Selasa, 18 September 2012

Tugas-3- Solusi Labsky Untuk Indonesia

Masalah Kekurangan Gizi yang terabaikan
Indonesia adalah negara yang terletak di Asia Tenggara, berada diantara benua Asia dan Australia serta terletak diantara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.  Indonesia merupakan negara berkembang.  Indonesia terdiri dari 13487 pulau dan merupakan negara kepulauan terbesar didunia.  Indonesia juga menyandang status sebagai negara dengan penduduk terbesar urutan ke-empat didunia dan negara dengan penduduk muslim terbesar didunia.  Indonesia mempunyai berbagai keanekaragaman budaya, adat, suku dan bahasa.   Sebagai negara berkepulauan tentunya Indonesia tidak luput dari berbagai masalah. Masalah-masalah itupun berdampak buruk juga bagi masyarakat Indonesia.


            Salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia mengadakan survei mengenai 10 permasalahan terbesar di Indonesia.  Survei itu menghasilkan permasalahan Indonesia sebagai berikut :
     10.  Krisis kepimpinan
       9.  Kelaparan dan Krisis Kekurangan gizi
       8.  Bencana alama
       7.  Mahalnya harga pangan
       6.  Sempitnya lapangan kerja
       5.  Sistem pendidikan
       4.  Pengelolaan BBM
       3.  Kemiskinan
       2.  Korupsi
        1.  ekonomi
      Tentu masalah diatas mempunyai keterkaitan satu sama lain.  Namun, dalam kesempatan kali ini saya akan membahas dan memberikan solusi untuk masalah pada nomor 9 yaitu: Kelaparan dan Krisis Kekurangan gizi.  Sebelum itu mari kita telusuri beberapa informasi tentang Krisis Kekurangan gizi ini.  "Di Indonesia, 1 dari setiap 3 anak di bawah usia lima tahun masih menderita kekurangan gizi"  kata Perwakilan UNICEF di Indonesia Angela Kearney.  Kekurangan gizi atau yang juga dikenal dengan sebutan Malnutrisi adalah kondisi dimana mengkonsumsi makanan yang tidak seimbang dengan nutrisi tertentu yang kurang atau dalam proporsi yang salah.  Orang-orang yang menderita kekurangan gizi bisa terjadi karena, sebagai berikut:  Tidak mengkonsumsi cukup kalori dan protein untuk petumbuhan, terjangkit penyakit diare atau penyakit pencernaan yang lain sehingga kehilangan  nutrisi secara abnormal.  Malnutrisi atau Kekurangan gizi merupakan penyebab dari separuh kematian anak Indonesia.  Bagi mereka yang bertahan hidup, kekurangan gizi sangat lah berbahaya dan masih menyebabkan penderitaan jangka panjang seperti terhambatnya perkembangan otak yang mempengaruhi kecerdasan dan potensi belajar pada anak, pertumbuhan fisik yang cenderung lambat  yang pada gilirannya dapat menyebabkan kekebalan terhadap penyakit melemah dan rendah produktivitas, serta peningkatan risiko terjangkit berbagai penyakit lainnya seperti diabetes, penyakit obesitas, jantung dan stroke.
 
      Di Indonesia biasanya kekurangan gizi menimpa pada keluarga menengah bawah atau tidak mampu.  Dari hasil survei Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan pada 2010, kasus kekurangan gizi di Nusa Tenggara Barat (NTB) tertinggi di Indonesia, sedangkan terendah berada di Provinsi Sulawesi Utara, sebesar 10,6 persen.  Banyak anak yang menderita kekurangan gizi karena mereka tidak mendapatkan cukup makanan.  Keluarga-keluarga hanya bisa makan makanan yang kurang kandungan gizinya,  karena tidak mempunyai biaya untuk membeli bahan makanan.  Keluarga tersebut pun hanya mengandalkan bahan makanan seadanya yang menurut mereka sudah cukup, misalnya makanan dengan banyak air dan serat di dalamnya, seperti ubi kayu, talas akar, atau bubur jagung.  Makanan jenis ini hanya membuat anak-anak menjadi kenyang dan tidak memenuhi kebutuhan zat gizi untuk pertumbuhannya.  Kadang-kadang pada anak ditemukan kekurangan zat-zat gizi tertentu, seperti kekurangan vitamin A, yodium, dan lain-lain.   Padahal kandungan-kandungan yang ada pada makanan yang mereka cerna sangat berguna dalam pertumbuhan tubuh dan perkembangan otak. Ada pula, keluarga yang terpaksa memakan nasi aking.  Tahukah anda apa itu nasi aking? Nasi aking adalah nasi bekas yang dijemur hingga kering lalu dimasak kembali menjadi nasi yang bisa dikonsumsi.  Tentu saja itu tidak sehat dan tidak ada kandungan gizinya.
Malnutrisi dapat menyebabkan berbagai masalah pada anak, termasuk:
Dalam kasus ringan:
·       pertumbuhan lambat
·       perut bengkak
·       tubuh kurus
·       kehilangan nafsu makan
·       kehilangan energi
·       pucat (anemia)
·       luka di sudut-sudut mulut
·       sering pilek dan infeksi lainnya
·       rabun ayam
Dalam kasus yang lebih serius:
·       berat badan tidak bertambah
·       pembengkakan kaki (kadang-kadang muka juga)
·       bintik hitam, ‘memar’, atau buka mengupas luka
·       rambut menipis atau bahkan rontok
·       kurangnya keinginan untuk tertawa atau bermain
·       luka dalam mulut
·       kecerdasan tidak berkembang
·       ‘Mata kering’ (xeroftalmia)
·       kebutaan
    Sudah saatnya masalah ini kita atasi.  Pemerintah berkewajiban untuk turun tangan dalam mengatasi masalah ini. Untuk mengatasi kekurangan gizi, Pemerintah perlu membuat kebijakan sehingga terjadi pemerataan pada bahan pangan serta kesehatan, serta tercipta langkah yang mudah untuk masyarakat yang kurang mampu untuk mendapatkan makanan yang empat sehat lima sempurna dan berkualitas.  Sedangkan para pelaku industri dapat berperan dalam memproduksi makanan yang bermutu sehat dengan gizi yang tinggi serta juga dapat menyebarkan informasi informasi yang tepat.  Berbagai industri makanan telah melakukan dukungan terhadap Kekurangan Gizi, mereka menyelenggarakan berbagai acara dalam rangka mengumpulkan dana untuk disumbangkan kepada keluarga yang kurang mampu.   Sehingga keluarga-keluarga dapat menjadi bahagia dan sejahtera,  serta dapat memenuhi kebutuhan asupan gizi bagi anak-anaknya.   Ada juga yang mengadakan demo memasak interaktif,  yaitu:  menu makanan bergizi dan murah untuk rumah tangga.  Pemerintah tidak lupa untuk membangun Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) atau Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) untuk mensejahterakan kesehatan balita.  Program Posyandu adalah kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan.   Jadi, Posyandu merupakan kegiatan swadaya dari masyarakat di bidang kesehatan.   Posyandu dimulai terutama untuk melayani balita untuk imunisasi serta penimbangan berat badan dan orang lanjut usia (Posyandu Lansia).  Sedangkan, puskesmas adalah organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh,  terpadu,  merata,  dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat, dengan peran serta aktif masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat.  Upaya kesehatan tersebut diselenggarakan dengan menitikberatkan kepada pelayanan untuk masyarakat luas guna mencapai derajat kesehatan yang optimal, tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan.  Salah satu Puskesmas di Jawa menciptakan cara sederhana untuk mengatasi masalah kekurangan gizi, yaitu dengan pembuatan Modisco (modified disco).  Modisco adalah sejenis minuman yang dapat dikonsumsi anak-anak karena bernilai gizi tinggi, mudah dicerna, kaya kalori dan protein.  Modisco terdiri dari bahan-bahan lokal yang mudah diperoleh dan dibuat serta dapat diolah dalam beraneka ragam masakan dan minuman.  Namun, tidak semua orang dapat mengkonsumsi MODISCO, Modisco tidak dapat diberikan pada anak bila gemuk, dan penyakit ginjal, hati (kuning), jantung tanpa atau dengan konsultasi dokter. Untuk bayi, Modisco baru boleh diberikan saat bayi berusia 6 bulan.
     Menteri Kesehatan Dr Endang Rahayu Sedyaningsih mengakui, sampai saat ini masalah kekurangan gizi bayi di bawah lima tahun di Indonesia belum bisa diatasi dengan baik.  Tetapi mereka memang telah berhasil menurunkan presentasi kurang gizi pada balita dari 25,8 persen tahun 2004 menjadi 18,4 persen tahun 2007, tetapi secara umum kekurangan gizi masih tetap merajalela.  Menurut Menkes, guna mengatasi permasalahan kekurangan gizi balita di Indonesia tentunya harus mendapatkan dukungan positif dari semua komponen masyarakat.   Angka kematian bayi dan para ibu juga sudah menurun dari 307/100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2004 menjadi 228/100 ribu kelahiran hidup pada 2007. Sejalan dengan penurunan angka kematian bayi,  umur harapan hidup meningkat dari 66,2 tahun pada tahun 2004 menjadi 70,5 tahun pada tahun 2007.  Menkes, sudah menyalurkan dana bantuan sebesar Rp250 juta per tahun kepada seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).  Dana tersebut bisa diarahkan untuk membantu perbaikan gizi pada balita, selain untuk biaya operasional.
    Masalah Kelaparan dan Krisis kekurangan gizi telah memakan banyak korban.  Berikut ini merupakan beberapa korban kekurangan gizi:
1.   Nova Maulana menderita busung lapar.  Anak dari pasangan Wito Parjo-Sulami, seorang buruh tani miskin yang tinggal di dukuh Ringindadi RT 04 RW 5 Jenggrik, Kedawung, Sragen.


2.   Seorang warga Nusa Tenggara Barat, bernama Agustinus Tlonaen, ayahanda dari Ardi Tlonaen berumur 2 tahun yang menderita busung lapar.  Beliau tidak pernah memberi makanan bergizi kepada anaknya, termasuk susu untuk anaknya itu.
3.   Sedikitnya lima warga dari keluarga miskin di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal akibat busung lapar. Tiga di antara yang tewas itu berusia di bawah lima tahu. Dua lainnya masing berusia 13 dan 15.
 
4.   Aji Sukandar, penderita kurang gizi yang berasal dari daerah Kecamatan, Tanggeung.  Kedua orang tuanya tidak sanggup membiayai kebutuhan hidup.  “Jangankan untuk biaya pengobatan ke Rumah sakit, bisa makan saja sudah untung”
5.   Halimah Hasifa (4), Noval afif (7), dan Waidah (9) yang bertempat tinggal di Penjaringan, Jakarta Utara diduga menderita kekurangan gizi.  Kedua orang tua mereka mengakui bahwa faktor ekonomi lah yang membuat anak mereka bisa menderita penyakit  ini.
6.   Bayi penderita gizi buruk bernama Rezky yang berusia 11 bulan, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Anwar Makkatutu Bantaeng.  Rezky meninggal dunia setelah dirawat selama kurang lebih 17 jam di ruang instalasi gawat darurat.

       Menurut saya, solusi Pemerintah untuk mengatasi Krisis Kekurangan gizi ini sudah tepat tetapi tidak dijalankan sesuai apa yang telah direncanakan atau sebagaimana mestinya, pemerintah cenderung mentuntaskan masalah ini secara setengah-setengah.  Pemerintah juga tidak melakukan observasi atau pemantauan dimana saja kah lokasi Krisis ini terjadi, maka dari itu masih banyak keluarga di daerah-daerah kecil dan kumuh yang terbengkalai.  Namun, tindakan Pemerintah dalam menguatkan Posyandu serta Puskesmas sangat lah bagus. Dan menurut saya solusi yang tepat dalam mengatasi kekurangan gizi yaitu sebagai berikut:  Pertama, Masyarakat juga harus ikut serta dalam memberantas masalah Malnutrisi.  Berawal dari peduli sesama.  Kita bisa menjadi sukarelawan untuk mendatangi tempat tinggal dan membantu para keluarga yang tidak mampu.  Karena kita pun tahu, permasalahan yang dimiliki Negara kita tidak lah sedikit,  pemerintah mungkin sudah kewalahan menangani masalah-masalah lain.  Jadi sangatlah penting dukungan dari kita dan kita harus aktif bergerak dilapangan untuk membantu.  Upayakan untuk memberikan sumbangan-sumbangan berupa bahan makanan yang bergizi.  Kedua, kembali kepada masalah kemiskinan.  Pemerintah harus memberantas kemiskinan negeri ini, banyak keluarga miskin sehingga tidak bisa memperoleh makanan.  Lapangan kerja serta Balai Pelatihan Kerja harus diperluas dan dikuatkan. Solusi ini berlaku untuk para kepala keluarga.  Yang ketiga, Ibu-ibu rumah tangga harus diberi penyuluhan tentang bahayanya kekurangan gizi serta bagaimana cara menghadapi masalah ini.  Orang tua, terutama para ibu harus tau bagaimana pola makanan yang baik dan bergizi.
      Dari contoh-contoh penderita kekurangan gizi diatas dapat disimpulkan bahwa masalah ini harus ditangani dengan sangat serius.  Semakin lama kita bertindak maka akan semakin banyak pula korban yang berjatuhan.  Kita tidak mau itu sampai terjadi,  bukan? Semoga solusi solusi diatas dapat menggerakan hati kita untuk lebih waspada, sadar, dan peduli tentang masalah krisis kekurangan gizi ini.  Jika kita saling mendukung antar masyarakat dan pemerintah dan kita bergerak bersama, tentu masalah ini bisa diselesaikan dengan benar dan tuntas.
     Sekian solusi saya untuk Indonesia.  Semoga dapat berguna bagi kemakmuran serta kesejahteraan bangsa ini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar