Jumat, 28 September 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky untuk Indonesia

Pentingnya Toleransi Dalam Bhineka Tunggal Ika




Negara kita, Indonesia adalah sebuah negara yang terdiri dari beribu-ribu pulau baik pulau-pulau kecil atau pulau-pulau besar. Oleh karena itu, kita memiliki banyak sekali suku-suku dan kaya akan budaya. Ini adalah kelebihan serta kelemahan kita yang terbesar. Memiliki wilayah yang luas dan jumlah penduduk yang banyak bisa menjadi kelebihan kita di satu sisi, akan tetapi hal tersebut juga dapat menjadi kelemahan bagi bangsa kita karena dengan demikian akan semakin banyak perbedaan yang ada diantara kita dan susah untuk menyatukan pendapat.
Perbedaan tiap suku dan budaya bisa sangat mencolok dikarenakan tiap suku atau budaya mempunyai pola pikir dan pola hidupnya sendiri-sendiri. Bukan hanya perbedaan suku, Indonesia juga mempunyai banyak perbedaan-perbedaan lainnya seperti kita terdiri dari banyak agama dan yang paling bisa kita lihat adalah perbedaan status sosial dan kesenjangan sosial yang terjadi di Indonesia. Hal ini pun dapat menjadi penyebab banyak konflik-konflik antar kelompok yang terjadi.
            Untuk hidup dalam banyak nya perbedaan tersebut, sikap yang sangat penting untuk kita miliki adalah sikap toleransi. Bagaimana kita menghargai cara pikir orang lain, sikap orang lain, dan kepercayaan mereka yang berbeda dengan kita.
            Sayangnya, menurut saya di Indonesia ini sikap toleransi dan menghargai antar satu sama lain tersebut masih sangat kurang. Kurang nya toleransi di Indonesia ini bisa kita lihat pada masih seringnya terjadi pertikaian antar agama, suku, pelajar, parpol dan sebagainya yang sebenarnya dapat kita hindari dengan bersikap toleransi. Padahal sikap ini sangat diperlukan terutama bagi negara kita yang memiliki banyak sekali perbedaan di bermacam macam sector.
Kita seharus banyak mencari persamaan-persamaan yang ada pada setiap suku bangsa. Karena bangsa Indonesia yang beranekaragam itu sebenarnya memiliki banyak persamaan-persamaannya. Budaya, suku, atau agama mungkin bisa berbeda-beda, tetapi maknanya tetap sama.  
Tetapi jika kita hanya melihat dari segi perbedaan-perbedaannya maka kita akan mengalami konflik dan perpecahan serta kehancuran. Jika ini terjadi, maka negara kita akan menjadi negara yang terpecah-pecah menjadi negara yang kecil. Sebagai bangsa yang beranekaragam, kita harus mau menerima perbedaan-perbedaan itu.
Pertama saya akan memaparkan terlebih dahulu tentang konflik antar kelompok yang terjadi di negara kita karena kurangnya sikap toleransi itu sendiri. Konflik sendiri berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.

Konflik Sampit
Ini adalah pecahnya kerusuhan antar etnis di Indonesia, berawal pada Februari 2001 dan berlangsung sepanjang tahun itu. Konflik ini dimulai di kota Sampit, Kalimantan Tengah dan meluas ke seluruh provinsi, termasuk ibu kota Palangka Raya. Konflik ini terjadi antara suku Dayak asli dan warga migran Madura dari pulau Madura. Konflik tersebut pecah pada 18 Februari 2001 ketika dua warga Madura diserang oleh sejumlah warga Dayak. Konflik Sampit mengakibatkan lebih dari 500 kematian, dengan lebih dari 100.000 warga Madura kehilangan tempat tinggal. Banyak warga Madura yang juga ditemukan dipenggal kepalanya oleh suku Dayak.

Kerusuhan di Ambon,  11 September 2011
Dua kelompok massa bentrok dan mengamuk, menyebabkan kerusakan di berbagai sudut kota. Ibukota provinsi Maluku itu memanas dan mencekam. Kerusuhan tersebut ternyata disebabkan oleh hal yang sepele, salah paham dikarenakan adanya sms yang berisi fakta yang tidak benar. Kematian seorang tukang ojek bernama Darmin Saiman, ditunggangi isu pembunuhan yang beredar via pesan pendek (SMS). Emosi warga pun memuncak, sehingga terjadi amuk massa. Padahal sebenarnya tukang ojeg itu menginggal karena kecelakaan.

Konflik di Solo 3-4/5/2012
Bentrokan antara ormas keagamaan yang dimotori Laskar Islam/Front Pembela Islam (FPI) Solo dan warga Jebres Solo selama dua hari ini berlatar belakang sentimen keagamaan dan premanisme.

Konflik di Poso
Pada tanggal 28 Desember 2003 genap memperingati lima tahun pecahnya kerusuhan sosial yang telah menelan korban sedikitnya empat ribu nyawa. Apalagi selama tahun 2003 saja, insiden-insiden kekerasan tidak berkurang, bahkan sampai tanggal 27 Desember lalu, menurut catatan Kelompok Kerja Resolusi Konflik Poso (Poka RKP) mencapai 69 insiden, di mana ancaman dan ledakan bom menempati posisi teratas (35 insiden), disusul oleh penembakan dan pembunuhan oleh pelaku-pelaku yang tidak teridentifikasi (Radar Sulteng, 29 Desember 2003).

Konflik antar Agama
Banyak sekali sebenarnya konflik antar agama yang terjadi di Indonesia, akan tetapi saya hanya mengambil beberapa contoh untuk konflik antar agama. Pada tanggal 6 Februari 2011, sebuah insiden kekerasan atas nama agama kembali terjadi di Bumi Pertiwi. Tiga korban tewas dan enam orang terluka parah dalam sebuah peristiwa penyerangan terhadap warga Ahmadiyah di daerah Cikeusik, Pandeglang – Banten. Dua hari setelah insiden ini, kekerasan kembali terjadi di daerah Temanggung – Jawa Tengah. Terjadi kericuhan massa pada sidang pengadilan kasus penistaan agama di Pengadilan Negeri Temanggung. Tiga bangunan gereja dan satu sekolah dibakar dalam peristiwa ini. Kedua insiden ini menambah deretan berbagai kasus kericuhan dan kekerasan atas nama agama dan perbedaan keyakinan di Indonesia.



Apa saja yang dapat menyebabkan konflik antar kelompok ini dapat terjadi? Berikut adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya konflik.
Faktor yang mempengaruhi terjadinya konflik:                 

(1) Dua suku bangsa masing-masing bersaing dalam hal mendapatkan lapangan mata pencaharian hidup yang sama.

(2) Warga suatu suku bangsa mencoba memasukkan unsur-unsur dari kebudayaan kepada warga dari suatu suku bangsa lain.

(3) Warga satu suku bangsa mencoba memaksakan konsep-konsep agamanya terhadap warga dari suku bangsa lain yang berbeda agama.

(4) Warga satu suku bangsa berusaha mendominasi suatu suku bangsa secara politis.

(5) Potensi konflik terpendam dalam hubungan antar suku bangsa yang telah bermusuhan secara adat.

(6) Kurangnya toleransi
            Toleransi, menjadi penentu yang sangat kuat dalam kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Dengan adanya toleransi, perbedaan-perbedaan yang kita miliki ini tidak akan menjadi titik kelemahan kita. Kita dapat saling menghargai dan hidup dalam keharmonisan.
             Sekarang kita akan membahas tentang apa itu definisi dari toleransi. Menurut wikipedia, definisi toleransi adalah “sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat”. Menurut blog warong-kopi, sebuah blog orang Malaysia berpendapat bahwa toleransi adalah “sikap dapat menerima atau menghormati pendapat, fikiran, dan kepercayaan orang lain”. W.J.S Purwadarminta menyatakan
“Toleransi adalah sikap atau sifat menenggang berupa menghargai serta membolehkan suatu pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan maupun yang lainnya yang berbeda dengan pendirian sendiri”. Menurut Dewan Ensiklopedi Indonesia, “Toleransi dalam aspek sosial, politik, merupakan suatu sikap membiarkan orang untuk mempunyai suatu keyakinan yang berbeda. Selain itu menerima pernyataan ini karena sebagai pengakuan dan menghormati hak asasi manusia”. Sedangkan menurut Ensiklopedi American, "Toleransi memiliki makna sangat terbatas. Ia berkonotasi menahan diri dari pelanggaran dan penganiayaan, meskipun demikian, ia memperlihatkan sikap tidak setuju yang tersembunyi dan biasanya merujuk kepada sebuah kondisi dimana kebebasan yang di perbolehkannya bersifat terbatas dan bersyarat”.
Toleransi sebagai sikap tetap memiliki keyakinan dan keprcayaan atas pilhan- pilihan etis kita dan secara  bersamaan mengakui hak orang lain untuk mengungkapkan pilihan, keyakinan, dan ide yang berbeda bahkan yang bertentangan sekalipun  tampaknya patut dijaga.Berkaitan dengan toleransi Edgar Morin dalam bukunya Tujuh Materi Penting bagi Dunia Pendidikan membagi toleransi menjadi empat tingkatan. Yang pertama, menghormati hak orang lain untuk mengungkapkan hal-hal yang kita anggap tidak pantas, bukan karena mengahargai ketidakpantasan tetapi menghindari tindakan pengucilan dengan memaksakan pandangan kita tentang ketidak pantasan. Toleransi tingkat kedua, menghargai ungkapan pendapat yang bertentangan dengan pendapatnya. Toleransi tingkat ketiga  menghormati kebenaran ide yang diyakini orang lain yang berseberangan dengan ide yang kita yakini kebenarannya. Toleransi tingkat keempat menyadari bahwa seseorang dapat terhanyut oleh tindakan yang tidak kita inginkan berakitan dengan ideologi, mitos yang diyakininya.

Sekarang, saya akan membahas tentang unsur-unsur agar dapat terbentuknya toleransi dalam diri manusia.

Unsur-unsur Toleransi:

1.     Memberikan kebebasan atau kemerdekaan
Dimana setiap manusia diberikan kebebasan untuk berbuat, bergerak maupun berkehendak menurut dirinya sendiri dan juga di dalam memilih suatu agama atau kepercayaan. Kebebasan ini diberikan sejak manusia lahir sampai nanti ia meninggal dan kebebasan atau kemerdekaan yang manusia miliki tidak dapat digantikan atau direbut oleh orang lain dengan cara apapun. Di setiap negara melindungi kebebasan-kebebasan setiap manusia baik dalam undang-undang maupun dalam peraturan yang ada. Begitu pula di dalam memilih satu agama atau kepercayaan yang diyakini, manusia berhak dan bebas dalam memilihnya tanpa ada paksaan dari siapapun.

2.     Mengakui Hak Setiap Orang
Suatu sikap yang mengakui hak setiap orang di dalam menentukan sikap perilaku dan nasibnya masing-masing. Tentu saja sikap atau perilaku yang dijalankan itu tidak melanggar hak orang lain, karena kalau demikian, kehidupan di dalam masyarakat akan kacau.

3.     Menghormati Keyakinan Orang Lain
Landasan keyakinan di atas adalah berdasarkan kepercayaan, bahwa tidak benar ada orang atau golongan yang berkeras memaksakan kehendaknya sendiri kepada orang atau golongan lain. Tidak ada orang atau golongan yang memonopoli kebenaran dan landasan ini disertai catatan bahwa soal keyakinan adalah urusan pribadi masing-masing orang.

4.     Saling Mengerti
Tidak akan terjadi, saling menghormati antara sesama manusia bila mereka tidak ada saling mengerti. Saling anti dan saling membenci, saling berebut pengaruh adalah salah satu akibat dari tidak adanya saling mengerti dan saling menghargai antara satu dengan yang lain.

            Jika masyarakat Indonesia mempunyai sikap toleransi tersebut seperti yang saya sebutkan diatas, menurut saya Indonesia bisa menjadi negara yang lebih maju, apalagi kita didukung dengan banyak jumlah penduduk, kayanya SDA (Sumber Daya Alam), dan masih banyak lagi.



Sumber:
 
http://makalah-ibnu.blogspot.com/

http://www.scribd.com/doc/1034565/Konflik-Budaya

http://jurnaltoddoppuli.wordpress.com/2011/09/14/ambon-sejarah-panjang-konflik-antar-etnis/

http://publixnews.blogspot.com/2012/05/konflik-di-solo-bernuansa-sara.html

http://goeswarno.blogspot.com/2011/03/revitalisasi-pendidikan-toleransi.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar