Rabu, 19 September 2012

Tugas - 3 Solusi Labsky Untuk Indonesia

POKOK-POKOK PIKIRAN, STRATEGI DAN AKSI
PEMECAHAN MASALAH PENGANGGURAN
Penciptaan dan perluasan lapangan kerja terus diupayakan, terutama melalui peningkatan dan pemerataan pembangunan industri, pertanian dan jasa yang mampu menyerap tenaga kerja yang banyak serta meningkatkan pendapatan masyarakat. Upaya tersebut harus didukung oleh keterpaduan kebijakan investasi, fiskal dan moneter, pendidikan dan pelatihan, penelitian, pengembangan dan penyuluhan, penerapan teknologi serta pengembangan dan pemanfaatan pusat informasi pasar kerja dalam dan luar negeri. Kebijakan pemerataan dan peningkatan kesempatan kerja serta pelatihan tenaga kerja terus dilanjutkan dan ditingkatkan agar dapat menjangkau lapisan masyarakat luas dan terarah pada terwujudnya angkatan kerja yang terampil dan tangguh. Kesempatan kerja terbuka bagi setiap orang sesuai dengan kemampuan, ketrampilan, dan keahlian serta didukung oleh kemudahan memperoleh pendidikan dan pelatihan, penguasaan teknologi, informasi pasar kerja serta tingkat upah yang sesuai dengan prestasi dan kualifikasi yang dipersyaratkan.
Tantangan besar dan berat dalam bidang ketenagakerjaan yang sedang kita hadapi saat ini adalah tingkat pengangguran yang masih besar jumlahnya. Sementara itu, lapangan kerja yang tersedia belum mencukupi. Pertambahan angkatan kerja melebihi pertambahan jumlah lapangan kerja. Apabila masalah ini tidak berhasil ditangani, maka kelak akan dapat menimbulkan berbagai dampak sosial, ekonomi, politik dan keamanan. Penanganan masalah ketenagakerjaan terutama kesempatan kerja dan pengangguran, hanya dapat berhasil apabila berpegang pada perencanaan tenaga kerja yang tepat. Dengan perencanaan tenaga kerja baik nasional maupun daerah yang tepat, akan dapat memperkirakan kebutuhan tenaga kerja untuk daerah tertentu, pada sektor tertentu, pada waktu tertentu untuk keahlian tertentu dan atau juga sebaliknya. Upaya pengurangan pengangguran dan setengah pengangguran ditujukan untuk merubah status penduduk dari beban pembangunan menjadi tenaga kerja produktif dan renumeratif sebagai aset bangsa yang potensial.

A. Strategi Dasar Mengurangi Pengangguran

Bercermin pada teori tentang penggangguran melalui pendekatan klasikal [Classical Approaches], disana dijelaskan bahwa penganggguran bersifat sukarela karena tidak sesuainya tingkat upah dengan aspirasi pekerja. Bertambahnya jumlah pengangguran dalam masyarakat terjadi karena mereka menunggu pada masa transisi dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Teori klasik ini juga menyebutkan bahwa untuk mengurangi pengangguran tidak diperlukan intervensi pemerintah, mengingat pengangguran yang terjadi sifatnya sukarela. Selain itu, unit-unit pelaku ekonomi percaya bahwa upah dan tingkat harga yang fleksibel dapat menyesuaikan diri secara otomatis untuk mencapai titik keseimbangan atau ekuilibrium dalam ekonomi.
Di lain pihak, ada pendapat yang menyatakan bahwa pengangguran yang terjadi di masyarakat karena kekurangan permintaan umum terhadap barang dan jasa [deficient agregate demand] dan tingkat upah yang tidak fleksibel dalam pasar kerja. Hal tersebut berarti, dalam keadaan perekonomian yang mengalami stagnasi, menyebabkan permintaan atas barang dan jasa di masyarakat akan menurun. Kondisi demikian akan mengakibatkan produksi perusahaan juga akan menurun sehingga banyak tenaga kerja yang tidak terpakai yang potensial sebagai pengangguran. Selanjutnya, dengan turunnya produksi, seharusnya diikuti turunnya tingkat upah yang diterima tenaga kerja. Oleh karena sistem upah yang tidak fleksibel [rigid] menyebabkan peningkatan jumlah pengangguran. Inilah sebagai dasar dari penyebab terjadinya pengangguran karena defisiensi permintaan agregat. Pendapat yang pro dengan hal ini, menyatakan bahwa pengangguran yang terjadi karena para pelaku ekonomi hanya bertindak dalam batas-batas tertentu dan tidak mempunyai kekuatan untuk mendorong peningkatan permintaan agregat pada tingkat yang disyaratkan dalam ekuilibrium. Oleh karena itu, intervensi pemerintah sangat dibutuhkan untuk mengembalikan situasi pasar pada keadaan yang seimbang. Berdasarkan teori-teori di atas, maka untuk mengatasi pengangguran perlu mengkombinasikan teori-teori tersebut, yang mana diperlukan tindakan proaktif dan antisipatif dari berbagai pihak yang terkait.
Selanjutnya, belajar dari pengertian tersebut di atas, maka strategi untuk mengurangi pengangguran harus dilaksanakan berdasarkan perencanaan tenaga kerja yang diarahkan untuk mencapai tujuan perluasan kesempatan kerja yang produktif dan renumeratif. Melalui perencanaan tenaga kerja diharapkan dapat terdeteksi kelompok masyarakat yang termasuk dalam kriteria pengangguran, mengingat perencanaan tenaga kerja melaksanakan kegiatan menghitung jumlah tenaga kerja baik dari sisi kebutuhan [demand] maupun dari sisi persediaan [supply]. Perbedaan antara kebutuhan dan persediaan tenaga kerja akan menghasilkan kelebihan atau kekurangan tenaga kerja untuk per sektor, jenis jabatan, tingkat pendidikan, lapangan pekerjaan dan status tenaga kerja tertentu.
Selain hal tersebut di atas, perencanaan tenaga kerja juga bertujuan untuk memanfaatkan potensi daerah untuk penyerapan tenaga kerja. Melalui perencanaan tenaga kerja, diketahui bahwa ternyata industri skala besar cenderung menggunakan teknologi modern yang hanya menyerap sedikit tenaga kerja. Dengan demikian, perlu dikembangkan usaha-usaha kecil menengah yang dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja.
Strategi lain yang dapat digunakan untuk mengurangi pengangguran adalah dengan mereformasi pelatihan kerja. Reformasi pelatihan kerja ini bertujuan untuk menyediakan tenaga kerja yang lebih terampil, dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan fleksibel sesuai dengan kebutuhan pasar kerja serta meningkatkan produktivitas tenaga kerja agar hasil kerja atau produksi dapat bersaing dipasar global. Untuk maksud tersebut, maka pemerintah daerah akan melaksanakan upaya-upaya strategis untuk menanggulangi pengangguran, diantaranya adalah:

1. Pengembangan Informasi Pasar Kerja [labor market information]. Langkah ini dimaksudkan untuk mendukung perencanaan tenaga kerja yang tepat. Berhasil atau tidaknya suatu program yang dilaksanakan sangat tergantung dari ketersediaan informasi yang cepat dan valid. Untuk mengetahui implementasi keberhasilan program penanggulangan pengangguran baik yang di kota maupun di desa perlu disusun sistem informasi untuk memonitor keadaan pasar kerja yang tersedia.

2. Reformasi Pelatihan Kerja [training reforms]. Reformasi pelatihan bertujuan untuk menyediakan tenaga kerja yang lebih terampil, berpendidikan lebih tinggi dan fleksibel sesuai dengan kebutuhan pasar kerja serta meningkatkan produktivitas tenaga kerja agar hasil kerja atau produksi dapat bersaing dipasar global. Reformasi pelatihan ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan dan kualitas iklim kerja yang lebih baik [quality of working life] dari tenaga kerja yang bersangkutan. Reformasi pelatihan lebih diarahkan kepada kebutuhan pasar dan dilaksanakan secara terpadu.

3. Pengembangan dan bimbingan usaha secara mandiri. Strategi ini merupakan upaya untuk mengurangi pengangguran terdidik baik di kota maupun di pedesaan melalui pembentukan kelompok-kelompok usaha kecil dengan fasilitasi dari pemerintah. Kelompok-kelompok usaha ini perlu dibimbing dan difalilitasi baik dari segi ketrampilan berwirausaha, pendanaan, manajemen usaha, sampai dengan pemasaran dari produk atau jasa yang dihasilkan. Selanjutnya kelompok usaha mandiri yang sudah dapat berdiri sendiri dan mapan, dapat secara bergantian dan berantai memfasilitasi kelompok usaha baru lainnya, maka upaya ini akan dapat menyerap banyak tenaga kerja baru.

4. Pengembangan usaha informal keluarga. Upaya ini dapat dilakukan dengan mendorong para pencari kerja terdidik untuk melanjutkan usaha informal dilingkungan keluarganya. Dengan memberi bekal tambahan latihan ketrampilan berwirausaha, mereka akan dapat mengembangkan, memodernisasi dan menjalankan usaha informal keluarganya dengan baik. Pengembangan usaha informal keluarga diarahkan untuk dapat memanfaatkan potensi daerah setempat dan diarahkan untuk mampu menyerap jumlah tenaga kerja yang lebih banyak. Dengan demikian mereka tidak memasuki pasar kerja, tetapi justru mereka akan dapat menciptakan dan memperluas kesempatan kerja baik bagi dirinya sendiri, keluarganya maupun orang-orang lain disekitarnya.

5. Penempatan tenaga kerja secara langsung di pasar kerja. Strategi penempatan bagi para pencari kerja atau pengangguran dilaksanakan melalui sistem informasi pasar kerja dan bursa tenaga kerja terpadu. Dengan pengembangan sistem informasi yang baik, maka setiap kebutuhan tenaga kerja di pasar kerja akan dapat terdeteksi secara cepat dan tepat. Sementara itu, untuk meningkatkan kualitas SDM para pencari kerja, mereka perlu dibekali dengan pelatihan kerja atau pemagangan dengan cara on-the job training maupun off-the job training. Para pencari kerja yang telah mendapat bekal tersebut dapat dipastikan akan lebih kompetitif di dalam perebutan bursa tenaga kerja, sehingga mereka akan lebih mudah ditempatkan karena mereka telah siap memasuki dunia kerja yang sesungguhnya. Di samping itu, pengembangan sistem informasi pasar kerja yang baik memungkinkan para pencari kerja dapat meningkatkan mobilitasnya dalam rangka mengisi setiap lowongan kerja yang tersedia.


6. Penempatan tenaga kerja Indonesia ke luar negeri. Upaya ini juga ditujukan untuk mengurangi jumlah pengangguran yang ada, karena terbatasnya lapangan kerja di dalam negeri. Penempatan tenaga kerja ke luar negeri lebih diprioritaskan bagi tenaga kerja profesional, mempunyai kualifikasi ketrampilan dan pendidikan yang sesuai dengan tuntutan tugas yang ada di luar negeri. Dengan demikian, tidak diperkenankan melakukan kegiatan penempatan tenaga kerja ke luar negeri secara membabi buta, tanpa memperhatikan kualifikasi calon tenaga kerja yang bersangkutan.

7. Pengembangan usaha agro-bisnis di pedesaan. Upaya ini juga ditujukan untuk mengurangi pengangguran yang diarahkan untuk masyarakat pedesaan. Terbatasnya lahan pertanian di pedesaan dan jenis pekerjaan sektor pertanian yang hanya bersifat musiman, merupakan kontribusi tersebar penyebab munculnya setengah pengangguran di pedesaan. Dengan demikian, diperlukan kegiatan atau usaha yang tidak dipengaruhi oleh luas lahan pertanian maupun musim. Pengembangan usaha agrobisnis ini dapat bersifat skala kecil maupun menengah. Meskipun lahan pertanian jumlahnya terbatas dan jenis pekerjaan di sektor pertanian sifatnya musiman, tetapi perluasan kesempatan kerja pada sektor ini masih sangat dibutuhkan. Namun demikian, upaya yang dilakukan hendakanya lebih mengarah pada peningkatan efisiensi dan produktivitas kerja, sehingga akan dapat meningkatkan output pertanian. Di samping itu, di pedesaan juga banyak terdapat tenaga kerja yang berpendidikan relatif rendah, maka pengembangan usaha ini dapat diarahkan bagi penyerapan tenaga kerja yang kurang terdidik tersebut. Dengan pengembangan usaha agrobisnis di pedesaan, akan muncul unit-unti ekonomi yang mampu berdiri sendiri dan menjadi kekuatan perekonomian masyarakat pedesaan sehingga mereka tidak lagi mencari pekerjaan di perkotaan.


B. Kebijakan Umum dalam Mengurangi Pengangguran

1. Penyuluhan dan Penyebaran Informasi Pasar Kerja.
Laju tingkat pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi tidak dibarengi dengan laju pertumbuhan lapangan kerja yang mengakibatkan semakin banyaknya pengangguran. Hal ini cenderung semakin sulitnya masyarakat untuk memperoleh kesempatan kerja. Di lain pihak banyak kesempatan kerja atau lowongan pekerjaan yang tak dapat terisi oleh pekerja. Hal ini bukan hanya disebabkan karena pencari kerja tidak memenuhi persyaratan yang tercantum dalam lowongan pekerjaan, tetapi pencari kerja tidak mengetahui adanya lowongan pekerjaan. Begitu pula bagi perusahaan atau pengguna tenaga kerja mengalami kesulitan mencari tenaga kerja yang masih dibutuhkan. Hal ini disebabkan karena kedua belah pihak baik sebagai pencari kerja maupun pengguna tenaga kerja tidak memperoleh informasi pasar kerja. Bagi pencari kerja tidak mengetahui dimana ada lowongan pekerjaan yang sesuai dengan dirinya dan pengguna tenaga kerja juga tidak mengetahui dimana ada pencari kerja yang sesuai dengan kebutuhannya.
Permasalahan tersebut sebetulnya dapat diatasi jika tersedianya informasi tentang pasar kerja yang cukup. Untuk itu fungsi dari Informasi Pasar Kerja penting sekali, yaitu untuk mempertemukan antara pencari kerja dengan pengguna tenaga kerja. Sehingga masing-masing pihak dapat memenuhi kebutuhannya sesuai yang diharapkan. Sebagai contoh, jumlah lowongan kerja dan pencari kerja yang dapat ditempatkan oleh Disnakertrans selama tahun 2007.






  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar