Selasa, 04 September 2012

Tugas-3 Solusi Labsky Untuk Indonesia


“Bohong jika negera ini sudah terbebas dari masalah ekonomi”

            Indonesia memiliki luas wilayah kurang lebih sekitar 1,904,569 km2 , yang terdiri dari 33provinsi yang tersebar di seluruh penjuru negeri ini. Mulai dari sabang sampai marauke. Cobalah lihat ke seluruh wilayah tersebut. Tidak ada satupun wilayah yang tidak ada kemiskinan, minimnya pendidikan, pengangguran, pencurian, dan lain sebagainya. Semua hal yang tidak baik tersebut sudah banyak terjadi di seluruh antero negeri ini. DKI Jakarta merupakan ibu kota Indonesia, provinsi pusat Indonesia. Jakarta adalah pusat segalanya dari negeri ini. Termasuk pusat terjadinya kemiskinan, minimnya pendidikan, miskin lapangan kerja, pengangguran, pencurian, dan lain sebagainya. Hal-hal yang tidak baik tersebut paling banyak terjadi atau ada di DKI Jakarta.
Orang-orang dari daerah nekat ber-urbanisasi ke Jakarta untuk bekerja. Apakah mereka tidak tahu bahwa Jakarta adalah kota yang miskin lapangan pekerjaan? Ya. Saking banyaknya jumlah jiwa yang mendiami Jakarta menyebabkan Jakarta memiliki sedikit lapangan kerja. Lalu bagaimana orang-orang yang ber-urbanisasi ke Jakarta lalu tidak mendapat pekerjaan itu? Tentu mereka akan menjadi pengangguran. Itulah sebabnya mengapa Jakarta, kota ini dipenuhi atau banyak kita jumpai pengangguran.
Mengapa hal-hal seperti kemiskinan, miskinnya pendidikan, pengangguran, pencurian, dan sebagainya dapat terjadi? Hal ini dapat atau sering terjadi di Indonesia karena Indonesia masih memiliki sejumlah masalah ekonomi yang tidak sedikit. Yang akan menyebabkan kemiskinan. Dari mulai kemiskinan maka permasalahan selanjutnya akan terjadi karena kemiskinan tersebut. Mungkin jika kemiskinan itu diberantas Indonesia akan kurang atau tidak lagi memiliki masalah seperti itu.
Lalu bagaimana dan solusi untuk memberantas masalah ekonomi atau kemiskinan di Indonesia ini? Mungkin cukup sulit untuk menangani permasalahan ekonomi yang terjadi di negeri tercinta kita ini. Tapi bukannya mustahil Indonesia dapat terbebas dari permasalahan ekonomi yang berbelit-belitnya. Indonesia dapat  terbebas dari masalah ekonominya, paling tidak meminimkan masalah ekonomi yang berbelit-belit ini secara berangsur-angsur untuk mencapai kesempurnaan.
 Indonesia pernah membuktikan bahwa dia bisa terbebas dari krisis ekonomi tahun1998-nya. Saat negeri ini di pimpin oleh seorang presiden  selama 32tahun. 32 tahun bukanlah sebentar bahkan sangat lama periode seseorang memimpin Negara ini. Tidak dapat dipastikan bahwa orang tersebut dapat terus melaksanakan amanahnya, menjaga kebijaksanaannya, dan menjalakan pemerintahan ini dengan baik dan jujur. Dengan adanya krisi ekonomi 1998 menunjukan kemungkinan besar pemimpin itu telah berbuat curang atau tidak jujur dalam memimpin negaranya. Korupsi bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukannya. Hal ini menunjukan bahwa pemerintah ikut turun tangan untuk menyebabkan kemiskinan atau masalah ekonomi di Indonesia melalui kegiatan hebatnya yaitu korupsi dan sebagainya. Tidak hanya pemerintah yang dapat ber-korupsi. Pemimpin perusahaanpun juga dapat melakukannya. Tetapi korupsi hanya dapat dilakukan oleh pejabat-pejabat tinggi, hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh orang yang kekurangan. Karena orang yang kekurangan inilih yang dikorbankan dari perbuatan korupsi.
Bahkan pemerintah atau pejabat negeri saja ikut menyumbang agar angka kemiskinan di negeri ini bertambah. Lalu siapa yang akan menyelamatkan negeri ini? Siapa yang akan membuat negeri ini sejahtera? Siapa yang akan memberantas kemiskinan dan masalah ekonoomi yang merajalela di seluruh negeri ini? Berikut saya akan menjelaskan ekonomi Indonesia dan bagaimana solusi untuk menangani masalah ekonomi yang berbelit-belitnya.

Sistem ekonomi Indonesia awalnya didukung dengan diluncurkannya Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) yang menjadi mata uang pertama Republik Indonesia, yang selanjutnya berganti menjadi Rupiah. Pada masa pemerintahan Orde Lama, Indonesia tidak seutuhnya mengadaptasi sistem ekonomi kapitalis, namun juga memadukannya dengan nasionalisme ekonomi. Pemerintah yang belum berpengalaman, masih ikut campur tangan ke dalam beberapa kegiatan produksi yang berpengaruh bagi masyarakat banyak. Hal tersebut, ditambah pula kemelut politik, mengakibatkan terjadinya ketidakstabilan pada ekonomi negara. Pemerintahaan Orde Baru segera menerapkan disiplin ekonomi yang bertujuan menekan inflasi, menstabilkan mata uang, penjadualan ulang hutang luar negeri, dan berusaha menarik bantuan dan investasi asing. Pada era tahun 1970-an harga minyak bumi yang meningkat menyebabkan melonjaknya nilai ekspor, dan memicu tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata yang tinggi sebesar 7% antara tahun 1968 sampai 1981. Reformasi ekonomi lebih lanjut menjelang akhir tahun 1980-an, antara lain berupa deregulasi sektor keuangan dan pelemahan nilai rupiah yang terkendali, selanjutnya mengalirkan investasi asing ke Indonesia khususnya pada industri-industri berorientasi ekspor pada antara tahun 1989 sampai 1997 Ekonomi Indonesia mengalami kemunduran pada akhir tahun 1990-an akibat krisis ekonomi yang melanda sebagian besar Asia pada saat itu, yang disertai pula berakhirnya masa Orde Baru dengan pengunduran diri Presiden Soeharto tanggal 21 Mei 1998.
Indonesia memiliki ekonomi berbasis-pasar di mana pemerintah memainkan peranan penting. Pemerintah memiliki lebih dari 164 BUMN dan menetapkan harga beberapa barang pokok, termasuk bahan bakar, beras, dan listrik. Setelah krisis finansial Asia yang dimulai pada pertengahan 1997, pemerintah menjaga banyak porsi dari aset sektor swasta melalui pengambilalihan pinjaman bank tak berjalan dan asset perusahaan melalui proses penstrukturan hutang.

Perkembangan ekonomi Indonesia

Ekonomi di Indonesia terus menerus mengalami perkembangannya, untuk mengetahui akar dari masalah ekonomi sekarang mungkin akan diketahui melalui perkembangannya. Maka dari itu tidak ada salahnya jika kita bahas sedikit tentang perkembangann ekonomi di Indonesia. Kehidupan ekonomi Indonesia hingga tahun 1959 atau saat demokrasi terpimpin belum berhasil dengan baik dan tantangan yang menghadangnya cukup berat. Upaya pemerintah dan kebijakan-kebijakannya untuk memperbaiki kondisi ekonomi adalah sebagai berikut.

·      Gunting Syafrudin
·      Sistem ekonomi gerakan benteng
·      Nasionalisasi De Javasche Bank
·      Sistem ekonomi Ali-Baba
·      Persaingan Finansial ekonomi (FINEK)
·      Rencana pembangunan lima tahun (RPLT)
·      Musyawarah Nasional Pembangunan
·      Orde baru
·      Pasca Suharto
·      Kajian Pengeluaran publik
perdagangan di pasar

Seluruh kebijakan tersebut akhirnya menghasilkan sesuatu menuju arah ekonomi yang sejahtera. Dengan tingkat desentralisasi di Indonesia saat ini dan ruang fiskal yang kini tersedia, pemerintah Indonesia mempunyai kesempatan unik untuk memperbaiki pelayanan publiknya yang terabaikan. Jika dikelola dengan hati-hati, hal tersebut memungkinkan daerah-daerah tertinggal di bagian timur Indonesia untuk mengejar daerah-daerah lain di Indonesia yang lebih maju dalam hal indikator sosial. Hal ini juga memungkinkan masyarakat Indonesia untuk fokus ke generasi berikutnya dalam melakukan perubahan, seperti meningkatkan kualitas layanan publik dan penyediaan infrastruktur seperti yang ditargetkan. Karena itu, alokasi dana publik yang tepat dan pengelolaan yang hati-hati dari dana tersebut pada saat mereka dialokasikan telah menjadi isu utama untuk belanja publik di Indonesia kedepannya.
           
            Saat ini ekonomi Indonesia tengah berada di tengah krisis  ekonomi global.  Hal ini menyambungkan ucapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida S. Alisjahbana di tengah isu krisis ekonomi Eropa dan Amerika Serikat. Krisis ekonomi global yang mengancam Eropa dan AS saat ini patut diwaspadai. Namun pemerintah menilai Indonesia sudah banyak belajar dari krisis 1997/1998 serta krisis 2008. Belajar dari pengalaman itu, pemerintah sudah mempersiapkan diri dengan sejumlah kebijakan, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif lebih meningkat lagi dari 6,5 persen seperti dicapai tahun 2011. Ke-optimisan pemerintah ini masih belum dapat dipegang, menurut saya.  Karena di Indonesia saja pernah berada di krisis ekonomi 1998 tanpa adanya krisis ekonomi global. Bagaimana jika sekarang saat adanya krisis ekonomi global?
           
            Secara umum, kita semua sudah tahu apa-apa saja yang menjadi masalah dan sumber masalah Ekonomi di Indonesia. seperti masalah pengangguran, kemiskinan, sulitnya kesehatan, sulitnya pendidikan, keamanan dan sebagainya. atau penyebab dari ulah para koruptor, ulah orang-orang yang ingin menang sendiri, dan lain sebagainya.
            Sebenarnya permasalahan ekonomi yang dihadapi Indonesia bukanlah permasalahan ekonomi makro, melainkan masalah ekonomi mikro. Yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut adalah para insinyur bukan ahli ekonomi. Hal tersebut disampaikan Fauzi Ichsan, Vice President&Economist Standard Chartered. “Tantangan yang ada adalah dalam bidang ekonomi mikro,”ucapnya dia di Jakarta, Rabu (14/10) malam. Permasalahan tersebut, lanjutnya antara lain masalah pembangunan infrastruktur seperti jalan tol dan pelabuhan yang menjadi gerbang masuknya devisa asing. Selain itu, kata Fauzi, belum meratanya pembangunan pembangkit tenaga listrik di Indonesia juga menjadi salah satu masalah ekonomi Indonesia yang perlu diperhatikan. Pasalnya listrik merupakan motor penggerak roda perekonomian.”Semua itu bisa diatasi oleh para ahli di bidang proyek dan pembangunan,” kata dia.
            Masalah mikro lainnya, lanjut Fauzi adalah masalah pembebasan lahan yang selama ini sering menjadi permasalahan besar antara pengembang dan warga. Belum transparannya penggunaan retribusi pajak juga menjadi salah satu masalah ekonomi yang dihadapi Indonesia. Menurut Fauzi, permasalahan pembebasan lahan dan retribusi pajak hanya dapat diselesaikan oleh pemerintah daerah, bukan para menteri yang duduk di pemerintahan.
Fauzi mengatakan, kesemua masalah tersebut harus segera diselesaikan. Para investor terutama investor asing baru akan menanamkan modalnya jika mendapat kejelasan dari sisi ekonomi. “Indonesia ini sangat potensial untuk investasi, tapi investor mana yang bersedia menanamkan modalnya jika sarana dan prasarana belum jelas,” tegas Fauzi.
            Angka kemiskinan di Indonesia sepanjang tahun 2011 dinilai beberapa kalangan masih tinggi walaupun pemerintah mengklaim sudah berhasil menekan angka kemiskinan. Menurut aktivis Dian Irawati masih diperlukan program tepat sasaran untuk mengatasi kemiskinan di tanah air. Menurut catatan pemerintah, dari jumlah orang miskin sebelumnya yaitu sekitar 17,7 juta orang pemerintah menargetkan turun menjadi 16 juta orang hingga akhir tahun 2011. Pemerintah telah menargetkan untuk dapat menurunkan angka kemiskinan tahun depan menjadi sekitar 14,4 juta orang miskin di Indonesia.
angka kemiskinan di indonesia hingga tahun 2008
            Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Februari 2012 mencapai 6,32% atau 7,61 juta orang. Jumlah ini turun 6% dari Februari 2012 yang sebesar 8,12 juta orang. Namun, ada sektor-sektor yang mengalami penurunan adalah sektor pertanian 1,3 juta orang atau 3,01% dan sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi sebesar 380 ribu orang atau 6,81%.
grafik pengangguran indonesia hingga tahun 2011

SOLUSI
            Masalah kemiskinan dan pengangguran sampai kini tidak menunjukakan perkembangan yang berarti. Tidak seimbangnya kesempatan kerja yang ada dengan jumlah pencari kerja mendorong terjadinya persaingan yang tinggi.
            Untuk kemiskinan solusi yang paling tepat adalah pemerintah diharuskan membuat atau memperbanyak lapangan pekerjaan. Pengusaha atau pemerintah sebaiknya membuat seminar atau pembelajaran gratis untuk rakyat kurang mampu untuk berbisnis. Untuk para konsumen, lebih memperbanyak membeli barang hasil produk Indonesia. Dengan membeli produk Indonesia maka akan membuat perusahaan pengusaha Indonesia laku dan besar. Jika perusahaan besar maka akan membuat perusahaan itu memerlukan banyak pekerja. Dengan itu maka lapangan pekerjaan menjadi terbuka. Dan untungnya akan langsung masuk ke Indonesia.
            Untuk minimnya pendidikan satu-satunya solusi adalah memberikan beasiswa bagi rakyat yang memerlukan pendidikan. Baik beasiswa dari pemerintah atau orang-orang menengah atas yang dermawan untuk membantu rakyat yang memerlukan dengan memberikan mereka pendidikan. Jika perlu sebaiknya pemerintah membuat sekolah gratis untuk rakyat yang kurang mampu untuk membayar pendidikan. Sehingga dapat dipastikan bahwa semua orang di negara ini mendapatkan pendidikan yang layak.
            Untuk pengangguran sebenarnya solusinya hampir sama dengan kemiskinan. Yaitu pemerintah diharuskan membuat lapangan kerja baru. Serta sebaiknya pemerintah mengurangi jumlah penduduk di Jakarta. Dan lebih menstabilkan persebaran penduduk di daerah-daerah. Sehingga pengangguran yang banyak di Jakarta bisa mendapat pekerjaan di daerah.
            Untuk masalah pencurian, sebenarnya pencurian kemungkinan besar tidak akan terjadi jika angka kemiskinan menurun. Kaarena itu terjadi karena seseorang mengalami kemiskinan sehingga dia mencuri untuk mendapatkan uang. Sehingga berantas saja kemiskinan dan perluas lapangan pekerjaan dengan itu pencurian tidak mungkin terjadi lagi.
            Untuk tambahan, sebaiknya pemerintah atau pejabat-pejabat tinggi tidak korupsi. Dengan itu mereka tidak akan menyumbang lebih banyak agar angka kemiskinan meningkat. Masalah ekonomi di Indonesia bukannya tidak mungkin untuk diberantas. Hanya sulit, tetapi jika kita memulainya sedikit demi sedikit pasti itu akan menjadi hal yang ungkin. Sesungguhnya tidak ada yang tidak mungkin jika kita percya dan tekun agar itu berhasil. Semuanya berawal dari diri kita sendiri untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik.

Sources: 1) id.wikipedia.com 2)www.analisadaily.com  3) www.bappenas.go.id  4) irvanbudisetiaji.blogspot.com 5)ekonomiindonesia21.wordpress.com  6) pikiran-rakyat.com 7) finance.detik.com 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar