Rabu, 19 September 2012

Tugas-3 Solusi Labsky untuk Indonesia

"Macet lagi, macet lagi, gara-gara si komo lewat"



MASALAH
Kata ‘macet’ sangatlah sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari.  Bahkan, bagi kita yang tinggal di kota-kota besar, macet itu bagaikan ‘ritual’ yang hampir setiap hari dialami atau dirasakan. Apa yang kamu bayangkan bila kamu mendengar atau melihat kata ‘macet’?  Pasti terbayang sebuah jalanan yang penuh, sesak, ramai, dan dipenuhi oleh kendaraan-kendaaraan bermotor seperti mobil, motor, bus, atau kendaraan lainnya.
            Indonesia merupakan salah satu negara terpadat di dunia dengan jumlah penduduk sebanyak 241.452.952 penduduk. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang segitu banyaknya, pastilah hampir 60%-80% dari jumlah ini memiliki kendaraan pribadi. Padatnya jumlah penduduk ini dan banyaknya jumlah kendaran ini mengakibatkan seringnya terjadi kemacetan pada jalan-jalan di kota-kota Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan kota-kota besar yang lainnya.
Macet atau kemacetan memiliki definisi yaitu sebuah situasi atau keadaan tersendatnya, atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan, sedangkan kapasitas jalannya yang kecil. Peristiwa macet atau kemacetan ini seringkali dan banyak terjadi di kota-kota besar.

Pada dasarnya, penyebab dari kemacetan ini biasanya terjadi karena pada kota-kota ini transportasi publiknya yang kurang baik atau kurang memadai. Mobilitas urban dan commuter  terjadi begitu tinggi, tetapi sarana dan prasarana yang ada kurang memadai. Kepadatan penduduk seperti yang telah disebutkan di atas juga bisa sebagai salah satu penyebabnya. Kalau kita tarik akar dari permasalahan kemacetan ini, kita bisa mendapatkan kesimpulan bahwa masalah kemacetan ini tidak bisa dilepaskan dengan masalah yang lain yaitu masalah urban. Mengapa sih, di Indonesia ini terjadi eksodus urban yang sangat besar-besaran ke kota-kota besar dan yang menjadi pusat pemerintahan? Mengapa banyak sekali orang yang berbondong-bondong untuk melakukan urbanisasi, seperti misalnya urbanisasi ke Jakarta? Tentu saja, jawabannya adalah karena adanya masalah kesejahteraan yang sulit untuk didapatkan di daerah asal urban itu sendiri. Sebutlah bila masyarakat yang mengalami urbanisasi adalah masyarakat yang tinggal di daerah-daerah kecil. Bisa saja di daerah mereka itu akses yang didapatkan untuk bekerja, mendapatkan pendidikan, atau sarana dan prasarana nya kelengkapannya jauh lebih mundur daripada yang ada di kota. Hasilnya, mereka pun rela merantau untuk mendapatkan sarana dan prasarana yang tidak mereka dapatkan di daerah mereka dengan pergi ke kota. Permasalahannya, jumlah masyarakat yang berurbanisasi ini tidaklah sesedikit yang dibayangkan. Menurut sumber antaranews.com, jumlah penduduk yang melakukan urbanisasi ke Jakarta adalah sebesar 700.000 penduduk! Wow, banyak sekali bukan? Benar-benar tidak heran bila di kota-kota besar terasa penuh sesak. Dari penduduk yang berurbanisasi ini, pasti tidak semua memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi. Bagi mereka-mereka yang pendidikannya sudah mencapai tahap yang lumayan tinggi, mencari pekerjaan tidaklah sulit di kota. Akan tetapi, bagi penduduk pelaku urbanisasi yang tadinya memiliki latar belakang pendidikan yang kurang, tentu mereka akan berakhir sebagai pengangguran, atau memiliki pekerjaan yang kurang jelas, sehingga memenuhi jalanan kota-kota dan membuat jalanan di kota menjadi tambah sempit.
Selain masalah kesejahteraan penduduk seperti di atas, penyebab kemacetan lainnya adalah besarnya pajak untuk kendaraan yang dinilai terlalu kecil apabila dibandingkan dengan sarana yang harus disediakan untuk kendaraan itu sendiri, seperti luasnya jalan, dan lain-lain. Perkiraan hitungan ini bisa didapatkan secara hitungan kasar. Pajak sebuah mobil,atau kendaraan per tahun jauh berada di bawah biaya yang dibutuhkan untuk membangun sarana yang dibutuhkan oleh kendaraan tersebut selama setahun. Masyarakat pun jadi mudah untuk membeli kendaraan, tetapi sarana yang ada juga tidak semakin bertambah. Akibatnya, kemacetan pun terjadi.
Metromini yang menaikkan penumpang di tengah jalan
Adanya transportasi publik yang kurang memadai juga menjadi salah satu penyebab kemacetan. Misalnya, banyak bus-bus di kota seperti misalnya kopaja atau metromini yang seenaknya memakai jalan. Terkadang mereka suka mengebut, lalu juga berhenti di tengah jalan untuk menaikkan atau mencari penumpang. Karena berhenti ini kendaraan di belakangnya pun jadi harus ikut menunggu, dan lama-kelamaan akan macet. Sarana transportasi publik yang kurang ini pula jadi menyebabkan banyak masyarakat di kota-kota besar jadi lebih memilih untuk memiliki kendaraan pribadi daripada naik transportasi publik. Coba kita ambil contoh Singapura. Singapura memang merupakan negara yang kecil,tetapi Singapura itu lumayan ramai, apalagi bila musim liburan banyak sekali orang yang berlibur ke sana. Tapi Singapura ini benar-benar patut diacungi jempol. Walaupun ramai, walaupun banyak sekali orang yang datang ke sana, kalau kita lihat hampir tidak pernah terjadi kemacetan. Bagaimana ini bisa terjadi? Di Singapura terdapat salah satu transportasi publik yaitu MRT (mass rapid transit). Bisa dibilang bahwa transportasi MRT ini merupakan salah satu transportasi yang efektif. Selain cepat, transportasi MRT ini juga lumayan aman, sehingga banyak penduduk Singapura yang lebih memilih untuk naik transportasi publik ini daripada naik kendaraan pribadi, yang mengakibatkan jalanan menjadi lancar. Sedangkan di Indonesia, bisa dibilang transportasi publiknya sangat kurang bila dibandingkan dengan contoh MRT seperti yang ditulis di atas. Memang, banyak kendaraan umum yang terdapat di Indonesia seperti misalnya bus metromini, bus kopaja, TransJakarta, dll. Tetapi terkadang suka timbul di dalam pikiran bahwa “ah, naik bus kurang aman, lebih baik naik kendaraan pribadi” dan pikiran-pikiran lainnya. Jadi, masyarakat banyak yang memilih memakan kendaraan pribadi dan jalanan pun menjadi penuh.
MRT di Singapura

SOLUSI
Kemacetan yang terjadi tentu sangatlah menjengkelkan, dan meresahkan bagi penduduk, apalagi kalau misalnya kita sedang sangat butuh untuk pergi ke suatu tempat dalam waktu yang cepat, ada acara, dan sebagainya. Kemacetan ini harus diminimalisir, atau kalau bisa malah dihilangkan, walau sulit caranya. Tetapi menurut saya, ada beberapa hal atau solusi yang dapat dilakukan untuk meminimalisir terjadinya kemacetan.
Seperti masalah yang telah disebutkan di atas, bahwa kepadatan penduduk menjadi salah satu hal yang menyebabkan kemacetan.. Tingginya tingkat urbanisasi yang terjadi seharusnya diminimalisir, dengan cara misalnya pemerintah daerah lebih meningkatkan sarana dan prasarana di daerah-daerah sampai daerah terkecil, sehingga masyarakat di daerah bisa mendapatkan fasilitas-fasilitas yang lengkap dan memadai. Kalau fasilitas di daerah memadai, tentu masyarakat di daerah kecil tidak perlu melakukan urbanisasi ke kota. Jumlah penduduk di kota pun berkembangnya jadi tidak terlalu pesat, sehingga  penduduk di kota juga jadi tidak padat. Masalah perpajakan seperti yang disebutkan di atas juga harus diatasi dengan baik, dengan cara pemerintah harus menerapkan sistem perpajakan kepada setiap kendaraan. Kalau pajak yang diberlakukan ditinggikan, maka masyarakat Indonesia pun jadi harus berpikir berkali-kali sebelum membeli sebuah kendaraan. Perilaku-perilaku konsumtif  para masyarakat Indonesia terhadap kendaraan ini pun jadi dapat ditekan.
Solusi lainnya yang dapat mengurangi kemacetan menurut saya yaitu pemerintah di kota harus memperbaiki sarana dan prasarana di kota, seperti jalanan yang rusak misalnya. BIla terdapat sebuah jalan yang rusak, maka hal ini akan mengakibatkan pengguna kendaraan menggunakan jalan lainnya, dan bila dibiarkan kelamaan maka jumlah kendaraan di jalan alternatif tersebut akan semakin bertambah dan bertumpuk sehingga mengakibatkan macet. Selain itu rambu-rambu lalu lintas yang kurang jelas, lalu lampu merah yang tidak aktif, juga sebagai salah satu contohnya. Sarana-sarana transportasi ini harus dibuat menjadi lebih baik dan layak. 
Selain itu, transportasi publik juga harus dibenahi. Transportasi-transportasi publik seharusnya diperbaiki fasilitas nya, misal seperti bus metromini atau kopaja diperbaiki fisik bus nya, lalu tempat duduk, AC, dan lain-lain. Kenek yang berada di bus juga kalau bisa dibuat jadi lebih tertib. Kendaraan umum seperti TransJakarta bisa lebih diperbaiki lagi, misalnya seperti koridornya. Lalu, kendaraan umum lain misalnya seperti bus kopaja dan metromini, halte untuk mereka harus dibuat lebih bersih, rapi dan baru, agar penumpang yang menunggu merasa lebih aman. Di setiap halte perlu dibuat rute-rute jalan yang jelas sesuai dengan nomor bus. Selain agar penumpang tidak bingung, hal ini juga agar memudahkan supir-supir bus tersebut. Selain itu, bila halte fungsinya lebih jelas, maka bisa dihindari atau berkurang masalah-masalah seperti bus yang ngetem atau berhenti sembarangan di jalan untuk  mengangkut penumpang, dan lain-lain. Kalau kendaraan-kendaraan umum fasilitasnya diperbaiki, masyarakat jadi lebih nyaman untuk menggunakannya. Penggunaan kendaraan pribadi pun jadi bisa berkurang. Selain diperbaiki, pemerintah juga sebaiknya mengembangkan kendaraan-kendaraan umum yang lain, seperti misalnya membangun kendaraan umum seperti MRT milik Singapura. Menurut saya, rencana akan dibangunnya MRT di Jakarta merupakan salah satu gebrakan yang cukup besar bagi perkembangan kendaraan umum di Jakarta. Untuk itu, menurut saya untuk ke depannya pembangunan MRT ini harus dirawat bersama oleh masyarakat, sehingga tercipta sarana transportasi umum yang kondusif, juga jalanan raya tidak terlalu macet karena masyarakat yang berkendaraan pribadi mungkin akan banyak yang akan menggunakan MRT ini.
Rencana pembangunan MRT di Jakarta

Macet adalah suatu hal yang sangat sering dialami oleh kita sebagai salah satu masyarakat di Indonesia. Tidak pagi, siang, sore, malam, kemacetan pasti terjadi di berbagai jalan di negara kita ini, Berbagai permasalahan kemacetan seperti yang telah saya sebutkan di atas, tentu saja sangat merugikan banyak masyarakat di Indonesia. Pastinya kita seringkali berpikir, kapan sih masalah kemacetan itu akan berakhir? Oleh karena itu, dengan berbagai solusi yang telah saya tuliskan di atas, saya berharap masyarakat Indonesia turut membantu dalam pelaksanaan ketertiban demi mengurangi bahkan menghilangkan masalah kemacetan ini. Berbagai solusi di atas harus direalisasikan oleh pemerintah yang juga dibantu oleh kita sebagai masyarakat, agar kemacetan ini bisa dihindari dan diantisipasi, sehingga nantinya akan menciptakan suasana yang lancar, tertib, dan aman di jalanan-jalanan di Indonesia. Semoga, di beberapa tahun yang akan datang, kita sebagai generasi yang muda bisa merealisasikan solusi-solusi tersebut dengan lebih baik dan mungkin saja dengan cara yang lebih efektif dan inovatif nantinya, sehingga macet pun bisa kita hilangkan, amin!

sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia
http://id.wikipedia.org/wiki/Kemacetan
http://morimanjusri.wordpress.com/2012/07/03/solusi-kemacetan-lalu-lintas-di-kota-besar/
http://ismymy.blogspot.com/2011/12/masalah-kemacetan-di-indonesia.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar