Kamis, 27 September 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky untuk Indonesia

Kenakalan Remaja di Indonesia

              Akhir - akhir ini, tingkat kenakalan remaja di Indonesia sudah semakin para, seperti tawuran antar sekolah, mabuk - mabukan, penggunaan narkoba, ugal - ugalan dalam berkendara, dan sebagainya. Kenakalan - kenakalan remaja bukan hanya disebabkan karena anaknya yang memang "bandel" namun ada beberapa sebab lain yang mempengaruhinya, seperti orang tua yang salah mendidik karena terlalu keras atau terlalu memanjakannya, pengaruh lingkungan dan lain sebagainya.
 
Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan adanya kenakalan remaja, faktor - faktor tersebut dibagi menjadi 2 tipe yaitu faktor internal dan eksternal.

Ada 2 faktor internal yakni: 
- Krisis IdentitasPerubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.

- Kurangnya kontrol diri yang baik : Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

Ada pula 3 faktor eksternal yaitu:
 - Keluarga : Seperti yang sudah saya katakan di awal, peranan keluarga/orang tua mempunyai pengaruh yang cukup besar pada perkembangan anak remaja, cara mendidik yang salah dari orang tua seperti terlalu memanjakan, terlalu keras, tidak mengajarkan agama menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.

- Teman sebaya : Pergaulan adalah sesuatu yang sangat penting bagi seorang remaja. Maka dari itu teman sebaya memiliki pengaruh yang besar bagi remaja tersebut, apabila remaja tersebut memiliki pergaulan yang kurang baik, maka dapat menimbulkan terjadinya kenakalan remaja.

- Lingkungan : Sama seperti pergaulan, lingkungan juga memberi dampak pada perkembangan remaja, jika remaja tersebut tinggal di lingkungan yang kurang baik maka dapat menimbulkan adanya kenakalan remaja.

Salah satu dari banyaknya kenakalan remaja yang sering terjadi adalah tawuran antar pelajar. 

Perkelahian Pelajar


Perkelahian, atau yang sering disebut dengan tawuran, sering terjadi diantara para pelajar. Bahkan saat ini bukan hanya antar pelajar SMA, namun sudah melanda sampai ke kampus - kampus. Di kota - kota besar seperti Jakarta, Surabaya, DIY, Medan, tawuran ini sering terjadi. Sepanjang enam semester awal 2012 terjadi 139 tawuran antar pelajar di Indonesia. Jumlah ini sedikit lebih banyak dibandingkan dengan tahun lalu. Pada tahun 2011 tercatat 128 kasus perkelahian antar pelajar, namun tidak ada laporan korban tewas, sedangkan pada 139 kasus di tahun 2012 tercatat 12 korban tewas. Terlihat dari tahun ketahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. 

Menurut para remaja, kekerasan adalah solusi yang paling tepat dalam menyelesaikan suatu masalah tanpa memikirkan akibat - akibat buruk dari tindakannya. Pada saat bersamaan masyarakat hanya bisa menyaksikan kekerasan demi kekerasan yang terjadi di hadapan mereka. Namun sering mencaci maki perbuatan mereka tanpa mencari solusi yang bijak akan permasalahan tersebut, memojokan mereka dari sudut pandang negatif permasalahan yang ada, seolah - olah mereka adalah orang terdakwa yang mendapat vonis hukum. Sebenarnya tidak bisa dikatakan kalau kesalahan itu terjadi berasal sepenuhnya dari dalam atau faktor internal pelajar itu sendiri. masyarakat sering sekali tidak peka terhadap respons yang ditimbulkan remaja, sehingga tidak sedikit remaja yang mengalami penyimpangan sosial berupa agresi untuk menunjukan keberadaan mereka dalam suatu lingkungan masyarakat/sosial.

Hal itu menunjukan gejolak jiwa yang menimbulkan stress dan mencari pelampiasan. Hal tersebut sering sekali tersalurkan dalam perbuatan negatif, seperti berkumpul dalam sekelompok preman dan akhirnya secara tidak langsung bergabung menjadi bagian dari mereka, karena di kelompok barunya tersebut mereka mendapat pengakuanyang selama ini tidak pernah mereka dapat dari dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dari situlah dimulainya pembelajaran kekerasan dimulai, di lingkungan baru yang tanpa kenal akan aturan, norma, adat, dan kesusilaan. Yang berlaku adalah hukum anarkisme, premanisme, kriminalisme yang lebih mengedepankan otot daripada otak. Sungguh ironis yang terjadi di dunia pelajar saat ini, yang seharusnya menuntut ilmu setinggi - tingginya agar bisa membanggakan bangsa ini.




Dampak Perkelahian antar Pelajar

Jelas perkelahian antar pelajar ini merugikan banyak pihak. Setidaknya ada empat pihak yang dirugikan dari perkelahian antar pelajar yaitu:
- Pertama : Pelajar (dan keluarganya) yang terlibat dalam perkelahian itu sendiri jelas mendapat dampak negatif bila mengalami cedera bahkan tewas.

- Kedua : Rusaknya fasilitas - fasilitas umum, seperti bus, halte, dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi, seperti mobil pribadi, motor pribadi, kaca toko, dan lain - lain.

- Ketiga : Terganggunya kegiatan belajar disekolah. Dengan adanya keributan didepan sekolah maka kegiatan belajar mengajar tersebut tidak berjalan dengan efektif, apalagi jika pelajar tersebut terluka akibat tawuran sehingga tidak dapat mengikuti pelajaran disekolahnya.

- Keempat : Berkurangnya penghargaan siswa tersebut terhadap toleransi, perdamaian, dan nilai - nilai hidup orang lain. Para pelajar tersebut belajar bahwa kekerasana merupakan jalan atau cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka. Maka dari itu mereka memilih untuk melakukan apa saja agar tujuan ia dapat tercapai. Akibat yang terakhir inilah yang memiliki konsekuensi jangka panjang pada kehidupan bermasyarakat di Indonesia

Dampak Sosial Tawuran Pelajar

- Turunnya nilai moralitas bangsa antara lain dengan meningkatnya kekerasan dikalangan remaja
- Maraknya tindakan kekerasan di masyarakat

Pandangan masyarakat terhadap penyebab perkelahian antar pelajar

Masyarakat sering menuduhkan, bahwa pelajar yang berkelahi adalah pelajar - pelajar yang berasal dari sekolah kejuruan, berasal dari keluarga yang perekonomiannya lemah. Namun sebenarnya dari 275 sekolah yang sering terlibat perkelahian antar pelajar di Jakarta, 77 diantaranya adalah sekolah menengah umum/atas. begitu juga dengan ekonominya, sebagian dari pelajar yang terlibat berasal dari keluarga yang memiliki ekonomi yang mampu. Tuduhan lainnya adalah kurang sekolah dan orang tua dalam memberikan pengajaran dan pendidikan agama, moral, dan nilai - nilai kehidupan yang kurang. Keluarga yang harmonis juga sering dikatakan penyebab masalah tersebut.

Sebetulnya penyebab dari adanya perkelahian antar pelajar ini tidaklah sesederhana itu. Di kota besar, masalahnya cukup kompleks, meliputi faktor psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat) serta kebijakan publik lainnya.

Kenakalan remaja dalam perkelahian digolongkan menjadi 2 yaitu situasional dan sistematik. 

- Situasional : Pada situasional perkelahian terjadi karena adanya situasi yang "mengharuskan" mereka untuk berkelahi, seperti provokasi dari sekolah lain. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk menyelesaikan masalah secara cepat.

- Sistematik : Pada sistematik, para remaja yang terlibat pada sebuah organisasi atau "geng" yang "mengharuskan" mereka untuk berkelahi. Di geng tersebut ada aturan norma, dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti oleh anggotanya. anggotanya tersebut merasa bangga jika ia dapat mengikuti kemauan kelompoknya.

Penyebab dari Tawuran Pelajar 

1. Faktor Internal

Remaja yang mengikuti tawuran pelajar biasanya kurang  mampu untuk beradapatasi menghadapi lingkungan yang kompleks. kompleks berarti adanya keanekaragaman budaya, tingkat sosial, ekonomi, dan lain - lain. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian mereka kurang mampu untuk mengatasi masalah itu untuk pengembangan dirinya. Mereka biasa mudah putus asa, cepat melarikan diri dari suatu masalah, menyalahkan orang lain. Pada remaja yang sering berkelahi, biasanya memiliki konflik batin, mudah frustasi, memiliki emosi yang labil, dan sangat membutuhkan pengakuan atau "tempat" dimata masyarakat.

2. Faktor Eksternal

Rumah tangga yang penuh kekerasan jelas berpengaruh besar pada anak, anak yang tumbuh di rumah tangga yang penuh dengan kekerasan merasa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga menurut mereka berkelahi adalah hal yang wajar. Sebaliknya jika orang tua terlalu melindungi anaknya, juga tidak baik. Karena anak tersebut akan tumbuh dengan menandalkan orang lain sehingga ia akan menyerahkan dirinya secara total terhadap kelompok yang menjadi bagian dari identitas dirinya.

3. Faktor Sekolah

Lingkungan sekolah yang kurang baik untuk membuat siswanya semangat untuk belajar akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman - temannya. Jika guru berperan sebagai penghukum yang menggunakan kekerasan dalam mendidik siswa - siswanya, akan membuat siswa tersebut membenci sekolahnya. Dan motivasi belajar siswa menurun. 

4. Faktor Lingkungan

Tinggal di lingkungan yang kumuh dan penuh dengan kekerasan juga mempengaruhi anak tersebut. Anak tersebut akan terbiasa hidup kasar dan berkelahi.

Solusi


Pengendalian

1. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri dapat dicegah dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang - orang dewasa yang telah melewati masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
 
2. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya

3. Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.

4. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta adanya peranan orangtua untuk memberi arahan dengan siapa dan komunitas apa remaja itu dapat bergaul.

5. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya, atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.

 
 

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar