Kamis, 20 September 2012

Tugas-3 Solusi Labsky untuk Indonesia


Kepadatan Penduduk, Pokok Permasalahan Jakarta
                 
Jakarta, Ibukota negara Indonesia. Disinilah tempat orang-orang penting sibuk berlalu lalang dengan pakaian mahal, dengan gedung pencakar langit tersebar dimana-mana. Berbagai tempat rekreasi dan hiburan tersedia di kota ini, kota yang mempunyai fasilitas lengkap. Dengan segala keindahannya, sebenarnya situasi Jakarta saat ini kurang ideal: sesak, kumuh, macet dimana-mana. Begitulah kenyataan yang dihadapi oleh para penduduk Jakarta setiap harinya.
 Para aparat negara telah berusaha mengatasi berbagai masalah tersebut, namun sepertinya masalah yang dihadapi ibukota Indonesia ini tidak ada habisnya. Tetapi sebenarnya  jika ditelusuri lebih lanjut, seluruh masalah yang menimpa Jakarta berasal dari sebuah masalah pokok, yaitu kepadatan penduduk di Jakarta. 

 
MASALAH
                Saya akan menguraikan masalahnya secara deskriptif, karena tiap masalah memiliki sangkut paut dengan masalah lainnya.
                Kepadatan penduduk di Jakarta sudah mencapai tingkat yang memprihatinkan. Menurut situs BPS,
                Urbanisasi mempunyai peran yang sangat besar dalam pertambahan penduduk di Jakarta. Jakarta adalah pusat ekonomi, sosial, budaya, hukum, pemerintahan dan politik. Ibaratnya, Jakarta telah menjadi pusat bagi seluruh masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia memandang Jakarta sebagai ‘harta karun’, karena semua ada di Jakarta, apapun yang dicari—termasuk lapangan pekerjaan. Alasan itulah yang menyebabkan masyarakat dari desa berbondong-bondong datang ke Jakarta, dengan harapan mereka dapat memperbaiki kondisi perekonomian mereka.
                Masalah pertama yang dihadapi Jakarta adalah masalah ‘tahunan’, yaitu banjir. Banjir menimbulkan banyak sekali kerugian bagi penduduk Jakarta. Mulai dari kerugian kecil seperti mobil mogok, sampai kerugian yang besar, seperti kehilangan tempat tinggal dan wabah penyakit.
 Salah satu faktor penyebab banjir adalah kurangnya Ruang Terbuka Hijau (RHT) di Jakarta yang dapat dijadikan daerah resapan air.  Tidak seluruh air akan mengalir kembali ke laut, melainkan diserap oleh tumbuhan dan pepohonan untuk dimanfaatkan makhluk hidup sekitarnya, tidak terkecuali manusia.
Beberapa bagian Jakarta cukup rindang dan dipenuhi pepohonan, seperti Jl. Sudirman di daerah Jakarta Selatan serta Jakarta Pusat yang memiliki jalur hijau tersebar dimana mana. Meskipun demikian, pepohonan itu belum mencukupi daerah resapan air di Jakarta. Daerah resapan air dikatakan ideal jika sudah meliputi 20-30% dari wilayah. Pada kenyataannya sampai akhir bulan Juli 2012 ini luas Ruang Terbuka hanya 9,85%, sangat jauh dari angka ideal. Kurangnya RHT di Jakarta juga menjadi salah satu penyebab permasalahan Jakarta lainnya: polusi. Tanpa tumbuhan hijau yang berfotosintesis untuk menguraikan CO2 menjadi O2 yang sangat bermanfaat untuk makhluk hidup, Jakarta menjadi tempat yang sesak, panas, dan dipenuhi polusi. Bahkan Jakarta sempat ‘meraih’ peringkat 4 sebagai kota dengan jumlah polusi terbanyak se-dunia. Bukan prestasi yang dapat dibanggakan.

  
Jalur hijau di kawasan Jakarta

Pemprov DKI Jakarta mengaku bukannya tanpa usaha. Berbagai upaya terus dilakukan Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jarta demi memenuhi target luas RHT. Namun apa daya, kenyataannya sekitar 67% lahan di Jakarta digunakan untuk membangun pemukiman demi menyediakan rumah untuk seluruh warga Jakarta yang makin hari makin bertambah.
Hukum permintaan dan penawaran mulai berlaku disini. Jika permintaan naik, maka penawaran turun, sehingga harga barang tersebut naik. Hukum ini juga berlaku dengan tanah di Jakarta. Karena penduduk Jakarta terus bertambah, permintaan tempat tinggal terus bertambah juga. Karena persediaan hanya sedikit namun permintaan banyak, harga tanah di Jakarta menjadi luar biasa mahal. Padahal, sebesar 3,69% warga Jakarta berada dibawah garis kemiskinan. Keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan menyebabkan warga mencari alternatif lain, yaitu membangun rumah liar.
Rumah liar adalah rumah yang tidak mempunyai izin resmi untuk dibangun. Kita biasa menemukan rumah liar di tempat-tempat yang seharusnya tidak diperbolehkan ada bangunan disitu. Salah satu tempat paling pembangunan rumah liar yang umum adalah di pinggir sumber air seperti kali atau sungai. Rumah-rumah yang terletak disini dapat menganggu siklus air, sehingga berperan dalam menyebabkan banjir.
Judulnya saja rumah liar. Fasilitas di rumah-rumah liar tidak memadai seperti di rumah resmi, contohnya sumber air, listrik, dan saluran pembuangan. Rata-rata warga yang tinggal di pinggir sumber air menggunakan tempat tersebut sebagai kamar mandi pribadi mereka. Mereka mandi, cuci piring, buang air kecil bahkan buang air besar semua didalam sumber air tersebut. Mereka juga membuang semua sampah rumah tangga kedalam sumber air tersebut-dan mencemar air itu.
Rumah liar


Semua masalah ini terjadi, hanya dengan satu akar: kepadatan penduduk yang terlalu tinggi. Hal ini perlu diatasi dengan segera, agar Jakarta menjadi kota yang lebih baik.

SOLUSI
Untuk solusi dari masalah kepadatan penduduk yang dihadapi Jakarta, sebenarnya ada banyak solusi yang akan kita bahas satu per satu, mulai dari transmigrasi.

Indonesia merupakan salah satu Negara yang mempunyai jumlah penduduk sangat besar. Kepadatan penduduk di wilayah Negara Indonesia tidaklah sama. Jawa merupakan daerah yang jumlah penduduknya paling besar dibandingkan dengan daerah lain, padahal Jawa adalah sebuah pulau yang kecil, tetapi pertumbuhan penduduknya sangat cepat. Hal ini menimbulkan permasalahan tersendiri karena tanah yang ada di Jawa tidak mencukupi lagi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sebagian besar penduduknya.

                Luas daratan wilayah Indonesia 1.904.345 km persegi yang terdiri dari beribu-ribu pulau besalah satr dan kecil. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan sensus tahun 1972 mencapai seratus dua puluh juta orang. Pada tahun 1975 diperkirakan penduduk Indonesia mencapai seratus tiga puluh juta penduduk. Pulau Jawa dan Madura yang luasnya 7% dari luas Indonesia berpenduduk 76 juta jiwa atau 64% dari penduduk Indonesia, sedangkan pulau-pulau lainnya, seperti Kalimantan misanya yang luas 28% penduduknya hanya berjumlah 4.80.000 jiwa.



                Untuk mencapai pemerataan dan keseimbangan dalam penyebaran penduduk maka salah satu jalan dalam mengatasi masalah kependudukan ialah dengan mengadakan transmigrasi. Transmigrasi merupakan perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lain dalam wilayah Indonesia umumnya orang-orang yang mengikuti program transmigrasi berasal dari Jawa, Madura, dan Bali, mereka biasanya ditempatkan di Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Maluku, Irian Jaya, dan Nusantara.
Pulau Kalimantan yang merupakan salah satu pulau besar di Indonesia dan memilki jumlah penduduk yang relatif sedikit menjadi salah satu tempat tujuan transmigrasi. Wilayah ini mempunyai potensi yang sangat besar untuk mengembangkan pertanian, dengan lahan yang masih luas dan tanah yang subur terbuka peluang untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik bagi para transmigran. 
                             

                Pemerataan penduduk melalui transmigrasi dianggap penting mengingat kekayaan alam yang merupakan modal pokok dalam pembangunan nasional, yang masih terpendam dalam bumi Indonesia belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Pembangunan di bidang transmigrasi sangat erat hubungannya dengan pembangunan daerah, baik di daerah asal maupun daerah penerima.

Cara lain adalah dengan mencegah urbanisasi. Urbanisasi adalah kegiatan dimana warga dari desa datang ke kota, biasanya untuk mencari lapangan pekerjaan. Namun karena manusia yang datang mencari lapangan pekerjaan menumpuk, justru yang terjadi adalah kekurangan lapangan pekerjaan.
Cara paling tepat mencegah urbanisasi ke kota-kota besar, terutama Jakarta, adalah membangun daerah-daerah dengan pendekatan kesejahteraan. Tiga sektor yang berkaitan dengan kesejahteraan, yakni pendapatan per kapita, pendidikan dan kesehatan harus dibenahi dan ditingkatkan. Tanpa peningkatan ketiga sektor ini, maka penduduk dari daerah akan terus mencari nafkah di kota-kota besar.
Kepala Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Pengembangan Bisnis Universitas Kristen Indonesia (LPPMPB UKI) Jakarta, Ir SM Doloksaribu, M.Ing., Jumat (9/9) kepada tubasmedia.com mengatakan, sudah saatnya pemerataan pembangunan dan pendapatan sungguh-sungguh dilaksanakan. Oleh karena itu, pendekatan pembangunan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah hendaknya digalakkan.
Jika lapangan pekerjaan dan fasilitas kehidupan lainnya yang ada di Jakarta tersedia juga di kota-kota propinsi lainnya, dipaksa-pun, warga daerah setempat tidak akan mau datang ke Jakarta.


Dahulu bangsa Indonesia sempat diributkan dengan berita mengenai rencana pemerintah Indonesia untuk memindahkan Ibukota Negara Indonesia dari Jakarta ke Palangkaraya. Opsi ini berkembang melihat Jakarta sudah sangat tidak layak untuk dijadikan sebagai Ibukota Negara Indonesia karena kemacetan parah yang setiap hari terjadi dan daya tampung kota Jakarta terhadap arus urbanisasi sudah tidak mencukupi lagi. Jakarta tidak ubahnya sebuah kota yang penuh sesak dan macet dengan tingkat kriminalitas tinggi yang ada di dalamnya. 

Namun wacana tetap wacana, pemindahan Ibukota tetap tidak terlaksana hingga kini, sesungguhnya ini merupakan sebuah gagasan yang masuk akal untuk dilaksanakan karena tingkat kejahatan, kepadatan penduduk hingga kemacetan di Jakarta sudah sangat parah. Semoga para pemimpin negeri ini bisa meninggalkan ego masing-masing dan mulai memikirkan terobosan yang bisa mengurangi jumlah kemacetan yang kian hari kian bertambah banyak tidak hanya di kota-kota besar saja namun juga di daerah lain yang merupakan pusat ekonomi dan pemerintahan. Pemerintah Indonesia bisa meneladani keseriusan komitmen pemerintah negara lain seperti yang disebutkan diatas dalam rangka mengatasi kepadatan penduduk dan kemacetan. Belum terlambat untuk berbenah, harapan masih ada, sekarang tergantung kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia sendiri untuk memantapkan hati dan pikiran mewujudkan Indonesia seperti yang kita idam-idamkan selama ini.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar