Kamis, 20 September 2012

Tugas-3 Solusi Labsky untuk Indonesia

Macet


Masalah:
Kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota kota besar, terutamanya yang tidak mempunyai transportasi publik yang baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk

Penyebab kemacetan
Kemacetan dapat terjadi karena beberapa alasan:
    Arus yang melewati jalan telah melampaui kapasitas jalan
    Terjadi kecelakaan terjadi gangguan kelancaran karena masyarakat yang menonton kejadian kecelakaan atau karena kendaran yang terlibat kecelakaan belum disingkirkan dari jalur lalu lintas
    Terjadi banjir sehingga kendaraan memperlambat kendaraan
    Ada perbaikan jalan,
    Bagian jalan tertentu yang longsor,
    Kemacetan lalu lintas yang disebabkan kepanikan seperti kalau terjadi isyarat sirene tsunami.
    Karena adanya pemakai jalan yang tidak tahu aturan lalu lintas, spt : berjalan lambat di lajur kanan dsb.
    Adanya parkir liar dari sebuah kegiatan.
    Pasar tumpah yang secara tidak langsung memakan badan jalan sehingga pada akhirnya membuat sebuah antrian terhadap sejumlah kendaraan yang akan melewati area tersebut.
Pengaturan lampu lalu lintas yang bersifat kaku yang tidak mengikuti tinggi rendahnya arus lalu lintas

Dampak negatif kemacetan
Kemacetan lalu lintas memberikan dampak negatif yang besar yang antara lain disebabkan:
    Kerugian waktu, karena kecepatan perjalanan yang rendah
    Pemborosan energi, karena pada kecepatan rendah konsumsi bahan bakar lebih rendah,
    Keausan kendaraan lebih tinggi, karena waktu yang lebih lama untuk jarak yang pendek, radiator tidak berfungsi dengan baik dan penggunaan rem yang lebih tinggi,
    Meningkatkan polusi udara karena pada kecepatan rendah konsumsi energi lebih tinggi, dan mesin tidak beroperasi pada kondisi yang optimal,
    Meningkatkan stress pengguna jalan,
Mengganggu kelancaran kendaraan darurat seperti ambulans, pemadam kebakaran dalam menjalankan tugasnya

Kata Macet dalam bidang lalulintas di Ibukota Jakarta memang tidak asing lagi bagi warga sekitar Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, Bekasi, serta Karawang. Bahkan kemacetan kini sudah menghiasai kota-kota diseluruh wilayah Indonesia. Karena tingkat kemampuan masyarakat untuk membeli kendaraan semakin tinggi.

Kemacetan sendiri di Jakarta tidak bisa langsung ditangani oleh Pemprov DKI sendirian sebab, kendaraan yang masuk bukan hanya dari Jakarta sendiri tetapi dari wilayah sekitarnya walau sesama berplat B. Bahkan hampir 60 persen kendaraan yang lalulalang di Ibukota NKRI ini dari wilayah lain. Sangat dibutuhkan tangan Pemerintah Pusat memang, baik untuk pembatasan kendaraan serta peraturan lain.

Dalam menangangi kemacetan di Jakarta yang diprediski lumpuh pada 2014 pada era Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo periode pertama pihaknya membangun tiga koridor untuk bus TransJakarta yakni di Koridor 8 Lebak Bulus - Harmoni, Koridor 9 Pinang Ranti – Pluit dan Koridor 10 Cililitan - Tanjung Priok yang juga dihadiri oleh bus TransJakarta gandeng dan pada akhir Desember 2011 Koridor XI jurusan Kampung Melayu-Pulo Gebang mulai beroperasi.

Pada tahun 2008 PT Mass Rapid Transit Jakarta (PT MRT Jakarta) didirikan pada tanggal 17 Juni setelah terlebih dulu mendapatkan persetujuan DPRD Provinsi DKI Jakarta melalui Peraturan Daerah No 3 Tahun 2008 mengenai Pembentukan BUMD PT MRT Jakarta dan Peraturan Daerah No 4 Tahun 2008 mengenai Penyertaan Modal Daerah di PT MRT Jakarta.

Untuk menambah jejaring jalan pemerintah membangun Tol JORR W1 yang menghubungkan Tol Tomang di Kebon Jeruk dengan Tol Bandara Soekarno-Hatta di Penjaringan diresmikan pada tahun 2010 oleh Wapres Boediono. Sementara untuk jalan Tol JOR W2 PT Jasamarga dan PT Jakarta Propertindo (BUMD DKI Jakarta) menjadi investor pengusahaan Jalan Tol JORR W2 ini kini masih dalam proses pembangunan 2011 khususnya pembebasan lahan tanah.

Sampai pada tahun 2010 dari data yang dikumpulkan dari Polda Metro Jaya, mencatat jumlah kendaraan yang beredar
di Jakarta saat ini mencapai 11,35 juta unit yang terdiri 8,24
juta unit jenis roda dua dan 3.11 juta unit rode empat. Bahkan perkembangan kendaraan baru yang beredar di Jakarta melebihi kapasitas penduduk Jakarta, setiap harinya kendaraan motor tumbuh 1.000 unit perhari. Dari jumlah itu, 98 persen adalah kendaraan pribadi, sisanya sebanyak 859.692 unit atau 2 persen angkutan umum yang mengangkut 66 persen total penduduk Jakarta.


Kondisi ini diperparah dengan tidak singkronnya pertumbuhan jalan dan kendaraan. Namun karena panjang jalan di Jakarta hanya 7.650 km dan luas jalan 40,1 km atau 0,26 persen dari luas wilayah DKI kemacetan kian bertambah. Sedangkan pertumbuhan panjang jalan hanya 0,01 persen per tahun. Belum lagi tingginya angka yang menggunakan jalan di Jakarta mencapai 21-22 juta per hari. Di tahun 2011 juga kepastian Pembangunan mega proyek Mass Rapid Transit (MRT) sudah mencapai titik temu yakni sudah tingkat pelaksanaan tender dan yang rencananya dimulai Juni 2012 akan mulai dibangun secara fisik di sepanjang Lebakbulus- Bundaran Hotel Indonesia. Kendala yang dihadapi dalam pembangunan fisik transportasi massal berbasis rel tersebut, khususnya membangun stasiun bawah tanah, yaitu jaringan utilitas dan penurunan permukaan tanah (land subsidence).

Kendala yang dihadapi Provinsi DKI Jakarta yakni terkait adanya pembenahan sistem tender busway pada koridor yang akan diterapkan pada tahun 2008 sampai 2010. Selain itu juga tidak adanya kepastian tentang suplay gas dari pemerintah pusat terkait patokan harga dan akhirnya selesai pada tahun 2011. Ditahun 2011 tiga feeder busway beberapa koridor yang terintegrasi dengan tiga rute feeder ini antara lain Koridor I (Blok M-Kota), Koridor II (Pulo Gadung-Harmoni), Koridor III (Kali Deres- Harmoni),Koridor VIII (Lebak Bulus-Harmoni,) dan Koridor IX (Pluit-Pinang Ranti). Selain itu juga tercatat ditahun 2011 setelah perdebatan panjang Pemprov DKI dengan pemerintah pusat yakni terkait pembatasan truk dalam kota yang terganjal oleh Undang- Undang No.22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Setelah mendapatkan dukungan dari semua pihak termasuk Polda Metro Jaya, juga dukungan 90 persen publik warga Jakarta melalui berbagai survei termasuk dari komunitas Solusi Macet. Lalu gagasan tersebut mulai diberlakukan setelah Peraturan Pemerintah no 32 tahun 2011 tentang Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas yang ditanda tangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pembatasan jam operasional truk dilakukan di Jakarta yakni diwilayah Tol Dalam Kota. Pada rancangan peraturan pemerintah yang diajukan Pemerintah Provinsi ke Pemerintah Pusat tersebut juga melahirkan pemberlakuan Electro Price Road (ERP). Dalam melebarkan dan menambah jejaring jalan guna mengurangi dampak kemacetan, pada pada tahun 2011 Pemprov DKI membangun jembatan layan non tol terpanjang yakni jalan layang Antasari - Blok M dan Kampung Melayu - Tanah Abang yang selesai pada pertengahan tahun 2012.


SOLUSI:


Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memecahkan permasalahan kemacetan lalu lintas yang harus dirumuskan dalam suatu rencana yang komprehensif yang biasanya meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

Salah satu langkah yang penting dalam memecahkan kemacetan adalah dengan meningkatkan Kapasitas jalan/parasarana seperti:
    Memperlebar jalan, menambah lajur lalu lintas sepanjang hal itu memungkinkan,
    Merubah sirkulasi lalu lintas menjadi jalan satu arah,
    Mengurangi konflik dipersimpangan melalui pembatasan arus tertentu, biasanya yang paling dominan membatasi arus belok kanan.
    Meningkatkan kapasitas persimpangan melalui lampu lalu lintas, persimpangan tidak sebidang/flyover,
    Mengembangkan inteligent transport sistem.

Keberpihakan kepada angkutan umum


Jalur Bus Transjakarta (Busway)
Untuk meningkatkan daya dukung jaringan jalan dengan adalah mengoptimalkan kepada angkutan yang efisien dalam penggunaan ruang jalan antara lain:
1. Pengembangan jaringan pelayanan angkutan umum
2. Pengembangan lajur atau jalur khusus bus ataupun jalan khusus bus yang di Jakarta dikenal sebagai busway,
3. Pengembangan kereta api kota, yang dikenal sebagai metro di prancis, Subway di Amerika, Mrt di Singapura 
4. Subsidi langsung seperti yang diterapkan pada angkutan kota di Transjakarta, Batam ataupun Jogjakarta maupun tidak langsung melalui keringanan pajak kendaraan bermotor, bea masuk kepada angkutan umum,
5. Melakukan evaluasi trayek angkutan umum eksisting (reguler). Hal ini didasari oleh banyaknya trayek angkutan umum yang tumpang tindih. Evaluasi ini untuk mengetahui kebutuhan armada trayek, membatasi pemberian izin trayek baru secara selektif, mengalihkan kendaraan dari rute “kurus” ke rute “gemuk”, serta memulai sistem pemberian izin trayek berdasarkan quality licencing atau lelang.
6. Memperbaiki layanan kereta api komuter Jabodetabek. Alasannya, kereta api dianggap tulang punggung sarana angkutan umum massal di Jakarta dan sekitarnya.
7. Mensubsidi angkutan umum. Hal ini guna meningkatkan minat masyarakat memanfaatkan angkutan umum karena berdasarkan politik manajemen transportasi, hanya angkutan umum yang berhak atas subsidi.

Pembatasan kendaraan pribadi
Langkah ini biasanya tidak populer tetapi bila kemacetan semakin parah harus dilakukan Maanajemen lalu lintas yang lebih ekstrem sebagai berikut:
1. Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi menuju suatu kawasan tertentu seperti yang direncanakan akan diterapkan di Jakarta melalui Electronic Road Pricing (ERP). ERP berhasil dengan sangat sukses di Singapura, London, Stokholm. Bentuk lain dengan penerapan kebijakan parkir yang dapat dilakukan dengan penerapan tarip parkir yang tinggi di kawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya, ataupun pembatasan penyediaan ruang parkir dikawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya,
2. Pembatasan pemilikan kendaraan pribadi melalui peningkatan biaya pemilikan kendaraan, pajak bahan bakar, pajak kendaraan bermotor, biaya masuk yang tinggi.
3. Meningkatkan biaya penggunaan kendaraan bermotor pribadi di Jakarta. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan kebijakan parkir mahal berdasarkan zonasi, penerapan jalan berbayar, dan mencabut subsidi BBM.
4. Pembatasan usia kendaraan bermotor yang beroperasi di Jakarta. Hal ini untuk menjamin secara sistematis bahwa angkutan umum akan berkembang pelayanannya dan teknologi armadanya.
Pembatasan lalu lintas tertentu memasuki kawasan atau jalan tertentu, seperti diterapkan di Jakarta yang dikenal sebagai kawasan 3 in 1 atau contoh lain pembatasan sepeda motor masuk jalan tol, pembatasan mobil pribadi masuk jalur busway.


source:
wikipedia.co.id
http://proud2rideblog.com
http://www.macetjakarta.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar