Jumat, 28 September 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky Untuk Indonesia


Budaya Mengantri, Budaya Yang Perlu Dibangun



Masalah        :

            Dalam rangka memenuhi tugas ke-3 sejarah saya akan membahas salah satu masalah yang tidak terlalu diperhatikan oleh masyarakat Indonesia, budaya mengantri. Budaya mengantri merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari manusia dan sudah tumbuh dengan sendirinya di masyarakat Indonesia sejak dahulu kala. Walaupun dianggap sangat penting tetapi budaya mengantri sering kali disepelekan oleh masyarakat Indonesia.

            Antri adalah menunggu untuk dilayani secara teratur dan tertib sesuai dengan giliran. Antrian terjadi ketika suatu pelayanan yang sama dibutuhkan oleh lebih dari satu orang pada saat yang bersamaan. Antrian dapat kita temukan di rumah sakit seperti ketika menunggu untuk masuk ke ruang pemeriksaan dokter. Di kasir seperti di bank, pusat-pusat perbelanjaan, super market, dan restaurant. Di loket penjualan tiket seperti yang ada di tempat rekreasi, pelabuhan, terminal bis, dan bandar udara. Di tempat pembelian tiket konser. Dan juga di antrian kendaraan umum seperti taksi. Mengantri di tempat-tempat pelayanan seperti di salon dan tempat refleksi.

            Di Indonesia budaya mengantri adalah masalah yang sangat disepelekan oleh warga dari berbagai kalangan. Hanya sedikit masyarakat Indonesia yang memberlakukan budaya mengantri dengan baik dan benar sesuai dengan sebagaimana mestinya. Sangat jarang dapat kita temukan masyarakat Indonesia sedang mengantri dengan tertib dan rapi, yang sering kita temui adalah antrian yang berdesak-desakan, ricuh, dan menimbulkan ketidak nyamanan.

            Sesuai dengan sifat manusia pada umumnya, semua orang pasti selalu ingin didahulukan. Termasuk dalam hal mendapatkan pelayanan pada tempat-tempat yang disebutkan di atas. Hal itu membuat manusia sering-sering mengabaikan etika dalam mengantri dan menghargai orang lain yg sudah mengantri terlebih dahulu. Sering kita lihat manusia saling serobot untuk mendapatkan pelayanan terlebih dahulu. Keadaan seperti ini dapat menyebabkan perselisihan bahkan juga bisa memakan korban jiwa. Contoh dari peristiwa yang memakan korban jiwa adalah ketika dilaksanakannya pembagian paket sembako kepada rakyat Indonesia yang kurang mampu. Karena jumlah rakyat kurang mampu di Indonesia memasuki kategori sangat besar sedangkan paket sembako yang akan dibagikan kurang dari jumlah rakyat yang membutuhkan maka mengantri dengan tertib adalah hal yang kemungkinan terjadinya sangat kecil. Orang-orang yang membutuhkan tersebut akan saling serobot untuk mendapatkan barisan di depan dan lama-kelamaan akan menimbulkan korban jiwa dari saling berdesak-desakan atau bahkan tindak kekerasan antara sesama pengantri.
             
            Banyak nilai-nilai positif yang akan timbul dari penerapan budaya mengantri. Dengan mengantri kita bisa menjadi manusia yang disiplin dan tertib. Hal ini juga dapat menunjukkan kualitas diri. Orang yang bisa mengantri dengan tertib adalah orang yang memiliki kualitas diri lebih baik jika dibandingkan dengan orang yang tidak bisa. Pada barisan suatu antrian, orang yang berada di barisan depan pasti adalah orang yang datang terlebih dahulu, jika kita memilih untuk menyerobot itu sama saja kita tidak bisa menghargai usaha orang yang sudah datang lebih dulu agar bisa mendapat antrian di depan. Tidak adanya perasaan untuk menghargai orang lain adalah indikator tidak akan majunya suatu Negara.

            Selain itu penerapan budaya mengantri juga bisa mengurangi kericuhan pada suatu acara atau kegiatan. Contohnya adalah ketika mengantri tiket konser. Pada kasus ini biasanya ratusan bahkan bisa mencapai ribuan orang akan mengantri untuk mendapatkan tiket konser artis yang mereka gemari. Ribuan orang yang mengantri tersebut adalah orang yang berbeda-beda, apabila semua orang yang mengantri adalah orang-orang yang sangat menerapkan budaya mengantri pasti kegiatan penjualan tiket itu akan berjalan dengan lancar. Yang sering terjadi di Indonesia adalah karena semua orang ingin mendapatkan tiket terlebih dahulu mereka lebih senang untuk menyerobot dan membuat orang yang sudah lama mengantri menjadi kesal dibandingkan dengan harus mengantri sesuai dengan aturan sehingga penjualan tiket itu berjalan lancar. Apabila hanya satu orang yang menyerobot mungkin akan dibiarkan, tetapi apabila karena satu orang tersebut para pengantri yang lain menjadi ikut-ikutan menyerobot maka akan terjadi kericuhan antara pengantri yang baik dan para penyerobot.

            Dan yang terakhir adalah membuat kita lebih sabar. Dalam mengantri, penyerobot adalah salah satu unsur yang susah di hilangkan terutama di Indonesia. Ketika kita sudah mengantri cukup lama dan ada orang yang dengan seenaknya menyerobot pasti hal itu akan membuat kita kesal dan kehabisan kesabaran. Itulah mengapa penerapan budaya mengantri disebut  bisa membuat kita menjadi manusia yang sabar. Walaupun tanpa adanya penyerobot nilai positif yang sama tetap akan terjadi. Pada dasarnya tidak ada orang yang suka akan menunggu dalam waktu yang lama. Dalam suatu proses mengantri tidak dapt diketahui apakah mengantri ini akan memakan waktu yang sedikit atau banyak, jika banyak maka secara otomatis akan melatih kesabaran kita.

            Dibalik nilai-nilai positif tersebut juga terdapat nilai-nilai negatif. Melihat antrian yang sangat panjang atau sudah mengantri untuk waktu yang cukup lama malah bisa menimbulkan nilai-nilai yang berbalik dari nilai positifnya. Ketika kasus melihat antrian yang sangat panjang atau sudah mengantri untuk waktu yang cukup lama terjadi, keinginan untuk cepat keluar dari barisan antrian pasti akan mucul. Salah satu cara yang mudah dan cepat adalah dengan menerobos antrian dan menyerobot. Ketika rasa ingin untuk menyerobot lebih kuat dibandingkan dengan keinginan untuk tetap mengantri dan akhirnya kita memilih untuk menyerobot, kita akan menjadi pemicu orang lain untuk menyerobot. Kita juga akan menjadi sumber kericuhan. Apabila itu terjadi kita juga akan menjadi orang yang memancing orang lain untuk kehilangan kesabarannya.

            Oleh karena itu budaya mengantri perlu di biasakan agar antrian  menjadi tertib dan masing-masing mendapat pelayanan dengan nyaman.



Solusi            :

            Dari permasalahan di atas dapat kita ketahui bahwa masalah budaya mengantri yang selama ini kita sepelekan ini memiliki pengaruh besar terharap kehidupan dan harus dicari solusi agar bisa meminimalisir nilai-nilai kenegatifan yang mungkin terjadi. Ada beberapa solusi yang dapat diterapkan. Solusi masalah budaya antri dibagi menjadi solusi terhadap pembangunan budaya mengantri dan solusi berupa cara menerapkan budaya mengantri.
           
            Solusi yang pertama adalah solusi terhadap pembangunan budaya mengantri. Solusi yang dapat dilakukan adalah dengan penanaman nilai pada diri sendiri bahwa kita harus mengantri dan tidak boleh menyerobot. Penanaman nilai adalah hal yang pengaruhnya bisa paling cepat dirasakan, hal ini terjadi karena penanaman nilai pada diri sendiri akan berpengaruh terhadap cara pandang kita dalam melihat suatu masalah. Sebaiknya penanaman nilai pada diri sendiri di lakukan sedini mungkin. Penanaman nilai bahwa kita harus mengantri dan tidak boleh menyerobot pada anak-anak akan lebih optimal dibandingkan penanaman nilai yang dilakukan kepada orang dewasa.

            Banyak orang dewasa yang senang menyerobot dengan alasan “yang tua harus di dahulukan”. Pemahaman yang seperti itu harus dihapuskan karena sebagai orang dewasa seharusnya mereka mengajarkan kepada generasi muda mengenai budaya mengantri bukan malah memberikan contoh yang buruk.

            Pembentukan Undang-undang mengenai budaya mengantri. Sebagai contoh, apabila ada yang menerobos barisan akan diberi hukuman denda sebesar Rp 10.000.000,- , apabila dengan menerobos barisan menyebabkan kerusuhan dikenakan hukuman denda sebesar Rp 35.000.000,- , apabila dengan menerobos barisan dan menyebabkan korban jiwa akan dikenakan hukuman denda sebesar rp 100.000.000,- dan di penjara selama 3 bulan, dan lain-lain.

            Solusi yang kedua adalah solusi berupa cara menerapkan budaya mengantri. Seiring dengan berkembangnya teknologi, semakin beragam pula sistem antrian yang ada. Ada mengantri secara sederhana dan modern. Jenis yang paling sederhana adalah Baris tanpa menggunakan alat bantu apapun dan hanya bermodalkan kesadaran diri sendiri.

            Lain dari sistem antrian secara sederhana, ada juga antrian secara modern. Antrian secara modern merupakan barisan yang menggunakan alat bantu. Alat bantu yang digunakan juga bermacam-macam, yaitu :

·        Melalui Telepon
Dengan sistem ini orang-orang yang membutuhkan pelayanan bisa menghubungi customer service dari pihak pemberi pelayanan yang diinginkan melalui telepon. Contohnya ketika kita hendak mem-booking             tempat di tempat makan, mem-booking tempat di salon, mem- booking tempat di bengkel, dan mem-booking tempat di tempat refleksi.
·        E-mail
Hampir sama dengan cara pengantrian melalui telepon, sistem pengantrian menggunakan e-mail hanya berbeda di cara kita menghubungi pihak pemberi pelayanan yaitu dengan menggunakan e-mail
·        Penjualan tiket online
Sistem ini sekarang sudah menjadi salah satu sistem yang sangat         digemari oleh masyarakat Indonesia. Biasanya di temukan pada pembelian tiket konser, pertunjukan seni, bahkan tiket pesawat. Dengan menggunakan sistem ini manusia tidak usah bersusah-susah            datang pagi untuk mendapatkan barisan didepan. Manusia juga tidak perlu menunggu lama di baris antrian. Tetapi kekurangan dari sistem ini adalah dibutuhkannya koneksi internet yang cepat. Semakin cepat kecepatan koneksi internet yang dimiliki, akan semakin dahulu pula           orang itu mendapatkan pelayanan.
·        Queuing System
Queing system adalah sistem mengantri dengan menggunakan nomor antrian. Pada sistem ini para pengantri diharuskan untuk mengunjungi tempat pemberi pelayanan dan mengisi data diri untuk mendapatkan nomor antrian. Biasa terjadi ketika kita mengantri untuk masuk  ke ruang pemeriksaan dokter di rumah sakit.
·        Queuing Line
Queuing line adalah sistem mengantri dengan menggunakan bantuan alat bantu berupa garis antrian. Biasanya di buat berbentuk garis kebelakang. Garis antrian ini sudah mulai banyak digunakan di tempat-tempat publik. Contohnya seperti yang ada di bandar udara ketika kita mengantri untuk check-in, tempat mengantri taksi di pusat-pusat perbelanjaan, dan tempat mengantri di bioskop.

            Dengan diterapkannya sistem mengantri yang baik tidak aka nada lagi manusia yang merasa didahului dengan adanya antrian yang tidak tertib. Semua pengantri akan merasa yakin bahwa mereka akan mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan secara berurutan sesuai dengan urutan yang didapatkannya. Hal ini juga akan menekan kemungkinan terjadinya nila-nilai negatif. Rakyat yang bisa mengantri dengan baik menunjukkan kualitas diri yang baik pula, secara tidak langsung hal ini menunjukkan pula bagus atau tidaknya suatu negara dan melihat kemungkinan negara tersebut untuk maju.

            Tetapi dibalik semua solusi di atas, hal yang paling dibutuhkan adalah keinginan dari masyarakat Indonesia sendiri untuk berubah menjadi masayarakat yang lebih baik, tertib, dan disiplin.

Sumber         :
http://dwikimawa.blogspot.com/2012/03/budaya-mengantri.html


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar