Minggu, 23 September 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky Untuk Indonesia


Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Terhadap Anak yang Melanda Indonesia

Menurut Koran Anak Indonesia tahun 2009, kekerasan merupakan salah satu dari 10 permasalahan terbesar yang kini melanda Indonesia. Kekerasan ini khususnya ditujukan kepada kaum yang lemah, seperti perempuan, anak-anak, dan kaum miskin.
Kekerasan, bagaimana pun bentuknya, tentunya tidak dibenarkan. Pada zaman dahulu ketika bangsa Indonesia dijajah oleh bangsa-bangsa asing, khususnya Belanda dan Jepang sebagai dua penjajah yang paling signifikan, bangsa Indonesia memang sudah mengalami banyak tindak kekerasan. Mulai dari kerja paksa hingga penganiyayaan para tentara asing terhadap kaum perempuan, bangsa ini seolah merasakan kekerasan sebagai makanan sehari-hari pada saat itu. Di era yang kini sudah modern, tidak disangka bahwa bangsa ini belum juga terlepas dari kekerasan. Banyak tenaga kerja Indonesia misalnya, yang pergi merantau ke negeri orang untuk mencari nafkah. Namun tidak jarang para TKI ini pulang dengan kondisi fisik yang memprihatinkan akibat ulah majikannya. Bahkan tidak jarang pula banyak TKI yang terambil nyawanya akibat kekerasan sebelum sempat pulang ke negara asalnya. Para korban kekerasan majikan asing ini khususnya banyak yang perempuan.
Ironisnya, masalah kekerasan yang dihadapi Indonesia tidak hanya akibat ulah orang asing. Banyak rakyat Indonesia yang melakukan kekerasan terhadap sesamanya. Seperti kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan dalam hubungan pacaran, hingga kekerasan orang tua terhadap anaknya yang tidak jarang masih dibawah umur.

Masalah

Kekerasan Terhadap Anak
“Semua harus paham bahwa anak bukan hak milik yang bisa diperlakukan seenaknya. Mereka juga punya hak.” –Kak Seto
 
Pada bulan Agustus yang lalu, sebuah berita di stasiun TV nasional menayangkan pemberitaan mengenai seorang ayah yang membunuh anak balitanya saat tidur dengan menusukkan pisau ke leher anaknya. Ditayangkan pula pemberitaan lain mengenai seorang ibu yang tega memotong pergelangan tangan anak bayinya hanya karena bayinya menangis terus.
Sepanjang tahun 2007, berdasarkan hasil penghimpunan berbagai berita di 19 koran dalam rentang satu tahun pun terungkap bahwa terdapat 470 kasus kekerasan pada anak, dimana 67 di antaranya terbunuh, sedangkan 23 kasus lainnya merupakan tindak pemerkosaan yang umumnya dilakukan pihak keluarga terdekat.
            Berdasarkan data yang dikemukakan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak, pada tahun 2007 tercatat jumlah pelanggaran hak anak sebanyak 40.398.625 kasus. Data tersebut berdasarkan laporan yang masuk ke lembaga tersebut yang tersebar di 30 provinsi di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang jumlahnya mencapai 13.447.921 kasus.
            Sebuah data lain yang dihimpun dari Kejaksaan Agung pada tahun 2006 dan telah diteruskan ke Komite Anak Dunia, dinyatakan bahwa tercantum sebuah laporan dimana terdapat sekitar 600 kasus yang telah resmi diputus oleh Kejaksaan Agung, dan 41% diantaranya terkait dengan tindak pencabulan dan pelecehan seksual. 41% lainnya berhubungan dengan pemerkosaan. Yang sisanya yaitu 3% kasus pembunuhan, 3% merupakan kasus perdagangan anak, 7% tindak penganiayaan, dan bahkan 5% lainnya tidak diketahui.
Kak Seto, seorang psikolog anak dan ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak yang dikenal dedikasinya terhadap kasus-kasus pelanggaran hak anak mengatakan bahwa hal ini sangat mengkhawatirkan, dan bahwa kekerasan fisik dan psikis pada anak yang terjadi merupakan fakta yang tidak lagi bisa disembunyikan.
Komisi Nasional Perlindungan Anak mengungkapkan bahwa berdasarkan pendataan yang dilakukan secara nasional, kota Jakarta menempati posisi pertama sebagai kota dengan kasus kekerasan anak terbanyak, diikuti dengan Makassar, Jawa Barat, dan Medan di posisi dua, tiga, dan empat. Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Perlindungan Anak, Artis Merdeka Sirait mengatakan bahwa faktor tingginya kasus kekerasan anak bisa saja dikarenakan kemiskinan dan hubungan yang tidak harmonis antara orang tua dan anak.
Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, Bab II, Pasal 3 yang berbunyi : Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhnya hak-hak agar anak dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasam dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera; anak berhak mendapatkan perlindungan dan diperlakukan dengan selayaknya, khususnya oleh keluarganya agar bisa memperoleh kebahagiaan.
Tidak jarang pula ada orang tua yang memukuli anaknya jika tidak menurut, atau menyiksa anaknya dengan berbagai cara lain dengan tujuan yang dianggapnya ‘mulia’, yakni supaya anaknya menjadi terdidik. Mungkin para orang tua yang tega berbuat demikian mengira bahwa anak-anak yang dididik sedemikian ‘tegas’ akan menghasilkan kepribadian yang disiplin. Namun justru anak-anak yang diperlakukan seperti ini oleh orang yang seharusnya melindungi dan menyayangi mereka akan cenderung gelisah, cemas, dan depresi dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit yang bahkan mungkin nekat kabur karena takut pulang ke rumah. Banyak pula anak-anak yang dibesarkan oleh pola asuh seperti ini yang menjadi seorang pribadi yang melawan, sehingga berpaling pada obat-obatan dan kriminalitas.


Kekerasan Dalam Rumah Tangga

            Selain itu, bentuk kekerasan yang lainnya di Indonesia adalah kekerasan dalam rumah tangga. Ini mungkin merupakan salah satu bentuk kekerasan yang paling terkenal di Indonesia, karena jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun. Menurut Pasal 1 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), kekerasan dalam rumah tangga sendiri memiliki definisi sebagai  setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.
Komnas Perempuan dan Yayasan Mitra Perempuan memiliki data bahwa sepanjang tahun 2006 angka KDRT di Indonesia dipastikan meningkat dibandingkan tahun 2005. Rupanya dengan adanya ratifikasi UU No.23 Tahun 2004 tentang undang-undang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga belum juga bisa menghentikan kekerasan macam ini. Menurut Komnas Perempuan, sejak tahun 2001 tercatat bahwa terdapat 3.169 kasus kekerasan dalam rumah tangga. Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan pada tahun 2002, yaitu ketika meningkat 61% (5.163 kasus). Lalu terjadi peningkatan kembali sebesar 66% pada tahun 2003 (menjadi 7.787 kasus), kemudian tahun 2004 meningkat lagi menjadi 56% (14.020 kasus) dan terus meningkat hingga 69% pada tahun 2005, dimana tercatat bahwa terdapat 20.391 kasus. Hingga akhirnya pada tahun 2006 penambahan diperkirakan sebesar 70%.
            Menurut data lainnya, selama tahun 2011 (hingga 10 Desember) tercatat bahwa Mitra Perempuan WCC memberikan bantuan dan layanan kepada 209 perempuan yang mengontak Mitra Perempuan untuk pertama kalinya dengan masalah kekerasan yang mereka alami, ditambah dengan pendampingan dan layanan kepada perempuan yang melanjutkan kasus tahun lalu. Keempat perempuan ini tinggal di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi dan daerah lainnya. Diantaranya 67,46% bantuan diberikan melalui WCC Jakarta; sedangkan 20,57 % melalui WCC Tangerang dan 11,96% melalui WCC Bogor. Ironisnya, data ini belum termasuk 1.403 orang yang mengontak Hotline untuk mendapat informasi praktis tentang Undang-undang, LSM, para penegak hukum, layanan medis, dan lain-lain. Sehingga dari sini kita bisa melihat bagaimana perempuan lah yang lebih sering menjadi korban kekerasan. Meskipun laki-laki juga tidak jarang menjadi korban, namun kaum perempuan yang lebih sering merasakan deritanya.
            Penyebab-penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga beragam, mulai dari hal sangat sepele seperti salah pengertian. Bagi rumah tangga yang sudah memiliki anak, tentu yang menjadi korban bukan hanya salah satu orang tuanya, namun anaknya pun turut merasakan akibatnya karena harus merasakan ketegangan yang sedemikian memprihatinkan di rumah. Dampak-dampak yang ditimbulkan pada korban kekerasan dalam rumah tangga diantaranya luka fisik hingga kematian baik akibat kekerasan maupun bunuh diri, trauma fisik, ketegangan atau kecurigaan yang berlebih (menjadi paranoid), susah tidur, gelisah, gangguan jiwa, dan gangguan janin bagi ibu yang mengandung, serta masih banyak dampak yang lainnya.
           
Solusi

Sebelum mencari jalan keluar terhadap kekerasan anak, penting jika kita mengingat pernyataan Kak Seto mengenai hak anak yang seharusnya tidak diabaikan. Perlu dipikirkan pula dampak yang akan dialami anak yang jangkanya berkepanjangan, seperti rasa trauma, yang hanya akan menghambat perkembangan mentalnya. Terlebih lagi kekerasan yang dilakukan terhadap anak-anak yang masih sangat kecil hingga balita perlu diperhatikan, karena usia-usia seperti itu ialah saat dimana anak-anak akan mulai mengenal lingkungan sekitarnya. Kekerasan hanya akan membuat anak-anak salah paham dan menganggap semua masalah harus diselesaikan dengan kekerasan.
            Pengawasan dari orang tua sangat diperlukan untuk menghindari kasus-kasus penculikan yang bisa mengarah pada pemerkosaan anak, penjualan anak, dan lainnya. Perlu juga dijalin hubungan yang kuat antara orang tua dan anak, agar anak pun dapat mengerti bahwa kekerasan bukan pemecah masalah.
            Dan untuk orang tua yang justru merupakan pelaku kekerasan anak, hendaknya mendapat bimbingan konseling yang dibutuhkan. Jika tidak, maka tidak ada salahnya anak dilepas hak asuhnya dari orang tua kandungnya. Orang tua yang mungkin seringkali jengkel dengan ulah anaknya hendaknya mengendalikan dan mengontrol perbuatannya agar upayanya untuk mendisiplinkan anak justru tidak mencelakakan anak itu sendiri.     
Untuk masalah kekerasan dalam rumah tangga, sudah banyak bimbingan konseling yang mengkhususkan untuk pernikahan. Hendaknya pasangan yang sudah menikah, apalagi jika sudah memiliki anak, belajar untuk bisa mengelola keluarga yang baik dan terlepas dari kekerasan. Mempererat hubungan satu sama lain bisa mencegah kerenggangan yang cenderung mendorong perbuatan-perbuatan yang tidak terkendalikan dalam mengatasi masalah sepele.
Komunikasi antar anggota keluarga sangat penting karena bisa mewujudkan keluarga yang lebih harmonis. Apabila ada anggot keluarga yang mulai melakukan kekerasan, hendaknya secepatnya dicarikan pertolongan atau dilaporkan pada pihak berwajib. Jangan dibiarkan berlarut-larut hingga lama hanya karena orang tersebut ialah keluarga kita, karena hanya akan memperpanjang kekerasan.
Hendaknya pemerintah pun memperkuat lembaga-lembaga masyarakat dan undang-undang yang melindungi segenap rakyatnya dari kekerasan, agar pelaku mendapat ganjaran yang selayaknya. Namun yang terpenting adalah membangun karakter rakyat Indonesia yang bermoral agar menciptakan masyarakat yang bisa membedakan mana yang baik dan benar, dan bahwa kekerasan hanya akan mempersulit masalah, bukan menyelesaikannya. Indonesia terkenal sebagai negara yang murah senyum, namun apa artinya jika dibalik itu semua kekerasan menghancurkan rakyatnya yang lemah?


Referensi:

http://www.djpp.depkumham.go.id/hukum-pidana/653-undang-undang-no-23-tahun-2004-tentang-penghapusan-kekerasan-dalam-rumah-tangga-uu-pkdrt.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar