembajakkan bukan merupakan suatu hal yang harus diperangi, namun sesuatu yang perlu dibajak kembali oleh empati masyarakat.

Selanjutnya, para pembajak juga harus putar otak untuk mencari pekerjaan lain yang halal dan tidak merugikan pihak tertentu. Masih banyak alternatif pekerjaan bersifat positif yang dapat dilakukan selain membajak hasil karya orang.

Sejujurnya, sampai saat ini saya masih suka mendownload hasil karya para musisi secara illegal. Namun, setelah mengetahui betapa sulitnya membuat suatu karya, saya jadi malu terhadap perbuatan yang telah saya lakukan. Andai saja semua pembajak di Indonesia memposisikan diri mereka sebagai musisi, mungkin mereka juga tidak ingin karyanya dibajak oleh orang lain. Oleh karena itu, hargailah karya musisi Indonesia dengan tidak membeli bajakan. Stop Piracy!
Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Hak_cipta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar