Senin, 24 September 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky Untuk Indonesia



MASALAH KEPENDUDUKAN DAN AKIBATNYA PADA INDONESIA

            Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berada di benua Asia. Indonesia merupakan negara kepulauan yang terbesar yang ada di dunia. Indonesia sendiri terdiri dari 17.508 pulau, yang karena itulah Indonesia disebut sebagai Nusantara (Kepulauan Antara). Banyak pulau di Indonesia membuat wilayah Indonesia menjadi sangat besar hingga mencapai 1.922.570 km², luas wilayah tersebut bahkan belum termasuk luas perairan Indonesia. Dengan luas wilayah tersebut, Indonesia menjadi negara terluas ke-15 di dunia. Walaupun memiliki wilayah yang sangat luas, tetap saja ada sebuah masalah yang sangat sulit untuk diatasi Indonesia, yaitu masalah kependudukan.

            Dengan wilayah yang luas, tentu saja Indonesia juga memiliki jumlah penduduk yang luar biasa banyaknya. Untuk mengetahui jumlah penduduk Indonesia, maka setiap 10 tahun sekali diadakanlah perhitungan penduduk di seluruh Indonesia yang bernama sensus penduduk. Sensus ini sudah dilaksanakan sejak tahun 1930. Pada tahun 1930, jumlah penduduk Indonesia belum terlalu banyak. Penduduk Indonesia pada saat itu masih berjumlah 60.700.000 jiwa. Dengan adanya perbedaan 80 tahun, penduduk Indonesia meningkat secara drastis. Pada sensus 2010, jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai angka 237.556.363 jiwa dengan 119.507.580 penduduk laki-laki dan 118.048.783 penduduk perempuan. Berikut ini adalah jumlah penduduk Indonesia berdasarkan sensus.

No
Tahun Pelaksanaan
Jumlah Penduduk
1
1930
60.700.000
2
1961
97.000.000
3
1971
119.208.229
4
1980
147.490.298
5
1990
179.378.946
6
2000
206.264.595
7
2010
237.556.363


Seperti yang dapat kita lihat pada data diatas, jumlah penduduk Indonesia selalu berkembang setiap 10 tahun. Pada yang awalnya hanya berjumlah hanya 60.700.000 langsung melonjak dengan drastis menjadi 237.556.363. dengan jumlah yang sangat banyak seperti itu, Indonesia pun menjadi negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 di dunia, berada di bawah Cina, India dan Amerika Serikat.

Seperti yang diajarkan di agama Islam, sesuatu yang berlebihan itu tidaklah selalu baik. Sama seperti yang terjadi di Indonesia, jumlah penduduknya yang luar biasa banyaknya tidak selalu membawa kebaikan, justru malah lebih sering membawa masalah kepada Indonesia sendiri. Beberapa masalah tersebut adalah :
-          - Tingkat kepadatan penduduk yang tinggi
-          - Pertumbuhan penduduk yang cepat
-          - Persebaran penduduk yang tidak merata
-          - Komposisi penduduk yang kurang baik
-          - Arus urbanisasi ke kota-kota besar sangat tinggi

TINGKAT KEPADATAN PENDUDUK YANG TINGGI

            Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Indonesia adalah negara yang memiliki jumlah penduduk yang sangat banyak, yaitu hingga mencapai 237.556.363. Pada tahun 2005, tingkat kepadatan penduduk di Indonesia adalah 116 jiwa/km². Angka tersebut kemudian kembali bertambah setelah sensus tahun 2010. Karena adanya pertambhana jumlah penduduk, kepadatan penduduk yang awalnya 116 jiwa/km² meningkat menjadi 124 jiwa/km². Memang angka tersebut jika di bagi keseluruh wilayah di Indonesia tidak akan terrjadi kepadatan yang parah., namun pada kenyataannya tidaklah seperti itu. Persebaran penduduk yang tidak merata menyebabkan tidak seimbangnya jumlah penduduk pada setiap kota. Perbedaan ini dapat dilihat dan dirasakan dengan jelas oleh semua penduduk Indonesia. Pada tahun 2010, kota Jakarta memiliki jumlah kepadatan tertinggi di Indonesia yaitu 14.469 jiwa/km², jumlah yang sangat besar jika di bandingkan dengan Papua yang memiliki kepadatan penduduk terendah di Indonesia yaitu hanya 9 jiwa/km².

            Kepadatan penduduk di kota-kota besar tentu saja melahirkan banyak masalah-masalah baru. Diantara banyaknya masalah yang ada tersebut, salah satu masalah yang terparah adalah masalah kemacetan.

            Kemacetan di kota-kota besar terjadi karena banyaknya jumlah penduduk yang menggunakan kendaraan di kota tersebut, salah satunya Jakarta. Tiada hari tanpa macet, itulah Jakarta. Setiap harinya pasti selalu ada kemacetan dan ini diakibatkan karena banyaknya penduduk yang tinggal di Jakarta. Mengapa jumlah penduduk berujung pada kemacetan? Alsannya sederhana saja. Kemacetan itu dikarenakan banyak penduduk yang menggunakan kendaraan seperti mobil dan motor. Ketika jumlah penduduk bertamabah, maka jumlah permintaan kendaraan pun juga akan ikut meningkat. Hal inilah yang menyebabkan kemacetan. Kemacetan sendiri dapat diartikan sebagai suatu situasi atau keadaan dimana tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. hal ini sangat terlihat di Jakarta. Sebuah ruas jalan yang biasanya hanya muat untuk 2 jalur mobil, dipaksakan menjadi 3 jalur. Bahkan, ketika sudah dipaksakan masih saja tidak cukup, maka banyak pengendara yang ugal-ugalan kemudian menggunakan jalur arah yang berlawanan sehingga menganggu pengemudi lainnya dan mengakibatkan kemacetan yang lebih parah. Hal ini juga diperparah dengan banyaknya jumlah sepeda motor yang berkeliaran di jalanan. Harganya yang jauh lebih murah membuat banyak orang belum berpenghasilan  di kota menggunakannya sebagai pilihan untuk alat trasportasi. Ukurannya yang kecil membuat pengendaranya dapat dengan mudah melewati sela-sela diantara mobil. Terkadang banyak pula pengendara sepeda motor yang menyalip lampu merah sehingga menyebabkan kemacetan.  Karena itulah, jumlah penduduk di Jakarta sebaiknya dikurangi.

PERTUMBUHAN PENDUDUK YANG CEPAT

          Menurut data-data yang sudah disajikan diatas, penduduk Indonesia selalu bertambah pada setiap pelaksanaan sensus. Jika kita perhatikan pada data diatas, penduduk Indonesia selalu bertambah sekitar 20 hingga 30 juta jiwa dalam 10 tahun. Jika dihitung persentase pertumbuhan penduduk Indonesia, maka akan terlihat bahwa Indonesia memiliki persentase pertumbuhan yang tidak terlalu besar, yaitu 1,49 %. Pertumbuhan penduduk ini ternyata lebih cepat daripada yang diduga sebelumnya. dalam proyeksi penduduk, Indonesia diperkirakan baru akan memiliki jumlah penduduk sebanyak yang sekarang pada tahun 2015. Namun, yang terjadi pada kenyataannya, jumlah tersebut sudah dicapai pada tahun 2010. Tentu saja hal itu dapat berpengaruh kepada program yang dirancang pemerintah yang berhubungan dengan kependudukan.

            Pertumbuhan penduduk yang pesat dapat diakibatkan oleh banyak hal, salah satunya adalah banyaknya angka kelahiran (natalitas).  Seperti namanya, angka kelahiran jelas akan menambah jumlah penduduk. Terdapat beberapa faktor yang mendukung kelahiran (pronatalitas) dan penghambat kelahiran (antinatalitas), antara lain sebagai berikut :

A. Faktor-faktor pronatalitas

1. Kawin usia muda
Jika seorang wanita menikah muda, maka waktu yang dimilikinya untuk memiliki anak sangat banyak, memungkinkan wantia tersebut untuk memiliki anak yang banyak.
2. Tingkat kesehatan
Banyaknya bayi yang meninggal membuat orang cenderung berpikir untuk memiliki anak lebih dari satu.
3. Anggapan bahwa banyak anak banyak rezeki
Masyarakat pada zaman dahulu kala berpendapat bahwa memiliki banyak anak akan membawa  rezeki yang banyak pula. Hal itu pun juga masih dipegang teguh oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

B. Faktor-faktor antinatalitas

            1. Pembatasan usia menikah
Batas usia menikah di Indonesia bagi perempuan adalah 16 tahun sementara untuk laki-laki adalah 19 tahun.
            2. Program Keluarga Berencana (KB)
Pembatasan jumlah bayi yang lahir atau jarak antara masing-masing kelahiran anak-anaknya. Pemerintah juga menyediakan alat-alat kontrasepsi untuk mendukung program ini.
            3. Pembatasan tunjangan anak
Pegawai negeri dan karyawan perusahaan tertentu  diberlakukan pembatasan tunjangan anak. Jika pegawai tersebut dapat memiliki anak sesuai dengan ketentuan, maka pegawai tersebut akan mendapatkan tunjangan.
            4. Anak sebagai beban
Banyak masyarakat modern yang mengangap bahwa anak adalah beban karena banyaknya hal yang harus dipersiapkan untuk merawat anak mereka dan mengeluarkan biaya untuk berbagai kebutuhan anaknya kelak yangmembutuhkan biaya yang cukup besar.

            Selain angka kelahiran, ada juga yang disebut dengan angka kematian (mortalitas). Angka ini bersifat mengurangi jumlah penduduk. Terdapat 2 faktor yang mempengaruhi angka kematian yaitu faktor pendukung kematian (promortalitas) dan penghambat kematian (antimortalitas).

            A. Faktor-faktor antimortalitas

                        1. Fasilitas kesehatan yang memadai
                        2. Lingkungan yang bersih dan teratur
                        3. Ajaran agama yang melarang bunuh diri
                        4. tingkat kesehatan yang tinggi

            B. Faktor-faktor promortalitas

                        1. kurangnya kesadaran akan pentingaya kesehatan
                        2. Kurangnya fasilitas kesehatan yang memadai
                        3. Kecelakaan lalu lintas
                        4. Bencana alam
                        5. terjadinya peperangan

            Salah satu program pemerintah dalam menekan jumlah kelahiran yang banyak ini adalah dengan melaksanakan program KB. Program ini dilaksanakan dengan cara mengontrol jumlah bayi yang dilahirkan. Ada beberapa cara untuk melakukan hal ini. Berikut ini adalah beberapa caranya.
-          - Mengurangi jumlah terjadinya kawin pada usia muda
-          - Mengkampanyekan program “2 anak lebih baik”
-          - Menerapkan pembagian jangka waktu kelahiran antar anak dalam satu keluarga

PERSEBARAN PENDUDUK YANG TIDAK MERATA

            Masalah kependudukan berikutnya adalah persebaran penduduk uyang tidak merata. Seperti yang dapat kita lihat dengan jelas, jumlah penduduk yang ada di kota-kota besar jauh lebih banyak dari pada di kota-kota lainnya. Coba kitalihat kembali ke perbandingan antara Jakarta dengan Papua. Jakarta ditempati oleh 9.607.787 jiwa dan memiliki kepadatan penduduk sebesar 14.469 jiwa/km² sementara Papua ditempati oleh 2.833.381 jiwa dan memiliki kepadatan penduduk sebesar 9 jiwa/km². Padahal jika kita lihat di peta, luas wilayah Jakarta jauh lebih kecil daripada wilayah Papua. Wilayah Jakarta sendiri hanyalah seluas 661,52 km², jauh berbeda dengan Papua yang memiliki wilayah seluas 309.934, km². Tetapi, mengapa jumlah masyarakat di Jakarta jauh lebih banyak daripada di Papua?

            Jakarta, seperti yang kita ketahui, adalah ibukota dari negara Indonesia. Sebagai ibukota, hampir semua kegiatan perekonomian berjalan di kota ini. Berbagai macam perusahaan pun dibentuk. Karena Jakarta adalah pusat perekonomian, maka banyak dibutuhkan tenaga kerja untuk menjalankan kota ini. Karena tergitur dengan banyaknya lapangan kerja yang disediakan Jakarta, penduduk kota lain pun banyak yang melakukan urbanisasi ke Jakarta dengan harapan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar, tidak seperti di desa yang tergolong kecil. Namun harapan tersebut banyak yang kandas karena tidak hanya orang luar Jakarta yang mencari pekerjaan disini, tetapi banyak juga penduduk Jakarta yang membutuhkan pekerjaan. Karena tidak mendapatkan pekerjaan, mereka pun menganggur. Banyak jumlah pengangguran menyebabkan masalah lainnya yaitu masalah kriminalitas. Banyak nya pengangguran yang tidak dapat menfkahi dirinya dan keluarganya akhirnya banyak yang melakukan tindak kriminal seperti pencurian, preman, pencopetan dan lain-lain. Sebenarnya ada beberapa cara yang dapat ditempuh pemerintah dalam mengatasi masalah tersebut. Beberapa solusinya adalah :
-         -  Melaksanakan program transmigrasi ke wilyah yang jumlah penduduknya sedikit
-          - Melaksanakan pembangunan di desa-desa
-          - Membuat atau memperbaiki undang-undang mengenai urbanisasi

KOMPOSISI PENDUDUK YANG KURANG BAIK

          Jumlah penduduk Indonesia pada berdasarkan sensus tahun 2010 berjumlah sebanyak 237.556.363. jumlah tersebut tentu saja tidak terdiri atas satu golongan saja. Penduduk Indonesia dapat dibagi dalam berbagai golongan. Golongan penduduk Indonesia yang ingin saya bahas ada tiga yaitu :
-          - Golongan umur
-          - Golongan jenis kelamin
-          - Golongan pendidikan

Golongan umur merupaka salah satu golongan yang sangat penting untuk diteliti. Mengapa golongan ini sangat penting? Hal ini dikarenakan program pemerntah yang berhubungan dengan kependudukan berkaitan dengan golongan umur penduduknya. Dalam ilmu ekonomi, umur penduduk dibagi menjadi 3 golongan. Golongan-golongan umur penduduk adalah sebagai berikut.

-          Umur 0-14 tahun (belum produktif)
Pada saat seseorang berumur 0-14, dia belumlah dinyatakan sebagai seseeorang yang produktif. Mengapa demikian? Karena pada umur 0-14, hampir seluruh masyarakat Indonesia masih dalam keadaan belajar. Maksud dari keadaan ini adalah para penduduk indonesia kebanyakan masih menepuh jenjang sekolah dari TK kemudian SD dan SMP. Pemerintah juga menerapkan program wajib belajar 9 tahun sehingga menyulitkan para warga Indonesia untuk bekerja pada umur tersebut.

-          Umur 15-64 tahun (usia produktif)
Ketika umur seseorang mencapai 15 tahun, dia sudah dinyatakan sebagai seseorang yang produktif. Tetapi, sering kita lihat banyak anak berumur 15 tahun yang belum bekerja. Mlalu mengapa umuur 15 tahun dianggap sebagai umur yang produktif? Hal ini dikarenakan banyak orang yang sudah berumur 15 tahun tetapi tidak melanjutkan sekolah melainkan langsung bekerja. Ini biasa terjadi di daerah pedesaan. Hal ini dikarenakan sulitnya orang tua mereka untuk membiayai sekolah lebih lanjut sehingga daripada bersekolah lebih baik langsung bekerja. Usia produktif berakhir ketika usia seseorang telah mencapai 65 tahun. Inilah mengapa banyak orang yang melakuakan pensiun pada umur 65 tahun.

-          Umur <64 tahun (tidak produktif)

 Seseorang yang sudah berumur lebih dari 64 tahun sudah tidak dikategorikan lagi sebagai penduduk produktif. Hal ini dikarenakan fisik orang tersebut sudah tidak memungkinkannya unuk bekerja lagi. Pada umurnya tersebut, banyak peduduk yang mulai menderita bermacam-macam penyakit (komplikasi). Tentu saja hal itu akan menyulitkannya dalam bekerja. Maka dari itu, penduduk dalam golongan usia ini sudah tidak dinyatakan produktif.

            Golongan penduduk lainnya adalah golongan berdasarkan jenis kelamin. Golongan ini dibagi menjadi 2 yaitu golongan laki-laki dan perempuan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk laki-laki di Indonesia berjumlah 119.630.913 jiwa dan perempuan sebanyak 118.010.413 jiwa. Dapat dilihat dalam data tersebut bahwa penduduk laki-laki berjumlah lebih banyak daripada perempuan. Pada umumnya, jika penduduk laki-laki lebih banyak dari perempuan, maka jumlah kelahiran yang terjadi akan berkurang dan pertumbuhan penduduk akan melambat. Namun, karena jumlah wanita Indonesia sendiri sudah sangat banyak, hal itu sepertinya tidak berpengaruh. Jumlah kelahiran tetap tinggi dan pertumbuhan penduduknya cepat. Maka dari itu, untuk mengontrol pertumbuhan tersebut, dibutuhkan sebuah solusi yang cukup ampuh untuk mengatasainya. Salah satu program yang dilancarkan pemerintah saat ini adalah program KB. Program ini cukup berhasil dalam mengurangi jumlah kelahiran bayi di masyarakat.

            Golongan terakhir adalah golongan pendidikan. Berdasarkan Pasal 6 UU No. 20 tahun 2003, setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Namun berdasarkan data dari BPS, masih ada sebagian kecil anak-anak yang belum menerima pendidikan. Hal ini bisa terjadi karena biaya pendidikan yang mahal sehingga banyak keluarga kecil yang tidak sanggup untuk membayarnya. Hal ini tentu saja merugikan negara karena walaupun jumlah penduduknya yang banyak, hanya ada sekitar 50 % yang bersekolah hingga SMA/SMK/MA dan hanya ada 15 % yang melanjutkan pendidikannya hingga kuliah. Belum lagi kurangnya lapangan pekerjaan tidak memungkinkan semua orang untuk mendapatkan pekerjaan. Dengan adanya kondisi yang seperti itu, jumlah penduduk yang bekerja pastilah hanya berjumlah kurang dari 15 %, sementara penduduk lainnya akan menganggur. Beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk mempebaiki kondisi ini adalah :
-            Meningkatkan kualitas pendidikan
-          - Membuka banyak lapangan pekerjaan
-          - Memberikan pendidikan gratiis untuk menyempurnakan program wajib belajar 9 tahun

ARUS URBANISASI KE KOTA-KOTA BESAR TINGGI

          Apakah yang dimaksud dengan urbanisasi? Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Jakarta, Bandung dan Surabaya adalah beberapa contoh dari kota besar yang ada di Indonesia. banyak kegiatan perekonomian yang dilaksanakan di kota ini. Tentu saja dalam melaksanakan perekonomian, dibutuhkan banyak tenaga kerja yang luar biasa banyaknya. Dengan banyaknya lapangan kerja yang berlimpah, banyak penduduk dari desa atau kota lainnya yang akhirnya melakukan urbanisasi ke kota-kota besar. Selain karena alasan tersebut, ada faktor lainnya yang mempengaruhi terjadinya urbanisasi yaitu faktor penarik dan pendorong urbanisasi. Berikut adalah faktor-faktor tersebut

A. Faktor penarik terjadinya urbanisasi

1.      Kehidupan kota yang lebih modern
2.      Sarana dan prasarana kota lebih lengkap
3.      Banyak lapangan pekerjaan di kota
4.      Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi lebih baik dan berkualitas

B. Faktor pendorong terjadinya urbanisasi

1.      Lahan pertanian semakin sempit
2.      Merasa tidak cocok dengan budaya tempat asalnya
3.      Menganggur karena tidak banyak lapangan pekerjaan di desa
4.      Terbatasnya sarana dan prasarana di desa
5.      Diusir dari desa asal
6.      Memiliki impian kuat menjadi orang kaya

Karena faktor-faktor inilah, banyak terjadi urbanisasi ke kota-kota besar di Indonesia. Banyak jumlah urbanisasi tentunya memiliki dampak yang berpengaruh bagi kota-kota tersebut. Urbanisasi dapat berdampak positif atau negatif. Namun, dari sudut pandang masyarakat kota, urbanisasi lebih berdampak negatif dari pada positif. Dampak negatif dari urbanisasi yang berlebihan tersebuuta adalah :
-        -  Terbentuk pemukiman baru di pinggir-pinggir kota
-        -  Meningkatnya tuna karya (penduduk tanpa pekerjaan tetap)
-        -  Masalah perumahan sempit dan tidak memenuhi standar kesehatan
-        -  Lingkungan hidup tidak baik, timbul kerawanan sosial dan kriminal

Beberapa cara untuk mengatasi masalah urbanisasi yang berlebihan ini adalah :
-         - Pembangunan yang merata di seluruh desa dan kota
-         - Mengadakan transmigrasi ke wilayah lainnya


           


Referensi :
Wardiatmoko, K. 2012. Geografi. Jakarta : Penerbit Erlangga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar